23 Maret 2009

Flying Home


Terbang menuju ke Balikpapan dengan Air Asia......


BIRDS OF PARADISE
sung by Peter, Sue & Marc

Who are you? Who am I?
Is it real do we touch the sky?
Nothing's real - all disguise
said the birds of paradise.

I'm afraid, can't you see?
Tell me where do you carry me.
You will soon realize
said the birds of paradise.

Flying home, flying home
to the land that you once have known.
To the peace that once was true
for a little girl like you.

Flying home, flying home
from a world that is made of stone.
Till your heart is light and free
like it once was meant to be.

How can I go ahead
when my eyes are becoming wet?
Save your tears - dry your eyes
said the birds of paradise.

But the times passing by
say how long do we have to fly?
Moon will set, sun will rise
said the birds of paradise.

Flying home, flying home
to the land that you once have known.
To the peace that once was true
for a little girl like you.

Flying home, flying home
from a world that is made of stone.
Till your heart is light and free
like it once was meant to be.

Hear the sound, see the light
now I know that our way was right.
Morning sun can make you wise
said the birds of paradise.

birds of paradise...

Lihat Selengkapnya...

19 Maret 2009

Nasihat Terbaik Untuk Wawancara Kerja


BE YOURSELF.
Mungkin itu nasihat terbaik yang pernah kuterima dari seseorang yang baru kukenal. Martina, demikian namanya. Seorang turis asing asal Belanda yang berusia sekitar 30-an. Martina dan aku kebetulan naik di satu kendaraan yang sama dari Surabaya menuju Denpasar, di suatu sore di awal Desember 1998. Kepergianku ke Bali saat itu dalam rangka menghadiri wawancara kerja di PT Warisan Eurindo, Dalung, Kuta.

Sejak memasuki kendaraan di Surabaya Martina sudah mengomel karena tempat duduknya di kursi paling belakang dipenuhi dengan barang-barang kiriman. Mobil Colt jenis ELF milik perusahaan travel tersebut selain mengangkut penumpang juga digunakan untuk mengangkut paket-paket kiriman. Sebenarnya aku ingin protes juga karena tempat dudukku di samping sopir itu tanpa sandaran kepala, sehingga membuatku sangat tidak nyaman sedangkan perjalanan dari Surabaya ke Denpasar butuh waktu 10 jam lamanya.

Satu jam setelah mobil berangkat dari Surabaya, aku merasakan adanya tetesan air yang mengenai kakiku yang berasal dari dashboard mobil. Aku langsung menyampaikan hal itu pada sopir, namun dengan enteng dia menjawab bahwa itu air dari AC, tanpa ada upaya untuk membuat penumpang merasa lebih nyaman. Aku benar-benar merasa kesal dengan sikap sopir itu. Koperku yang diletakan di bawah tempat dudukku membuat kakiku tidak dapat bergerak banyak untuk menghindari tetesan air dari AC tersebut. Posisi dudukku yang di tengah, antara sopir dan seorang penumpang lain, benar-benar membuat aku tak punya pilihan lain selain menerima keadaan ini dengan hati yang dongkol.

Tanpa sandaran kepala selama berjam-jam di ruang ber AC benar-benar membuat leherku kaku. Aku bersumpah untuk tidak naik travel ini lagi. Selain itu si sopir juga menjalankan mobilnya dengan ngebut dan sedikit ugal-ugalan. Bayangan buruk kalau-kalau terjadi tabrakan membuat aku tak dapat tidur meski aku sangat ngantuk sekali. Sakit kepala mulai menyerangku. Ini benar-benar sebuah pengalaman buruk.

Perasaanku sedikit lega ketika kami turun makan di daerah Pasir Putih. Aku menggeliat untuk melemaskan badan dan leherku yang kaku. Selesai makan aku pergi ke kamar kecil dan kemudian berjalan-jalan di halaman depan rumah makan untuk melemaskan otot kakiku. Saat itulah aku melihat Martina berdiri tak jauh dari mobil kami. Aku menyapa dia dan menanyakan masalah yang membuatnya ribut dengan sopir sewaktu berangkat tadi. Martina mengungkapkan kekecewaannya dia terhadap layanan perusahaan travel tersebut. Ternyata dia telah membayar dua kursi agar mendapat tempat yang lebih lapang, namun tempatnya itu dipenuhi paket-paket kiriman milik travel!

Sebelum masuk kembali ke dalam mobil yang kami tumpangi, Martina menanyakan tujuanku ke Bali. Aku menjelaskan padanya bahwa tujuanku ke Bali tersebut untuk wawancara kerja. Menutup pembicaraan kami, Martina barkata padaku, "Oh ya, saya ada satu nasihat untuk kamu sehubungan dengan wawancara tersebut, yaitu: 'Jadilah dirimu sendiri. Jangan sekali-kali mencoba menjadi orang lain.'"

Ketika akhir dari wawancara itu aku diterima bekerja, aku seketika teringat dengan Martina. Di dalam hati aku berterima kasih padanya. Entah saat itu dia sedang di mana, berjemur di pantai Kuta atau di Sanur, aku yakin dia dapat merasakan kegembiraanku yang telah memenangkan wawancara ini. Hatiku bersorak, "BALI... AKU DATAAANG..!"

Lihat Selengkapnya...

18 Maret 2009

Kartu Pos Cinta Dari Bali


Secara tidak sengaja sore ini aku menemukan beberapa kartu pos yang pernah kukirimkan kepada istri dan anak-anakku sewaktu mereka kutinggalkan untuk bekerja di Bali. Sepanjang enam bulan pertama aku di Bali, yaitu dari awal Januari 1999 hingga Juni 1999 kami tinggal terpisah. Istri dan anak-anakku tinggal sementara di BSD City, dan aku di Bali.

Ada satu alasan utama mengapa istri dan anak-anakku tidak segera ikut aku pindah ke Bali. Saat itu anakku yang sulung, Vincent, duduk di kelas 6 SD. Jadi tidak ada kemungkinan untuk dapat pindah sekolah, karena anak-anak sudah dipersiapkan untuk menempuh ujian akhir di sekolahnya yang tinggal satu semester lagi. Kendala lainnya, aku belum menemukan rumah kontrakan, jadi untuk sementara ngekos dulu sambil mencari-cari rumah kontrakan.

Di samping sering interlokal dengan istri dan anak-anakku, aku juga rajin mengirimi mereka kartu pos-kartu pos bergambar tempat-tempat wisata di Bali, seperti Sanur, Kuta, Pura Besakih, Kintamani, Tanah Lot, Pantai Candi Dasa, Nusa Dua, dan lain-lain. Aku bertekad akan membawa mereka mengunjungi semua tempat itu bila kami sudah berkumpul nanti, seperti yang tertulis di atas kartu pos yang bergambar Penelokan (Kintamani) yang kukirim kepada mereka tanggal 14 Maret 1999: "We can go everywhere... if we are together."

Di atas kartu pos bergambar Pura Besakih yang tertanggal 16 Maret 1999 aku menulis, "Pulang kerja... Hujan-hujan langsung mampir ke warung 'Selamet' makan nasi campur. Selesai makan masih hujan tidak bisa pulang ke kos, aku nganggur.... Untung ada kartu pos ini... bisa kutulis rasa sayang dan rinduku pada kalian semua." Tentu banyak kata-kata kangen yang kutulis di atas kartu pos-kartu pos itu. Contoh, di sebuah kartu pos yang bergambar Pura Tanah Lot yang indah aku menulis, "Biar orang lain tahu bahwa... aku mencintaimu dan aku mencintai anak-anak kita, dan aku merindukan kalian semua...!!" Yang ini tertanggal 28 Maret 1999.

Selain itu di beberapa kartu pos aku hanya menulis hitungan mundur waktu (count down) menuju tahun 2000 dan hitungan mundur waktu untuk menjemput istri dan anak-anakku pindah ke Bali. Memang tiga bulan pertama di Bali aku sempat minta cuti beberapa hari untuk menengok mereka. Walau hanya beberapa hari aku sudah bahagia bisa bertemu mereka.

Suatu peristiwa yang paling membahagiakan dalam hidupku ketika hari itu tiba, aku berangkat ke Jakarta untuk membawa istri dan anak-anakku ke Bali. Perjalanan darat yang menyenangkan dengan kereta api eksekutif Anggrek Bromo dari Gambir ke Pasar Turi, dan dilanjutkan dengan bus eksekutif Bali Megah Wisata (BMW) dari Surabaya ke Denpasar keesokan harinya, benar-benar merupakan kenangan perjalanan yang tak terlupakan. Hari itu aku sangat bahagia.

Di tahun pertama dan kedua kami di Bali satu persatu tempat wisata yang ada di kartu pos kami datangi. Sampai akhirnya seluruh tempat-tempat wisata itu telah kami jelajahi. Menjelang pergantian tahun dari 1999 ke 2000 dan dari 2000 ke 2001 berturut-turut kami menggelar tikar di pantai Kuta mulai jam 7 malam hingga lewat pergantian tahun ketika pesta kembang api usai.

Bali, tempat yang kucita-citakan untuk kutinggali bersama keluarga saat aku berusia 45 tahun, ternyata terlaksana lebih awal. Sebaliknya, ketika usiaku mencapai 45 tahun aku dan keluarga justru pindah dari Bali. Perjalanan hidup memang sulit ditebak. Mungkin hanya segelintir orang saja yang benar-benar dapat mengatur sedemikian tepat perjalanan hidup yang diinginkannya. Sekarang, di sinilah aku dan keluarga berada... di BSD City, Tangerang Selatan, Banten. Akankah aku dan keluarga kembali ke Bali... someday... someway? No one knows...

Lihat Selengkapnya...

17 Maret 2009

Judul Film Barat Ala Banjar


A Walk To Remember = Bajalan Batis Sambil Mengganang
Bad Boys
= Kekanakan Dugal
Batman Forever = Sakali Kalong Tetap Kalong
Cat Woman = Kucing Bini-bini
Cheaper by Dozen = Tamurah Nukar Salusinan
Die Another Day = Matinya Kaina Haja
Die Hard = Kadada Matinya
Face Off = Muha Kada Rata
For Your Eyes Only = Gasan Ikam Lihat Haja Nah
Gone in Sixty Second = Maling itu pang
Gone With The Wind = Kelayangan Pagat
Hard Target = Ngalih Mencapai Target
Home Alone = Saurangan di Rumah
Lord of The Ring = Juragan Cincin
Lost in Space = Tasasat Unda Nah
Men in Black = Urang-urang Babaju Hirang
No Way Back = Kada Kawa Bulik
Planet of the Apes = Planet Ikam Samunyaan
Remember The Titan = Kaganangan Lawan si Titan
Speed = Lakas Bujur
Silence of the Lamb = Biri-biri Bungkam
Sleepless in Seattle = Di Seattle Unda Kada Kawa Guring
Sudden Death = Mati Mendadak
The Angel and The Peacemaker = Angel Lelga wan Aman Jagau
The Beauty and The Beast = Si Bungas wan si Buruk Rupa
The Dark Knight = Pandikar Kadap
The Day After Tomorrow = Isuk Lusa Lah..
The Independence Day = Tujuh Walasan
The Italian Job = Gawian Urang Italia
You've Got Mail = Ui, Ada E-mail Gasan Ikam

Lihat Selengkapnya...

13 Maret 2009

Vokal Grup Full of Joy


Beberapa hari yang lalu Aku dan Michael, anakku yang bungsu, ke Gramedia yang ada di WTC Serpong. Aku dan anak-anakku memang punya kegemaran yang sama dalam hal membaca. Anak-anak sampai punya koleksi lengkap beragam komik dari Doraemon, Naruto, Bookworm, Animorph, Card Raptor Sakura, Goosebump, Rave, Onepiece, dan lain-lain. Sedangkan aku sendiri senang membaca buku-buku komputer dan marketing. Aku nge-fan banget dengan Donald J. Trump. Tak kurang dari enam buku yang ditulis Donald J. Trump yang kupunya.

Suatu saat mataku tertuju pada sebuah buku kumpulan lagu-lagu daerah yang bersampul menarik. Aku kemudian membuka isinya, halaman demi halaman, membuat pikiranku melayang jauh ke tahun sekitar 1980, ketika itu aku bergabung dengan sebuah vokal grup dari muda-mudi Katolik di Gereja Katolik Prapatan, Balikpapan, atas ajakan kakak sepupuku Maria Goretti Tatyani.

Kelompok vokal itu bernama Full of Joy. Beberapa anggotanya masih kuingat seperti: Bosse, Rachel, Taty, Erni, Mimi, Afa, Melda, Handoko, Yanti, dan selebihnya aku telah lupa. Selain lagu-lagu gereja, kami juga sering menyanyikan lagu-lagu daerah seperti Apuse, Ampar-ampar Pisang, Rasa Sayange, Waktu Hujan Sore-sore, dan sebagainya. Saat itu semua dari kami masih single, tidak punya beban, selalu gembira. What a beautiful life!

Kemudian suatu saat bersama kelompok Mudika (Muda-mudi Katolik) Gereja Prapatan kami berkunjung ke sebuah Gereja Katolik di Loa Duri, dekat Tenggarong, dengan mengunakan sebuah bus. Malam hari kami menyuguhkan hiburan buat muda-mudi dan umat di sana dengan nyanyian dan tarian. Awalnya kami mengalami kesulitan mengajak muda-mudi dan umat di sana untuk berpartisipasi, padahal tujuan kami ke sana untuk membangun keakraban dengan mengajak mereka bergembira bersama.

Tiba-tiba seseorang dari kami punya ide bagaimana kalau kami coba menyuguhkan lagu dangdut. Ternyata... sungguh luar biasa! Muda-mudi di sana tidak malu-malu naik ke panggung untuk berjoget bersama. Padahal tidak ada lagu dangdut dalam agenda kami saat itu, yang ada hanya lagu gereja, lagu daerah dan lagu pop. Malam itu kami senang sekali karena berhasil mengajak mereka ikut bergembira. Kami menginap di sana semalam, tidur di lantai ruang gereja.

Pagi harinya kami semua beramai-ramai pergi ke batang untuk mandi. Batang adalah tempat MCK (mandi, cuci dan kakus) penduduk di pinggir sungai yang terbuat dari gelondongan kayu besar yang dirakit bersama. Membayangkan kegembiraan kami waktu itu saat mandi bersama di batang membuat aku selalu tersenyum-senyum sendiri. Tentu ini menjadi sebuah kenangan terindah yang tidak pernah bisa kulupakan yang terjadi dalam hidupku.

Entah bagaimana cerita hidup teman-temanku yang dulu ada di Full of Joy itu dan dimana mereka sekarang, aku tidak tahu pasti. Hanya sekilas berita saja bahwa si A, B, C masih di Balikpapan, si D dan E di Surabaya. Sudah lama kami tidak berhubungan dan bertemu lagi. Hanya satu di antara mereka yang masih sering kutemui karena tinggalnya yang tak jauh dari rumahku sekarang di BSD City, dialah Tatyani, kakak sepupuku sendiri yang dulu mengajakku bergabung di vokal grup Full of Joy tersebut dan pernah mandi bareng di batang bersamaku.

Lihat Selengkapnya...

08 Maret 2009

All About Computer


Mengintip Password

Seorang office boy (OB) suatu hari sedang membersihkan lantai di belakang kursi Direktur. Saat itu sang direktur sedang duduk di kursinya mengerjakan sesuatu yang kelihatan sangat penting di depan komputernya. Saking sibuknya sang direktur berkonsentrasi ke komputer, ia tidak menyadari kalau si office boy mengintip dari pundaknya apa yang sedang ia kerjakan.

Beberapa menit kemudian, di ruang office boy, ia mengatakan kepada rekan-rekannya yang lain, bahwa ia tadi sempat mengintip sang boss mengetikkan password-nya! Ia melihat huruf demi huruf! Ia pun tegang karena mungkin merupakan satu-satunya yang tahu password orang nomor satu di perusahaan itu!

Kabar angin pun beredar beberapa hari kemudian, dan seorang staf IT yang ingin masuk lewat jaringan ke komputer sang boss untuk mengetahui rahasia perusahaan terutama rahasia boss, mendekati si office boy.

"Saya harus bayar berapa untuk password itu?" tanya si staf IT tersebut.

Sang office boy dengan gugup menjawab, "Dua ratus ribu!"

"Kemahalan! Seratus ribu!" staf IT berargumen sambil langsung menyodorkan uang seratus ribu.

Si office boy pun setuju. Setelah memberikan uangnya, si staf IT menyiapkan pensil untuk mencatat di secarik kertas. "Oke, apa password-nya?"

"Bintang, bintang, bintang, bintang, bintang, bintang!" jawab sang office boy sambil berbisik. "Password-nya ternyata hanya enam bintang!"


Lahir Dari Chatting

Seorang anak merengek kepada bapaknya, “Papa, cerita dong tentang kelahiranku.”

“Hmm... Baiklah, anakku.. memang sudah waktunya kamu tahu. Lima tahun lalu, papa dan mamamu pertama kali bertemu di sebuah CHAT ROOM YAHOO. Kemudian via E-MAIL, kami janjian kopi darat di sebuah CYBER CAFE. Kami memesan tempat khusus. Mama setuju untuk men-DOWNLOAD dari HARD DISK papa. Segera papa meng-UPLOAD mama.

Ternyata tak satupun dari kami memakai FIREWALL, dan sudah telat untuk memencet tombol DELETE. Akhirnya sembilan bulan kemudian muncul sebuah POP-UP kecil berisi pesan: YOU'VE GOT MALE...


Microsoft vs General Motors

Pada salah satu kesempatan pameran komputer internasional, Bill Gates konon pernah berkata dalam sambutannya: "Seandainya saja industri mobil General Motors mengembangkan teknologinya seperti yang telah dilakukan industri komputer, pasti saat ini kita dapat membeli mobil baru seharga hanya 2500 dollar dengan konsumsi bensin 300 kilometer per liter dan kecepatan 300 kilometer per jam."

Pihak General Motors yang meradang segera mengeluarkan press release sebagai tanggapan terhadap pernyataan Bill Gates.

"Seandainya General Motors mengembangkan teknologi seperti Microsoft, maka Anda akan memiliki mobil dengan ciri-ciri berikut:
  1. Satu mobil hanya boleh dikendarai oleh satu orang. Lebih dari itu, Anda harus membeli kursi tambahan.

  2. Tanpa alasan yang jelas mobil Anda akan ngadat dua kali sehari, dan Anda tidak punya pilihan lain selain melakukan hard reset.

  3. Tidak ada kesempatan bagi Anda untuk melakukan gerakan mendadak seperti menginjak rem atau berbelok. Anda harus menekan tombol OK dulu untuk merespon pesan "Are you sure?" yang keluar dari LCD di dashboard mobil Anda.

  4. Anda pasti harus sering ke bengkel mobil untuk meng-update sistem mobil Anda dengan versi terbaru.

  5. Penambahan asesoris mobil pastilah dianggap sebagai pelanggaran hak cipta."

Lihat Selengkapnya...

04 Maret 2009

50 Tahun Salah Paham


Dikisahkan, disebuh gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat senior istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun perkawinannya yang ke-50. Peringatan kawin emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu penting seperti para bangsawan, pejabat istana, pedagang besar serta seniman-seniman terpandang dari seluruh pelosok negeri. Bahkan kerabat serta kolega dari kerajaan-kerajaan tetangga juga hadir. Pesta ulang tahun perkawinan pun berlangsung dengan megah dan sangat meriah.

Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak acara, yaitu jamuan makan malam yang sangat mewah. Sebelum menikmati kamuan tersebut, seluruh hadirin mengikuti prosesi penyerahan hidangan istimewa dari sang pejabat istana kepada istri tercinta. Hidangan itu tak lain adalah sepotong ikan emas yang diletakkan di sebuah piring besar yang mahal. Ikan emas itu dimasak langsung oleh koki kerajaan yang sangat terkenal.

"Hadirin sekalian, ikan emas ini bukanlah ikan yang mahal.. Tetapi, inilah ikan kegemaran kami berdua, sejak kami menikah dan masih belum punya apa-apa, sampai kemudian di usia perkawinan kami yang ke-50 serta dengan segala keberhasilan ini. Ikan emas ini tetap menjadi simbol kedekatan, kemesraan, kehangatan, dan cinta kasih kami yang abadi," kata sang pejabat senior dalam pidato singkatnya.

Lalu, tibalah detik-detik yang istimewa yang mana seluruh hadirin tampak khidmat menyimak prosesi tersebut. Pejabat senior istana mengambil piring, lalu memotong bagian kepala dan ekor ikan emas. Dengan senyum mesra dan penuh kelembutan, ia berikan piring berisikan potongan kepala dan ekor ikan emas tadi kepada isterinya. Ketika tangan sang isteri menerima piring itu, serentak hadirin bertepuk tangan dengan meriah sekali. Untuk beberapa saat, mereka tampak ikut terbawa oleh suasana romantis, penuh kebahagiaan, dan mengharukan tersebut.

Namun suasana tiba-tiba jadi hening dan senyap. Samar-samar terdengar isak tangis si isteri pejabat senior. Sesaat kemudian, isak tangis itu meledak dan memecah kesunyian gedung pesta. Para tamu yang ikut tertawa bahagia mendadak jadi diam menunggu apa gerangan yang bakal terjadi. Sang pejabat tampak kikuk dan kebingungan. Lalu ia mendekati isterinya dan bertanya, "Mengapa engkau menangis, isteriku?"

Setelah tangisan reda, sang isteri menjelaskan, "Suamiku… sudah 50 tahun usia pernikahan kita. Selama itu, aku telah melayani engkau dalam duka dan suka tanpa pernah mengeluh. Demi kasihku kepadamu, aku telah rela selalu makan kepala dan ekor ikan emas selama 50 tahun ini. Tapi sungguh tak kusangka, di hari istimewa ini engkau masih saja memberiku bagian yang sama. Ketahuilah suamiku, itulah bagian yang paling tidak aku sukai," tutur sang isteri.

Pejabat senior terdiam dan terpana sesaat. Lalu dengan mata berkaca-kaca pula, ia berkata kepada isterinya, "Isteriku yang tercinta…50 tahun yang lalu saat aku masih miskin, kau bersedia menjadi isteriku. Aku sungguh-sungguh bahagia dan sangat mencintaimu. Sejak itu aku bersumpah pada diriku sendiri, bahwa seumur hidup aku akan bekerja keras, membahagiakanmu, membalas cinta kasih dan pengorbananmu."

Sambil mengusap air matanya, pejabat senior itu melanjutkan, "Demi Tuhan, setiap makan ikan emas, bagian yang paling aku sukai adalah kepala dan ekornya. Tapi sejak kita menikah, aku rela menyantap bagian tubuh ikan emas itu. Semua kulakukan demi sumpahku untuk memberikan yang paling berharga buatmu."

Sang pejabat terdiam sejenak, lalu ia melanjutkan lagi, "Walaupun telah hidup bersama selama 50 tahun dan selalu saling mencintai, ternyata kita tidak cukup saling memahami. Maafkan saya, hingga detik ini belum tahu bagaimana cara membuatmu bahagia." Akhirnya, sang pejabat memeluk isterinya dengan erat. Tamu-tamu terhormat pun tersentuh hatinya melihat keharuan tadi dan mereka kemudian bersulang untuk menghormati kedua pasangan tersebut.

Oleh: Tidak Diketahui
Sumber : heartnsouls.com

(Kiriman: Kristiana Tri Riawati)

Lihat Selengkapnya...

02 Maret 2009

Samarinda yang Sempurna


Dulu... namanya Loa Bakung, Loa Buah, Sungai Kunjang, Temindung, Lempake, Air Putih, rasanya merupakan tempat-tempat yang letaknya sangat jauh, terutama bagi kami yang tinggal di daerah kota lama Samarinda seperti Pelabuhan dan Karang Mumus. Kalau ke sana pun hanya dalam rangka jalan-jalan atau wisata. Sekarang daerah-daerah itu sudah merupakan bagian dari Kota Samarinda yang ramai dan padat, bukan pinggiran dan luar kota Samarinda lagi.

Membayangkan kedamaian dan keasrian Samarinda tempo dulu membuat aku jadi kangen. Masa-masa itu antara tahun 1968 - 1982 bagiku merupakan gambaran Samarinda yang sempurna. Waktu itu Samarinda juga sempat punya kebun binatang, walau kecil, yang letaknya di dekat Temindung. Kalau tidak salah, di jalan antara Lapangan Terbang Temindung ke Mal Lembuswana sekarang. Hanya bertahan beberapa tahun, akhirnya ditutup dan hilang tanpa bekas.

Semasa di SMP, aku dan teman-teman beberapa kali ke Lempake beramai-ramai naik motor mencari durian. Sebenarnya kata 'mencari' tidak tepat, karena salah seorang teman kami orang tuanya mempunyai lahan luas yang ditanami pohon durian. Jadi kami ke sana tinggal tunjuk, petik dan makan. Enak, enak, enak...

Semasa di SMA, aku dan beberapa teman sering nongkrong di pelataran parkir Lamin Indah, dimana ada sebuah pohon besar yang rindang di dekatnya. Lamin Indah terletak di atas bukit, sebenarnya merupakan sebuah tempat hiburan malam, dan bila siang tempat itu sepi. Dari Lamin Indah kami dapat menikmati pemandangan ke arah Kota Samarinda, biasanya sambil kami rujakan atau membawa makanan ke sana, serta mengerjakan PR sekolah. Kami sering ke sana sepulang sekolah, biasanya bila kami pulang lebih awal, karena waktu itu musimnya guru-guru ikut penataran jadi banyak jam pelajaran kosong.

Jalan-jalan di Samarinda ketika itu tidak terlihat padat seperti sekarang, dan terkesan lebar serta bersih. Bila di blog-blog banyak yang mengatakan bahwa Samarinda itu kota yang kotor, kita patut menerimanya dengan besar hati dan menjadikannya sebagai kritik yang membangun. Sebagai contoh: Jalan Mulawarman dulunya merupakan jalan yang cukup lebar, rapi dan bersih; coba tengok sekarang sepertinya jalan itu menyempit, semrawut dan kotor; terutama daerah sekitar mal.

Kini Samarinda terus mekar seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan yang terus berjalan. Dulu... Samarinda benar-benar merupakan sebuah kota yang sempurna. Aah, aku kangen...

Lihat Selengkapnya...

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.