30 April 2009

Humor Para Dokter


MoU Dukun Ponari dan Dokter Agus

Ada kabar dari beberapa orang yang pernah berobat ke Ponari bahwa di depan rumah tempat Ponari melakukan praktik penyembuhan di Jombang, terdapat sebilah papan bertuliskan: BILA SAKIT BERLANJUT SEGERA HUBUNGI DOKTER AGUS.

Sementara itu, di tempat praktik dokter Agus di Tangerang ada tulisan yang serupa berbunyi: BILA SAKIT BERLANJUT SEGERA HUBUNGI PONARI.


Ingatan Dokter Kandungan

Seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan sedang berjalan-jalan di sebuah mal, ketika seorang wanita muda menyapanya. Dengan wajah heran sang dokter ahli kandungan mengangguk dan nyonya muda itu memperkenalkan diri, "Saya Ny. Anu, pasien dokter."

Suatu hari Ny. Anu datang untuk memeriksakan diri kepada dokter ahli tadi. Ny. Anu kemudian disuruh berbaring di tempat tidur dan membuka semua pakaiannya. Ketika dokter ahli tadi melihat bagian yang menjadi keahliannya, langsung saja ia bilang, "Ny. Anu ya?"

Wah, wah, wah, rupanya dokter kandungan tidak bisa mengenali pasien dari wajah-wajah pasiennya, tetapi....


Gara-Gara Viagra

Seorang wanita setengah baya mengunjungi seorang dokter. "Dok," katanya, "anunya suami saya payah, tidak bisa 'ereksi' sama sekali." Dokter balik bertanya, "Sudahkah suami anda mencoba Viagra?

"Oh.. belum, pasalnya suami saya selalu menolak dan bilang dia tidak perlu minum apapun, dia masih mampu. Tapi, Dok, saya rasa dia benar-benar membutuhkan obat itu," kata wanita itu.

"Baiklah, kalau begitu saya berikan anda sebotol pil ini. Agar suami anda tidak tahu, masukkan saja satu pil ini ke dalam kopi atau minumannya, dan tunggu saja apa yang akan terjadi," kata dokter itu.

Beberapa hari berselang, wanita itu datang lagi dan berteriak. "Dok, saya kembalikan barang berbahaya ini," katanya sambil melemparkan botol Viagra tersebut.

"Lho, kenapa? Saya pikir ini yang anda butuhkan," kata sang dokter.

"Ya, tentu saja saya membutuhkan hubungan intim, dan pil ini sudah saya masukkan ke dalam kopinya, setelah diminum kira-kira 15 menit kemudian dia langsung menelentangkan saya di meja makan, lalu melepaskan pakaian saya dan memcumbui saya."

"Nah, kalau begitu kan bagus," timpal dokter. "Apa yang salah?"

"Masalahnya piring-piring, gelas-gelas dan semua makanan yang ada di atas meja makan beterbangan hingga pecah, petugas restoran kemudian menahan kami, dan menyerah kami kepada yang berwajib!"

Lihat Selengkapnya...

26 April 2009

Mencari Sahabat Lama


Pagi di hari ketiga aku di Samarinda, tepatnya tanggal 25 Maret 2009 yang lalu, aku berjalan kaki menuju ke Pasar Segiri. Dari tempat tinggalku di Jalan Tantina Pasar Segiri sangatlah dekat. Tujuan utamaku satu, yakni mencari info tentang sahabat lamaku Muhammad Helpani. Muhammad atau Amad adalah temanku sekelas sewaktu di SMAK WR Soepratman, Samarinda, dulu (1979-1982).

Aku berjalan memasuki Jalan Perniagaan mendekati jembatan kayu dimana dulu rumah Muhammad Helpani berada tak jauh darinya. Aku coba memasuki sebuah toko yang menjual bahan bangunan dan bertanya mengenai keberadaan sahabatku itu. Namun, dengan ketus si ibu penjaga toko mengatakan tidak kenal. Aku kaget dengan jawaban yang tidak ramah itu. Namun aku tetap dengan sopan pamit dan mengucapkan terima kasih.

Tepat di depan dimana rumah Amad dulu berada, dengan kondisi sekarang yang sama sekali berbeda, aku mendekati dua orang ibu yang sedang berdiri mengobrol. Awalnya kedua ibu seperti tidak serius menanggapi pertanyaanku, mereka hanya menjawab pendek-pendek saja seperti, "Tidak tahu" atau "Tidak kenal". Seorang dari ibu itu kemudian pergi meninggalkan kami, tinggallah ibu satunya yang hampir meninggalkanku juga. Namun tiba-tiba aku seperti tersadar dari kesalahanku, segera aku melemparkan pertanyaan lain tetapi dengan cara yang berbeda, "Tapi sudah lawas kah pian tinggal di sini, bu?" Serta-merta si ibu itu berbalik ke arahku.

Ternyata jurusku berhasil dengan baik, ibu itu sampai ngomong panjang lebar denganku hampir selama 20 menit. Sampai-sampai dia beri tahuku umurnya sudah berapa, 42 tahun! Dari ceritanya akhirnya aku mengerti bahwa daerah sekitar itu pernah mengalami kebakaran hebat pada tahun 1990, hingga beberapa warga yang tadinya tinggal di sana sudah pindah kemana tidak ada yang tahu. Ibu ini tadinya tinggal di ujung barat dekat sungai, tetapi setelah kebakaran dia pindah ke rumah di dekat kami berdiri ngobrol, yakni di sebelah rumah Amad dulu berada.

Aku kemudian melanjutkan perjalananku ke Pasar Segiri, sambil mengingat-ingat kembali kesalahanku. Bukan satu, tapi dua. Di dalam hati aku berkata pada diriku sendiri, "Di sini berlaku hukum bahasa Banjar, wal ai... Ikam sekarang di Samarinda, lain di Jawa." Dan seperti yang pernah kupelajari di dunia marketing, memang benar orang senang bila kita ingin tahu (tentu yang baik) tentang diri mereka.
Aku tersenyum sambil terus melanjutkan langkahku ke Pasar Segiri.

Lihat Selengkapnya...

20 April 2009

Samarinda Banjir Besar Lagi 2


Hari ini adikku, Frans, berulang tahun. Tidak seperti ulang tahun yang lalu-lalu, kali ini hadiahnya sangat istimewa, yakni.... BANJIR BESAR. Frans dan keluarga kembali harus mengungsi dan menginap di kantor sejak 17 April malam, karena banjir kembali merendam rumahnya yang ada di Perum Rapak Benuang. Banjir memang sudah menjadi sesuatu yang rutin dan bukan hal yang aneh lagi bagi masyarakat Samarinda. Hujan kecil saja sudah membuat beberapa ruas jalan di Samarinda tergenang air, seperti yang kusaksikan tiga minggu lalu ketika aku berada di Samarinda selama dua minggu.

Selama di Samarinda aku tiap hari membaca koran, namun tidak melihat berita-berita mengenai apa yang sedang dan telah dilakukan Pemda atau Pemkot untuk mengatasi banjir. Kolom di koran tiap hari dipenuhi dengan berita-berita dan iklan-iklan tentang Pemilu, caleg, dan seputar masalah itu. Apa ini menandakan Pemkot tidak dapat berbuat apa-apa lagi untuk mengatasi masalah banjir ini dan berharap musim hujan segera berlalu, hingga kritik-kritik dan jeritan masyarakat juga berlalu dengan sendirinya?

Suatu pemandangan yang mengherankan terjadi di Jalan Mayjend Sutoyo dan beberapa tempat di daerah Pemuda dan Sempaja, jalan-jalan atau daerah-daerah sekitar itu selalu tergenang air walau tidak ada hujan, dan anehnya sementara itu ketinggian air di Sungai Karang Mumus turun (surut). Apa masalahnya? Tentu masalahnya air yang menggenang tidak menemukan jalan keluar ke sungai! Mungkin, memang berat bagi Pemerintah Daerah atau Kota bekerja sendiri, maka dari itu Pemda dan Pemkot harus bekerja sama dengan masyarakat, dengan bekerja bakti masal memperbaiki saluran air dan membersihkan sampah-sampah yang memenuhi sungai, kali dan got, seperti yang banyak terlihat. Banjir tidak akan menunggu proyek-proyek besar untuk penanganan banjir yang membutuhkan waktu yang lama. Sementara ada yang bisa segera dilakukan untuk mengurangi besarnya bencana banjir ini.

Beberapa foto di bawah ini kuambil dengan kamera handphone pada tanggal 28 dan 29 Maret lalu ketika aku berada di Samarinda, menunjukkan sampah-sampah yang menumpuk di kali dan jalanan yang tergenang air walau hujan turun hanya sebentar. Semoga segera ada penanganan, jangan berharap musim hujan akan segera berlalu. Lakukan sesuatu.

Seorang teman di Samarinda baru saja mengirim pesan SMS kepadaku, mengatakan bahwa banjir kali lebih besar dari banjir tahun 1998. Seandainya itu betul, maka akan ada banjir yang lebih besar lagi dari tahun ini... andai tidak ditangani dengan serius.


Sampah menumpuk di kali & Jl. Mayjend Sutoyo yang selalu tergenang


Jalan Jendral Ahmad Yani

Lihat Selengkapnya...

19 April 2009

Perjalanan Balikpapan - Samarinda


Seperti yang sudah direncanakan, kepulanganku ke Samarinda 23 Maret kemarin tidak melewati jalan raya Balikpapan - Samarinda, atau umumnya disebut Jalan Kilo. Albert menjemputku di Bandara Sepinggan dan kami langsung menuju ke arah Pantai Manggar dan terus ke arah utara menuju ke Samarinda melalui Samboja, Senipah, Muarajawa, Sanga Sanga, Palaran, dan Samarinda Seberang. Aku ingin mengalami kembali sensasi masa lalu ketika jalan raya Samarinda - Balikpapan belum ada.

Kami mampir di Pantai manggar. Pantai Manggar kini telah dibangun dan ditata dengan rapi. Bentuk aslinya telah hilang. Tentu saja kini lebih bagus dan bersih. Karena kami tiba hari Senin yang merupakan hari kerja, maka pantai tampak sepi. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke arah Senipah. Desa-desa yang kami lalui begitu damai dan asri. Ingin rasanya aku tinggal di sana. Jauh dari deru dan debu layaknya di kota-kota besar. Kami terus ke utara lagi menuju ke Muarajawa. Kami berhenti sebentar di jembatan besar yang melintasi sungai yang cukup lebar ini. Panjang jembatan ini melebihi panjang Jembatan Mahakam yang ada di Samarinda. Aku mengambil beberapa foto sekitar sungai dan jembatan ini.

Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Sanga-sanga. Sebuah kota yang kecil tempat eksplorasi minyak Pertamina. Kami masuk ke kota Sanga Sanga dengan tujuan ingin mencari Gereja Katolik yang dulu pernah aku datangi bersama Tante Indriati di tahun 1975. Adikku, Albert, juga pernah misa di gereja itu pada tahun 1990. Aku dan Albert ingat gereja tersebut berdekatan dengan kilang minyak satu-satunya yang ada di tengah kota Sanga Sanga. Tidak sulit mencari kilang tersebut, namun setelah kami mengelilingi kilang itu kami tidak menemukan gereja tersebut. Satu-satunya gereja katolik yang ada di Sanga Sanga adalah Gereja Katolik Santo Paulus, yang dibangun tahun 1999. Menurut keterangan orang yang kebetulan kami ketemui, gereja ini merupakan pengganti gereja katolik yang dulu ada di dekat kilang minyak tersebut. Kemudian kami makan siang ayam penyet di sebuah warung yang kami temui di Sanga Sanga.

Setelah Palaran kami memasuki Samarinda Seberang. Kami sengaja melewati Masjid Shiratal Mustaqiem yang merupakan masjid tertua di Samarinda dan telah menjadi salah satu benda cagar budaya nasional. Masjid ini berdiri sejak 1901, terletak di Jalan Pangeran Bendahara, Kecamatan Samarinda Seberang. Daerah sekitar Mesjid tersebut merupakan sentra industri kain sarung Samarinda yang sangat terkenal itu. Setelah melewati Jembatan Mahakam sampailah aku ke tempat tujuanku... KOTA SAMARINDA.

Menurutku, perjalanan dari Balikpapan ke Samarinda melalui jalan sepanjang pesisir pantai ini sangatlah menarik dan menyenangkan. Jalannya lebih mendatar ketimbang jalan raya Balikpapan - Samarinda yang bergunung-gunung. Memang di beberapa tempat terdapat jalan yang rusak dan berlubang, terutama di ruas Muarajawa dan Sanga Sanga. Bila diperbaiki, maka jalan ini akan menjadi jalan alternatif yang paling menyenangkan untuk ditempuh. Walau sensasi masa lalu sudah tidak tercium lagi, tapi aku puas karena masih punya kesempatan melewati jalan ini lagi.

Lihat Selengkapnya...

13 April 2009

Perjalanan 23 Mar - 08 Apr 2009


Pantai Manggar 01
Pantai Manggar 02


Muarajawa 01
Muarajawa 02


Jembatan Muarajawa
Jembatan Mahakam




Islamic Center 01
Islamic Center 02





Sungai Kunjang
Dermaga Kontener


Sungai Karang Mumus 01
Sungai Karang Mumus 02


Sungai Karang Mumus 03
Sungai Karang Mumus 04


Muara Karang Mumus 01
Muara Karang Mumus 02




Pasar Pagi 01
Pasar Pagi 02





Pasar Segiri 01
Pasar Segiri 02


Katedral St. Maria
Gereja St. Lukas


Mesjid Shiratal Mustaqiem
Mesjid Al Ma'ruf


Kelenteng Thian Gie Kiong
Pandawa Lima




Mal Lembuswana
Samarinda Central Plaza





Perempatan Lembuswana
Mal Mesra indah





Kantor Gubernur
Rumah Bahari





Villa Tamara
Bandara Temindung


Lihat Selengkapnya...

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.