Lembar hari ini aku akan menceritakan tentang tiga kecelakaan sepeda motor yang pernah kualami di tiga kota yang berbeda, yakni di Surabaya, Cirebon dan Denpasar. Baik kecerobohanku atau kelalaian orang lain, ketiga kecelakaan motor itu hampir merenggut nyawaku.
- Di Surabaya, suatu siang sehabis hujan turun dengan lebatnya aku dan teman sekantorku, Hendra, keluar dari rumah seorang klien perusahaan kami di jalan Pakis Tirtosari. Kami berboncengan naik Vespa milik perusahaan tempat kami bekerja. Rencananya kami akan kembali ke kantor siang itu. Aku mengambil jalan pintas melewati jalan Pakis yang tembus ke jalan Kembang Kuning.
Dari arah Pakis Tirtosari, jalan Pakis itu menurun curam. Saat menuruni jalan Pakis itulah aku panik karena rem Vespa blong. Hendra yang berada di belakang berteriak ketakutan dikiranya aku sedang mempermainkan dia. Aku bertambah panik lagi karena Vespa mengarah ke kanan jalan, sedangkan dari arah berlawanan naik sebuah mobil Kijang. Saat itu aku merasa nyawaku sudah hampir melayang. Namun pada saat yang kritis, entah kekuatan dari mana, aku berhasil membanting setir ke kiri dan menabrak belakang sebuah mobil pickup putih yang searah dengan kami.
Kami berdua terpental ke jalan dan Vespa berguling setelah menghantam mobil pickup tersebut. Tapi.. tiba-tiba saja pengemudi pickup tancap gas dan melarikan diri. Seketika penduduk di sekitar situ datang menolong kami. Mereka mengetawai pengemudi pickup yang bodoh karena lari, orang-orang tahu kami yang salah karena menabrak pickup itu.
Rem Vespa kami sebetulnya kondisinya bagus. Namun rupanya, genangan air hujan telah membuat kampas rem Vespa menjadi licin hingga rem menjadi tidak pakem alias blong. Berhati-hatilah bila kamu mengalami kondisi seperti itu. - Di Cirebon, suatu siang yang panas aku sedang mengendarai motor bebek dari arah Weru menuju ke jalan Raya Tengah Tani. Saat itu aku ngantuk, tapi karena tujuannya sudah tidak jauh lagi, aku terus jalan sambil menahan kantuk. Tiba-tiba, BRAAAKKK..! Aku kaget setengah mati. Ternyata aku tertidur! Sepeda motor nyungsep di belakang truk tangki minyak, hingga spakbor depan hancur. Setelah nabrak aku tidak terjatuh karena seketika itu juga kedua kakiku turun menahan jatuhnya motor. Dan lucunya... truk tangki yang kutabrak langsung kabur!
Untunglah saat aku tertidur itu motor yang kukendarai tidak lari ke kanan jalan. Kalau itu terjadi habislah aku, karena jalan yang kulalui itu jalur yang paling padat di daerah Cirebon, yang merupakan bagian dari jalan raya pantura. Bila kamu mengalami ngantuk di jalan, seberapa dekat perjalananmu, berhentilah! - Di Denpasar, Minggu sore (30 Juli 2006) sekitar jam 18.00 udara begitu nyaman saat aku keluar dari rumah untuk mencari makan malam. Saat itu aku sedang sendiri di rumah karena istriku dan si bungsu, Michael, sedang berada di Jakarta dan anakku si sulung, Vincent, kuliah di Surabaya. Setelah membuang sampah di lapangan Buyung, aku melewati jalan Buluh Indah dan terus ke utara ke jalan Cargo. Suasana jalan saat itu cukup lengang, maklum hari Minggu. Di hari-hari kerja jalan Cargo biasanya ramai dengan mangkalnya truk-truk dan kegiatan bongkar-muat barang.
Kemudian aku masuk ke pom bensin yang ada di jalan Cargo. Setelah mengisi bensin aku meneruskan perjalanan ke arah utara. Tetapi tak lama kemudian.. BRAAAKKK..! Seperti ada yang menabrakku dari arah belakang. Motor terdorong ke depan dan oleng. Namun sebelum aku sempat menoleh ke belakang... BRAAAKKKK...! Motorku ditabrak lagi untuk kedua kali. Kali ini aku tak dapat menguasai motor lagi, aku dan motor langsung terguling dengan posisi rebah ke kiri. Sebelum aku menyadari apa yang terjadi, motorku ditabrak lagi untuk yang ketiga kali, tetapi kali ini aku dan motor terseret hingga sejauh 20 meter. Sepanjang kejadian aku tetap sadar tapi tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku tetap memegang stir motor dan melihat aspal dan batu-batu jalan lewat di depan mataku. Aku mendengar jeritan memilukan seorangan ibu yang kebetulan menyaksikan kejadian itu.
Ketika semua itu berhenti, ramai orang mengeliling aku. Aku dipapah oleh beberapa orang ke sebuah warung yang ada di pinggir jalan itu. Orang-orang berteriak agar aku segera diberi minum. Setelah minum baru aku tahu apa yang terjadi. Ternyata aku ditabrak oleh sebuah mobil Daihatsu Taft. Pengemudinya ternyata sedang belajar menyetir mobil, didampingi seorang teman sekantornya.
Entah gugup atau ingin melarikan diri, mobil yang dikendarai keduanya akhirnya dihentikan oleh orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian. Kedua orang yang menabrak aku itu berinisiatif untuk mengantar aku ke rumah sakit, tetapi hal itu dicegah oleh banyak orang. Mereka khawatir keduanya akan melarikan diri setelah mengantarku ke rumah sakit. Atas saran beberapa orang yang di sana, akhirnya aku menelepon ke handphone seorang sahabatku yang berdinas di Polda Bali. Kemudian sahabatku itu mengirim dua orang polisi lalu-lintas dari Poltabes Denpasar.
Setelah diadakan pemeriksaan dan perawatan di UGD RS Manuaba, aku diperbolehkan pulang. Puji Tuhan, tidak ada tulang yang patah, hanya luka-luka yang besar dan kecil di seluruh sisi tubuhku bagian kiri; dari telapak kaki kiri, paha kiri, rusuk kiri dan tangan sebelah kiri. Luka yang paling parah ada di telapak kaki kiriku, yang sekarang membentuk keloid (daging tebal), yang kadang masih terasa nyeri dan gatal.
Beruntung aku dan motor jatuhnya ke arah kiri. Kalau jatuh ke arah kanan, mungkin sudah tidak ada hari ini lagi buatku. Satu lagi yang paling penting, yaitu.. HELM! Saat aku jatuh dan terseret, helm melindungi kepalaku dari benturan dengan aspal jalan. Maka, kalau kamu bepergian dengan sepeda motor, seberapa pun dekatnya kamu pergi, pastikan kamu mengenakan helm.

1 komentar:
Wah itu artinya pak anton punya 'serep' nyawa ya...!
Terma kasih utk mengingatkan kembali utk memakai helm nya!
Samarinda sekarang lagi bagus nih cuacanya...sehari hujan besoknya panas, lusa hujan lagi...selanjutnya selalu begitu!
Posting Komentar