Era Reformasi membawa banyak perubahan dalam tatanan hidup berkebangsaan kita. Diskriminasi perlahan-lahan mulai terkikis, walau belum benar-benar tuntas. Sebelum era Reformasi, sebagai keturunan Tionghoa kami sangat merasakan perlakuan diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari, baik dari masyarakat sendiri maupun dari birokrasi. Tentu setiap pemerintahan punya nilai plus dan minusnya, tetapi diskriminasi pastilah akan menghambat pertumbuhan bangsa. Terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden negeri adidaya Amerika Serikat merupakan contoh terbaik mengenai penghapusan diskriminasi.
Sewaktu kecil kami sering mendapat todongan pertanyaan seperti ini: "Hei, kamu Cina ya?" atau teriakan "Hei, Cina!" atau koor anak-anak kampung di dekat rumahku: "Orang Cina makan babi... Orang Cina makan babi... " Dan waktu itu aku lebih suka menghindar daripada berjumpa dengan mereka. Tentu saja waktu itu aku tidak mengerti kenapa kami selalu mendapat perlakuan seperti itu. Mungkin juga sama seperti mereka yang tidak tahu kalau ada juga orang Cina yang tidak makan babi karena mereka vegetarian atau muslim; dan banyak juga orang yang bukan Cina yang makan daging babi.
Di sekolah pun kami selalu mendapat "peringatan dini" untuk tidak meliburkan diri di hari raya Imlek. Untuk minta ijin pun kami tidak diperbolehkan. Dan ada sangsi keras untuk yang berani bolos. Kami tentu tidak menyalahkan pihak sekolah atau guru-guru kami saat itu, karena zaman itu memang berbeda. Waktu itu memang ada beberapa guru yang sudah berpikiran maju, tetapi mereka tetap di bawah tekanan dan peraturan yang berlaku saat itu. Sekarang Imlek sudah menjadi hari libur nasional.
Ketika aku dan keluarga tinggal di Cirebon (1992) pun, ada perlakuan yang tidak nyaman yang kami terima dari para buruh di perusahaan kami. Mereka selalu mengolok-olok dan berani memaki kami bila kami berbahasa Tionghoa. Sampai suatu hari aku bertekad untuk memberi mereka pengertian, karena hal seperti itu tidak dapat dibiarkan berlangsung terus.
Suatu hari dengan cara santai aku berkata kepada mereka: "Eh, jangan begitu dong. Kalau aku ngomong bahasa Inggris dengan tamu asing kalian kok tidak ada yang marah atau tersinggung? Padahal kalian juga sama tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Jadi kenapa kalian harus tersinggung kalau kami pakai bahasa Tionghoa? Jangan mudah tersinggung dan berprasangka buruk. Kalian sesama orang Cirebon pasti ngomong Cirebonan, orang Jawa ketemu orang Jawa pasti ngomong pakai bahasa Jawa, dan orang Sunda ketemu orang Sunda pastilah bahasa Sunda yang dipakai.
Bapakku memang keturunan Tionghoa, tapi ibuku keturunan Jawa, kalian suruh aku berdiri dimana? Yang jelas aku sendiri merasa aku orang Indonesia asli, hanya sukunya Tionghoa. Aku tidak pernah merasa atau mengakui bahwa negeri Cina itu tanah airku. Dan yang pasti negara Cina juga tidak mengakui kami sebagai warganegaranya.
Kalau kalian ingin mengerti apa yang kami bicarakan, belajarlah bahasa Cina. Kalau mau belajar aku juga bisa mengajari kalian. Tapi itu pun sebatas yang aku bisa yaitu percakapan sehari-hari. Bahasa Cina juga tidak dilarang oleh Pemerintah buktinya di Jakarta ada banyak universitas yang mengajarkan Sastra Cina.
Supaya kalian tahu saja di Surabaya ada seorang temanku orang Madura asli yang bisa bahasa Cina, namanya Matari. Kerjaannya juga seperti kalian tukang angkut-angkut dan ngepak barang. Dia sudah ikut bosnya yang Tionghoa lebih dari 10 tahun, tapi kelebihannya dia mau belajar. Kalau kalian mau belajar pasti juga bisa. Yang penting hilangkan prasangka buruk lebih dulu." Dan sejak itu mereka tidak berani mengolok-olok kami lagi apalagi memaki kami.
Dulu Presiden Soeharto (alm) sering menyerukan kata "pembauran", tapi menurutku hal itu sudah basi. Karena pembauran sudah berlangsung di masyarakat lapisan bawah sejak dulu. Nenekku yang asli Jawa sudah "berani" menikah dengan kakekku yang Tionghoa. Sepanjang perjalanan hidupku di rantau aku melihat proses pembauran itu sudah berlangsung lama dan terjadi dimana-mana. Kita tidak bisa berharap pembauran itu terjadi serentak dalam jumlah yang spektakuler di depan mata. Hidup, termasuk pembauran, adalah proses.
Contoh pembauran yang berhasil yang bisa kita lihat ada di Bali. Beberapa amoy yang kukenal bersuamikan pria asli Bali. Dan seorang sahabat dekatku di Bali, Pak Benediktus Djandon (60) yang asli Flores beristrikan amoy Sampit bernama Diana (55) sekian puluh tahun yang lalu. Dalam keluargaku, tiga iparku juga kawin dengan orang asli Jawa dan asli Banjar. Demikian juga adikku, Albert, beristrikan Siska yang asli Jawa. Dalam kehidupan keluarga kami suku, agama dan warna kulit bukan lagi sebuah perbedaan, tapi lebih merupakan sebuah harmoni, seperti pelangi.
Pembauran tak dapat dipaksakan dan tak perlu lagi diseru-serukan. Pembauran akan berlangsung secara alamiah, secara perlahan tapi pasti. Selama hati manusia siap untuk menerima "cinta" dan terbuka untuk menerima "perbedaan", pembauran pasti terjadi.
Tahun 2008 ini harusnya dapat menjadi suatu momentum yang sangat bagus untuk mengikis tuntas segala bentuk diskriminasi, karena di tahun 2008 ini kita memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional dan 80 tahun Sumpah Pemuda. Dan kita juga dapat menjadikan kemenangan Barack Obama di Amerika Serikat sebagai suatu inspirasi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar