Kemarin siang aku berhasil membuka backup e-mailku yang ada di hard disk lama. Hard disk itu berasal dari komputer desktop-ku yang lama, yang terbakar power supply-nya. Seluruh hardware ikut rusak, kecuali hard disk ini yang masih bisa diselamatkan. Kemudian hard disk ini aku simpan dan lama tidak tersentuh. Tanggal di e-mail menunjukkan 05 April 2000 sampai dengan 17 Mei 2002. Kemudian aku hanyut membaca e-mail yang ada, baik e-mail dari eks klienku dulu, rekan-rekan kerja di Warisan, maupun dari saudara dan keponakanku. Sampai kemudian aku terpaku dengan beberapa e-mail yang pernah dikirim oleh temanku, Ismael Komara.
Ismael yang satu ini bukan temanku Ismail yang ada di Pulau Bunyu (artikel: Pulau Bunyu II - Hampir Tenggelam). Ismael Komara mulai kerja di PT Warisan Eurindo setelah aku mengundurkan diri dari perusahaan itu. Ketika aku mengadakan acara perpisahan dengan rekan-rekan di Warisan, saat itulah aku mengenal Ismael. Acara perpisahan itu berupa acara makan siang di warung Ayam Betutu yang letaknya persis di seberang kantor Warisan.
Persahabatanku dengan Ismael biasa-biasa saja, bukan seperti persahabatanku dengan rekan-rekan lain. Di tahun pertama Ismael kerja di Warisan kami jarang kontak. Di tahun kedua dan selanjutnnya kami sudah mulai berhubungan lewat e-mail, tapi e-mailku dan Ismael jarang menyinggung soal pekerjaan. Dia lebih sering mengirim e-mail yang berisi artikel-artikel atau tulisan-tulisan yang lucu dan jahil. Contohnya seperti e-mail berikut ini yang dikirim Ismael kepadaku tanggal 16 April 2002:
ENAKNYA JADI ATASAN:
Tulisan dan kata-kata di atas seperti aslinya, tidak diubah. Ismael sepertinya dapat menangkap perasaan apa yang aku rasakan ketika masih bekerja di Warisan dulu, yang menjadi salah satu alasanku untuk mengundurkan diri. Ada kesenjangan yang sangat besar antara staff bule dan kami yang domestik. Ismael mengungkapnya dengan jujur walau dalam nada yang bercanda.
Suatu pagi (hari, bulan dan tahunnya aku lupa) aku mendapat sebuah SMS dari seorang teman di Warisan yang mengabarkan bahwa: "Ismael meninggal karena kecelakaan motor dini hari tadi di daerah Kerobokan, Kuta". Setelah mengkonfirmasi isi berita itu aku kemudian berangkat ke Rumah Sakit Sanglah, Denpasar. Setiba di RS Sanglah aku melihat teman-teman dari Warisan sudah berkumpul di halaman di dekat ruang jenasah.
Jasad Ismael akhirnya dikremasi di perkuburan Mumbul, Nusa Dua. Kami tak dapat menahan sedih ketika peti mati dimasukkan ke dalam ruang kremasi, ditutup dan api dinyalakan. Moment ini sangat menguras emosi, dan hampir semua dari kami tak dapat menahan tangis. Aku memeluk Retno Savitri yang menangis di samping kiriku, sepertinya dia begitu kehilangan.
Setelah menunggu hampir tiga jam, abu Ismael pun dikeluarkan dari ruang pembakaran. Aku dan beberapa teman ikut memisahkan abu Ismael dari abu benda lain. Kembali air mata kami tumpah saat itu. Sambil meneteskan air mata kami mengumpulkan abu dari jasad teman kami itu. Abu itu seakan ingin mengatakan pada kami betapa rapuhnya tubuh dan kehidupan seorang manusia.
Abu Ismael kemudian dikumpulkan di dalam sebuah guci keramik dan dilabur di laut di daerah Sanur. Hanya ibu dan keluarga Ismael yang melakukan prosesi itu dengan menaiki sebuah perahu menuju ke laut. Aku dan teman-teman menunggu dan memandang dari tepi pantai Sanur yang tenang. SELAMAT JALAN, TEMANKU...
(Dua tahun lalu aku baru menyadari kalau nomor hape Ismael masih ada di dalam buku telepon di hapeku. Aku sempat merinding, dan kemudian kupikir mungkin inilah saatnya aku menghapusnya)
Goodbye My Friend
Sung by Linda Ronstadt
Written by Karla Bonoff
Oh we never know where life will take us
I know it's just a ride on the wheel
And we never know when death will shake us
And we wonder how it will feel
So goodbye my friend
I know I'll never see you again
But the time together through all the years
Will take away these tears
It's okay now
Goodbye my friend
I've seen a lot things that make me crazy
And I guess I held on to you
We could've run away and left well maybe
But it wasn't time and we both knew
So goodbye my friend
I know I'll never see you again
But the love you gave me through all the years
Will take away these tears
I'm okay now
Goodbye my friend
Life's so fragile and love's so pure
We can't hold on but we try
We watch how quickly it disappears
And we never know why
But I'm okay now
Goodbye my friend
You can go now
Goodbye my friend

Tidak ada komentar:
Posting Komentar