Samarinda banjir besar lagi. Hampir setiap hari pemberitaan mengenai banjir ini muncul dalam siaran berita di berbagai stasiun televisi. Banjir di Samarinda hampir menjadi sesuatu yang rutin terjadi setiap tahun. Banjir besar tahun ini dapat disamakan dengan banjir-banjir besar di tahun 1998 dan 2004. Ada apa dengan Samarinda?
Selama dua-tiga minggu ini aku ada SMS dan telepon adik-adikku menanyakan banjir yang melanda Samarinda, tetapi semua mengabarkan bahwa rumah mereka masih dalam kondisi aman dan terkendali. Tetapi, tiba-tiba dua hari lalu aku menerima SMS dari Prisca, adikku, yang bunyinya: "Banjir tahun 98 terulang lagi, ko.. Rumahku kayak Waterpark!" Tapi untunglah rumah Prisca agak tinggi hingga air baru mencapai bibir halaman, sementara di depan air sudah menutupi jalan setinggi dengkul.
Banjir juga menenggelamkan rumah dan mobil adikku, Frans, yang ada di Perum Rapak Benuang. Frans, istri dan anak-anak terpaksa mengungsi dan tidur di kantor. Sudah beberapa hari mereka tidak dapat kembali ke rumah. Sementara rumah kontrakan adikku, Ana, dan keluarganya yang di Bumi Sempaja juga tak luput dari terjangan banjir, hingga memaksa mereka memindahkan semua barang ke rumah baru mereka di Villa Tamara, walau mereka sebenarnya belum siap tinggal di sana. Yang luput dari banjir hanya rumah adikku, Albert. Maklum rumahnya ada di lereng bukit di Gang 10, Pandan Wangi (AW Syahrani).
Aku pernah merasakan betapa susah dan repotnya mengalami banjir besar seperti ini ketika aku kebetulan berada di Samarinda tahun 2004. Banyak kerugian yang harus diderita masyarakat dan daerah dalam kondisi seperti ini baik materiil maupun immateriil. Jadi penanganannya harus benar-benar dipikirkan dan dilaksanakan mulai sekarang ini. Pemerintah daerah dan Pemerintah Kota harus lebih serius, kalau tidak masalah ini akan terus berlarut-larut dan makin parah.
Pemda dan Pemkot Samarinda harus belajar dari kesalahan Kota Jakarta, misalnya. Dan juga belajar dari kota-kota yang berhasil membebaskan diri dari banjir, seperti BSD City dan Lippo Karawaci, tidak perlu study banding ke luar negeri. Walau dikepung oleh kota-kota yang sering mengalami banjir besar, seperti Jakarta dan Tangerang; BSD City dan Lippo Karawaci dapat 100% bebas dari banjir. Menurutku, ini hanya masalah pembangunan kota yang terencana dengan baik dan benar.

















