30 November 2008

Samarinda Banjir Besar Lagi


Samarinda banjir besar lagi. Hampir setiap hari pemberitaan mengenai banjir ini muncul dalam siaran berita di berbagai stasiun televisi. Banjir di Samarinda hampir menjadi sesuatu yang rutin terjadi setiap tahun. Banjir besar tahun ini dapat disamakan dengan banjir-banjir besar di tahun 1998 dan 2004. Ada apa dengan Samarinda?

Selama dua-tiga minggu ini aku ada SMS dan telepon adik-adikku menanyakan banjir yang melanda Samarinda, tetapi semua mengabarkan bahwa rumah mereka masih dalam kondisi aman dan terkendali. Tetapi, tiba-tiba dua hari lalu aku menerima SMS dari Prisca, adikku, yang bunyinya: "Banjir tahun 98 terulang lagi, ko.. Rumahku kayak Waterpark!" Tapi untunglah rumah Prisca agak tinggi hingga air baru mencapai bibir halaman, sementara di depan air sudah menutupi jalan setinggi dengkul.

Banjir juga menenggelamkan rumah dan mobil adikku, Frans, yang ada di Perum Rapak Benuang. Frans, istri dan anak-anak terpaksa mengungsi dan tidur di kantor. Sudah beberapa hari mereka tidak dapat kembali ke rumah. Sementara rumah kontrakan adikku, Ana, dan keluarganya yang di Bumi Sempaja
juga tak luput dari terjangan banjir, hingga memaksa mereka memindahkan semua barang ke rumah baru mereka di Villa Tamara, walau mereka sebenarnya belum siap tinggal di sana. Yang luput dari banjir hanya rumah adikku, Albert. Maklum rumahnya ada di lereng bukit di Gang 10, Pandan Wangi (AW Syahrani).

Aku pernah merasakan betapa susah dan repotnya mengalami banjir besar seperti ini ketika aku kebetulan berada di Samarinda tahun 2004. Banyak kerugian yang harus diderita masyarakat dan daerah dalam kondisi seperti ini baik materiil maupun immateriil. Jadi penanganannya harus benar-benar dipikirkan dan dilaksanakan mulai sekarang ini. Pemerintah daerah dan Pemerintah Kota harus lebih serius, kalau tidak masalah ini akan terus berlarut-larut dan makin parah.

Pemda dan Pemkot Samarinda harus belajar dari kesalahan Kota Jakarta, misalnya. Dan juga belajar dari kota-kota yang berhasil membebaskan diri dari banjir, seperti BSD City dan Lippo Karawaci, tidak perlu study banding ke luar negeri. Walau dikepung oleh kota-kota yang sering mengalami banjir besar, seperti Jakarta dan Tangerang; BSD City dan Lippo Karawaci dapat 100% bebas dari banjir. Menurutku, ini hanya masalah pembangunan kota yang terencana dengan baik dan benar.

Lihat Selengkapnya...

29 November 2008

Pulau Kumala


Ketika April 2008 lalu aku pulang ke Samarinda, aku berkesempatan untuk pergi ke Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Hampir 30 tahun aku tidak pernah lagi ke Tenggarong. Banyak yang sudah berubah selama itu. Salah satunya adalah sebuah pulau seluas 76 hektar yang ada di tengah Sungai Mahakam, yang dulu hanya merupakan lahan tidur dan semak belukar, kini sudah dibangun dan menjadi salah satu obyek wisata utama Kota Tenggarong, disamping Museum Mulawarman (bekas Keraton Kutai Kartanegara) yang sudah terkenal itu. Pulau itu adalah Pulau Kumala.

Minggu pagi itu, 20 April 2008, aku dijemput adik iparku, Anwar, bersama adikku, Ana, dan anak-anak mereka untuk berkeliling Kota Samarinda. Tiba-tiba Anwar menawarkan untuk pergi ke Tenggarong dan aku langsung menyetujuinya. Perjalanan ke Tenggarong sekarang sangatlah nyaman dan tidak sejauh dulu lagi, dengan melalui jalan baru, Samarinda - Tenggarong kini hanya berjarak 27 Km dan dapat dicapai hanya dalam tempo setengah jam saja.

Perjalanan kita telah sampai ketika kita melewati Jembatan Kutai Kartanegara. Pemandangan di sekitar jembatan ini sangat indah. Dari jembatan ini juga kita dapat memandang jauh ke obyek wisata Pulau Kumala yang terletak di tengah Sungai Mahakam. Pulau Kumala dapat dicapai dengan perahu penyeberangan, maupun dengan kereta gantung. Pulau Kumala dibangun mulai tahun 2000 dan merupakan Taman Rekreasi yang memadukan teknologi modern dan budaya tradisional. Saat ini Pulau Kumala sudah dilengkapi dengan fasilitas seperti Sky Tower setinggi 100 meter untuk menikmati keindahan kota dan landscape daerah sekitarnya dari udara; dan kereta api mini yang mengelilingi pulau, serta berbagai permainan anak.

Semoga Pulau Kumala terus dibangun dan dikembangkan, walau tidak sehebat Taman Impian Jaya Ancol, mudah-mudahan dapat menarik lebih banyak wisatawan domestik maupun mancanegara. Kemudian kami makan siang di sebuah warung yang ada di tepi Sungai Mahakam yang menjual ikan bakar. Aduh, mak, nyaman banar...

Lihat Selengkapnya...

28 November 2008

Reuni Keluarga 2008


Senin, 14 April 2008, aku mendapat telepon dari adikku, Frans, yang tinggal di Samarinda. Frans mengusulkan untuk mengadakan reuni keluarga di Surabaya, sekaligus untuk membahas niatnya membawa papa dan mama kembali pulang ke Samarinda. Papa dan mama sudah beberapa tahun tinggal di Surabaya, di rumah adikku, Vera. Aku kebagian tugas untuk menghubungi adikku Vera yang di Surabaya dan Tere yang di Sidoarjo, untuk menyampaikan rencana ini dengan pesan papa dan mama jangan diberi tahu agar menjadi kejutan buat mereka.

Malam harinya Frans menelepon lagi untuk mematangkan rencana kami. Saat itu Frans dan adik-adikku sedang berkumpul dan membicarakan masalah ini di Samarinda. Akhirnya kami sepakat untuk berangkat ke Surabaya hari Rabu, 16 April 2008. Esoknya Selasa, 15 April, kami sibuk mencari tiket ke Surabaya, dan syukurlah semua tiket itu ada untuk pemberangkatan 16 April 2008. Adik-adikku akan berangkat dari Balikpapan ke Surabaya, sedangkan aku akan berangkat dari Jakarta ke Surabaya.

Jam tiba kami di Surabaya hanya selisih satu jam, aku yang tiba duluan memutuskan untuk menunggu kedatangan adik-adikku di Bandara Juanda, kemudian kami nanti berangkat bersama-sama ke tempat tinggal orang tua kami di daerah Lidah Kulon, Surabaya. Namun rencana itu batal ketika aku mengetahui pesawat mereka delay sampai lebih dari dua jam. Akhirnya kami sepakat kalau aku berangkat duluan untuk menemui orang tua kami.

Tentu saja papa dan mama kaget dengan kedatanganku yang tiba-tiba itu. Lebih kaget lagi ketika beberapa jam kemudian adik-adikku yang lain juga muncul. Akhirnya malam itu kami berangkat beramai-ramai ke restoran milik Vera dan suaminya di jalan Perak Timur, dan di sana kami mengadakan reuni keluarga kami. Setelah 23 tahun lebih kami tidak pernah kumpul dengan lengkap seperti itu, yaitu papa dan mama, berserta kami anak-anaknya sebanyak tujuh orang. Lebih lengkap lagi karena ada Bude Pran yang datang dari Malang hari itu juga. Malam itu kami semua merasa sangat berbahagia.

Adik-adikku, Frans, Prisca dan Anastasya, kembali ke Samarinda hari Jumat pagi. Kemudian esok harinya Sabtu, 19 April 2008, aku bersama adikku, Albert, dan keponakanku, Edwin, membawa papa dan mama kembali ke Samarinda. Semoga kami dapat mengulang semua ini di masa yang akan datang dengan lebih meriah, dan semoga Tuhan memberkati kami semua dengan umur yang panjang, kesehatan yang baik, serta rejeki yang melimpah. Amin.




Papa dan Mama beserta kami anak-anaknya
Ki-ka: Tere, Ana, Prisca, Frans, Vera, Albert dan Aku
(dari yang paling kecil sampai yang paling besar)


Lihat Selengkapnya...

27 November 2008

Godam dan Gundala


Di tahun 1970-1980 ketika siaran TV belum marak dan komik-komik Jepang belum membanjir di toko-toko buku seperti sekarang, komik-komik lokal menjadi salah satu hiburan dan pengisi waktu yang terbaik saat itu. Banyak teman-temanku kegilaan dengan komik-komik silat macam Si Buta dari Gua Hantu, Panji Tengkorak, Jaka Sembung, serta cerita silat karya Kho Ping Hoo, sedangkan aku justru menyukai komik-komik superhero baik yang adaptasi dari komik luar maupun yang lokal seperti: Labah-Labah Merah, Superman, Kawa Hijau, Lamaut, Godam, Gundala, dan beberapa superhero lainnya.

Di antara semua itu aku paling menggilai cerita dari komik-komik Godam dan Gundala yang berbau lokal itu. Godam merupakan tokoh superhero ciptaan Wid NS (Widodo Nuntius Sulprizio, kini 70 tahun), sedangkan Gundala ciptaan Hasmi (kini 62 tahun). Godam yang bernama asli Awang adalah seorang sopir truk di Yogya. Suatu ketika seorang kakek misterius memberinya sebuah cincin, dan tiba-tiba... wuih, dia langsung menjelma menjadi seseorang berkostum ala Superman (tentu saja dengan inisial ”G” di dada, bukan ”S”) yang mampu terbang dan memiliki kekuatan super. Sedangkan Gundala adalah pemuda Yogya bernama asli Ir. Sancaka. Keistimewaan Gundala adalah kemampuan untuk berlari secepat kilat, seperti jagoan Amerika Flash, dan telapak tangannya mampu mengeluarkan petir yang menggelegar. Gundala mendapatkan keistimewaannya dari Kaisar Crons, yang ada di Kerajaan Petir.

Beberapa seri maupun serial komik Godam dan Gundala yang sangat apik adalah Bocah Atlantis, Mata Sinar X, Robot Penakluk, Roh Setan, Gundala Putera Petir (Asal Usul Gundala), Gundala vs Godam, Gundala Bernapas Dalam Lumpur, dan lain-lain. Dalam aksinya Godam dan Gundala sering dibantu oleh serombongan tokoh lainnya seperti Pangeran Mlaar, Aquanus, Maza, Jin Kartubi, dan Sun Go Kong.

Beberapa tahun terakhir ini ada usaha untuk menerbitkan kembali komik-komik Indonesia tempo dulu, namun kemudian gaungnya tidak terdengar lagi. Komik Gundala sendiri sempat terbit beberapa kali dan aku membeli dua di antaranya, yakni: Gundala Putera Petir dan Operasi Gua Siluman. Aku justru berharap komik serial Godam dan Gundala yang sangat seru, seperti Bocah Atlantis, Mata Sinar X dan Robot Penakluk, bisa lebih dulu diterbit ulang.

Anak-anakku ketawa dan tidak dapat memahami ketika melihat aku membeli kedua komik Gundala tersebut. Sedikitpun tidak ada niat mereka untuk menyentuh dan membacanya. Bagi mereka yang namanya komik itu mungkin ya seperti komik-komik Jepang yang sedang populer sekarang ini, yang juga disebut Manga. Seperti juga acara TV. Anak-anak sekarang lebih suka dengan film-film impor seperti Doraemon dan Sincan ketimbang film Si Unyil yang ditayang ulang oleh sebuah stasiun TV. Ya, memang begitulah, beda generasi, beda zaman; beda pula pandangan dan kesukaan (trend).

Lihat Selengkapnya...

24 November 2008

Kado Istimewa


Bagi kamu yang sudah membaca artikelku Ketika Tuhan Mengedipkan Mata, kamu pasti akan merasakan cerita berikut ini sebagai suatu keajaiban. Bukan sekedar kebetulan kalau anakku yang kedua lahir pada tanggal yang sama dengan tanggal lahirku, tetapi karena aku meminta dan memikirkannya, dan itu benar-benar terjadi.

Awal September 1988, aku sedang ngobrol dengan istriku di atas tempat tidur kami. Saat itu istriku sedang hamil anak kami yang kedua dan sudah di bulan kesembilan. Tiba-tiba istriku berkata, "Bulan ini kamu ulang tahun, kamu mau kado apa?" Setelah berpikir sejenak aku bilang ke istriku, "Aku tidak mau kado apa-apa lha. Aku cuma mau anak kita lahir di hari ulang tahunku." Istriku ketawa, dan kami membayangkan dan bercerita betapa hebatnya ada bapak dan anak yang berulang tahun di hari yang sama.

Sampai malam tanggal 12 September istriku belum juga menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan, padahal ulang tahunku tinggal sehari lagi, yaitu 13 September besok. Sedang asyik tidur nyenyak malam itu, tiba-tiba aku dibangunkan mamaku, dan mama bilang kalau istriku sudah sakit perut mau melahirkan. Ah, akhirnya aku benar-benar akan mendapat anak yang sama ulang tahunnya dengan aku. Setelah bersiap-siap kami pun berangkat ke Panti Nirmala tempat istriku akan melahirkan.

Setelah sampai di Panti Nirmala, ada masalah yang muncul. Dokter kandungan tidak dapat dihubungi karena telepon di Panti Nirmala mati. Saat itu belum ada handphone. Istriku sudah minta tolong agar bidan saja yang membantu persalinan karena sudah tidak tahan lagi. Tapi bidan di panti menolak dengan alasan istriku sudah dipegang oleh dokter kandungan, mereka tidak berani lancang untuk mengambil alih persalinan. Akhirnya aku menemani seorang suster untuk mencari telepon umum. Ternyata telepon umum yang tak jauh letaknya dari panti juga rusak. Aku makin panik memikirkan penderitaan istriku.

Di tengah kepanikan itu tiba-tiba aku teringat dengan teman sekantorku, Max Kalalo, yang rumahnya tidak jauh dari panti. Aku menggedor rumah Max, dan temanku itu keluar dengan heran atas kemunculanku di pagi-pagi buta itu. Rumah Max juga tidak punya sambungan telepon, aku lantas meminjam Vespa-nya Max untuk mencari telepon umum yang lain. Dengan membonceng suster panti, kami mendatangi telepon umum yang lain, ternyata juga rusak. Akhirnya kami nekad masuk ke kantor polisi yang kami temui di jalan. Kami dapat pinjaman telepon dari polisi dan si suster langsung menghubungi sang dokter kandungan. Kemudian kira-kira jam 03.05 istriku melahirkan anak kami yang kedua dengan selamat. Seorang bayi laki-laki lagi.

Sejarah kembali terulang ketika aku bingung memikirkan nama untuk bayi laki-laki kami. Istriku sempat sewot karena aku lagi-lagi hanya menyiapkan nama untuk anak perempuan. Di tengah kebingungan aku melihat papan nama dari sebuah gereja kecil yang letaknya di samping Panti Nirmala, bertuliskan: Kapel Santo Mikhael. Ya, aku akan beri nama anakku: MICHAEL!





Michael, Devi dan Ari Wibowo


Lihat Selengkapnya...

23 November 2008

Kelahiran Anak Pertama


Ketika istriku mengandung anak kami yang pertama, aku dan istriku pernah mengalami suatu kecelakaan saat kami sedang menuju ke tempat praktek dokter kandungan di jalan Diponegoro, Surabaya. Kepergian kami ke dokter kandungan untuk pemeriksaan rutin kandungan istriku yang sudah hamil tua. Kami naik becak ke tempat praktek dokter. Kami senang naik becak sore-sore, karena bisa melihat dengan asyik ke kanan dan ke kiri (seperti dalam lagu anak-anak yang berjudul "Naik Becak").

Di tengah jalan hujan turun, tukang becak berhenti untuk menutup becak dengan plastik agar kami tidak basah terkena hujan. Becak pun melaju kembali. Kami terpaksa tidak dapat melihat dengan asyik lagi ke kanan dan kiri. Dan tiba-tiba saja... Duukk! Becak seperti menabrak lubang di jalan, dan becak oleng kemudian terbalik. Posisi kami juga terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Aku panik mengingat istriku sedang hamil. Istriku cuma mengaduh sambil memegang perutnya. Tukang becak berusaha membuat becaknya berdiri, tapi lama tidak berhasil. Aku juga tidak dapat berdiri dengan posisi terbalik seperti itu dengan ruang gerak di dalam becak yang sempit. Entah dibantu orang atau dengan usaha sendiri akhirnya si tukang becak berhasil mendirikan becaknya lagi.

Aku mengomel kepada tukang becak itu karena ketidakhati-hatiannya. Namun si tukang becak juga punya dalih kalau dia tidak melihat ada lubang besar di jalan karena tertutup air. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan sampai ke tempat praktek dokter dan aku meminta dokter Listya untuk memeriksa kandungan istriku lebih intensif lagi karena habis kecelakaan tadi. Karena tidak terjadi pendarahan dokter bilang kandungannya baik-baik saja. Fuh..! Syukurlah.

Aku bahagia ketika sampai waktunya anak pertamaku lahir dengan selamat, seorang bayi laki-laki yang sehat. Walau tidak seperti harapanku untuk mendapatkan seorang bayi perempuan, aku tetap bergembira dan bahagia karena sudah menjadi seorang ayah. Hari itu tanggal 5 Mei 1987.

Aku hanya bingung ketika aku harus mencarikan nama untuk anak laki-lakiku itu, karena beberapa nama yang telah kupersiapkan semuanya nama cewek! ;)
Waktu itu belum umum orang menggunakan USG untuk mengetahui jenis kelamin bayi. Akhirnya ide untuk nama anakku itu muncul setelah aku melihat tulisan besar di depan rumah sakit tempat anakku dilahirkan itu: Rumah Sakit Katolik St. Vincentius a Paulo (RKZ). Ya, itu dia. Nama anakku: VINCENT!


NAIK BECAK
oleh Ibu Sud

saya mau tamasya berkeliling-keliling kota
hendak melihat-lihat keramaian yang ada
saya panggilkan becak kereta tak berkuda
becak, becak, coba bawa saya

saya duduk sendiri sambil mengangkat kaki
melihat dengan asyik ke kanan dan ke kiri
lihat becakku lari bagaikan tak berhenti
becak, becak, jalan hati-hati

Lihat Selengkapnya...

22 November 2008

Tante Indriati


Satu sosok yang sangat mempengaruhi hidupku adalah tanteku, Indriati. Tante adalah adik mama yang tinggal di Sumberayu, Banyuwangi; dan menamatkan sekolahnya di Malang. Tahun 1974 tante ke Samarinda dan tinggal bersama kami hingga tahun 1976. Waktu itu tante belum menikah dan sempat kerja di Samarinda. Kami anak-anak memanggilnya ik Mein.

Tante mengajari aku banyak hal, termasuk pelajaran sekolah. Banyak pula kesenangan atau hobi tante yang kemudian melekat padaku. Aku pertama kali mengenal namanya majalah juga karena tante. Majalah Bobo adalah majalah anak-anak pertama yang kukenal, yang dibelikan tante untukku. Majalah kesukaan tante sendiri adalah Intisari dan Sport Otak. Kemudian tante juga membelikan aku majalah Sport Otak Anak-anak. Aku ingat bagaimana suatu kali aku bingung menjawab TTS bergambar di majalah itu, ada gambar kerang yang ingin kuisi dengan kata "tudai" tapi kotaknya lebih satu. Tante bingung, "apa itu tudai?" Hari itu tante baru tahu arti kata "tudai" dan aku baru tahu arti kata "kerang". Ha ha..

Dari tante aku juga mengenal musik dan penyanyi barat. Waktu itu siapa sih yang seusiaku (belum 14 tahun) sudah mengenal lagu Killing Me Softly With His Song dan Never Never Never-nya Sherley Bassey? Dan lagu-lagunya Lobo: A Cowboy Afraid of Horses, Woud I Still Have You dan Don't Tell Me Goodnight? Setelah tante pulang ke Banyuwangi tahun 1976, tante meninggalkan beberapa kaset lagu barat di rumahku. Kaset-kaset itu masih ada sampai sekarang karena aku menyimpannya dengan baik.

Kegilaanku dengan film seri Star Trek dan Hawaii Five-O di TV, dan film-film James Bond di bioskop juga gara-gara tanteku. Apakah ada banyak anak seusiaku waktu itu yang sudah nonton Sean Connery beraksi di layar bioskop dalam film-film James Bond? Tante membuatku lebih maju ketimbang kebanyakan teman-temanku. Tapi ironisnya perkembangan fisikku tidak sejalan dengan perkembangan otakku dan pengalamanku. Waktu itu aku sering sakit-sakitan, asmaku sering kambuh, badanku kecil dan kerempeng. Sewaktu di kelas lima SD, total ada setengah tahun aku tidak masuk sekolah karena sakit. Tapi aku selalu dapat mengejar pelajaranku dan naik kelas. Aku sampai dapat pujian dari guru kelas limaku, Bapak Yohanes Alfon.

Tapi yang terpenting dari semua itu adalah tante mengenalkan aku pada keyakinan yang kuanut sampai sekarang ini, yaitu agama Katolik. Walau aku belajar di sekolah Katolik, itu tidak serta-merta "membuka mataku" untuk memeluk suatu agama lain yang bernama Katolik. Sampai suatu malam ketika aku diajak tante untuk menghadiri Misa di sebuah kapel kecil di jalan Samosir, aku "tersandung" pada liturgi yang sakral dan khusyuk yang dimilikinya; dan membuatku jatuh cinta.

Tahun 1977 tante menikah dan dikaruniai tiga orang anak yang kini sudah besar-besar. Pada 15 Agustus 2008 lalu suami tante meninggal karena sakit. Tulisan ini dipersembahkan untuk seorang tante yang baik, yang banyak mempengaruhi hidupku, dan menularkan ilmu serta hobinya padaku. Tanpa ik Mein cerita ini pasti akan lain. Semoga Tuhan YME senantiasa menyertai dan memberkati ik dan anak-anak. Amin.


Killing Me Softly With His Song
sung by Sherley Bassey

I heard he sang a good song
I heard he had a style
And so I came to see him
To listen for a while
And there he was a young boy
A stranger to my eyes

Strumming my pain with his fingers
Singing my life with his words
Killing me softly with his song
Killing me softly with his song
Telling my whole life with his words
Killing me softly with his song

I felt all flushed with fever
Embarassed by the crowd
I felt he found my letters
And read each one out loud
I prayed that he would finish
But he just kept right on

Strumming my pain with his fingers
Singing my life with his words
Killing me softly with his song
Killing me softly with his song
Telling my whole life with his words
Killing me softly with his song

He sang as if he knew me
In all my dark despair
And then he looked right through me
As if I wasnt there
But he just kept on singging
Singing clear and strong

Strumming my pain with his fingers
Singing my life with his words
Killing me softly with his song
Killing me softly with his song
Telling my whole life with his words
Killing me softly with his song

Lihat Selengkapnya...

21 November 2008

Misteri Penjual Nasi Jamblang


Bila suatu hari kamu mampir di Kota Cirebon, jangan lupa menyicipi makanan khas Cirebon seperti: Empal gentong, nasi jamblang, nasi lengko dan tahu gejrot. Walau semua rasanya enak, tapi hanya empal gentong dan tahu gejrot yang paling aku suka. Sewaktu tinggal di Cirebon tahun 1992-1998, aku punya pengalaman yang lucu dengan makanan khas Cirebon ini, dan juga ada satu pengalaman yang sedikit berbau misteri.

Ketika pertama kali aku makan empal gentong di Plumbon, Cirebon, aku sempat protes kepada penjualnya karena aku merasa makanan yang dihidangkan tidak sesuai dengan makanan yang kupesan. Dalam pikiranku, empal gentong yang kupesan sebagaimana nasi empal yang ada di daerah Jawa Timur, yaitu potongan daging sapi empuk yang dibumbui dan digoreng. Ternyata aku salah! Apa yang dihidangkan padaku itu memang namanya empal gentong, yaitu semacam gulai sapi atau gulai kambing yang dicampur jeroan. Setelah kucoba... aduh mak, uueenaak tenan! Sejak itu aku menjadi pecinta empal gentong, khususnya empal gentong yang dijual di Plumbon itu (dekat Desa Keduwanan). Menurutku empal gentong yang dijual di tempat lain di Cirebon tidak seenak yang satu ini.

Lain empal gentong, lain pula nasi jamblang. Ciri khas makanan ini adalah penggunaan daun jati sebagai bungkus nasi agar tetap pulen walau disimpan dalam waktu yang lama. Penyajiannya secara prasmanan, dan lauk yang disediakan ada banyak macam, seperti: sambal goreng dari cabe merah, ikan asin, tahu sayur, paru-paru, semur hati atau daging, perkedel, sate kentang, telur dadar atau telur goreng, semur jengkol, ikan, tahu, tempe dan lain-lain. Nasi jamblang Mang Dul yang paling enak dan sudah sangat dikenal oleh masyarakat Cirebon, kalangan pejabat hingga selebritis ibukota. Letaknya di Gunung Sari, seberang Grage Mall.

Suatu hari aku dan temanku menemukan satu tempat lain yang menjual nasi jamblang yang ramai dengan pengunjung, di salah satu sudut Kota Cirebon. Tempat itu hanya berupa warung tenda yang nempel di pagar depan rumah orang dan baru buka sekitar dua minggu. Kami dua kali makan di sana, memang selain enak harganya juga murah. Suatu malam kami mampir lagi ke sana, tapi kali ini kami harus kecewa karena tutup. Besoknya kami datang lagi, dan syukurlah kali ini buka dan kami bisa menikmati nasi jamblang yang sangat enak itu.

Aku dan temanku makan dengan lahap. Kemudian sambil makan aku bertanya pada bapak penjual nasi jamblang itu, "Kemarin kok tidak buka? Istirahat satu hari, ya?"

"Nggak. Kemarin buka kok," jawab bapak penjual itu agak heran.

"Kemarin kami ke sini tapi bapak nggak buka," sahutku.

"Buka. Mungkin bapak salah ingat," kata bapak itu lagi.

"Pak, kalau saya sendiri datang mungkin saya salah lihat atau salah ingat. Tapi tanya tuh sama teman saya, karena kemarin kami ke sini berdua," sahutku sambil diiyakan temanku.

"Lha, saya juga nggak mungkin salah. Boleh tanya sama pegawai saya kalau kemarin saya buka," kata bapak itu dan para pegawainya pun mengiyakan.

"Kok aneh ya?" Kami semua jadi heran. Tapi bapak itu segera melanjutkan, "wah, pasti ini saya sedang 'dikerjai' orang. Pantas kemarin sepi sekali tidak seperti biasanya. Cuma ada dua-tiga orang saja yang makan."

Ya, memang aneh. Kemarin aku dan temanku berdiri di depan tenda kok tidak merasakan apa-apa, tidak juga terantuk tendanya atau melihat sinar lampu petromaksnya. Sejak saat itu aku tidak pernah makan di situ lagi. Sampai beberapa waktu kemudian ketika aku lewat di situ aku tidak pernah melihat warung nasi jamblang itu lagi. Entah bapak itu benar "dikerjai" orang atau... (Hiiih.. aku merasa ngeri saja membayangkan "apa" yang mungkin pernah kami makan di sana!).

Lihat Selengkapnya...

20 November 2008

SSP Club IX - Denpasar


Bagi pendengar radio di Denpasar, siapa sih yang tidak kenal dengan Santy Sastra? Dia itu lho yang sering muncul dalam acara Duta Memory di 92,6 Duta FM - Radionya Wanita. Awalnya kami memanggilnya Mbak Santy, tapi kemudian kami lebih memilih memanggilnya Mami Santy, lebih akrab gitu, dan memang pantas dipanggil mami karena anak-anaknya ratusan! Heran, bukan? Baca saja terus nanti kamu juga tahu alasannya.

Orangnya cantik, ramah dan supel, jadi tidak heran kalau Papi sampai jatuh cinta sama Mami. He he.. Selain itu orangnya juga punya seabrek kegiatan. Sebagai pendiri dan direktur Santy Sastra Production, Mami Santy mengelola berbagai jenis kegiatan entertainment seperti perkawinan, gathering, launching produk; mengadakan Pelatihan MC dan Penyiar serta berbagai lomba kreativitas lainnya. Tentu Mami Santy juga tidak lupa dengan profesinya sebagai penyiar dan Manager di Duta FM.

Aku pertama kali ketemu muka dengan Mami Santy pada hari Kamis, 14 Juni 2007. Dengan terburu-buru sepulang kerja aku langsung menuju ke Melati Room, Nikki Hotel, Denpasar, tempat diselenggarakannya Pelatihan MC dan Penyiar Tingkat Dewasa SSP Club IX, 14-17 Juni 2007, oleh Santy Sastra Production. Sebelumnya aku memang sudah sering lihat Ibu Santy Sastra, tapi cuma lihat di koran doang. Nah, kali ini aku benar-benar bisa langsung ketemu dengan orangnya.

Aku mungkin orang terakhir yang mendaftar di hari itu. Aku tidak berani mendaftar jauh hari sebelumnya karena takut pekerjaanku menggagalkan rencanaku lagi untuk ikut pelatihan ini. Aku sudah beberapa kali ingin ikut pelatihan ini, tapi selalu gagal menjelang hari H-nya. Pesertanya lumayan banyak waktu itu sampai mencapai 37 orang. Malu juga aku menjadi orang terakhir yang masuk kelas, tapi untunglah sewaktu di kamar kecil aku ketemu dengan seorang bapak yang juga telat dan kami sama-sama mengganti baju kami dengan kaos hijau elektrik yang diberikan untuk pelatihan. Tentu aku tidak lupa dengan nama bapak itu, yaitu Pak Dewa Anom!

Terakhir saja aku dengar pelatihan ini sudah sampai pada SSP Club XII. Sedangkan satu pelatihan biasanya dibagi dalam tiga tingkatan: Anak-anak, Remaja dan Dewasa.
Nah, sudah kebayang kan, berapa banyak anak didiknya Mami Santy sampai sekarang?

Salam hangat selalu buat Mami Santy, keluarga, beserta staff Santy Sastra Production dan Duta FM di Denpasar. Juga buat teman-teman SSP Club IX dimana pun berada, khususnya buat teman-teman yang masih suka kirim SMS ke aku seperti Okto, Pande, Dewa Anom dan Dayu. Makin sukses buat kalian semua!

"Dari lantai 1, jalan Jendral Gatot Subroto 98X, Denpasar, Bali, saya Anton mohon diri. Kita ketemu lain waktu dan lain kesempatan. Thanks for listening, I love you and bye bye..."

Wah, jadi kangen nih pingin siaran lagi di Duta FM... hik... hik...!



SSP Club IX Tingkat Dewasa 14-17 Juni 2007

Aku pertama on air :)

Lihat Selengkapnya...

19 November 2008

Mendadak Artis


Punya hobi menyanyi di kamar mandi ternyata ada untungnya juga. Paling tidak kalau diminta untuk menyanyi di depan umum sudah tidak terlalu memalukan lagi. He he.. Ini pernah kualami ketika aku masih di Murung Pudak dan mendapat undangan pesta ulang tahun seorang temanku, Fransisca Sintanora Sopacua. Waktu itu Sisca, demikian panggilannya, masih sekolah di SMA Pertamina, Murung Pudak.

Keluarga Om Sopacua sangat baik, dan aku sering bermain di rumah mereka. Sebuah keluarga yang hangat, ceria dan harmonis. Om Sopacua bekerja di Pertamina UEP IV Lapangan Tanjung dan menjabat sebagai seorang kepala bagian. Om dan tante Sopacua mempunyai lima orang anak, yaitu: Fransiska, Christina, Yohana, Jeanny dan Lukas. Paling tidak saat itu aku sudah berangan-angan kalau kelak ingin punya keluarga seperti mereka dan punya lima orang anak juga, kalau bisa. Ha ha!

Malam itu di acara ulang tahun Sisca tiba-tiba aku didaulat untuk menyanyi. Walau dengan perasaan malu akhirnya aku menyanyi juga, sebuah lagu favoritku yang dinyanyikan oleh Sherley Bassey berjudul Never Never Never. Waktu itu aku menolak untuk memakai iringan musik karena aku takut suaraku tidak karuan lari sana-sini tidak sesuai iringan musik. Syukurlah aku berhasil membawakan lagu itu dengan baik, dan berkali-kali mendapat tepuk tangan meriah, juga ketika lagu itu selesai dinyanyikan.

Ternyata cerita menyanyi di ulang tahun Sisca itu tidak berakhir di situ. Ada yang ngajak aku gabung di sebuah band. Tentu saja aku menolak karena aku cuma penyanyi kamar mandi, dan aku tidak mengerti musik sama sekali. Aku bagaikan mendadak jadi artis, karena banyak teman-teman sekolah Sisca yang cewek-cewek mulai mengenal aku. Kalau pas kebetulan aku lewat di depan SMA Pertamina banyak cewek-cewek yang memanggil aku dari balik pagar sekolah, "Mas Anton, ikut dong..." Mereka mengenal mobil perusahaan yang sering kupakai, yaitu Jeep CJ-7. Sampai-sampai ketika aku potong rambut di salon langgananku pun, pemilik salon meminta aku untuk menyanyikan lagu itu lagi!

Ah, begitukah rasanya jadi artis? Baru jadi artis dadakan, bagaimana ya rasanya kalau sudah jadi artis betulan? He he..

(Aku sudah lama kehilangan kontak dengan keluarga Sopacua, sejak aku keluar dari Murung Pudak. Bila ada pengunjung blog ini yang kebetulan mengetahui keberadaan salah seorang dari mereka, mohon infonya. Terima kasih)



NEVER NEVER NEVER
sung by Sherley Bassey


I'd like to run away from you
but if you never found me I would die
I'd like to break the chains you put around me
but I know I never will

You stay away and all I do is wonder
why the hell I wait for you
But when did common sense prevail for lovers
when we knew it never will

Impossible to live with you
but I know I could never live without you
For whatever you do, I never never never want to be
in love with anyone but you

You never treat me like you should
so what's the good of loving as I do
Although you always laugh at love
nothing else would be good enough for you

Impossible to live with you
but I know I could never live without you
For whatever you do, I never never never want to be
in love with anyone but you

You make me laugh, you make me cry,
you make me live, you make me die for you
You make me sing, you make me sad,
you make me glad, you make me mad for you

I love you, hate you, love you, hate you
but I want you till the world stops turning
For whatever you do, I never never never want to be
in love with anyone but you

Lihat Selengkapnya...

18 November 2008

E-mail Dari Seattle


Ketika aku berhasil mengambil file backup di hard disk lamaku beberapa hari lalu (lihat artikel: Selamat Jalan Temanku), aku juga berhasil mendapatkan beberapa alamat e-mail teman-teman lamaku. Aku segera e-mail ke beberapa di antaranya. Namun hampir semua e-mail itu sudah tidak aktif lagi karena delivery report-nya menyatakan gagal. Tetapi ada satu e-mail yang berbalas, yang datang dari Seattle, Amerika Serikat.

E-mail itu dari Retno Savitri Parsons. Aku dan Vitri dulu sekantor di PT Warisan Eurindo, Dalung, Kuta, Bali. Aku di bagian marketing, sedangkan Vitri di bagian desain. Aku ingat kami selalu kumpul kalau makan siang di ruang makan perusahaan yang sangat sempit. Vitri doyan banget makan spaghetti. Tukang masak kami, Hartono, sering masak spaghetti untuk boss dan para staff bule, dan Vitri pasti dapat jatah spaghetti. Aku sendiri tidak suka makanan Italia itu. Aku juga ingat suatu kali aku, Vitri dan Gita nongkrong di Cafe Mocca di Seminyak, Kuta, sepulang kerja. Kami sering kumpul bertiga karena nyambung saja.

Beruntung bagi Vitri karena di tahun 2000 dia dikirim perusahaan ke Los Angeles untuk membantu toko Warisan yang ada di sana. Saat yang hampir bersamaan dengan rencana pengunduran diriku dari Warisan. Di tahun itu Vitri pertama kali bertemu dengan Jon Parsons, kemudian mereka menikah di tahun 2004 dan menetap di Los Angeles. Vitri juga menceritakan bahwa mereka baru dua minggu pindah ke Seattle di negara bagian Washington, Amerika Serikat.

Pagi ini Vitri mengirim beberapa foto lewat e-mail untukku. Aku yakin Vitri dan Jon tidak keberatan kalau foto-foto mereka kumuat di sini. Thanks, Vitri. Semoga kalian berbahagia selalu. Amin.

Rumah mereka di Seattle

Furniturnya buatan Warisan ya? :-)

Ki-ka: Made, Didit, Komang, Hartono, Susi, Joesly, Vitri dan aku


Lihat Selengkapnya...

16 November 2008

Air Terjun di Lempake


Ada berapa air terjun di Samarinda ya? Melihat foto-foto air terjun Tanah Merah yang ada di internet maupun yang ada di peta yang kumiliki, air terjun itu bukan seperti air terjun yang pernah aku datangi bersama tanteku, Indriati, dan teman-teman gerejanya di tahun 1975/1976. Air terjun yang pernah kusaksikan itu jatuhnya tegak lurus dari atas ke bawah, tidak bertingkat-tingkat dan tidak bebatuan di sekitarnya. Air terjun itu tingginya belasan meter, dan kami dapat mendaki dari sisi bukit di dekatnya untuk sampai ke puncak air terjun dan melihat mata airnya di sana. Kesanku saat itu di sekitar air terjun itu gersang, tidak hijau seperti tampak dalam foto-foto air terjun Tanah Merah yang kulihat.

Yang membuatku sangat terkesan waktu itu bukanlah air terjunnya, tetapi cara kami sampai di sana. Kami tidak lewat darat dengan naik mobil, melainkan lewat sungai dengan naik ketinting. Waktu itu ada sekitar enam-tujuh orang dewasa dan ukuran ketintingnya cukup besar. Kami naik dari Karang Mumus dan terus ke arah utara mengikuti alur Sungai Karang Mumus. Aku begitu menikmati pemandangan di sepanjang sungai yang kami lalui, terlebih-lebih ketika ketinting melewati bawah jembatan. Asyooooii sekali! (kata "asyoi" lagi nge-trend saat itu, he he..)

Jembatan pertama yang kami lewati adalah Jembatan II (Sungai Dama). Setelah beberapa jembatan lain, kami pun melewati Pasar Segiri, dan kemudian melewati beberapa jembatan lagi. Lama perjalanan kami kira-kira satu jam sejak start dari Karang Mumus, dan sampailah kami di sebuah desa (aku lupa namanya, kayaknya tanteku juga lupa). Setelah urusan para orang tua selesai, kami diajak kenalan di sana untuk melihat air terjun yang letaknya beberapa ratus meter dari desa. Perjalanan menuju ke air terjun kami tempuh dengan berjalan kaki sekitar 10-15 menit. Setelah makan siang, sekitar jam 14.00 WITA, kami pun pulang.

Menurut peta yang kuperoleh di tahun 1998 (tahun terbitnya tidak tercantum) yang dikeluarkan oleh Kantor Pariwisata Kotamadya Samarinda sepertinya ada satu lagi air terjun yang letaknya di daerah Lempake, yang dalam peta disebut Waterfall Camping Ground.
Apa benar air terjun yang kusaksikan itu ada di lokasi yang disebut Waterfall Camping Ground? Apa air terjun tersebut masih ada sampai kini? Peta-peta Samarinda terbitan terakhir tidak menandai atau menyebutkan tempat itu lagi. Suatu hari aku akan mencari tahu bila aku kembali ke Samarinda.

Lihat Selengkapnya...

15 November 2008

Gunung Seteleng


Hari ini aku coba search kata kunci "Gunung Seteleng Samarinda" di Google, Yahoo, dan MSN; dan hasil yang kudapat kebanyakan adalah nama Gunung Seteleng di Kecamatan Penajam dan Gunung Seteleng di Kelurahan Gunung Samarinda, Balikpapan. Nama-nama itu adalah nama jalan atau nama kampung di situ. Hanya ada satu blog saja yang merujuk pada pencarianku yang sesungguhnya, yaitu Gunung Seteleng di Samarinda. Blog itu milik saudara Aulia Muttaqin, yang menceritakan masa kanak-kanak dan masa remajanya, tapi mengenai Gunung Seteleng hanya disebut satu kali saja, tidak ada pembahasan yang lebih detil.

Aku mempunyai koleksi tujuh peta Kota Samarinda dari enam penerbit yang berbeda, tapi herannya tidak satu pun dari peta itu yang menandai lokasi Gunung Seteleng beserta ketinggiannya dari permukaan laut. Memang Gunung Seteleng itu bukan gunung sesungguhnya, hanya sebuah bukit yang tingginya lebih-kurang 300 meter. Tapi menurutku Gunung Seteleng merupakan suatu landscape yang sangat menonjol yang dapat dijadikan sebagai suatu ciri khas dari Kota Samarinda.

Semasa kami tinggal di jalan Banda, depan rumah kami tepat menghadap ke Timur dimana Gunung Seteleng berada. Kebetulan sekali rumah yang kami kontrak itu ada di pojok jalan Banda yang berpotongan dengan jalan Samosir, hingga dari depan rumah kami dapat memandang puncak Gunung Seteleng dengan sangat jelas. Aku dan keluargaku sering duduk-duduk di tangga depan rumah di waktu pagi atau sore, dan kami sering melihat dan mengamati orang-orang yang berjalan dan bermain di situ. Pada malam hari kami sering melihat kobaran api kecil dan kadang cukup besar di sekitar puncak gunung.

Sewaktu di SD kelas enam dan di SMP, aku dan teman-teman sekelas pernah tiga kali ke puncak Gunung Seteleng, dan kami pernah main kasti di sana. Lucunya, pernah satu kali tidak seorang pun dari kami yang membawa air minum. Air mineral dalam botol belum ada waktu itu. Karena rencana kami bermain di sana sampai sore, berarti harus ada yang pulang untuk mengambil air minum. Akhirnya ada dua orang yang pulang ke rumah teman kami yang paling dekat di Jalan Yos Sudarso untuk mengambil air minum, yaitu aku dan temanku, Cin Sin atau yang lebih terkenal dengan sebutan Kikik, karena tawanya yang cekikikan!

Menurutku puncak Gunung Seteleng dapat dijadikan obyek wisata yang sangat bagus, dengan pemandangan Kota Samarinda sebagai daya tarik utamanya, juga sebagai tempat untuk melihat matahari terbit di balik Gunung Seteleng tersebut. Di puncak Gunung Seteleng itu sebaiknya dibangun juga sebuah patung atau tugu yang menandai salah satu ciri baru Kota Samarinda, dan dilengkapi dengan webcam hingga pemandangan Kota Samarinda dapat diakses melalui internet secara live. Tempat itu juga dilengkapi dengan teropong-teropong untuk mengamati kota dan aktifitas di Sungai Mahakam, dan ada tempat untuk melepaskan dahaga dan lapar.

Ide ini sudah lama ada di dalam benakku. Bagaimana Pemkot Samarinda? Atau, apa ada warga Samarinda yang berminat untuk jadi investor?





Fajar di atas Gunung Seteleng


Lihat Selengkapnya...

14 November 2008

Marketing dan Buyer Asing


Apakah kamu termasuk salah seorang yang mencintai dunia marketing? Beberapa pekerjaanku terakhir selalu di bidang sales atau marketing. Menurutku pekerjaan inilah yang paling menarik, terutama ketika aku bekerja sebagai Sales/Marketing Executive di perusahaan produsen dan ekspotir mebel di Cirebon dan di Denpasar. Mengapa?

Aku senang berhubungan dengan orang-orang asing, itulah jawabanku. Aku berhubungan dengan mereka melalui faks, e-mail, atau bertemu langsung; baik di kantor, di hotel, di rumah klien atau di pameran. Menurutku hal itu sangat menyenangkan. Walaupun tentu saja ada juga orang asing yang menjengkelkan dan brengsek yang selalu tidak puas, sering mengubah-ubah desain dan order, atau menunggak sisa pembayaran. Tapi secara keseluruhan semua itu sangatlah menyenangkan.

Aku punya pengalaman unik ketika suatu kali aku harus menemui buyer dari Spanyol di Hotel Bentani, Cirebon. Aku sedikit tegang juga ketika mendapat berita dari resepsionis hotel via saudara iparku kalau orang bule itu tidak bisa bahasa Inggris, dan aku sendiri juga tidak bisa bahasa Spanyol! Walau sedikit tegang aku berangkat juga ke Hotel Bentani untuk menemuinya.

Buyer itu bernama Aurelio de La Torre, dia bersama seorang temannya yang asal Spanyol juga. Dari kartu namanya mereka punya kantor di Spanyol dan Kuba. Penguasaan bahasa Inggris keduanya sangat minim dan kacau. Kalau hanya mengucapkan: hello, good morning, yes, no, thank you aja sih oke - tidak masalah. Tapi kalau sudah masuk ke dalam percakapan yang agak panjang, ampun deh, Inggrisnya campur-aduk dengan Spanyol yang tidak kumengerti. Oleh karena dengan bahasa lisan dan bahasa Tarzan sudah buntu, kami beralih ke bahasa tulisan. Ternyata cara ini berhasil! Semua ini berkat kamus saku Oxford: English-Spanish-English yang dibawa si bule itu.

Aurellio menuliskan apa yang dia ingin tanyakan atau yang dia inginkan di selembar kertas. Tentu bahasa yang ditulisnya juga campur-aduk, Inggris dan Spanyol. Nah, untuk kata-kata Spanyol yang tidak kumengerti aku mencarinya di bagian kamus Spanyol ke Inggris. Sedangkan untuk kata-kata Inggris yang dia tidak mengerti dari tulisanku, dia mencarinya di bagian kamusnya Inggris ke Spanyol. Akhirnya pertemuan pagi itu berjalan dengan lancar.

Pengalamanku dengan klien di Hawaii juga unik, namanya Dick Neill. Selama beberapa bulan berhubungan lewat e-mail kami belum saling mengenal dengan baik. Membaca setiap e-mail dari Dick Neill yang penuh semangat aku pikir dia seorang anak muda, ternyata aku keliru. Dick Neill sudah berumur 68 tahun waktu itu dengan lima orang anak dan tujuh orang cucu. Sementara Dick Neill juga salah sangka, dikiranya aku orang Inggris.. he he.. Ketika tahu aku berasal dari East Borneo dia menyatakan ketakutannya, karena menurut yang dia dengar orang Borneo suka potong kepala orang! Ha ha.. Semua ini baru kami ketahui beberapa hari sebelum dia datang ke Denpasar dan kami bertemu untuk pertama kali di hari Sabtu, 29 April 2000.

Memperhatikan sikap dan karakter orang bule juga merupakan hal yang menyenangkan. Ada Ester dari Spanyol yang ramah dan sering mengumbar cipika-cipiki setiap kali datang dan pergi. Ada Patrik dari Irlandia Utara yang bahasa Inggrisnya rada unik, aku bilang dia mirip Vince Gill, penyanyi country yang kondang di Amerika. Ada Tina Nettlefold yang selalu tampil menawan bagai ratu, dan menyukai warna putih untuk pakaiannya. Tina asal Australia, cantik dan ramah, dan menjadi salah satu klienku yang paling menyenangkan.

Kebalikan dari itu semua, ya ada juga bule-bule yang seronok dan tampil seksi, terutama di Bali. Mereka mampir ke kantor bisa saja dengan hanya berpakaian minim, bra dan rok mini atau dengan bikini yang ditutup sarung pantai. Hingga duduk pun sering kelihatan celana dalamnya. So what? Ya, begitulah di Bali. Jadi tidak heran bila masyarakat Bali protes keras dengan lahirnya UU Pornografi. Karena bagi mereka hal itu sudah lumrah. Lahirnya UU Pornografi ditakutkan malah akan memukul industri pariwisata mereka. Bagi yang pernah sekian tahun tinggal di Bali pun, hal-hal seperti itu tidak mungkinlah bikin "ngeres", apalagi sampai kemudian melakukan tindak kejahatan.

Lihat Selengkapnya...

13 November 2008

Selamat Jalan Temanku


Kemarin siang aku berhasil membuka backup e-mailku yang ada di hard disk lama. Hard disk itu berasal dari komputer desktop-ku yang lama, yang terbakar power supply-nya. Seluruh hardware ikut rusak, kecuali hard disk ini yang masih bisa diselamatkan. Kemudian hard disk ini aku simpan dan lama tidak tersentuh. Tanggal di e-mail menunjukkan 05 April 2000 sampai dengan 17 Mei 2002. Kemudian aku hanyut membaca e-mail yang ada, baik e-mail dari eks klienku dulu, rekan-rekan kerja di Warisan, maupun dari saudara dan keponakanku. Sampai kemudian aku terpaku dengan beberapa e-mail yang pernah dikirim oleh temanku, Ismael Komara.

Ismael yang satu ini bukan temanku Ismail yang ada di Pulau Bunyu (artikel: Pulau Bunyu II - Hampir Tenggelam). Ismael Komara mulai kerja di PT Warisan Eurindo setelah aku mengundurkan diri dari perusahaan itu. Ketika aku mengadakan acara perpisahan dengan rekan-rekan di Warisan, saat itulah aku mengenal Ismael. Acara perpisahan itu berupa acara makan siang di warung Ayam Betutu yang letaknya persis di seberang kantor Warisan.

Persahabatanku dengan Ismael biasa-biasa saja, bukan seperti persahabatanku dengan rekan-rekan lain. Di tahun pertama Ismael kerja di Warisan kami jarang kontak. Di tahun kedua dan selanjutnnya kami sudah mulai berhubungan lewat e-mail, tapi e-mailku dan Ismael jarang menyinggung soal pekerjaan. Dia lebih sering mengirim e-mail yang berisi artikel-artikel atau tulisan-tulisan yang lucu dan jahil. Contohnya seperti e-mail berikut ini yang dikirim Ismael kepadaku tanggal 16 April 2002:

ENAKNYA JADI ATASAN:

1. Makannya pesen di Warung Made terus
2. Kalo salah gak ada yang marahin, walau sering
3. Tiap ada Hotel Show selalu ikut jalan2x, walau pulang tanpa bawa hasil
4. Gajinya....ajubila...gedenya, Dollar lagi
5. Fasilitas komplitplitplit
6. Gak usah ngarepin bonus, karena gaji aja udah bisa nutupin 1 RT
7. Kalo dapet bonus....aduh mak...gak keitung gedenya
8. Datang ke Kantor boleh siang
9. Cuti bisa 1 bulan di Luar Negeri, dibayar pula
10. Alasannya selalu " I am busy...." and bawahan harus terima

Tulisan dan kata-kata di atas seperti aslinya, tidak diubah. Ismael sepertinya dapat menangkap perasaan apa yang aku rasakan ketika masih bekerja di Warisan dulu, yang menjadi salah satu alasanku untuk mengundurkan diri. Ada kesenjangan yang sangat besar antara staff bule dan kami yang domestik. Ismael mengungkapnya dengan jujur walau dalam nada yang bercanda.

Suatu pagi (hari, bulan dan tahunnya aku lupa) aku mendapat sebuah SMS dari seorang teman di Warisan yang mengabarkan bahwa: "Ismael meninggal karena kecelakaan motor dini hari tadi di daerah Kerobokan, Kuta". Setelah mengkonfirmasi isi berita itu aku kemudian berangkat ke Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Setiba di RS Sanglah aku melihat teman-teman dari Warisan sudah berkumpul di halaman di dekat ruang jenasah.

Jasad Ismael akhirnya dikremasi di perkuburan Mumbul, Nusa Dua. Kami tak dapat menahan sedih ketika peti mati dimasukkan ke dalam ruang kremasi, ditutup dan api dinyalakan. Moment ini sangat menguras emosi, dan hampir semua dari kami tak dapat menahan tangis. Aku memeluk Retno Savitri yang menangis di samping kiriku, sepertinya dia begitu kehilangan.

Setelah menunggu hampir tiga jam, abu Ismael pun dikeluarkan dari ruang pembakaran. Aku dan beberapa teman ikut memisahkan abu Ismael dari abu benda lain. Kembali air mata kami tumpah saat itu. Sambil meneteskan air mata kami mengumpulkan abu dari jasad teman kami itu. Abu itu seakan ingin mengatakan pada kami betapa rapuhnya tubuh dan kehidupan seorang manusia.

Abu Ismael kemudian dikumpulkan di dalam sebuah guci keramik dan dilabur di laut di daerah Sanur. Hanya ibu dan keluarga Ismael yang melakukan prosesi itu dengan menaiki sebuah perahu menuju ke laut. Aku dan teman-teman menunggu dan memandang dari tepi pantai Sanur yang tenang. SELAMAT JALAN, TEMANKU...

(Dua tahun lalu aku baru menyadari kalau nomor hape Ismael masih ada di dalam buku telepon di hapeku. Aku sempat merinding, dan kemudian kupikir mungkin inilah saatnya aku menghapusnya)


Goodbye My Friend
Sung by Linda Ronstadt
Written by Karla Bonoff

Oh we never know where life will take us
I know it's just a ride on the wheel
And we never know when death will shake us
And we wonder how it will feel

So goodbye my friend
I know I'll never see you again
But the time together through all the years
Will take away these tears
It's okay now
Goodbye my friend

I've seen a lot things that make me crazy
And I guess I held on to you
We could've run away and left well maybe
But it wasn't time and we both knew

So goodbye my friend
I know I'll never see you again
But the love you gave me through all the years
Will take away these tears
I'm okay now
Goodbye my friend

Life's so fragile and love's so pure
We can't hold on but we try
We watch how quickly it disappears
And we never know why

But I'm okay now
Goodbye my friend
You can go now
Goodbye my friend


Lihat Selengkapnya...

12 November 2008

Kerusuhan di Bali 1999


Ketika kerusuhan di Bali meledak 21 Oktober 1999, aku terpisah dengan istri dan anak-anakku selama lebih dari 24 jam. Kami sama-sama tak dapat pulang ke rumah hari itu. Masyarakat Bali geram dan marah karena sehari sebelumnya Sidang Umum MPR memilih Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI meski pemenang Pemilu waktu itu adalah PDI Perjuangan. Masyarakat Bali, yang identik sebagai basis PDI Perjuangan, kecewa berat karena Megawati Soekarnoputri tidak terpilih.

Kerusuhan dimulai di Singaraja, Bali utara, 20 Oktober 1999, seusai palu sidang diketok dan Sidang Umum MPR memilih Gus Dur sebagai Presiden. Hari berikutnya, menjelang siang warga Denpasar yang kecewa mulai membakar ban-ban di jalan dan menumbangkan pohon-pohon yang ada di pinggir jalan. Kejadian ini dimulai di pusat kota Denpasar, kemudian meluas hingga ke pinggiran kota dan daerah-daerah sekitarnya.

Di kantor aku mulai mengkhawatirkan istri dan anak-anakku ketika mendengar ada kerusuhan terjadi di tengah kota Denpasar. Aku segera menelepon ke rumah tapi istriku sudah tidak menjawab teleponku, itu berarti istriku sudah pergi menjemput anak-anak yang pulang sekolah. Saat itu kami belum punya handphone sehingga tidak dapat melakukan kontak. Aku berharap moga-moga mereka sempat mencapai rumah sebelum keadaan menjadi lebih buruk.

Berita yang sampai ke kantorku makin membuatku cemas. Aku menelepon ke rumah berulang kali. Seorang bapak bernama Yayang dan dua orang anaknya yang baru pulang sekolah tidak dapat mencapai rumah mereka di Renon. Daerah Renon juga tidak jauh dari sekolah anak-anakku di SD/SMP Katolik Swastiastu. Pak Yayang minta ijin untuk dapat berlindung di kantorku, karena di luar sudah sangat tidak aman. Untunglah saat yang hampir bersamaan aku menerima telepon dari istriku yang mengabarkan bahwa mereka baik-baik saja dan mereka kini ada di rumah sepupuku, Taty, di kompleks Telkom yang tidak jauh dari sekolahnya anak-anak.

Istriku menceritakan bahwa dia tadi terpaksa berbalik arah kembali menuju ke sekolah, ketika jalan-jalan yang menuju ke arah rumah kami sudah diblokir oleh penduduk setempat dengan batang pohon dan ban-ban yang dibakar. Aku bersyukur karena Tuhan telah melindungi istri dan anak-anakku.

Aku dan teman-teman masih tetap bertahan di kantor sampai kira-kira jam enam sore. Kemudian kami menyadari bahwa kami tidak mungkin terus bertahan di kantor tanpa makanan, sementara situasi dan kondisi tidak juga membaik. Lebih-lebih lagi dua atasanku masing-masing membawa bayi mereka ke kantor hari itu. Akhirnya kami sepakat untuk pulang ke rumah bosku, Vanessa Robinson, yang ada di Canggu. Selain cukup dekat, setengah perjalanan menuju ke rumah Vanessa dapat dicapai dengan melewati jalan tikus yang ada di belakang kantor.

Akhirnya kami konvoi dengan menyetir mobil kami masing-masing. Pak Teddy dengan mobilnya berjalan paling depan
, diikuti Pak Yayang dan kedua anaknya, menyusul Vanessa dan bayinya yang bernama Cade, kemudian Susi Budiman, Nicole (bayinya) dan baby sitter-nya, dan terakhir aku bersama Reynaldo. Perjalanan sangat lancar hingga kami hampir mencapai daerah Canggu, kami dihadang oleh penduduk di sekitar situ dengan rintangan batang pohon di jalan. Penduduk di sana tidak mengijinkan kami lewat dan kami dihalau untuk kembali.

Setelah kami berunding, kami sepakat untuk menuju ke rumah Reynaldo di Kulibul Sekawan, Tibubeneng, dengan jalan berbalik arah ke kantor di Padang Luwih dan terus menuju ke arah utara. Tentu kami semua berharap perjalanan kali ini dapat berhasil. Sama seperti waktu pergi tadi, perjalanan kembali lancar hingga kami melewati kantor kami. Ketika menuju ke arah utara kami dapat melewati jalan Padang Luwih dengan aman, meskipun dengan hati yang berdebar-debar karena di beberapa tempat terdapat ban-ban yang dibakar oleh penduduk dan pohon-pohon kecil yang bertumbangan di jalan.

Hari sudah gelap ketika kami memasuki Tibubeneng. Namun harapan untuk sampai ke rumah Reynaldo rasanya pupus ketika kami kembali dihadang oleh penduduk setempat dengan batang pohon yang merintangi jalan. Kami kembali bernegosiasi dengan penduduk setempat dengan alasan tujuan kami sudah dekat dan ada dua bayi bersama kami. Kali ini kami sedikit beruntung karena penduduk setempat memperbolehkan kami lewat asalkan kami berjalan kaki. Seorang penduduk yang baik menawarkan pekarangan rumahnya untuk kami menitipkan mobil.

Akhirnya sampai juga kami di rumah Reynaldo, setelah berjalan kaki sejauh lebih-kurang 500 meter. Di rumah Reynaldo aku sempat meminjam hape Susi untuk mengabari istriku yang terpaksa bermalam di rumah Taty. Malam itu juga kami mendengar kalau Megawati Soekarnoputri berhasil mengalahkan Hamzah Haz untuk posisi Wakil Presiden. Kami tidak dapat membayangkan apa yang terjadi seandainya Megawati juga tidak terpilih sebagai Wakil Presiden!

Ketika mendengar berita di TV bahwa keadaan Bali sudah pulih, maka pagi-pagi sekitar jam tujuh kami semua mengambil mobil dan pulang ke rumah kami masing-masing. Mungkin tidak seberuntung teman-temanku, ban mobilku gembos di tengah perjalanan pulang. Namun aku bersyukur, ternyata istri dan anak-anakku sudah berada di rumah saat itu.

Lihat Selengkapnya...

11 November 2008

Cina dan Imlek


Era Reformasi membawa banyak perubahan dalam tatanan hidup berkebangsaan kita. Diskriminasi perlahan-lahan mulai terkikis, walau belum benar-benar tuntas. Sebelum era Reformasi, sebagai keturunan Tionghoa kami sangat merasakan perlakuan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari, baik dari masyarakat sendiri maupun dari birokrasi. Tentu setiap pemerintahan punya nilai plus dan minusnya, tetapi diskriminasi pastilah akan menghambat pertumbuhan bangsa. Terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden negeri adidaya Amerika Serikat merupakan contoh terbaik mengenai penghapusan diskriminasi.

Sewaktu kecil kami sering mendapat todongan pertanyaan seperti ini: "Hei, kamu Cina ya?" atau teriakan "Hei, Cina!" atau koor anak-anak kampung di dekat rumahku: "Orang Cina makan babi... Orang Cina makan babi... " Dan waktu itu aku lebih suka menghindar daripada berjumpa dengan mereka. Tentu saja waktu itu aku tidak mengerti kenapa kami selalu mendapat perlakuan seperti itu. Mungkin juga sama seperti mereka yang tidak tahu kalau ada juga orang Cina yang tidak makan babi karena mereka vegetarian atau muslim; dan banyak juga orang yang bukan Cina yang makan daging babi.

Di sekolah pun kami selalu mendapat "peringatan dini" untuk tidak meliburkan diri di hari raya Imlek. Untuk minta ijin pun kami tidak diperbolehkan. Dan ada sangsi keras untuk yang berani bolos. Kami tentu tidak menyalahkan pihak sekolah atau guru-guru kami saat itu, karena zaman itu memang berbeda. Waktu itu memang ada beberapa guru yang sudah berpikiran maju, tetapi mereka tetap di bawah tekanan dan peraturan yang berlaku saat itu. Sekarang Imlek sudah menjadi hari libur nasional.

Ketika aku dan keluarga tinggal di Cirebon (1992) pun, ada perlakuan yang tidak nyaman yang kami terima dari para buruh di perusahaan kami. Mereka selalu mengolok-olok dan berani memaki kami bila kami berbahasa Tionghoa. Sampai suatu hari aku bertekad untuk memberi mereka pengertian, karena hal seperti itu tidak dapat dibiarkan berlangsung terus.

Suatu hari dengan cara santai aku berkata kepada mereka: "Eh, jangan begitu dong. Kalau aku ngomong bahasa Inggris dengan tamu asing kalian kok tidak ada yang marah atau tersinggung? Padahal kalian juga sama tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Jadi kenapa kalian harus tersinggung kalau kami pakai bahasa Tionghoa? Jangan mudah tersinggung dan berprasangka buruk. Kalian sesama orang Cirebon pasti ngomong Cirebonan, orang Jawa ketemu orang Jawa pasti ngomong pakai bahasa Jawa, dan orang Sunda ketemu orang Sunda pastilah bahasa Sunda yang dipakai.

Bapakku memang keturunan Tionghoa, tapi ibuku keturunan Jawa, kalian suruh aku berdiri dimana? Yang jelas aku sendiri merasa aku orang Indonesia asli, hanya sukunya Tionghoa. Aku tidak pernah merasa atau mengakui bahwa negeri Cina itu tanah airku. Dan yang pasti negara Cina juga tidak mengakui kami sebagai warganegaranya.

Kalau kalian ingin mengerti apa yang kami bicarakan, belajarlah bahasa Cina. Kalau mau belajar aku juga bisa mengajari kalian. Tapi itu pun sebatas yang aku bisa yaitu percakapan sehari-hari. Bahasa Cina juga tidak dilarang oleh Pemerintah buktinya di Jakarta ada banyak universitas yang mengajarkan Sastra Cina.

Supaya kalian tahu saja di Surabaya ada seorang temanku orang Madura asli yang bisa bahasa Cina, namanya Matari. Kerjaannya juga seperti kalian tukang angkut-angkut dan ngepak barang. Dia sudah ikut bosnya yang Tionghoa lebih dari 10 tahun, tapi kelebihannya dia mau belajar. Kalau kalian mau belajar pasti juga bisa. Yang penting hilangkan prasangka buruk lebih dulu." Dan sejak itu mereka tidak berani mengolok-olok kami lagi apalagi memaki kami.

Dulu Presiden Soeharto (alm) sering menyerukan kata "pembauran", tapi menurutku hal itu sudah basi. Karena pembauran sudah berlangsung di masyarakat lapisan bawah sejak dulu. Nenekku yang asli Jawa sudah "berani" menikah dengan kakekku yang Tionghoa. Sepanjang perjalanan hidupku di rantau aku melihat proses pembauran itu sudah berlangsung lama dan terjadi dimana-mana. Kita tidak bisa berharap pembauran itu terjadi serentak dalam jumlah yang spektakuler di depan mata. Hidup, termasuk pembauran, adalah proses.

Contoh pembauran yang berhasil yang bisa kita lihat ada di Bali. Beberapa amoy yang kukenal bersuamikan pria asli Bali. Dan seorang sahabat dekatku di Bali, Pak Benediktus Djandon (60) yang asli Flores beristrikan amoy Sampit bernama Diana (55) sekian puluh tahun yang lalu. Dalam keluargaku, tiga iparku juga kawin dengan orang asli Jawa dan asli Banjar. Demikian juga adikku, Albert, beristrikan Siska yang asli Jawa. Dalam kehidupan keluarga kami suku, agama dan warna kulit bukan lagi sebuah perbedaan, tapi lebih merupakan sebuah harmoni, seperti pelangi.

Pembauran tak dapat dipaksakan dan tak perlu lagi diseru-serukan. Pembauran akan berlangsung secara alamiah, secara perlahan tapi pasti. Selama hati manusia siap untuk menerima "cinta" dan terbuka untuk menerima "perbedaan", pembauran pasti terjadi.

Tahun 2008 ini harusnya dapat menjadi suatu momentum yang sangat bagus untuk mengikis tuntas segala bentuk diskriminasi, karena di tahun 2008 ini kita memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 80 tahun Sumpah Pemuda. Dan kita juga dapat menjadikan kemenangan Barack Obama di Amerika Serikat sebagai suatu inspirasi.

Lihat Selengkapnya...

10 November 2008

Kenakalan di Sekolah


Ada pengunjung blog ini yang ingin tahu kenakalanku semasa sekolah dulu, dan dia ingin aku menceritakannya di blog Samarinda Online ini. Ku pikir ini ide bagus juga karena memang ada beberapa kenakalanku di sekolah yang masih kuingat dengan jelas sampai sekarang. Dan kebetulan hari ini adalah Hari Pahlawan, aku jadi ingin mengenang guru-guruku yang adalah "Pahlawan-pahlawan Tanpa Tanda Jasa" itu.

  1. Ketika di kelas tiga SD (SDK III WR Soepratman) aku pernah dihukum berdiri di depan kelas oleh guru kelasku Pak Yovitus Liah. Pasalnya aku ingin mengerjai temanku tetapi yang kena malah guruku. Pagi itu Pak Yovitus telat masuk dan suasana kelas pada lagi ribut. Ketika melihat seorang temanku keluar dari kelas, timbul isengku, aku cepat-cepat merapatkan pintu kelas dan memasang perangkap sapu.

    Ternyata kemudian yang masuk bukan temanku, tapi Pak Yovitus Liah! Pak Yovitus kaget karena hampir tertimpa sapu yang jatuh. Akhirnya aku maju ke depan kelas untuk menerima hukuman. Sebelum disuruh berdiri di depan kelas, aku harus mengalami cubitan maut Pak Yovitus di perutku (seperti cubitan Mba Shella ke perut Mas Karyo di sinetron Suami-suami Takut Istri.. he he..)

  2. Sewaktu di kelas tiga SMP (SMPK WR Soepratman) aku pernah memimpin teman-teman sekelas untuk mogok pelajaran Geografi. Pasalnya guru Geografi kami, Pak Suradam (alm), menyalahkan salah satu jawaban ulangan kami yang menurut kami benar. Waktu itu sampai terjadi debat sengit dengan beliau, tetapi kemudian beliau meninggalkan kami tanpa ada penyelesaian. Beberapa hari kemudian ketika beliau masuk lagi ke kelas kami, kami semua telah sepakat untuk diam. Karena merasa kehadirannya tidak dipedulikan, beliau keluar dari kelas.

    Tak lama kemudian Pak Sulaiman, Wali Kelas kami, yang terkenal sebagai guru paling killer di sekolahku masuk. Tentu kami semua kena sidang. Tetapi, walau Pak Sulaiman itu terkenal killer, ternyata beliau mau mendengarkan permasalahan kami. Beliau menasihati kami dengan amat bijaksana. Sebulan kemudian Pak Suradam secara gentleman meminta maaf, dan mengakui bahwa jawaban kamilah yang benar.

  3. Sewaktu di kelas satu SMA (SMAK WR Soepratman), aku dan beberapa temanku pernah dimarahi oleh guru Kimia kami, Pak Sinaga (alm). Waktu itu Pak Sinaga mengadakan ulangan Kimia dadakan, dan kami semua protes. Tetapi ulangan Kimia tetap jalan. Ketika Pak Sinaga meninggalkan kami sebentar, kami semua ribut dan beberapa teman bertanya padaku apa aku bisa mengerjakan soal-soal ulangan itu, aku tunjukkan kertas jawabanku yang masih kosong, tetapi ada tulisanku: “Maaf, Pak. Saya tidak siap ulangan karena belum belajar.”

    Ketika Pak Sinaga masuk ke kelas kami beberapa hari kemudian, beliau marah besar padaku. Kemudian beliau juga marah ke beberapa temanku yang lain. Akhirnya aku tahu kenapa beliau begitu marah saat itu, ternyata banyak temanku juga tidak mengerjakan soal, dan menulis kata-kata seperti yang kulakukan! Malah ada seorang teman putri yang menulis: “ Maaf, Pak. Saya tidak bisa jawab, otak saya lagi kosong.” Ha ha ha...!

  4. Masih ada kejadian lain dengan Pak Sinaga. Dari namanya saja kamu tentu bisa menebak kalau beliau itu orang Batak. Masalahnya dengan Pak Sinaga adalah logat Bataknya yang masih terlalu kental.

    Suatu hari kami sekelas dibuat terpingkal-pingkal secara spontan ketika beliau menerangkan tentang perubahan wujud dari benda padat menjadi benda cair. Alih-alih mengatakan “méncair”, Pak Sinaga malah menyebutnya “méléléh”. Langsung Pak Sinaga menoleh ke arah kami yang sedang ketawa, dan aku yang kena marah pertama kali: “Ada apa, Anton? Kénapa kau kétawa? Bétul toh? Dari bénda padat ménjadi bénda cair itu namanya méléléh?” Aku yang terkena marah mencoba menahan ketawa, tetapi teman-temanku malah tetap cekikikan. Akhirnya beliau benar-benar marah dan meninggalkan kelas kami.

  5. Kelas dua SMA. Suatu hari ada jam pelajaran kosong, dan kelas ribut bagaikan pasar. Aku, Ruddy dan beberapa teman, termasuk teman-teman putri berdiskusi mengenai seks. Di tengah-tengah hangatnya diskusi, tiba-tiba Ruddy maju ke depan kelas dan menggambar dua buah gunung yang besar. Suasana kelas tambah riuh dan kini semua terfokus pada Ruddy. Untuk membuat suasana tambah ramai, aku kemudian ikut maju dan menggambar dua buah gunung yang lebih kecil di belakang dua buah gunung besar yang digambar Ruddy. Kemudian aku menambah sebuah gunung lagi di belakang dua buah gunung yang kugambar tadi. Kelas makin riuh ketika Ruddy cepat-cepat menambahkan sebuah huruf O di depan, di bawah dua buah gunung besar yang dibuatnya.

    Ketika aku masih berdiri di depan kelas, tiba-tiba masuk Pak Jenau Abeh, Kepala Sekolah kami. Suasana kelas mendadak hening dan dengan cepat aku menghapus gambar yang ada di papan tulis. Aku masih ingat dengan apa yang dikatakan Pak Jenau waktu itu, "Ayo, Anton, teruskan apa yang sedang kamu terangkan tadi!" Akhirnya kami semua harus mendengarkan omelan panjang-lebar Pak Kepala Sekolah di sepanjang sisa mata pelajaran itu.
Masih banyak kenakalan semasa sekolah dulu, tapi kejadian-kejadian itulah yang masih melekat jelas dalam ingatanku. Untuk guru-guru yang pernah kujahili, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kalian benar-benar "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" yang selalu ada dalam kenanganku yang terindah. Dan tulisan ini sebagai tanda terima kasih kami karena sudah berhasil mendidik kami dengan baik dan sabar.

Lihat Selengkapnya...

07 November 2008

KBG Fransiskus Denpasar


Ketika kami tinggal di Denpasar, kami mempunyai ikatan persahabatan yang luar biasa dengan teman-teman di KBG Fransiskus Denpasar. KBG itu kepanjangan dari Komunitas Basis Gerejawi, yang merupakan komunitas terkecil di dalam Gereja Katolik. KBG biasanya terdiri dari 10 - 12 kepala keluarga yang tinggal berdekatan di dalam satu wilayah yang disebut Sektor. KBG Fransiskus merupakan bagian dari Sektor Santo Yohanes Pembaptis, di bawah Paroki Monang Maning Denpasar.

Saat kami bergabung dengan KBG Fransiskus tahun 2001, ketuanya adalah Ibu Fransiska Ni Made Sukartini atau yang akrab disebut Bu Warno. Tetapi saat itu belum bernama KBG Fransiskus, melainkan Kelompok V (Lima). Kemudian ketika KBG dibentuk dan bernama KBG Fransiskus, jabatan ketuanya dipegang oleh Yohanes Legur yang akrab di panggil Yan atau Papa Olin, sampai kami pindah dari Denpasar ke BSD City Agustus 2007.

Banyak kegiatan yang kami lakukan bersama dalam komunitas kami, antara lain: sharing, doa, mengunjungi anggota yang sakit, mengumpulkan iuran, sampai arisan. Banyak contoh positif yang diberikan KBG Fransiskus kepada lingkungannya, terutama dalam hal kekompakan.

Tulisan ini untuk mengungkapkan kerinduan kami pada seluruh warga KBG Fransiskus Denpasar, setelah satu tahun tiga bulan kita berpisah. Aku dan istri sungguh rindu untuk berkumpul-kumpul seperti dulu. Tetap lanjutkan kegiatan-kegiatan Basis sebagaimana biasanya agar kekompakan terus terjaga. Percayalah, bila suatu hari kalian berada jauh seperti kami saat ini, kegiatan-kegiatan Basis menjadi suatu kerinduan yang besar.

Akhir kata, salam rindu dan kompak selalu buat:
  1. Yohanes Legur dan keluarga
  2. Benediktus Djandon dan keluarga
  3. Wayan Miarsa dan keluarga
  4. John Kadis dan keluarga
  5. Suwarno Utomo dan keluarga
  6. Supani Hariyanto dan keluarga
  7. Yoseph Setiawan dan keluarga
  8. Minto Wijaya dan keluarga
  9. Yanuar dan istri
  10. Maria Goretti Sri Wintari dan keluarga
  11. Sri Pratiwi dan keluarga
  12. Maria Minarni dan keluarga
  13. Theresia Poppy dan keluarga
  14. Mulyo Handono dan keluarga
  15. Djoni Lukito dan keluarga
  16. Michael Goller dan keluarga
  17. Benediktus Tetti dan keluarga
  18. Rudy Hartono dan keluarga
  19. Enny dan keluarga
  20. Martin Lay dan keluarga
  21. Adriaan dan keluarga
  22. Dan keluarga lainnya.
SEMOGA TUHAN YESUS SELALU MENYERTAI DAN MEMBERKATI KALIAN SEMUA. AMIN.



Sebagian anggota KBG Fransiskus ketika mengunjungi
Goa Maria Air Sanih di Singaraja


Lihat Selengkapnya...

06 November 2008

BSD City - Feeder Busway


Salah satu sudut kota yang menjadi favoritku di BSD City adalah terminal feeder busway Trans BSD City. Senang sekali setiap kali lewat di sana melihat antrian bus Trans BSD City yang berjejer rapi di terminalnya. Bus-bus yang bercirikan warna putih-biru dengan atap bus yang berwarna orange sangat mudah dikenali oleh masyarakat BSD City. Ingin ke BSD City?

Saat ini bus Trans BSD City melayani tiga rute ke Jakarta kota, yaitu: rute Mangga Dua, Pasar Baru dan Plasa Senayan. Dengan hanya membayar Rp 12.000,- per orang kamu sudah dapat duduk dengan nyaman di ruang ber-AC dan TV. Bus Trans BSD City berangkat setiap jam dari pagi hingga sore/malam. Kamu dapat naik feeder busway ini dimanapun dia melintas, atau menunggu di halte terdekat di depan Mangga Dua, Pasar Baru dan Ratu Plaza/Plaza Senayan. Feeder busway ini hanya memutar di halte tujuan dan kemudian balik lagi ke BSD City. Jadi tidak masuk ke terminal layaknya bus patas atau bus umum lainnya. Untuk informasi lebih lanjut mengenai jam keberangkatan dan jalur yang dilalui oleh Trans BSD City, kamu dapat menelepon ke (021) 75872970.

Para pekerja kantoran atau pengusaha juga banyak yang menggunakan feeder busway ini. Selain murah dan nyaman, mereka juga terhindar dari rasa capai dan stres bila menyetir sendiri akibat sering macetnya jalan-jalan di Jakarta. Bagi yang kurang tidur, paling tidak mereka masih dapat tidur beberapa menit hingga satu jam di dalam bus yang nyaman. Sebelum ada busway yang beroperasi di Jakarta, sebenarnya beberapa perumahan besar di sekitar Jakarta sudah punya shuttle bus yang menempuh rute antara perumahan dan pusat kota Jakarta. Setelah busway beroperasi, shuttle bus dari kawasan pemukiman itulah yang kemudian jadi penghubung busway atau yang kerap disebut feeder busway.

Aku merasa lucu karena ternyata ada banyak orang Jakarta yang belum pernah ke BSD City. Atau, memang tidak lucu ya, mengingat banyak juga orang Samarinda yang tidak pernah ke Tenggarong atau Bontang, misalnya. Bagi kamu yang suka cuci mata atau belanja, jangan khawatir, karena di BSD City juga terdapat mall yang keren dan Pasar Modern yang terkenal karena sudah sering masuk TV, terutama dalam acara kuliner. BSD City juga punya Ocean Park - semacam Waterboom - untuk berenang dan besenang-senang.

Jadi mengapa tidak sekali-kali berwisata ke BSD City?


Update terbaru 02 Agustus 2014

  1. Trans BSD saat ini sudah tidak lagi berwarna putih - biru dengan atap orange. Sekarang disekeliling body bus Trans BSD sudah ditutupi iklan yang berwarna-warni. Ada iklan Ocean Park dengan maskot gurita orange raksasa dengan latar belakang biru muda, iklan salah satu rumah sakit di BSD, dan iklan cluster perumahan baru di BSD.

  2. Harga tiket saat ini adalah Rp 14.000 per orang untuk semua jurusan yang disediakan.

  3. Jurusan BSD - RATU PLAZA: Terminal Trans BSD - Pondok Pinang/Lebak Bulus - Pondok Indah Mall - Mall FX - Plaza Senayan - Pondok Indah Mall - Teraskota/Ocean Park - ITC BSD - BSD Plaza - Pasar Modern BSD - Teminal Trans BSD.

    Jurusan BSD - MANGGA DUA: Terminal Trans BSD - Flavor Bliss/Living World Alam Sutera - Kebon Jeruk - ITC Mangga Dua - WTC Mangga Dua - Pertigaan Gading Serpong - Bundaran Alam Sutera - WTC Serpong - BSD Plaza - Pasar Modern BSD - Terminal Trans BSD.

    Jurusan BSD - PASAR BARU: Terminal Trans BSD - Flavor Bliss/Living World Alam Sutera - Kebon Jeruk - Mall Taman Anggrek - Tomang - Harmoni - Pasar Baru - Tomang - Pertigaan Gading Serpong - Bundaran Alam Sutera - WTC Serpong - BSD Plaza - Pasar Modern BSD - Terminal Trans BSD.

  4. Informasi jadwal dan lain-lain dapat menghubungi: 0877 7311 1618 (Andy), 0878 8345 6177 (Usen), 0817 653 0868 (Jaki).

Terminal Trans BSD

Lihat Selengkapnya...

05 November 2008

Tiga Kecelakaan Sepeda Motor


Lembar hari ini aku akan menceritakan tentang tiga kecelakaan sepeda motor yang pernah kualami di tiga kota yang berbeda, yakni di Surabaya, Cirebon dan Denpasar. Baik kecerobohanku atau kelalaian orang lain, ketiga kecelakaan motor itu hampir merenggut nyawaku.

  1. Di Surabaya, suatu siang sehabis hujan turun dengan lebatnya aku dan teman sekantorku, Hendra, keluar dari rumah seorang klien perusahaan kami di jalan Pakis Tirtosari. Kami berboncengan naik Vespa milik perusahaan tempat kami bekerja. Rencananya kami akan kembali ke kantor siang itu. Aku mengambil jalan pintas melewati jalan Pakis yang tembus ke jalan Kembang Kuning.

    Dari arah Pakis Tirtosari, jalan Pakis itu menurun curam. Saat menuruni jalan Pakis itulah aku panik karena rem Vespa blong. Hendra yang berada di belakang berteriak ketakutan dikiranya aku sedang mempermainkan dia. Aku bertambah panik lagi karena Vespa mengarah ke kanan jalan, sedangkan dari arah berlawanan naik sebuah mobil Kijang. Saat itu aku merasa nyawaku sudah hampir melayang. Namun pada saat yang kritis, entah kekuatan dari mana, aku berhasil membanting setir ke kiri dan menabrak belakang sebuah mobil pickup putih yang searah dengan kami.

    Kami berdua terpental ke jalan dan Vespa berguling setelah menghantam mobil pickup tersebut. Tapi.. tiba-tiba saja pengemudi pickup tancap gas dan melarikan diri. Seketika penduduk di sekitar situ datang menolong kami. Mereka mengetawai pengemudi pickup yang bodoh karena lari, orang-orang tahu kami yang salah karena menabrak pickup itu.

    Rem Vespa kami sebetulnya kondisinya bagus. Namun rupanya, genangan air hujan telah membuat kampas rem Vespa menjadi licin hingga rem menjadi tidak pakem alias blong. Berhati-hatilah bila kamu mengalami kondisi seperti itu.

  2. Di Cirebon, suatu siang yang panas aku sedang mengendarai motor bebek dari arah Weru menuju ke jalan Raya Tengah Tani. Saat itu aku ngantuk, tapi karena tujuannya sudah tidak jauh lagi, aku terus jalan sambil menahan kantuk. Tiba-tiba, BRAAAKKK..! Aku kaget setengah mati. Ternyata aku tertidur! Sepeda motor nyungsep di belakang truk tangki minyak, hingga spakbor depan hancur. Setelah nabrak aku tidak terjatuh karena seketika itu juga kedua kakiku turun menahan jatuhnya motor. Dan lucunya... truk tangki yang kutabrak langsung kabur!

    Untunglah saat aku tertidur itu motor yang kukendarai tidak lari ke kanan jalan. Kalau itu terjadi habislah aku, karena jalan yang kulalui itu jalur yang paling padat di daerah Cirebon, yang merupakan bagian dari jalan raya pantura. Bila kamu mengalami ngantuk di jalan, seberapa dekat perjalananmu, berhentilah!

  3. Di Denpasar, Minggu sore (30 Juli 2006) sekitar jam 18.00 udara begitu nyaman saat aku keluar dari rumah untuk mencari makan malam. Saat itu aku sedang sendiri di rumah karena istriku dan si bungsu, Michael, sedang berada di Jakarta dan anakku si sulung, Vincent, kuliah di Surabaya. Setelah membuang sampah di lapangan Buyung, aku melewati jalan Buluh Indah dan terus ke utara ke jalan Cargo. Suasana jalan saat itu cukup lengang, maklum hari Minggu. Di hari-hari kerja jalan Cargo biasanya ramai dengan mangkalnya truk-truk dan kegiatan bongkar-muat barang.

    Kemudian aku masuk ke pom bensin yang ada di jalan Cargo. Setelah mengisi bensin aku meneruskan perjalanan ke arah utara. Tetapi tak lama kemudian.. BRAAAKKK..! Seperti ada yang menabrakku dari arah belakang. Motor terdorong ke depan dan oleng. Namun sebelum aku sempat menoleh ke belakang... BRAAAKKKK...! Motorku ditabrak lagi untuk kedua kali. Kali ini aku tak dapat menguasai motor lagi, aku dan motor langsung terguling dengan posisi rebah ke kiri. Sebelum aku menyadari apa yang terjadi, motorku ditabrak lagi untuk yang ketiga kali, tetapi kali ini aku dan motor terseret hingga sejauh 20 meter. Sepanjang kejadian aku tetap sadar tapi tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku tetap memegang stir motor dan melihat aspal dan batu-batu jalan lewat di depan mataku. Aku mendengar jeritan memilukan seorangan ibu yang kebetulan menyaksikan kejadian itu.

    Ketika semua itu berhenti, ramai orang mengeliling aku. Aku dipapah oleh beberapa orang ke sebuah warung yang ada di pinggir jalan itu. Orang-orang berteriak agar aku segera diberi minum. Setelah minum baru aku tahu apa yang terjadi. Ternyata aku ditabrak oleh sebuah mobil Daihatsu Taft. Pengemudinya ternyata sedang belajar menyetir mobil, didampingi seorang teman sekantornya.

    Entah gugup atau ingin melarikan diri, mobil yang dikendarai keduanya akhirnya dihentikan oleh orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian. Kedua orang yang menabrak aku itu berinisiatif untuk mengantar aku ke rumah sakit, tetapi hal itu dicegah oleh banyak orang. Mereka khawatir keduanya akan melarikan diri setelah mengantarku ke rumah sakit. Atas saran beberapa orang yang di sana, akhirnya aku menelepon ke handphone seorang sahabatku yang berdinas di Polda Bali. Kemudian sahabatku itu mengirim dua orang polisi lalu-lintas dari Poltabes Denpasar.

    Setelah diadakan pemeriksaan dan perawatan di UGD RS Manuaba, aku diperbolehkan pulang. Puji Tuhan, tidak ada tulang yang patah, hanya luka-luka yang besar dan kecil di seluruh sisi tubuhku bagian kiri; dari telapak kaki kiri, paha kiri, rusuk kiri dan tangan sebelah kiri. Luka yang paling parah ada di telapak kaki kiriku, yang sekarang membentuk keloid (daging tebal), yang kadang masih terasa nyeri dan gatal.

    Beruntung aku dan motor jatuhnya ke arah kiri. Kalau jatuh ke arah kanan, mungkin sudah tidak ada hari ini lagi buatku. Satu lagi yang paling penting, yaitu.. HELM! Saat aku jatuh dan terseret, helm melindungi kepalaku dari benturan dengan aspal jalan. Maka, kalau kamu bepergian dengan sepeda motor, seberapa pun dekatnya kamu pergi, pastikan kamu mengenakan helm.

Lihat Selengkapnya...

04 November 2008

Ke Bogor


Malam ini aku merasa sangat lelah dan tidak ada mood untuk menulis di blog. Pagi tadi jam tujuh aku pergi ke Jakarta untuk menemui adikku, Frans, yang menginap di Hotel Sahid Jaya. Frans baru kemarin datang dari Samarinda dan kami janjian bertemu hari ini.

Kemudian sekitar jam 13.30 aku, Frans dan beberapa temannya ke Bogor. Frans punya urusan pekerjaan di sana. Selama kami di Bogor hujan turun dengan lebatnya. Sekitar jam lima kami sudah kembali ke Jakarta, dan aku baru sampai di BSD City lagi jam 20.00.

Lihat Selengkapnya...

03 November 2008

Trauma Pada Perlintasan KA


Bertahun-tahun aku pernah mengalami trauma pada pintu perlintasan kereta api. Hal ini disebabkan aku pernah dua kali hampir tertabrak kereta api di pintu perlintasan kereta api, saat aku masih tinggal di Surabaya (1985-1992). Sejak itu setiap kali akan melewati pintu perlintasan kereta aku merasa takut dan ngeri. Seperti anak-anak aku akan pelan atau berhenti dulu dan menengok ke kiri dan ke kanan, sekalipun tak ada isyarat kalau kereta akan lewat. Ketakutanku bertambah ketika aku mengalaminya lagi yang kedua kali!

Suatu kali seusai mengantar mobil bosku ke rumahnya di Perumahan Gading Pantai, Kenjeran, aku kembali ke kantor dengan naik bemo (sebutan angkutan kota di Surabaya). Ketika mendekati pintu perlintasan kereta api Kenjeran, sirine tanda kereta api akan lewat terdengar. Tetapi tanpa disangka-sangka, sopir bemo tersebut malah tancap gas untuk dapat melewati palang pintu yang mulai bergerak turun. Setelah berhasil melewati palang pintu tersebut, bemo tersebut tidak sempat keluar melewati palang pintu kedua di depannya hingga bemo sempat menabrak palang itu dan bemo terjebak di antara dua palang pintu kereta api.

Jarak dua palang pintu itu cukup jauh karena terdapat beberapa jalur rel kereta api di sana. Tiba-tiba ibu yang menggendong balita yang duduk di depanku berteriak histeris sambil menunjukkan jarinya ke arah belakangku, "kereta api!" Aku menoleh ke belakang dan kaget melihat lokomotif kereta api yang sedang keluar dari tikungan rel dan menuju ke arah kami. Seketika seluruh penumpang menjadi histeris. Sopir pun panik dan bingung untuk bertindak, sementara orang-orang di daerah sekitar situ pun berteriak-teriak menyuruh sopir segera mundur dari rel yang akan dilalui kereta tersebut. Tetapi sopir tetap terlihat bingung untuk melalukan sesuatu.

Karena panik tak seorang pun bertindak untuk melompat keluar lewat pintu bemo. Suara dari dalam hatiku terus-menerus menyuruhku untuk segera keluar. Dalam keadaan panik aku mengeluarkan badanku lewat jendela dan terjerembab di atas jalan, segera aku berdiri dan menghindari rel yang akan dilalui kereta itu. Tetapi kemudian aku melihat ibu yang menggendong balita itu menyorongkan anaknya keluar jendela sambil memohon, "tolong, pak, selamatkan anakku.." Aku segera mendekat dan mengambil anak itu, saat bersamaan bemo mundur dengan kencang dan menghantam beberapa sepeda motor yang ikut menerobos di belakangnya. Sedetik kemudian kereta itu pun lewat.

Pengemudi bemo itu pun akhirnya berurusan dengan banyak orang, termasuk dengan beberapa pengendara yang motornya rusak. Setelah menyerahkan balita itu ke ibunya, aku melanjutkan perjalananku ke kantor dengan menaiki bemo yang lain.

Selang beberapa tahun kemudian aku mengalami hal yang sama lagi. Kali ini terjadi di jalan Ngaglik, Surabaya. Seperti halnya di jalan Kenjeran, perlintasan kereta di jalan Nagaglik pun terdiri dari beberapa jalur rel, dan jalur rel yang ke arah utara akan melewati jalan Kenjeran. Saat itu aku, Matari dan sopir duduk di depan pickup yang melaju ke arah Karang Empat. Ketika mendekati pintu perlintasan kereta api di jalan Ngaglik, sirine berbunyi dan palang perlintasan pun menutup.

Posisi mobil pickup kami di urutan kedua dari pintu perlintasan kereta api. Beberapa saat kemudian kereta api pun lewat di jalur seberang dari arah utara menuju selatan, dan palang kereta pun dibuka kembali. Ketika mobil yang di depan kami mulai melintasi rel, tiba-tiba kami mendengar teriakan para tukang becak dan orang-orang di sekitar rel sambil memberi isyarat tangan: "Stop! Stop! Kereta api!" Sedetik kemudian, ketika kami masih bingung dengan teriakan orang-orang, sebuah kereta api melintas dengan cepat dari arah selatan menuju utara tepat di depan hidung pickup kami, yang membuat jantung kami hampir copot seketika itu! Untung sopir kami karena kaget secara refleks langsung menginjak rem mobil dengan keras. Kami pucat pasi saat itu, rasanya roh kami sudah melayang.

Rupanya masinis di atas kereta api juga kaget dan segera mengerem kereta. Kereta api berderit-derit untuk berhenti, dan baru benar-benar berhenti setelah semua gerbong sudah melewati jalan Ngaglik. Setelah tahu tidak terjadi kecelakaan, kereta pun melanjutkan perjalanan. Mobil yang tadi ada di depan kami pun selamat. Orang-orang beramai mendatangi pos penjagaan pintu kereta api yang ada di situ, sedangkan kami terpaksa harus meneruskan pekerjaan, walau kami ingin juga mendatangi dan memaki-maki petugas di pos itu.

Trauma itu perlahan-lahan hilang sejak aku pindah ke Bali tahun 1999, karena di Bali tidak ada kereta api. Itu sangat membantu penyembuhanku.

Lihat Selengkapnya...

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.