31 Oktober 2008

Pulau Bunyu III - Kemarau Panjang 1982


Tahun 1982 merupakan tahun yang paling kering. Kemarau terpanjang dan terparah dalam sejarah negeri kita. Terjadi kebakaran hutan dimana-mana, tak terkecuali di Kalimantan Timur. Jutaan hektar hutan terbakar habis. Selama empat bulan aku di Pulau Bunyu tidak pernah ada hujan sama sekali. Air bersih yang disalurkan ke rumah-rumah penduduk sudah tidak mengalir. Untuk air minum kami terpaksa mengambil di tempat pengolahan air bersih milik Pertamina.

Pernah suatu hari aku terpaksa mandi dari air genangan dalam drum tua yang sudah karatan yang ada di pinggir rumah, karena air bersih sudah empat hari lamanya mati. Awalnya ada perasaan ngeri juga, tetapi karena badan ini sudah sangat kotor dan lengket aku nekad mandi dengan air genangan itu. Air itu sendiri kelihatan bersih, tapi karena air itu sudah lama berada di situ dan drumnya sendiri sudah karatan, aku sempat pikir-pikir juga. Oh ya, perlu diketahui kalau saat itu belumlah ada air mineral dalam galon atau kemasan yang dijual seperti sekarang. Seandainya ada tentu aku bisa mandi dengan air mineral.

Ketika aku di Tarakan bulan November hujan pertama mulai turun walau hanya sebentar. Hujan yang turun itu berwarna kehitaman, mungkin pengaruh dari kebakaran hutan yang sangat hebat saat itu. Ketika di bulan Desember 1982 aku pulang ke Samarinda, sisa-sisa kebakaran hutan itu masih terlihat jelas di sepanjang kiri-kanan jalan raya Balikpapan - Samarinda. Titik-titik api masih terlihat dimana-mana.

Ada beberapa kenangan manis dan konyol di Pulau Bunyu di tahun yang paling kering itu, antara lain:
  1. Pengalaman pertama memasak nasi dengan rice cooker, namun beras di dalam rice cooker tidak diberi air. Jadinya... beras kering! Bukan nasi.

  2. Ketika sedang menggoreng telur mata sapi, api yang besar kemudian menyambar ke atas wajan dan menghanguskan telur mata sapiku.

  3. Pengalaman pertama aku harus mencuci pakaianku sendiri.

  4. Rumah tempat aku dan rekan-rekan tinggal, pemiliknya ternyata mempunyai tanggal dan bulan lahir yang sama dengan aku. Kami ketawa bersama ketika mengetahui hal itu.

  5. Aku menemukan dua lagu yang pernah kudengar semasa kecil dan sudah kucari selama bertahun-tahun. Judul lagu itu adalah I (Who Have Nothing) yang dinyanyikan oleh Tom Jones dan Cat Size oleh Suzy Quatro.


Lihat Selengkapnya...

30 Oktober 2008

Pulau Bunyu II - Hampir Tenggelam


Di Pulau Bunyu aku mempunyai seorang teman baik bernama Ismail. Ismail tidak bekerja di perusahaan tempatku bekerja, tetapi perusahaanku sering mengunakan jasa dan keahliannya sebagai tukang las untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.

Suatu Minggu pagi yang cerah di bulan Juli 1982 aku dan Ismail pergi berenang di tepi pantai di kompleks Perumahan Pertamina (Nibung?). Cukup banyak orang berenang di tepi pantai saat itu. Tiba-tiba mata kami tertuju pada seorang cewek yang duduk di atas ban dalam yang besar dan mengapung jauh dari bibir pantai. Aku dan Ismail memutuskan untuk mendatanginya, barangkali cewek itu cantik dan bisa kami ajak kenalan, begitu pikir kami.. he he he..

Saat kami berenang ke tengah laut untuk mendekati si cewek, lewat dua batang kayu yang mengapung di laut, aku dan Ismail segera mengambilnya untuk dijadikan tempat bergayut. Setelah dekat dan kami lihat cewek itu tidak cantik, maka kami memutuskan untuk kembali ke pantai. Ismail masih sempat bertanya apakah kami tetap memakai kayu itu untuk kembali ke pantai, aku jawab, "tidak usah, kita berenang saja, pantai kelihatannya tidak jauh."

Setelah berenang cukup lama dan kami sudah sangat kelelahan, kami belum juga mencapai pantai. Pasir di bawah kaki kami juga belum tersentuh. Aku mendadak panik dan minta tolong kepada Ismail. Rupanya Ismail juga mengalami hal yang sama dengan diriku. Melintas dipikiranku bahwa aku akan mati di laut hari itu, terbayang wajah mama dan keluargaku di depan mataku. Aku hampir menyerah. Namun tiba-tiba ada semacam dorongan yang keluar dari dalam diriku, menyuruhku agar tidak panik dan menyerah. Sebab banyak korban mati tenggelam di laut hanya karena panik.

Aku mulai menghentikan usahaku untuk mencapai pantai. Aku harus beristirahat dan melemaskan tangan dan kakiku. Aku kembali ingat kalau tubuh manusia pada dasarnya timbul di air karena selain terdiri dari 90% air, tubuh kita juga terdiri dari banyak rongga yang berisi udara. Orang mati tenggelam karena banyaknya air yang terminum. Aku berusaha setenang mungkin saat itu, membuat sedikit gerakan, dan hanya memusatkan mata, hidung dan mulutku agar tetap di atas permukaan air. Aku berusaha bernapas dalam-dalam dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sekilas aku melirik ke arah Ismail, tampak dia juga sedang melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan.

Setelah cukup kami beristirahat, kami kembali berenang sekuatnya ke tepi pantai. Sampai suatu ketika jari kakiku serasa menyentuh sesuatu yang lembut di bawah. Aku berhenti dan coba menjangkaunya dengan jari kaki, ternyata jari kakiku sudah dapat menyentuh pasir lembut yang ada di bawah. Segera aku berteriak memberitahukan hal itu kepada Ismail, dan ternyata Ismail pun dapat menjangkaunya. Setelah berenang beberapa saat lagi, air laut tinggal setinggi dada kami. Kami bersyukur sekali.

Ada satu hal aneh yang mengganggu pikiranku dan Ismail, cewek itu sudah tidak terlihat saat kami kelelahan di laut tadi. Rasanya tidak mungkin cewek itu bisa mendahului kami mencapai pantai. Ketika kami menginjakkan kaki di tepi pantai cewek itu juga tidak tampak dan tidak ada ban dalam hitam besar yang dipakai cewek itu diantara orang-orang yang bermain di tepi pantai.

Satu pelajaran yang aku ingin kamu ingat bila kamu mengalami kejadian seperti yang kami alami. Pantai yang tampak dekat dari laut belum tentu mudah untuk dicapai. Ombak yang memecah di tepi pantai akan balik dan membuat gerakan air kembali menuju ke laut dan ikut menyeret tubuh kita menjauhi pantai. Perlu tenaga ekstra keras untuk mencapainya, dan yang paling penting jangan panik. Lakukan seperti apa yang kami lakukan. Dan bila ada barang apapun yang mengapung lewat, raih segera, kecuali kamu memang perenang yang handal.

Satu lagi, jangan pernah tergiur mendatangi cewek yang berenang atau mengapung jauh dari pantai. Pertama, kemungkinan itu hantu, sebuah ilusi atau fatamorgana. Kedua, belum tentu dia cantik! Wakkakakaaaak...!

Lihat Selengkapnya...

29 Oktober 2008

Pulau Bunyu I - Si Cantik


Pertengahan Mei 1982, setelah lulus SMA aku berangkat ke Tarakan bersama Kuku (uak) dan tinggal di rumah famili kami di daerah Sibengkok. Kemudian oleh Om-ku aku dikenalkan dengan Pak Budi, sahabatnya, dan kemudian aku ditawari sebuah pekerjaan di Pulau Bunyu. Setelah bermain beberapa hari di Pulau Bunyu, aku kembali ke Tarakan dan aku sampaikan kepada Pak Budi mengenai kesiapanku untuk bekerja di sana.

Akhir Mei 1982 aku kembali ke Pulau Bunyu dan mulai bekerja di sana. Aku sangat menyukai suasana di Pulau Bunyu. Jalan-jalan utama dan jalan-jalan di perkampungan penduduk hampir semua belum diaspal, kecuali jalan-jalan yang ada di dalam kompleks perumahan dan kantor Pertamina. Jalan-jalan yang belum diaspal itu tiap hari disirami minyak agar mengeras. Hal itu menimbulkan bau minyak yang khas. Tetapi bila hujan turun kita harus ekstra hati-hati karena jalan-jalan menjadi sangat licin.

Satu tempat di Pulau Bunyu yang menjadi favoritku adalah daerah Pangkalan yang dekat dengan dermaga tempat pemberangkatan dan berlabuhnya kapal-kapal. Aku juga sering sarapan pagi di Pangkalan. Di sana ada nasi kuning yang sangat enak. Tempatnya berupa rumah tinggal yang difungsikan sebagai rumah makan. Awalnya aku sering pergi dengan rekan kerjaku, Pe'ang dan Koci. Tapi setelah aku mendapat fasilitas sepeda motor aku mulai pergi sarapan sendiri.

Setelah beberapa kali sarapan nasi kuning di sana, aku baru menyadari kalau aku selama ini selalu diperhatikan oleh sepasang mata seorang gadis cantik dari dalam rumah. Gadis itu juga kemudian sering tersenyum padaku. Postur tubuhnya juga sangat bagus dan berisi. Jujur saja, sebagai seorang anak muda aku senang menerima perhatian seperti itu, dan aku termotivasi untuk selalu sarapan pagi di sana.

Suatu hari kedua rekan kerjaku menyinggung kebiasaanku yang sering sarapan nasi kuning di Pangkalan. Aku mengakui dan bertanya ada masalah apa dengan kebiasaanku itu. Mereka menebak kalau aku sering sarapan pagi di sana karena ada anak gadis penjual nasi kuning yang cantik tersebut. "Memangnya aku salah kalau seperti itu?" balasku.

"Tidak sih, cuma kamu belum tahu saja..." kata Koci, dan mereka berdua ketawa.

"Belum tahu apa? Ada apa dengan gadis itu?" tanyaku ingin tahu.

"Sudah deh, nanti juga kamu akan tahu sendiri," kini Pe'ang yang menjawab. Benar-benar bikin aku penasaran. Aku mendesak tetapi tetap saja keduanya tidak mau memberi tahu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan aku belum tahu apa yang dimaksudkan mereka berdua. Sesekali mereka bertanya, "Sudah tahu, belum?" Ya, tentu aku jawab kalau aku belum tahu apa itu. Tetapi kemudian sampailah suatu hari aku mengetahui rahasia gadis itu.

Pagi itu seperti biasa aku sarapan nasi kuning lagi ke Pangkalan. Sedang asyik-asyiknya menyantap sarapanku, aku mendengar keributan di dalam rumah itu. Ternyata gadis itu sedang bertengkar hebat dengan ayahnya, entah disebabkan oleh masalah apa. Gadis itu berteriak-teriak dengan suara keras, tetapi... kata-katanya tidak jelas. Ya, Tuhan, ternyata gadis itu bisu!

Perasaanku iba dan sangat sedih. "Hanya tinggal sedikit, Tuhan, kenapa Engkau tidak membuat gadis itu sempurna?" protesku saat itu. Sejak tahu rahasia gadis itu aku tidak serta-merta mengatakannya kepada kedua rekanku. Aku biarkan saja berlalu sampai suatu hari mereka kembali bertanya padaku, "Gimana? Sudah tahu, belum?"

"Sudah," jawabku pelan. Kamu tentu dapat menduga bagaimana reaksi mereka setelah mendengar jawabanku.

Lihat Selengkapnya...

28 Oktober 2008

Sang Ketua Kelas


Semasa di SMAK dulu (1979-1982) ada figur sahabat yang aku kagumi, dan juga dikagumi banyak teman lain. Dia adalah Muhammad Helpani. Muhammad, yang sering kami sapa dengan "Amad" adalah orang Bugis dengan perawakan yang sedang-sedang saja, kulit coklat dan berambut keriting. Mengapa dia begitu dikagumi oleh teman-teman sekelasnya?

Aku dan Amad sekelas semasa di SMAK dulu, ketika di kelas satu (semester dua) diadakan pembagian jurusan, aku, Amad dan beberapa teman memilih jurusan IPA. Jurusan IPA saat itu cuma ada satu kelas, jurusan IPS yang terbanyak, sedangkan jurusan Bahasa ditiadakan karena kurangnya peminat. Sebetulnya minatku saat itu ke jurusan Bahasa. Kemudian di kelas yang baru itu Amad didaulat menjadi Ketua Kelas dan aku wakilnya. Amad benar-benar menjadi figur Ketua Kelas yang disegani dan disenangi teman-teman sekelas.

Jiwa kepemimpinan Muhammad Helpani tampak menonjol ketika suatu kali kami mengadakan camping kelas di luar sekolah. Di saat camping kami mendapat gangguan dari orang-orang luar, dengan cara menakut-nakuti kami dengan suara-suara aneh dan teriakan-teriakan. Tentu saja teman-teman sekelas yang wanita jadi ketakutan, walau Wali Kelas kami, Pak Lasdi, ada bersama kami.

Ketika gangguan tidak dapat ditorerir lagi, Amad tiba-tiba bangkit, merobek bajunya dan menghunus pedang (badik panjang) mendatangi para pengganggu itu. Beberapa teman lain segera mengikuti Amad. Sementara aku, beberapa teman laki-laki dan Wali Kelas menjaga teman-teman wanita dan kemah-kemah kami. Alhasil, para pengganggu lari tunggang-langgang dan tidak berani kembali lagi. Tetapi peristiwa itu juga memakan korban... seekor ular. Ular itu dibunuh Amad setelah mengusir para pengganggu.

Keberanian dan kesetiakawanan Amad menjadi pembicaraan kami. Di saat diskriminasi masih kental dalam praktek kehidupan sehari-hari di jaman itu (jaman Orde Baru), ada seorang anak muda sederhana yang menunjukkan kepemimpinan sejati. Tanpa memandang suku, agama, bersikap melindungi dan bertanggungjawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya, itulah yang ditunjukkan seorang yang bernama Muhammad Helpani, sang Ketua Kelas.

Agustus 2008 yang lalu aku coba mencari Amad di tempat tinggalnya dulu, yaitu di sekitar jalan Perniagaan, Pasar Segiri, Samarinda. Tetapi ternyata tempat itu telah berubah total. Akhirnya aku memutuskan untuk mencarinya di lain waktu saja pada kedatanganku ke Samarinda berikutnya.

Hari ini kita memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-80.
Hilangkan segala bentuk diskriminasi dan kekerasan yang masih ada. Mari kita bangkit, bersatu, dengan satu semangat dan satu tujuan untuk mengangkat negara kita dari keterpurukan.


SOEMPAH PEMOEDA

Pertama :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA

Kedua :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA

Ketiga :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

Lihat Selengkapnya...

27 Oktober 2008

Mimpi-mimpi yang Selalu Berulang


Pernahkah atau seringkah kamu bermimpi berada di tempat yang sama? Mimpi-mimpi apa yang sering kamu mimpikan sepanjang hidupmu hingga saat ini?

Aku sering bermimpi aku berada di jalan Arjuna, Samarinda. Tepatnya di depan kuburan Kristen atau di sekitar itu. Mimpi ini sudah terjadi berulang-ulang dan justru ketika aku sudah tidak tinggal di Samarinda lagi. Selama hidup aku hanya sekali masuk ke area perkuburan Kristen itu, yaitu ketika Ibu Baptisku, Angeline Tumini, meninggal dan dikuburkan di sana tahun 1979. Tahun 2004 sebelum kembali ke Denpasar aku sempatkan mampir di perkuburan Kristen itu, namun sesampai di sana ternyata pintu depan kuburan terkunci. Waktu itu memang aku sudah dengar bahwa sebagian kuburan di situ sudah dibongkar dan dipindahkan ke lokasi yang baru. Aku hanya dapat berdiri di depan area perkuburan dan berdoa sejenak untuk almarhum. Sejak itu mimpi itu tidak pernah datang kembali.

Aku juga sering mimpi aku sedang berjalan-jalan di Pasar Pagi Samarinda, yaitu di sekitar jalan Tumenggung sampai ke jalan Gajah Mada. Ini aku bisa maklum karena dulu aku sering pergi ke Pasar Pagi mencari buku pelajaran di toko Aziz, membeli sesuatu dan menagih uang arisan di beberapa toko teman mama di Pasar Pagi.

Mimpi yang satu lagi bukan di Samarinda. Aku sering mimpi kalau aku sedang berada di salah satu kamar di Kantor Besar Pertamina di Pulau Bunyu. Dari kamar kantor itu aku selalu memandang ke arah luar jendela dan menikmati pemandangan laut lepas nan biru di kejauhan. Aku memang pernah kerja di situ ketika Kantor Besar Pertamina dibangun di tahun 1982 . Waktu itu aku bekerja dengan sebuah perusahaan kontraktor bangunan yang mendapat tender untuk membangun Kantor Besar Pertamina tersebut.

Mimpi-mimpi lain yang sering kumimpikan, bukan karena tempatnya yang sama melainkan kejadiannya, antara lain: mimpi terbang, mimpi naik sepeda yang tinggi satu roda atau dua roda, mimpi mencari-cari sesuatu dan mimpi melihat, dikejar atau digigit anjing.

Mimpi tentang anjing sering kualami ketika aku masih di Denpasar, Bali. Aku memang pernah dikejar dan digigit anjing sewaktu naik sepeda motor ke rumah temanku, Pak Teddy. Walau tidak sampai terluka, karena aku pakai celana Jeans, tetapi sakit akibat gigitan tetap terasa sampai beberapa jam kemudian. Di Bali, anjing-anjing berkeliaran dimana-mana, di setiap jalan, dan hampir ada di setiap rumah orang Bali. Setelah pindah dari Bali ke BSD City 14 Agustus 2007, anjing-anjing tidak pernah lagi mampir dalam mimpiku.. He he.

Mungkinkah kamu juga salah seorang seperti diriku?

Lihat Selengkapnya...

26 Oktober 2008

Banjir Besar 2004


Suatu pagi di bulan Februari 2004, hujan turun dengan derasnya. Kebetulan saat itu aku ada di Samarinda dan menginap di rumah Kuku (uak) di jalan Pangeran Antasari Gang 8. Waktu itu Kuku dan anaknya (kakak sepupu) tinggal berdua di sebuah rumah kecil yang dibelikan oleh adikku, Vera, yang tinggal di Surabaya. Jadi tidak serumah dengan papa dan mamaku lagi. Uak sudah 80 tahun, tapi masih kuat untuk orang seusia dia, walau berjalan sudah menggunakan tongkat.

Makin siang hujan semakin deras. Pelan-pelan air sudah menggenangi jalan di depan rumah. Kami tidak tahu kalau air sudah masuk ke dalam rumah dari arah belakang, karena aku dan Kuku sedang ngobrol di ruang depan. Ketika aku ke belakang, aku kaget melihat ember-ember yang berserakan di lantai ruang makan. Baru aku sadari kalau air hujan sudah masuk melalui pintu belakang dan kamar mandi membawa ember-ember itu hanyut ke dalam ruang makan.

Mulailah aku dan Kuku sibuk memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Amiang, sepupuku saat itu sedang tidur karena sakit berat. Barang-barang kami pindahkan ke atas meja atau ke atas ranjang. Tak lama kemudian air sudah setinggi mata kaki, dan aku segera mencabut kabel kulkas karena aku tak dapat mengangkat kulkas itu ke tempat yang lebih tinggi sendirian. Mengangkatnya berdua Kuku jelas tidak mungkin.

Air terus naik hingga sedengkul. Aku mematikan sekering rumah dan terus menelepon adik-adikku untuk menjemput dan memindahkan kami, tetapi ternyata banjir terjadi dimana-mana dan mereka belum bisa mendekati kami yang di Pangeran Antasari. Aku dan Kuku mulai bingung ketika melihat air sudah mencapai bibir ranjang dan mulai membasahi kasurnya. Kami tidak tahu lagi barang-barang yang kami letakkan di atas ranjang harus dipindahkan kemana lagi. Meja-meja juga sudah penuh dengan barang, akhirnya kami pasrah saja melihat air terus naik.

Adik-adikku masih belum bisa mendekati kami. Amiang, sepupuku yang sakit, sudah dibaringkan di atas meja makan dengan mengorbankan barang-barang yang tadinya kami letakkan di atasnya. Aku mulai panik ketika air sudah mencapai pinggul. Adikku, Prisca, menyuruhku untuk tidak panik, toh aku bisa berenang. Dia lupa satu hal, kalau yang kukhawatirkan itu bukan diriku sendiri tetapi masih ada dua orang lagi, yaitu satu orang tua yang berusia 80 tahun dan satu orang lagi yang sedang sakit. Prisca kemudian mengatakan suatu kalimat yang membesarkan hati, "Kamu betul-betul dikirim Tuhan ke sini. Coba bayangkan apa yang terjadi dengan Kuku dan Amiang kalau kamu tidak ada di sini?"

Banjir sudah sepinggang tingginya ketika adikku, Albert, dan istrinya, Siska, nekad menerobos banjir dan mendatangi kami dengan berjalan kaki, meninggalkan mobil mereka di dekat jalan Juanda. Akhirnya kami diungsikan dari rumah itu walau harus berjalan kaki perlahan-lahan dan berpegangan satu sama lain.

Lihat Selengkapnya...

25 Oktober 2008

Ruddy Soehartono


Semalam aku mimpi bertemu dengan sahabatku Ruddy Soehartono dan beberapa teman SMA lain. Ingat Ruddy, aku jadi ingat dengan suatu kelakuan kami yang lucu semasa SMA dulu. Setelah lulus SMA aku tidak pernah bertemu dengan Ruddy lagi, karena dia langsung berangkat ke Amerika Serikat untuk kuliah, sementara aku langsung berangkat ke Tarakan dan bekerja di Pulau Bunyu. Aku tidak kuliah karena alasan ekonomi keluarga yang tidak mendukung. Aku hanya mendengar dari teman-teman kalau Ruddy sempat pulang ke Samarinda beberapa kali dan mengadakan reuni kecil dengan teman-teman sekelas, tapi aku tidak hadir karena teman-teman tidak dapat menghubungi aku, maklum komunikasi waktu itu tidak semudah dan secanggih sekarang.

Ruddy akhirnya menikahi adik kelas kami, Liby, cewek yang sering digodanya waktu di sekolah dulu, dan kemudian memboyongnya juga ke San Fransisco, Amerika Serikat. Juni 2008 lalu aku bertemu dengan kakak dan ipar Ruddy di Red Top Hotel, Jakarta, dalam acara reuni orang-orang Samarinda yang tinggal di perantauan, dan aku hanya dapat kabar bahwa Ruddy sudah lama tidak pulang ke Indonesia. Aku menyesal karena saat itu aku lupa meminta alamat e-mail atau nomor kontak Ruddy di Amerika.

Di kelas 3 SMAK dulu, aku dan Ruddy pernah mengadakan survei terhadap cewek-cewek di sekolah kami. Aku sendiri lupa siapa yang mencetuskan ide ini pertama kali, apakah aku atau Ruddy. Kami menetapkan waktu satu minggu untuk mensurvei cewek di sekolah kami yang mempunyai betis atau kaki yang terindah, dan cewek dengan betis atau kaki yang terjelek. Waktu istirahatlah yang banyak kami gunakan untuk melakukan survei.

Beberapa hari lewat, belum satu minggu dari batas waktu yang kami tentukan, aku dan Ruddy ternyata sudah punya pilihan cewek untuk menduduki kedua nominasi itu. Kemudian kami sepakat untuk mengakhiri survei, dan menyebutkan nama untuk cewek dengan kaki terindah dan cewek dengan kaki terjelek. Kemudian aku dan Ruddy tertawa terbahak-bahak karena kedua cewek yang kami sebutkan itu SAMA PERSIS! Aneh memang, dari sekian ratus cewek di sekolah kami, kami bisa mendapatkan hasil survei yang sama. Aku tidak akan menuliskannya di sini siapa cewek dengan kaki terindah itu dan siapa cewek dengan kaki terjelek itu. Biarlah menjadi kenangan kami berdua.

Ruddy, dimana pun kamu berada, mudah-mudahan suatu hari kamu mampir di blogku ini dan membaca kisah ini. Sengaja judul artikel ini aku tulis dengan nama kamu. I believe someday, someway, we'll meet again.. Oh ya, sepertinya kamu benar kalau aku tidak punya bakat main gitar, walau sudah belajar dari kamu sewaktu masih sekolah dulu dan ikut kursus gitar di Denpasar.. He he he..

Lihat Selengkapnya...

24 Oktober 2008

Sungai Kerbau


Bicara mengenai Sungai Karang Mumus mengingatkan aku pada Sungai Kerbau, karena Sungai Karang Mumus biasanya menjadi tempat pemberangkatan perahu atau kapal kecil ke Sungai Kerbau, yang memakan waktu lebih-kurang setengah jam perjalanan. Sungai Kerbau juga merupakan anak dari Sungai Mahakam yang letaknya di sebelah selatan Sungai Karang Mumus, termasuk dalam Kelurahan Selili, Kecamatan Samarinda Ilir. Satu-satunya peta Kota Samarinda yang mencantumkan nama dan letak Sungai Kerbau adalah peta yang dicetak dan diterbitkan oleh PT Karya Pembina Swajaya, Surabaya.

Semasa Haji Nawi yang tinggal di jalan Banda masih hidup Sungai Kerbau dijadikan tempat ziarah orang-orang Samarinda. Kabar yang kudengar semasa kecil di sana terdapat makam keramat, dan orang-orang berziarah ke sana untuk meminta keselamatan dan kekayaan. Di sana ada dua balai-balai besar untuk sembahyang dan tempat makan. Di sisi lain ada tempat pemotongan hewan kurban. Aku masih ingat kalau makam keramatnya terletak di tengah-tengah sungai. Jadi harus menggunakan perahu kecil untuk mencapai makam keramat itu.

Semasa kecil aku ke Sungai Kerbau ada kira-kira 10 kali karena mendapat undangan dari kenalan papa yang keluarganya melakukan ziarah. Aku dan keluargaku pergi hanya untuk main atau menghormati yang mengundang. Keluarga kami tidak mempunyai tradisi dan kepercayaan seperti itu. Waktu itu yang menarik dari Sungai kerbau adalah alamnya yang masih asri, dan perjalanan yang mengasyikan di atas kapal.

Setelah kapal yang kami tumpangi merapat di bibir muara Sungai Kerbau, kami harus berjalan kira-kira 15 menit lagi untuk mencapai lokasi makam keramat tersebut. Kapal yang kami tumpangi tadi tidak dapat masuk ke dalam Sungai Kerbau yang kecil. Jalan setapak untuk mencapai lokasi makam keramat dibangun di atas sungai dengan mengunakan kayu ulin. Sepanjang perjalanan itu kita akan berjumpa dengan banyak monyet yang sedang bermain, makan atau berlompat-lompatan di atas pohon. Suasana sangat damai, asri dan nyaman.

Terakhir kabar yang aku dengar tempat itu tidak pernah dikunjungi lagi, yaitu sejak Haji Nawi meninggal beberapa tahun lalu.

Lihat Selengkapnya...

23 Oktober 2008

Sungai Karang Mumus


Sungai Karang Mumus adalah nama anak Sungai Mahakam yang membelah kota Samarinda ke arah utara. Setiap pulang ke Samarinda aku senang dan sering melewati pinggiran sungai ini. Banyak kenangan semasa aku masih remaja di sini. Di sungai ini juga aku pertama kali bisa berenang. Aku dan adikku, Albert, sering berenang dan bermain bersama teman-teman tetangga yang tinggal di jalan Banda dan di jalan Samosir, antara lain: Wahid, Osen, Ahan, Ipit, dan lain-lain. Kami tinggal di sana dari 1974 sampai dengan 1978.

Tahun 2008 ini aku sudah dua kali pulang ke Samarinda. Yang pertama di bulan April dan yang kedua di akhir July sampai 12 Agustus 2008. Senang rasanya setiap kali bisa kembali ke Samarinda. Pinggiran Sungai Karang Mumus kini lebih tertata rapi dan bersih. Tidak ada lagi rumah-rumah kayu yang berdiri di pinggiran sungai. Namun, kini air Sungai Karang Mumus tidak lagi memancarkan pesona sebagaimana waktu kami kecil dulu. Kini airnya dangkal dan cenderung berwarna coklat kemerahan atau coklat tua.

Di Sungai Karang Mumus ini aku pertama kali belajar berenang. Aku belajar sendiri dengan berpegangan pada sebuah paku besar pada batang (kayu). Pemilik rumah di sekitar bantaran sungai hampir semua mempunyai semacam rakit yang terbuat dari dua atau tiga batang kayu besar sebagai tempat MCK (mandi, cuci dan kakus). Di Samarinda kami cukup menyebutnya "batang". Misalnya: "Mandi di batang, yuuk..?" Dan hanya dalam lima hari aku sudah bisa berenang.

Suatu hari ketika kami bermain salto-saltoan di atas air, kepalaku menghantam pinggiran batang karena lompatanku kurang jauh ke tengah. Beberapa detik aku sempat hanyut oleh arus sungai karena tak sadar setelah benturan, waktu itu aku memang tidak sampai pingsan. Lain waktu aku hampir kena lempar kayu ulin yang cukup besar ketika sedang menyelam di bawah air. Ahan yang melempar kayu ulin itu tidak tahu kalau aku sedang menyelam di bawahnya dan kayu itu meluncur tepat melewati sisi kanan kepalaku! Aku kaget dan Ahan juga kaget ketika melihat aku muncul dari dalam air.

Setahun sekali Sungai Karang Mumus menjadi sangat ramai oleh manusia yang mandi di sana. Hari itu warga Tionghoa merayakan Duan Wu Jie atau Peh Cun yang jatuh pada tanggal lima bulan lima dalam penanggalan Tionghoa. Perayaan ini merupakan ritual masyarakat Tionghoa untuk mengucap syukur yang dilakukan pada saat musim kemarau. Selain mandi untuk membersihkan diri, siram-menyiram air pun tak terhindarkan. Tidak ada yang boleh marah. Di hari raya Peh Cun ini pun kita dapat membuat sebuah telur berdiri tegak ketika tepat jam 12 siang. Tidak ada penjelasan mengenai hal itu, tetapi kemungkinan disebabkan oleh besarnya gaya tarik Matahari dan Bulan saat itu karena hari raya Duan Wu atau Peh Cun selalu ditandai dengan air pasang yang besar.

Semua tinggal kenangan. Masa remaja yang indah. Satu lagi kenangan yang begitu manis tentang mandi di batang adalah lagu Dina Mariana yang sedang ngetop saat itu yang sering menggema dari rumah pemilik batang tempat kami berenang... "Goyang, goyang, goyang, goyang, kita bergoyang... Mari, mari, mari, mari, kita menari... Bergoyang ke kanan, bergoyang ke kiri..." Ha ha ha...

Lihat Selengkapnya...

22 Oktober 2008

Kebakaran Besar 1973


Sejak dulu Samarinda memang sering dilanda kebakaran, terutama semasa kecilku dulu. Sehingga waktu itu seorang saudara sepupuku yang tinggal di Balikpapan mengatakan kalau Samarinda itu terkenal karena kebakarannya. Dan kebakaran menjadi semacam momok buatku yang masih kecil. Setiap mendengar bunyi kentongan atau tiang listrik dipukul dan teriakan kebakaran, seketika jantungku serasa berhenti berdenyut, badanku menggigil hebat, kakiku lemas, mulutku kaku dan gigiku gemertak. Ada satu peristiwa kebakaran yang tak mungkin kulupakan, yang begitu mengerikan dan hampir merenggut nyawa seluruh anggota keluargaku!

Maret 1973, pukul 03.00 dini hari, kami semua terbangun karena mendengar teriakan kebakaran dari Kuku (uak) kami. Seperti biasa Aku langsung menggigil ketakutan. Tak lama kemudian papa menyuruh kami semua untuk segera keluar dari rumah. Ternyata api sudah melahap atap rumah kami! Dalam kepanikan kami berusaha menyelamatkan diri, tapi saat itulah mama baru sadar kalau yang digendong mama bukanlah adik kami, Anastasya, yang baru lahir sebulan, melainkan bantal. Mama dan papa kemudian berlari masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambil adik kami. Bara dan abu sudah berjatuhan dari atap rumah ketika kami keluar untuk menyelamatkan diri.

Kebakaran di jalan Pelabuhan itu meludeskan semua harta milik kami, baik rumah maupun toko beserta isinya, dan bahkan hampir merenggut nyawa keluarga kami.
Tidak ada barang yang dapat kami bawa selain pakaian tidur yang melekat di tubuh kami. Aku ingat, sehari setelah kebakaran aku dan mama mengais-ngais di lokasi kebakaran dan menemukan sedikit perhiasan emas mama yang sudah lumer tak berbentuk.

Kami tinggal di toko yang berlantai dua itu sewaktu rumah kami yang di Gang Tikus dibangun. Tak berapa lama kemudian setelah rumah itu selesai dibangun, rumah baru itu terbakar habis dalam suatu kebakaran besar. Kurang dari setahun kemudian menyusul toko kami yang terbakar habis. Seorang teman kecil ku mengatakan keheranannya, "Keluargamu koq dikejar-kejar api terus sih?"

Malam kejadian itu Kuku (uak) terbangun karena ingin buang air kecil. Ketika mendengar suara seperti barang terbakar di atas atap dan langit di luar lubang angin tampak merah membara, beliau lantas berteriak membangunkan kami semua. Anehnya waktu itu di luar belum ada bunyi kentongan atau tiang listrik dipukul, atau teriakan kebakaran untuk membangunkan kami, padahal api sudah besar.

Bersyukur pada Tuhan kalau aku dan keluargaku telah diluputkan dari malapetaka waktu itu, walau kemudian kami harus hidup apa adanya dan menerima tawaran baik dari seorang kenalan papa untuk menempati sebuah rumah kecil di jalan Dermaga Gang Beringin secara gratis. Setahun kemudian kami pindah ke sebuah rumah kontrakan di jalan Banda.

Terima kasih kepada semua sahabat orang tua kami dan famili kami yang telah membantu kami tanpa pamrih ketika itu. Aku yakin Tuhan telah membalas kebaikan dan kemurahan hati kalian semua. Amin.

Lihat Selengkapnya...

21 Oktober 2008

Bell's Palsy


Bell's Palsy adalah nama penyakit yang menyerang saraf wajah (syaraf ketujuh), yang letaknya di belakang telinga sebelah bawah, sehingga menyebabkan kelumpuhan pada otot wajah pada salah satu sisi. Kelumpuhan ini hanya terjadi pada wajah. Ini yang membedakannya dengan stroke (yang menyerang separuh tubuh, termasuk wajah). Ditandai dengan susahnya menggerakkan otot wajah pada bagian yang terserang, seperti mata tidak dapat menutup rapat, tidak bisa meniup, minum selalu tumpah, dan sebagainya.

Penyebab kelumpuhan ini masih menjadi perdebatan. Beberapa ahli menyatakan penyebabnya adalah karena terpapar angin dingin pada salah satu sisi wajah secara terus menerus, ada juga yang menyatakan hal itu disebabkan oleh viirus. Sebagian penderita bisa sembuh tanpa pengobatan, tetapi disarankan untuk menjalani pengobatan dan terapi agar bisa segera sembuh. Nama penyakit ini diambil dari nama seorang ahli anatomi Skotlandia, Charles Bell. (Sumber Wikipedia)

Kenapa aku membahas penyakit ini? Karena aku pernah terkena penyakit ini di tahun 2001. Suatu Sabtu pagi, setelah semalaman menempuh perjalanan dengan bus malam yang ber-AC sangat dingin dari Surabaya, aku tiba di Denpasar sekitar pukul 07.00 WITA. Saat menggosok gigi di rumah itulah pertama kali aku merasakan gejala penyakit ini (saat itu aku belum tahu kalau itu adalah gejala penyakit Bell's Palsy). Saat aku kumur air selalu tumpah dari sisi mulut sebelah kiri, demikian juga waktu minum saat sarapan pagi.

Dalam perjalanan menuju ke toko supplier mebel di daerah Seminyak, Kuta, aku beberapa kali melihat wajahku dari kaca spion dalam mobil, kelihatannya makin aneh. Wajahku tampak kaku sebelah. Kalau senyum atau ngomong mulutku kelihatan merot atau mencong. Tiba-tiba aku teringat dengan seorang pemuda dengan kondisi yang sama yang tinggal tak jauh dari rumahku di jalan Banda, Samarinda, waktu itu aku kelas enam SD. Apa sakitku sama dengan dia? Untuk kembali ke rumah sudah tanggung, aku terus menuju ke toko kenalanku itu. Walau urusanku cuma sebentar tapi ada perasaan malu juga menghinggapi hatiku saat itu. Aku banyak menutup mulutku dengan jari tangan waktu ngomong dan coba menghindari pandangan langsung.

Waktu itu aku pikir ini bukan penyakit. Mungkin semacam alergi atau apalah yang sifatnya sementara. Besoknya Minggu otomatis aku hanya mendekam di rumah saja sambil berharap "ada keajaiban" wajahku kembali normal. Oleh karena sampai Senin pagi wajahku belum juga kembali normal, aku memutuskan untuk ke rumah sakit. Ditemani istriku aku pergi berobat ke dokter syaraf di Rumah Sakit Angkatan Darat (RSAD), Denpasar. Aku sembuh setelah minum obat dan menjalani fisio terapi selama lebih dari dua bulan.

Satu pelajaran penting yang kudapat dari sakit ini adalah BEROBATLAH SEGERA bila timbul gejala awal seperti di atas. Secara medis penyakit ini memang bisa sembuh sendiri, tetapi kecil kemungkinannya. Bila terlambat risikonya justru lebih besar. Kesembuhannya akan menjadi lebih lama, harus dengan minum obat dan fisio terapi pada wajah selama berbulan-bulan; atau bahkan tidak dapat disembuhkan karena syaraf wajah telah menjadi rusak permanen.

Sebaliknya, bila ditangani secara dini, penyakit ini bisa sembuh dengan cepat atau bahkan sembuh SEKETIKA dengan hanya minum obat dalam dosis tertentu. Keluargaku mengira aku terkena stroke atau diguna-gunai orang. Tapi percayalah, ini adalah sebuah penyakit yang dinamai... Bell's Palsy.


Lihat Selengkapnya...

18 Oktober 2008

Suster Sri Banoen


Peny sudah beberapa kali makan di depot kami Soto Banjar Samarinda di BSD City. Dia juga berasal dari Samarinda seperti halnya aku dan istriku, dan ini yang membuat kami cepat akrab. Sore itu, 26 Mei 2008, Peny datang lagi ke depot kami, tetapi kali ini dia datang bersama ibunya. Ibunya baru datang dari Samarinda, dan baru pertama kali makan di tempat kami.

Seusai makan ibunya Peny bertanya apakah kami orang Samarinda. Kami jawab: ya, kami orang Samarinda. Kemudian aku bertanya nama beliau, namun beliau tidak langsung memberitahukan namanya, tetapi profesinya sebagai seorang bidan semasa mudanya. Seketika itu muncul nama Sri Banoen dalam benakku, tapi untuk mengatakannya aku takut salah. Sampai akhirnya beliau mengenalkan diri bahwa beliau adalah Sri Banoen. Bagiku dan istriku ini benar-benar sebuah kejutan.

Ibu Sri Banoen (lahir di Yogyakarta, 6 September 1935) setelah lulus dari Akademi Perawat di Yogyakarta hijrah
ke Samarinda bersama suami yang asal Tenggarong dan bekerja di Rumah Sakit Umum Daerah Samarinda (RSUD, sekarang bernama Rumah Sakit Islam). Merasa sebagai perawat muda kurang dihargai di lingkungan kerjanya waktu itu, Ibu Sri Banoen mencoba nyambi sebagai bidan keliling yang membantu persalinan ibu-ibu hamil dari rumah ke rumah. Dan ternyata profesi ini yang membuat namanya semakin terkenal. Banyak ibu di Samarinda yang melahirkan lewat tangan lembut Ibu Sri Banoen.

Sebagai anak-anak kami sangat akrab dengan nama Suster Sri Banoen, walau kami tidak bisa mengingat lagi rupanya. Ada juga yang memanggilnya Suster Sari Banoen. Hitung-hitung mungkin aku sudah tidak melihat beliau lebih dari 38 tahun, yaitu setelah Prisca, adikku yang keempat, lahir. Empat adikku yang lahir dibantu oleh Suster Sri Banoen adalah: Albert, Veronica, Fransiskus dan Prisca. Sedangkan aku dan dua adikku yang paling kecil, yaitu Anastasya dan Theresia lahir di rumah sakit.

Di usia yang ke-73, Ibu Sri Banoen masih tetap segar dan sehat. Semoga akan tetap begitu. Mungkinkah kamu salah satu yang lahir lewat tangan penuh kasih Suster Sri Banoen?

Lihat Selengkapnya...

17 Oktober 2008

Mimpi Dua Presiden


Apa arti sebuah mimpi? Apalagi yang dimimpikan itu seorang Presiden. Yang pasti aku tidak tahu, karena aku bukan seorang yang diberi kelebihan atau talenta untuk dapat menafsirkan mimpi. Banyak teman-temanku mengartikannya bahwa aku akan sukses, naik jabatan, akan jadi orang terkenal, mendapat rejeki yang luar biasa, dan sebagainya. Tapi coba dengar ceritaku di bawah ini. Silakan kamu ambil kesimpulan sendiri.

Saat itu aku tinggal dan bekerja di Cirebon. Akhir April 1998, aku mimpi bertemu Presiden Soeharto. Presiden begitu ramah, dengan senyumannya yang khas beliau mempersilakan aku duduk di kursi di sebelah kanannya. Antara kursiku dan kursi Pak Harto dipisahkan oleh sebuah meja kecil. Kesanku beliau begitu hangat dan bersahabat.

Kemudian, saat aku dan keluarga tinggal di Denpasar, di tahun 2002 aku bermimpi bersama Presiden Soekarno. Aku berdiri di sebelah kiri Pak Karno yang sedang berpidato. Aku memegang mic yang dipakai beliau, tapi kemudian aku disibukkan dengan kabel mic yang kusut dan aku coba menguraikannya.

Semua mimpi di atas adalah mimpi yang singkat, bermaknakah? Seperti yang kukatakan di awal tulisan ini, teman-teman yang kuceritakan perihal mimpi ini semuanya mengatakan hal-hal yang luar biasa dan bagus untukku. Tapi ingatkah kamu arti kedua tahun itu, yaitu 1998 dan 2002? Ya? Tidak?

12 Mei 1998, terjadi tragedi Trisakti dan menyusul kerusuhan besar di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia (13-15 Mei 1998), kemudian berlanjut dengan lengsernya Pak Harto sebagai Presiden RI (21 Mei 1998). Semua peristiwa di atas berlangsung kurang dari sebulan setelah mimpiku bertemu dengan Pak Harto tersebut. Kemudian juga prahara datang menimpa rumah tanggaku!

12 Oktober 2002, bom pertama mengguncang Bali. Tempat tinggalku yang berjarak kira-kira 15 Km dari pusat ledakan bergetar hebat seluruh pintu dan jendelanya. Bali seketika dibuat banjir oleh air mata, banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya. Seorang teman kehilangan iparnya (istri adiknya) yang merupakan korban terakhir yang baru dapat diidentifikasikan lewat test DNA dari empat serpihan daging hangus kecil yang tersisa! Bahkan sepeda motor yang dikendarainya pun hancur-lebur dan menguap tanpa bekas!

Ketika mendapat mimpi yang kedua, yaitu mimpi bersama Presiden Soekarno, aku sudah menyampaikan kegusaranku kepada teman-temanku, mengingat aku sudah pernah mendapat pengalaman dari mimpi pertamaku dengan Presiden Soeharto. Salah satunya kepada sahabatku John Mahardjono, seorang dosen di Akademi Pariwisata (Akpar) Bali. Apakah mimpi itu sesungguhnya juga memberi petunjuk bahwa bisnis yang kami bangun bersama waktu itu akan runtuh? Kenyataannya bisnis bersama itu gagal di tahun yang sama. Bukan sebaliknya seperti yang kami sangka.

Jadi, apa arti sebuah mimpi? Apakah mimpi tentang orang-orang besar pertanda akan datangnya bencana? Apakah kebetulan sekali kalau kedua peristiwa di atas terjadi tanggal 12? Mungkin hanya kamu yang tahu jawabnya.

(Peringatan enam tahun peristiwa Bom Bali, 2002-2008)
Lihat Selengkapnya...

15 Oktober 2008

Murung Pudak


Murung Pudak adalah sebuah ibukota kecamatan dari 10 desa di kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Aku tinggal dan bekerja di sana dari 1982 hingga akhir 1984. Aku bekerja dengan sebuah perusahaan kontraktor yang menjadi rekanan Pertamina UEP IV Lapangan Tanjung. Saat itu Kepala Pertamina masih dijabat oleh Bapak Aulia, yang tak lama kemudian beliau dipindahtugaskan ke Prabumulih, Sumatera Selatan.

Di Murung Pudak aku mempunyai sebuah pengalaman yang sangat menarik dan menegangkan hingga tidak mungkin bisa aku lupakan. Bak sebuah sinetron horor, aku pernah terjebak di antara dua perkuburan di tengah malam. Bukan hanya itu saja, tetapi saat itu hujan sangat lebat dengan kilat dan petir yang menyambar tiada henti. Pernah mengalami hal seperti ini? Terus saja ikuti kisah hidupku ini.

Malam itu aku dan beberapa teman sekantor pergi nonton di gedung bioskop Pertamina, aku menjemput mereka satu persatu dengan mobil Jeep CJ-7 milik perusahaan. Nonton di sini sangat murah, waktu itu dengan hanya membayar karcis Rp 750 per orang kita sudah dapat menikmati dua buah film. Film pertama biasanya film India, yang kedua film Barat atau Mandarin. Saat film kedua sedang main, hujan turun sangat lebat. Bioskopnya tidak benar-benar kedap suara karena dibangun dengan stuktur yang sederhana, namun begitu penonton tetap menikmati film yang sedang diputar walau terdengar di luar hujan sangat deras.

Tiba-tiba terjadi kepanikan saat film usai. Tahu penyebabnya? Banyak sandal yang hilang terbawa air hujan yang merembes masuk melalui celah-celah pintu, baik pintu masuk maupun pintu keluar! Kepanikan berubah menjadi sesuatu yang lucu, gedung bioskop kini menjadi ajang penonton mencari sandal. Tawa dan cekikian terdengar dimana-mana, walau ada juga yang kesal.

Aku kembali mengantar teman-temanku pulang. Saat itu sudah lewat tengah malam dan hujan masih sangat lebat. Kilat dan petir terus menyambar, menggelegar memecah kesunyian langit malam. Setelah mengantar Rusman terakhir pulang, aku menuju ke kantor yang juga menjadi tempat tinggalku. Waktu itu aku menghadapi dua pilihan untuk mencapai kantor. Bila berbelok ke kanan, jalannya memutar untuk mencapai kantor, bila lurus jaraknya sangat dekat tetapi harus melewati tanah perkuburan terbuka (tanpa pembatas pagar) yang letaknya saling berhadapan, yang kiri kuburan muslim dan yang kanan kuburan kristen. Setelah menimbang-nimbang aku memutuskan untuk mengambil jalan yang lebih pendek walau harus melewati kuburan. Selain ingin cepat sampai di kantor untuk tidur, aku merasa percaya diri dengan Jeep CJ-7 yang kubawa malam itu.

Aku kaget ketika memasuki area perkuburan. Air menutupi area perkuburan, dan jalan tanah yang membelah perkuburan menjadi dua bagian sudah tidak terlihat. Karena percaya dengan kendaraan yang kupakai, aku tetap meneruskan perjalananku walau harus jalan perlahan. Tetapi, setelah jalan beberapa saat, kepercayaan diriku tiba-tiba hilang. Aku bimbang dengan jalan yang kulewati, walau jalan yang membelah perkuburan itu hanya berupa jalan lurus, aku merasa kehilangan arah. Tidak ada tanda yang bisa menjadi petunjuk arah keluar dari perkuburan. Nisan-nisan juga sudah tidak tampak lagi, air menggenangi semuanya hingga tampak seperti lautan yang sangat luas.

Aku gentar. Akhirnya aku memutuskan untuk mundur saja dan mengambil jalan memutar tadi. Paling tidak mundur masih lebih dekat dan lebih cepat keluar dari area perkuburan pikirku waktu itu. Tapi apa yang terjadi? Setelah mundur beberapa saat mobil yang kubawa ternyata keluar dari badan jalan dan terperosok. Sial! Kemudian aku coba mengendalikan diri agar tidak panik. Setelah berjuang hampir setengah jam mobil tidak juga dapat keluar dari tempatnya terperosok, walau aku sudah menggunakan persneling gardan depan (4-wheels drive). Aku bingung kenapa CJ-7 ini tidak dapat keluar juga dari kondisi ringan seperti ini. Aneh! Kemudian aku memutuskan untuk tidur di dalam mobil sampai pagi menjelang.

Ternyata aku tidak dapat tidur! Pikiranku terus jalan. Saat itu waktu baru menunjukkan pukul 01.00 WITA. Menunggu pagi masih terlalu lama. Apalagi membayangan kalau saat itu aku berada di area perkuburan! Aku sempat merinding juga, apalagi kilat dan halilintar masih terus menyambar, membuat bayang-bayang aneh di luar sana dan di kaca mobil. Karena bajuku juga sudah basah sebagian terkena hujan sewaktu keluar dari bioskop tadi, aku memutuskan untuk meninggalkan mobil dan berlari pulang!

Setelah turun dan mengunci mobil, aku mulai berlari pulang dengan melewati jalan memutar. Satu-satu ketakutanku saat itu adalah tersambar petir. Anehnya, saat itu kilat dan petir menyambar mengikuti suatu pola. Rata-rata kilat menyambar setiap satu menit, diikuti guntur dan petir 3-5 detik kemudian. Jadi setiap satu menit aku berlari aku akan berhenti dan berjongkok sampai kilat maupun petir lewat, baru kemudian berlari lagi sekencang-kencangnya. Aku pernah baca sebelumnya, dengan merapatkan kaki dan berjongkok dapat menghindari kita dari sambaran petir terutama di daerah terbuka yang jarang ada pepohonan atau bangunan.

Akhirnya sampai juga aku di kantor. Setelah mandi dan keramas, aku pergi tidur. Namun jam 03.00 aku terbangun. Dalam tidur aku bermimpi, mimpi yang memberikan aku jawaban kenapa CJ-7 tersebut tidak dapat keluar dari tempatnya terperosok tadi. Ya, ampun, bodohnya aku ini. Kenapa aku tidak bisa mengingat hal yang sepele, yang seharusnya sudah kuketahui. Aku lupa memutar kunci gardan depan yang ada di as roda! Ingin rasanya aku kembali ke mobil, takut mobil hilang dicuri orang. Tapi mengingat hujan masih sangat lebat, aku urungkan saja niatku sampai besok pagi.

Pagi-pagi sopirku, Ali Syahbana, masuk kantor dan langsung bertanya padaku dimana mobil CJ-7 itu berada. Aku bilang, “Ada di kuburan”. Kemudian aku menceritakan kepada Ali apa yang aku alami semalam. Ali tak dapat menahan diri, dia tertawa terpingkal-pingkal. Segera Ali pergi ke kuburan membawa beberapa orang karyawan. Tetapi tak lama kemudian Ali kembali. Aku sudah deg-degan, kupikir mobilnya hilang. Ternyata tidak, mobil tidak dapat ditarik keluar karena kedua ban sebelah kanan kondisinya gembos. Ali bertanya padaku koq bisa begitu. Ya, aku jawab aku tidak tahu. Ali pergi lagi dengan membawa cairan penambal ban tubeless dan pompa angin. Cerita ini terus menjadi bahan tertawaan Ali sesudah itu.

Aku ingin mempersembahkan cerita ini untuk teman-teman sekantorku dulu, antara lain: Ali Syahbana, Martha, Teteh, Ita, Nani, Bijis, Rusman dan lainnya. Ali Syahbana mempunyai seorang anak yang dinamai Anton Riyadi, yang diambil dari namaku dan nama Kepala Desa Belimbing Raya waktu itu Bapak Slamet Riyadi. Bagi para pembaca yang kebetulan mengenal salah seorang dari temanku di atas, mohon kesediaannya untuk memberi info kepadaku. Terima kasih.

(Kalau ada tempat yang sangat ingin kudatangi lagi dalam hidupku, Murung Pudaklah tempat itu)



Aku dan Jeep CJ-7 itu di Warukin, Murung Pudak

Aku dan Ali Syahbana

Lihat Selengkapnya...

13 Oktober 2008

Mimpi, Bintang dan Bencana


Siang itu, di awal April 2006 aku mampir ke toko temanku, Yoseph Setiawan, di jalan Imam Bonjol. Yoseph yang sering kusapa Aliong menjalankan usaha variasi motor di Denpasar.

"Liong, aku semalam mimpi aneh."

"Mimpi apa, Ton?" sahut Aliong antusias.

"Aku mimpi tentang Sri Sultan Hamengku Buwono X," jawabku. Lalu kuceritakan mimpiku itu kepada Aliong.

"Dalam mimpi tiba-tiba aku merasa berada di sebuah ruangan yang sangat gelap dan dingin. Sebuah ruang bawah tanah! Tiba-tiba aku melihat bayangan beberapa orang di sebuah sudut ruangan, yang berdiri samping-menyamping. Aku mendekat, lalu terlihat olehku wajah orang yang berdiri di tengah. Aku kaget, karena wajah itu adalah wajah Sri Sultan Hamengku Buwono X. Aku tidak dapat melihat wajah-wajah lainnya yang berdiri di samping kiri maupun kanan Sri Sultan. Semua wajah itu gelap. Kemudian, tiba-tiba Sri Sultan menyerahkan sesuatu padaku, sebuah kunci! Aku bertanya kepada Sri Sultan kunci apa itu. Sultan menjawab bahwa itu adalah kunci Keraton, dan Sultan berpesan untuk menjaganya baik-baik.

Aku meninggalkan Sultan, berjalan melalui sebuah lorong. Tak lama kemudian aku sampai di sebuah ruangan bawah tanah yang cukup luas dan cukup cahaya dimana aku dapat melihat ada beberapa jenis binatang buas di sana. Aku melihat ada macan, singa, buaya dan lain-lain. Aku terus berjalan sampai akhirnya jalan itu menanjak naik seperti tangga yang ternyata itu adalah jalan keluar dari ruang bawah tanah Keraton.

Saat aku keluar, aku dapat mengenal bahwa jalan keluar itu ada di sebelah barat alun-alun utara Keraton Yogyakarta. Tetapi, aku melihat ada kepanikan besar di alun-alun Keraton. Ada ratusan orang di sana. Aku coba bertanya pada seseorang dan jawabnya: 'Sri Sultan menghilang! Kami sudah mencari kemana-mana.' Ketika aku menjelaskan bahwa aku baru saja bertemu dengan Sri Sultan, mereka beramai-ramai menuduhku berbohong. Aku kemudian menjelaskan bahwa aku ada bukti kalau aku baru saja bertemu dengan Sri Sultan. Aku menunjukkan kunci Keraton yang diberikan Sri Sultan. Setelah diteliti oleh sesepuh Keraton, mereka nyatakan kunci itu asli. Kemudian mereka bertanya padaku dimana Sri Sultan berada. Aku jawab bahwa Sri Sultan ada di ruang bawah tanah istana."

Aliong mengatakan mungkin aku terlalu terobsesi dengan pribadi Sultan atau terlalu sering melihatnya di TV hingga terbawa mimpi. Aku cuma bilang ke Aliong bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono X bukanlah sosok yang aku kagumi sampai dapat membuatku memimpikan Sultan.

Lili, istri Aliong, malah mengatakan aku seorang tukang mimpi. Tapi dengan enteng aku mengatakan bahwa Yusup juga seorang tukang mimpi, sampai akhirnya dia diangkat menjadi penguasa Mesir.

Beberapa hari kemudian aku mampir lagi di tokonya Aliong. Kali ini Aliong langsung menyambutku dengan pertanyaan.

"Ton, kalau ndak salah dulu kamu pernah bilang kalau malam hari muncul bintang yang besar dan sangat terang itu pertanda akan terjadi bencana yang besar di bumi. Betul, ndak?"

"Betul, asal bintang itu seperti bintang yang kulihat. Karena itu sesuai dengan pesan peringatan kepada manusia yang disampaikan Bunda Maria kepada tiga anak gembala di Fatima (1917). Apa kamu yang melihatnya, Liong?"

"Bukan, tapi keponakanku yang di Surabaya. Katanya minggu lalu dia melihat sebuah bintang yang besar dan sangat terang sekali, tidak seperti bintang lain."

"Percayalah, Liong. Lihat saja apa yang nanti terjadi, seminggu, sebulan atau setahun ke depan. Ingat waktunya Tuhan beda dengan ukuran waktu kita. Mungkin saja akan terjadi sesuatu besok. Aku masih terus teringat mimpiku, Liong. Aku memang merasa akan terjadi sesuatu. Aku ingin menyampaikan mimpiku ke Sultan, tapi aku juga takut. Kalau tidak terjadi apa-apa nanti pasti aku diketawai banyak orang. Aku tidak bisa mengartikan mimpi, mungkin ada orang di Keraton yang bisa."

Pada pertengahan April 2006, Merapi menunjukkan tanda-tanda akan meletus. Aku mampir lagi ke tempat Aliong dan mengatakan boleh jadi bencana besar itu mungkin meletusnya Gunung Merapi. Sesudah itu kita tahu bahwa aktivitas Merapi tidak pernah surut, malahan makin hari makin meningkat hingga benar-benar meletus pada 15 Mei 2006.

Sekitar 24 Mei 2006, aku bersama istriku sedang berbelanja di Tiara Dewata, sebuah supermarket terlengkap dan teramai di kota Denpasar, dan memiliki banyak cabang di Bali, sampai menembus kota Banyuwangi. Sementara istriku sibuk belanja di supermarket, aku berkutat di toko buku yang letaknya di lantai dua. Setelah jelalatan melihat setiap buku di sana, aku tertarik dengan sebuah buku berjudul Born to Fight karangan MC Maryati. Aku kaget karena buku itu berisi kata sambutan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, namun lebih kaget lagi karena salah satu kata yang dipakai Sri Sultan dalam sambutannya adalah "kunci".

Karena di buku itu ada nomor kontak MC Maryati, maka aku coba menulis sebuah sms kepadanya. Setelah mengenalkan diri, aku menceritakan mimpiku dan menyampaikan maksudku kepadanya bagaimana aku bisa menceritakan mimpiku kepada Sri Sultan. Walau Merapi sudah meletus tapi diriku belum tenang karena aku merasa bencana belum berakhir. Aku mendapat respon yang baik dari MC Maryati, namun aku disarankan untuk menyampaikan sendiri kepada Sri Sultan.

27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB, Yogyakarta dihantam gempa yang sangat dahsyat yang meluluhlantakkan kota-kota di sekitar pantai selatan D.I. Yogyakarta, dan menelan korban meninggal 6.000 jiwa lebih dan puluhan ribu yang luka-luka. Kabupaten Bantul merupakan daerah yang paling parah terkena bencana, lebih dari 7.000 rumah di daerah ini rubuh. Candi Prambanan juga mengalami kerusakan yang sangat parah.

Siang harinya aku mengunjungi Aliong lagi. Aliong menggeleng-gelengkan kepala dan membenarkan arti penampakan bintang besar dan bersinar sangat terang itu. Aku kembali mengirim sms kepada MC Maryati, masih dengan respon yang bagus namun aku tetap disuruh langsung menghubungi Sri Sultan dengan cara mengirim surat. Aku juga diberi alamat kantor Sri Sultan di Kantor Gubernur, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Namun seiring dengan berjalannya waktu desakan dalam hatiku untuk menceritakan mimpiku kepada Sri Sultan makin berkurang.

Mungkin bintang yang dilihat keponakan Aliong itu adalah bintang yang sama dengan yang kulihat di suatu malam di bulan Agustus 2003, ketika itu Planet Mars dengan warna kemerahannya yang khas bisa dilihat dengan sangat jelas melalui mata telanjang, karena posisinya yang paling dekat dengan Bumi saat itu dan hanya terjadi setiap 60.000 tahun sekali dengan jarak 56 juta kilometer dari Bumi.

Malam itu aku dibonceng oleh temanku Wiyono dengan sepeda motornya. Kami baru saja pulang dari rumah seorang teman di daerah Batu Belig, Kuta. Ketika memasuki daerah Padang Sambian, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang aneh di atas ubun-ubun kepalaku. Ketika aku menengadah ke langit, aku melihat ada sebuah bintang berwarna putih yang sangat terang. Anehnya, bintang itu membesar, membesar dan makin membesar, dan makin terang, sampai seukuran bola tenis sebelum ia berangsur-angsur mengecil dan menghilang di antara ribuan bintang. Wiyono? Dia tidak melihat dan terus memacu motor, dan sepertinya aku sudah tidak mengingat dia lagi ketika aku menyaksikan bintang itu.

Kemudian kita semua tahu, pada tanggal 26 Desember 2004, Banda Aceh dan sekitarnya serta beberapa negara tetangga dihantam gempa bumi yang maha dahsyat (9,3 skala richter) yang menimbulkan gelombang pasang (tsunami) yang sangat besar, hingga menelan sangat banyak korban jiwa. Dipastikan lebih dari 150.000 jiwa yang tewas oleh bencana itu.

Semua peristiwa dan bencana adalah rahasia Tuhan Yang Mahakuasa. Semua peringatan disampaikan kepada manusia agar manusia dapat lebih waspada dan membenahi diri. Ukuran waktu menjadi relatif, karena ukuran waktu Tuhan jelas beda dengan ukuran waktu kita manusia. Maka hendaklah kita selalu waspada.

Lihat Selengkapnya...

12 Oktober 2008

Nyepi 1999


Satu hal yang paling menarik hatiku selama aku dan keluarga tinggal di Bali adalah Nyepi. Selama tinggal di Bali delapan setengah tahun aku mengalami sembilan kali Nyepi, dimulai dengan Nyepi di tahun 1999 sampai dengan Nyepi di tahun 2007. Tak sekalipun aku ingin melewatkan Nyepi di Bali, sementara banyak orang (khususnya pendatang) berbondong-bondong meninggalkan Pulau Bali untuk menghindari Nyepi dengan pulang kampung atau plesir ke pulau tetangga seperti Jawa dan Lombok.

Bagiku Nyepi itu suatu peristiwa yang begitu indah dan sayang untuk dilewatkan. Nyepi adalah anugerah. Saat itu alam seperti mendadak mati dan hening.. dan udara terasa begitu murni. Tidak ada keributan dan kebisingan. Sepi. Senyap. Binatang-binatangpun seakan ikut mengerti, mereka ikut diam dan membisu. Semua ini hanya bisa kamu nikmati setahun sekali hanya di sebuah pulau surga yang bernama Bali. Tidak ada tempat lain di dunia yang sama seperti ini. Jadi mengapa harus meninggalkan Bali di kala Nyepi?

Setelah mengalami gelap total dan kesenyapan sepanjang malam, dan ketika matahari pertama muncul di ufuk timur keesokan hari, kehidupan baru seakan muncul dan memenuhi alam raya. Hidup diperbaharui dan kehidupan baru dimulai lagi.

Adalah Nyepi pertama yang kualami 18 Maret 1999, saat itu aku masih kos di daerah Tegal Jaya. Seluruh penghuni kos sudah pada kabur entah kemana. Satu-satunya makhluk hidup yang tersisa di kos saat itu hanya aku. Maklum aku baru dua setengah bulan di Bali, masih belum banyak kenalan. Tetapi aku sangat menikmati hari itu, aku mengisinya dengan membaca buku di dalam kamar atau di teras kos, sesekali aku jalan-jalan di halaman kos yang lengang, berdiri di tengah jalan depan kos sambil menengok ke kiri-kanan, tidak ada satu makhluk hidup pun! Saat itu aku merasa sebagai satu-satunya makhluk hidup yang menguasai bumi ini. Ha ha ha..

Sore sebelum malam menjelang aku menutup semua lubang angin dan jendela kamar kosku, maksudku supaya malam hari aku masih bisa membaca dengan mengunakan lampu kamar, tanpa terlihat dari luar. Tetapi ternyata sore hari listrik di kosku dipadamkan. Untung aku sudah menyiapkan air panas dalam termos untuk membuat mie instan sebagai makan malamku. Untuk membaca aku menggunakan lampu senter.

Keesokan hari aku terbangun karena merasakan cahaya yang begitu terang menimpa wajahku. Aku kaget dengan kondisi kamarku yang terang benderang. Dinding-dinding kamarku bagaikan layar bioskop yang dipenuhi awan-awan yang bergerak dan bayangan pohon-pohon. Aku sempat bingung dengan keberadaanku beberapa saat. Setelah cukup sadar akhirnya aku tahu cahaya terang itu berasal dari lubang kunci kamarku. Aku coba mengintip, aku melihat matahari tepat tegak lurus dari lubang kunciku. Aku melihat awan-awan yang bergerak di langit luar sana dan pohon-pohon yang tumbuh di halaman kos. Oh, aku ada di dalam kamar Obscura! Sungguh pengalaman yang sangat menakjubkan!

(Kamera obscura adalah kamera sederhana berbentuk kotak tertutup yang diberi lubang kecil di tengah salah satu sisinya. Penemu Prancis yang bernama Joseph N. Niépce menggunakan konsep ini untuk menciptakan hasil fotografi permanen yang pertama)

Lihat Selengkapnya...

11 Oktober 2008

Rambut Siwi


Malam itu di bulan Agustus 1999, ketika aku, Pak Teddy (rekan sekantorku) dan seorang tamu bule asal Spanyol sedang dalam perjalanan kembali ke Denpasar, setelah seharian kami di Banyuwangi untuk menemani sang buyer bule ini melakukan inspeksi akhir furnitur pesanannya yang siap diekspor.

Waktu menunjukkan lebih-kurang pukul 19.30 wita ketika kami mendekati Rambut Siwi. Rambut Siwi (18 Km dari Negara ke arah Timur atau 78 Km dari Denpasar ke arah Barat) terkenal dengan Puranya yang didirikan oleh seorang Pendeta Hindu dari Majapahit yang bernama Dang Hyang Nirartha, yang melakukan perjalanan sucinya (dharma yatra) di Bali pada abad XVI.

Suasana senyap sejak kami mulai turun dari penyeberangan Gilimanuk, karena baik tamu bule yang duduk di sampingku maupun Pak Teddy yang duduk di kursi belakang sudah tidak bersuara lagi, mungkin terlelap karena kelelahan, pikirku. Aku tetap menyetir dengan konsentrasi penuh walau badan terasa penat juga. Sorot lampu depan mobil tiba-tiba menangkap sesosok orang di kejauhan yang berpakaian serba putih berdiri di sisi kiri jalan, sepertinya ingin menyeberang ke arah Pura Rambut Siwi yang ada di sisi kanan jalan. Aku segera memperlambat laju mobil untuk memberinya kesempatan menyeberang.

Ketika sosok orang itu makin dekat dan laju mobil semakin melambat, orang tersebut - yang berpakaian layaknya seorang Pendeta Hindu - mulai menyeberang. Jarak orang itu dengan mobil mungkin tinggal lima sampai enam meter ketika orang tersebut tiba-tiba menghilang di tengah jalan.. berubah menjadi selembar kain putih yang melayang ke udara bagai ditiup angin, dan menghilang.. Aku terkesima, namun bingung. Aku masih bertanya pada diri sendiri, "apa itu tadi ya?"

Sambil menancapkan gas mobil kembali, aku terus memikirkan kejadian itu. Namun, baru kira-kira 20 detik kemudian dari arah kursi belakang terdengar suara lirih berkata, " Pak Anton, tadi ada orang yang menyeberang ya?"

"Hah? Pak Teddy melihat kejadian tadi ya? Pak Teddy ngga tidur?", balasku setengah kaget.

"Iya, saya lihat, tapi orangnya menghilang...", lanjut Pak Teddy. Seketika itu juga badanku langsung dingin dan merinding.

Bule Spanyol terbangun karena mendengar suara ribut kami berdua dan bertanya apa yang terjadi. Kemudian kami ceritakan apa yang baru kami lihat tadi. Tapi dia berulang-ulang mengatakan, "Ghost? I don't believe it!"

Beberapa teman Bali yang beragama Hindu mengatakan bahwa itu pertanda yang baik buatku. Mereka mengatakan itu merupakan penampakan dari sang pendiri Pura Rambut Siwi, yang juga pendiri dari Pura Tanah Lot dan Pura Luhur Uluwatu. Itu anugerah buatku, kerena mereka yang beragama Hindu saja belum tentu diberi kesempatan melihat kejadian seperti itu. Amin.


Lihat Selengkapnya...

08 Oktober 2008

Déjà Vu


Ini juga suatu pengalaman yang cukup banyak aku alami, walau tidak sebanyak pengalaman "kebetulan". Déjà vu berasal dari bahasa Prancis yang berarti "pernah melihat sebelumnya" adalah suatu pengalaman perasaan (sensasi) yang aneh, merasa pernah ke suatu tempat sebelumnya atau pernah mengalami situasi saat ini sebelumnya, meskipun sesungguhnya belum pernah.

Seorang pakar holistic terkenal di negeri kita menyebutkan dalam salah satu bukunya bahwa déjà vu menunjukkan kebenaran mengenai adanya reinkarnasi. Awalnya aku sangat tertarik dengan kesimpulan ini. Sampai suatu hari aku menemukan sebuah buku yang luar biasa, yang menjelaskan banyak hal terutama tentang déjà vu dengan lebih logis, dan membalikkan kesimpulan yang dibuat pakar holistic itu.

Dari pengalaman menakjubkan sekitar kematiannya (mati suri selama empat jam akibat komplikasi setelah operasi melahirkan anaknya yang ketujuh), Betty J. Eadie menceritakan dalam bukunya Embraced by the Light (Dalam Pelukan Cahaya) bahwa déjà vu berasal dari pengalaman roh sebelum kita lahir ke dunia, jadi bukan karena lahir kembali atau reinkarnasi.

Sebelum kita lahir, roh kita sudah melihat "gambar hidup" seperti apa dan bagaimana hidup yang akan kita jalani. Nah, "gambar hidup" tersebut ikut tersimpan di dalam sel-sel tubuh kita berupa kode genetik yang dibawa kromosom (DNA). Walau setelah lahir ke dunia seluruh ingatan kita dihapus, tetapi memori yang tersimpan di dalam sel-sel kita dapat muncul sewaktu-waktu dan membuat kita seakan-akan ingat atau mengalami sensasi masa lalu. Pengalamanku bukan hanya pernah merasakan sensasi masa lalu yang berulang, tetapi suatu kali aku pernah "melihat"nya berulang (seperti arti harafiah déjà vu dalam bahasa Prancis tersebut).

Tahun 1974-1978, kami tinggal di jl. Banda no.33, Samarinda (setelah mengungsi beberapa kali akibat kebakaran yang memusnahkan rumah kami dan kemudian toko kami dalam rentang waktu satu tahun). Malam itu aku tengah belajar di ruang makan, memang meja belajarku ada di ruang makan. Dari meja belajarku, aku dapat melihat ke ruang tengah dimana mama dan adik-adikku tengah bercengkerama. Pada suatu titik, tiba-tiba seperti muncul tayangan di depanku.. aku melihat diriku di depan meja belajar, dan aku melihat dan mendengar mama dan adik-adikku sedang ngobrol, dan kemudian aku menyahut dengan sepotong kalimat.. Kemudian, seperti tersadar dari mimpi.. aku kembali melihat dan mendengar mama dan adik-adikku sedang ngobrol sesuatu yang telah kudengar, dan kemudian aku menyahut dengan sepotong kalimat yang sama yang tadi telah kuucapkan.. SEMUANYA MENGALIR DAN SAMA PERSIS! Jadi dalam hitungan detik aku mengalami dua kejadian yang sama berulang. Pada tayangan yang muncul aku dapat melihat diriku sendiri. Saat itu aku merasa seolah-olah ditarik ke arah belakang, sehingga aku bisa melihat belakang tubuhku sendiri. Aku tak dapat mengingat lagi kalimat yang kuucapkan waktu itu.

Kehidupan di dunia bagaikan sekolah, untuk belajar dan meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Tuhan. Setiap pribadi yang lahir ke dunia sudah mengemban misi hidup masing-masing, tugas kita menyelesaikannya sampai waktu kita dipanggil pulang. Di akhir bab Menyeleksi Tubuh dari buku Embraced by the Light, Betty J. Eadie menulis: "Bila kita dapat melihat diri kita sendiri sebelum dilahirkan, kita akan takjub dengan inteligensi dan kemuliaan kita. KELAHIRAN BAGAIKAN TIDUR dan melupakan semua itu".


Lihat Selengkapnya...

05 Oktober 2008

Ketika Tuhan Mengedipkan Mata


Apa kamu sering mengalami hal-hal kebetulan dalam hidupmu? Pernahkah kamu memikirkan seseorang yang tidak pernah terlintas di benakmu selama bertahun-tahun, lalu tiba-tiba kamu bertemu dengannya? Pernahkah kamu bermimpi dan mimpimu itu menjadi kenyataan keesokan harinya?

SQuire Rushnell dalam bukunya yang sangat menarik When GOD Winks atau Ketika Tuhan Mengedipkan Mata menjelaskan bahwa: "Kebetulan merupakan isyarat Tuhan, berupa pesan-pesan kecil yang diberikan kepada kita di sepanjang perjalanan hidup kita, yang mengarahkan kita ke jalan agung yang telah dirancang secara khusus untuk kita". Boleh jadi kebetulan-kebetulan juga diciptakan Tuhan sebagai cara Tuhan untuk menyapa kita atau bergurau dengan kita..

Aku sangat tertarik dengan buku itu karena banyaknya pengalaman kebetulan yang terjadi dalam hidupku. Buku When GOD Winks boleh jadi merupakan jawaban atas pertanyaanku selama ini, yaitu mengapa begitu banyak peristiwa kebetulan terjadi dalam hidupku, bahkan beberapa diantaranya sangat menakjubkan dan membuat aku terheran-heran.
  1. Suatu siang di tahun 1979 aku duduk di depan rumah Om-ku di Surabaya. Tiba-tiba terlintas dalam ingatanku akan Johnny Sieman, teman sekelasku waktu di kelas 1 SMPK WR Soepratman, Samarinda, yang setelah kenaikan kelas pindah ke Surabaya. Aku tidak bertemu Johnny sudah lebih dari dua tahun waktu itu. Kemudian aku ingat kalau Johnny mempunyai seorang Om yang tinggal di sebelah rumah Om-ku, mungkin aku bisa bertanya dimana dia tinggal. Aku berpikir apa aku bisa ketemu dia ya? Kemudian, kamu tahu, aku bertemu Johnny hanya berselang dua menit setelah itu! Bahkan aku belum beranjak dari tempat dudukku ketika sebuah mobil berhenti tepat di depanku dan dari mobil turun seseorang yang ternyata adalah Johnny Sieman! Secara kebetulan Johnny datang berkunjung ke rumah Om-nya siang itu...

  2. Ketika membayar belanjaanku di kasir Hero Swalayan, di Plasa Libby, Denpasar (1999), tiba-tiba saja terlintas dalam pikiranku sepasang suami-istri yang aneh yang pernah kulihat di suatu tempat di Denpasar beberapa bulan sebelumnya. Dan... ketika mataku menoleh ke kasir sebelah.. gleg, aku menelan ludah dan jantungku berdegup kencang! Suami-istri itu sedang membayar di kasih sebelah! Aku tidak mungkin salah orang, karena si istri putih berkumis dan si suami bertubuh gendut...

  3. Dulu hanya ada TVRI, jauh sebelum stasiun tv swasta ada. Ada dua film seri favoritku yang diputar TVRI namun sudah lama tidak tayang lagi, yaitu: Star Trek dan Voyage to the Bottom of the Sea. Siang itu aku duduk di ruang tamu sambil nonton tv. Tiba-tiba ada kerinduan di hatiku untuk bisa nonton Star Trek lagi, dan berharap andai saja TVRI memutar ulang film seri itu lagi. Tidak sampai setengah jam kemudian.. tiba-tiba seorang penyiar perempuan muncul di layar kaca mengatakan bahwa TVRI akan mengisi kekosongan acara waktu itu dengan film seri Star Trek! Aku sampai terheran-heran. Di lain kesempatan TVRI juga memutar ulang salah satu episode Voyage to the Bottom of the Sea ketika aku berharap hal yang sama... Aneh bukan?
Kejadian-kejadian lain jumlahnya sangat banyak. Banyak kebetulan kecil terjadi hanya dalam hitungan detik setelah melintas di pikiranku, kadang-kadang ini membuat aku takut untuk berpikir, terutama mengenai hal-hal negatif. Beberapa kejadian terjadi sehari atau beberapa hari kemudian dan masih kuingat benar. Sebagai contoh: April 2008 kemarin aku bertemu dengan Tan Hui Ing di Pasar Subuh, Samarinda, setelah hampir 20 tahun lebih kami tidak bertemu. Hui Ing adalah adik kelasku dulu waktu di SMAK WR Soepratman, Samarinda. Hui Ing melintas di pikiranku sehari sebelumnya ketika aku dan adikku, Prisca, sedang ngobrol di dalam mobilnya menuju rumah. Besok paginya aku dan Prisca ke Pasar Subuh dan kami bertemu Hui Ing di sana!

Di bawah ini aku mau cerita sedikit mengenai tiga mimpiku yang aneh yang membuatku takjub keesokan harinya. Yang kesatu dan kedua terjadi di enam bulan pertama aku di Denpasar, di tahun 1999. Saat itu aku tinggal di sebuah kos di daerah Tegal Jaya dekat dengan tempat kerjaku di sebuah perusahaan mebel bernama PT. Warisan Eurindo. Sedangkan yang ketiga terjadi di tahun 2008 ini, saat aku dan keluarga sudah pindah ke BSD City.
  1. Malam itu aku bermimpi ada seorang tukang pos menyerahkan kepadaku sebuah kartu yang bergambar anak kecil dan bertuliskan kata "Little Andrew". Ketika bangun pagi aku sudah tidak ingat lagi mimpiku itu. Sesampai di kantor, seperti kebiasaanku aku membuat kopi dulu sebelum menuju ke meja kerjaku. Ketika menuang air panas ke cangkirku, aku kaget ketika mataku tiba-tiba tertuju pada setengah lusin gelas keramik baru yang tergantung di rak bertuliskan Andrew! Sepertinya Tuhan ingin mengingatkan aku pada mimpiku.. Apa arti dibalik mimpi ini? Aku belum tahu jawabannya hingga kini.

  2. Di malam yang lain aku bermimpi tentang kerusuhan. Keadaan panik dan mencekam, penuh dengan teriakan dan jeritan. Aku ada di tengah kerusuhan dan melihat ada seorang pria yang membawa pedang panjang seperti samurai di punggungnya. Keesokan hari, sesampai di kantor, aku kaget dan takjub.. di halaman depan Kompas terpampang foto kerusuhan etnis di Kalimantan Barat, gambarnya sama persis dengan apa yang ada di dalam mimpiku semalam. Foto itu bagaikan diambil dari dalam mimpiku. Termasuk pria yang bersamurai di punggungnya itu! Aku hampir tak dapat berkata apa-apa, selain: "Foto ini dari mimpiku semalam...".

  3. Bangun pagi di hari Jumat, 25 Januari 2008, aku masih ingat dengan mimpiku. Aku mimpi bertemu dengan Hariara Samosir, teman sekantorku dulu sewaktu di PT Warisan Eurindo, Denpasar. Dalam mimpi itu aku menjabat tangan Hari sambil mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ketika selesai mandi aku mendengar handphone-ku berbunyi, itu bunyi reminder dari hape-ku. Ketika kutengok hape-ku, aku kaget sekali, dan sulit dipercaya kalau hari itu memang ulang tahun Hariara yang ke-36! Aku tercengang. Segera aku mengirim SMS ke Hari untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya.
Di akhir bukunya Rushnell menulis: "Seperti kedipan mata dari kakekmu, isyarat-isyarat berupa kebetulan-kebetulan ini menyampaikan pesan Tuhan kepada kamu: 'Hai, nak. Saat ini Aku sedang memikirkanmu'".


Lihat Selengkapnya...

04 Oktober 2008

Kenangan Masa Kecil


Seberapa dalam dan seberapa jauh kamu bisa mengingat masa kecilmu? Saat kamu umur lima tahun? Empat, tiga, dua.. atau bahkan satu tahun? Ingatan terdalam dan terjauh ku mungkin saat aku berumur kurang dari dua tahun!

Ada tiga kenangan masa kecilku yang terjauh yang bisa kuingat hingga aku berusia di atas 40 tahun saat ini, dan semua kenangan masa kecil itu seperti film lama yang monokrom.

  1. Biru, semuanya biru.. kabut biru.. entah pagi, entah sore.. Papa, mama dan aku yang masih kecil ada di atas buritan sebuah kapal di tengah laut. Kemungkinan kapal itu bernama KM. Rambutan yang terkenal waktu itu yang melayani trayek Samarinda – Surabaya p.p. Aku kecil yang sudah bisa berdiri senang banget naik kapal yang digoyang ombak itu, dan bilang ke papa dan mama kalau aku ingin naik kapal itu lagi. Mungkin ini adalah ingatan terjauh dibandingkan dua ingatan lainnya. Aku anak sulung dan selisih usiaku dan adikku, Albert, adalah dua tahun. Aku tidak ingat kalau saat itu aku sudah punya adik. Jadi pastilah aku berusia kurang dari dua tahun!

  2. Aku dan mama sedang makan di sebuah rumah makan (di Surabaya).. dan waktu itu aku sudah bisa duduk di kursi sendiri dan mama duduk di sisi meja di kananku.. Tiba-tiba aku berteriak: “Mama, ada kereta api!” sambil menoleh dan memandang kereta api yang lewat di luar rumah makan. Aku ingat kala itu hanya ada aku dan mama, aku belum punya adik.

  3. Malam.. gelap.. Mama, Kuku (uak) dan aku, naik sebuah dokar.. sepertinya mama mau kontrol ke dokter kandungan. Dokar berhenti di depan praktek dokter.. dan aku ditanya mau ikut mama atau ikut Kuku yang akan terus naik dokar kembali ke penginapan. Sepertinya kejadian itu di Surabaya juga.. dan sepertinya aku sudah mau punya adik.

Ingatan-ingatan ini terus mengikuti aku sepanjang lebih dari 40 tahun dan tak pernah hilang. Ketika aku duduk di SD, kejadian-kejadian di atas sudah pernah aku tanyakan kepada mama, dan mama mengakui kebenarannya tapi detilnya sudah tidak terlalu ingat lagi. Contohnya tempat aku dan mama makan itu kemungkinan besar, menurut mama, di daerah Kembang Jepun, Surabaya, dekat dengan penginapan dan toko-toko tempat Papa kulakan kain. Waktu itu Papa punya usaha toko kain di Samarinda.


Lihat Selengkapnya...

03 Oktober 2008

Gang Tikus


Pernah dengar nama Gang Tikus? Itu nama sebuah jalan di Samarinda tempo dulu. Apa kamu tahu letaknya dimana? Kebanyakan dari orang tua kita yang asli Samarinda pasti tahu dimana Gang Tikus itu berada. Ayo, siapa tahu? Sekarang ini nama jalan itu bukan lagi Gang Tikus, tetapi..

Jalan Dermaga. Sebelum bernama jalan Dermaga, jalan itu pernah dinamai jalan Sulawesi. Dahulu di pojok jalan Gang Tikus itu, yang merupakan pertigaan dengan jalan Mulawarman sekarang, ada sebuah rumah tua berlantai dua yang terbuat dari kayu Ulin dan beratapkan sirap, seperti rumah kebanyakan waktu itu.. di sana aku tinggal. Rumah tua yang aku mau ceritakan itu bukan rumah biasa-biasa saja, tetapi rumah yang mengandung misteri yang sampai saat ini belum aku mengerti.

Berhantu? Aku tidak tahu pasti. Aku ingat lantai dua rumah itu tidak pernah kami huni. Ruangan dalamnya kosong, los dan banyak jendela. Kuku (uak, kakak perempuan papa) sering mengajak aku dan adikku, Albert, bermain di balkon lantai atas itu, menghadap Gang Tikus (depan rumah). Kami sering main lidi dari potongan hio yang sudah terbakar, menganyam lidi menjadi berbagai bentuk seperti kipas, dan lain-lain. Di samping kanan lantai dua itu ada gantungan pot yang berisi tanaman seledri, kami sering menyebutnya “daun sop”. Sedangkan, di sebelah kiri lantai dua rumah itu ada balkon panjang, hampir sepanjang rumah itu, yang menghadap ke jalan Mulawarman sekarang. Nah, misterinya ada di balkon kiri itu!

Aku menyebutnya “Misteri Balkon Jatuh”. Kalau kamu punya nyali coba saja berdiri atau berjalan di balkon kiri itu.. segera kakimu akan lemas dan kamu merasa balkon yang kamu injak itu akan runtuh! Aku kecil tinggal di rumah itu hingga usiaku 10 tahun, pernah beberapa kali memberanikan diri untuk mendekati balkon kiri itu dan bertahan di sana.. tapi selalu gagal, bahkan hanya untuk 5 detik saja! Kadang aku terpaksa harus merangkak ketakutan meninggalkan balkon kiri itu! Aku ingat ada seorang tukang yang sedang memperbaiki rumahku waktu itu hampir benar-benar terjatuh dari balkon gara-gara kakinya lemas dan sangat ketakutan. Andai saja rumah itu masih ada sampai sekarang aku ingin mencoba lagi dan mencari tahu misteri yang tersimpan di rumah tua itu.

Mengenai ruangan kosong di lantai atas rumah itu, aku tidak pernah merasakan ada sesuatu yang aneh. Tetapi uakku merasakan dan mengalaminya. Dia sering tidur-tiduran atau tidur siang di sana, dan dia sering merasakan ada tangan yang memegang dan mengelus-elus rambutnya..!

Tulisan ini aku persembahkan untuk mengenang dua tahun meninggalnya Kuku (uak) yang kami cintai (01 Maret 1924 - 17 Juni 2006). Semoga arwahnya mendapat kedamaian di sisi Tuhan Yang Mahakuasa. Terima kasih Kuku karena telah menjaga dan merawat kami.

Samar-samar terdengar dari sebelah rumah kami di Gang Tikus itu... "Ob-la-di, ob-la-da, life goes on, brah!... Lala how the life goes on..."


Lihat Selengkapnya...

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.