Aku teringat dengan sebuah cerita yang pernah kubaca sekitar 20 tahunan yang lalu, yang begitu membekas di dalam hatiku hingga sekarang belum bisa aku lupakan. Aku coba untuk menceritakan kembali di sini, walau pasti tidak akan sama persis dengan aslinya, tetapi intinya tetap sama. Sejak membaca cerita itu di sebuah majalah, aku belum pernah menemukan cerita itu dikutip atau diterbitkan lagi oleh majalah atau buku manapun. Cerita ini sebagai sebuah permenungan buat kita semua, tentang pentingnya kejujuran dalam sebuah persahabatan.
Nina adalah seorang ibu muda yang sudah beberapa tahun lalu ditinggal mati oleh suaminya. Hidup bersama empat orang anaknya di dalam kemiskinan membuat Nina harus membanting tulang untuk menghidupi anak-anaknya sebagai seorang tukang cuci pakaian. Beberapa pemakai jasanya adalah keluarga kaya dan tetangganya yang lebih berada. Salah satunya adalah teman sekolahnya sendiri, Merry, yang kehidupannya sangat jauh di atas Nina. Merry merupakan salah seorang sahabatnya yang paling kaya. Merry memang berasal dari keluarga kaya, dan kemudian mendapat suami yang kaya pula. Namun demikian Merry dan Nina tetap berteman dengan baik.
Suatu hari Merry datang ke rumah Nina. Merry mengajak Nina untuk menghadiri reuni sekolah mereka yang akan diadakan seminggu lagi. Ajakan menghadiri reuni ini langsung ditolak oleh Nina, karena sulit baginya membayangkan betapa akan malunya dia berada di antara teman-temannya yang rata-rata kaya tersebut, sementara dia sendiri begitu miskin.
Segala usaha dan bujukan dilakukan Merry agar sahabatnya ini mau menghadiri reuni sekolah bersamanya. Akhirnya Merry menyadari apa yang menjadi alasan sahabatnya yang menolak pergi ini. Merry pun berkata kepada Nina, "Kamu boleh meminjam baju dan sepatuku agar kamu tidak malu. Datang nanti ke rumahku dan kamu boleh memilih baju dan sepatu yang akan kamu pakai."
"Kamu serius, Mer?" tanya Nina dengan nada tidak percaya. Merry mengangguk sambil tersenyum, dan ia pun pamit pulang.
Beberapa hari kemudian Nina pun telah berada di kamar Merry. Nina terpesona dengan segala kemewahan yang ada di dalam kamar sahabatnya itu. Merry hanya tersenyum melihat ketakjuban di wajah Nina, dan dia terus berusaha membantu Nina memilih baju dan sepatu yang cocok. Tidak mudah memilih sebuah baju yang cocok untuk Nina di antara ratusan baju dalam lemari pakaian Merry yang berukuran sangat besar, demikian juga ketika memilih sepatu.
Setelah menghabiskan waktu hampir dua jam, akhirnya Merry berhasil menemukan baju dan sepatu yang cocok dan serasi buat Nina. Tentu Nina juga sangat senang, dan dia sangat berterima kasih pada sahabatnya itu. Ketika Nina akan meninggalkan kamar Merry, timbul keinginanannya untuk meminjam juga perhiasan berupa kalung emas putih bermata berlian yang sangat indah, yang tadi dilihatnya di lemari perhiasan Merry. "Merry pasti tidak keberatan kalau aku meminjam satu di antaranya," kata Nina dalam hati, "koleksinya banyak sekali." Ternyata benar, Merry tidak keberatan untuk meminjamkannya pada Nina. Ketika waktunya tiba mereka pun pergi menghadiri reuni bersama.
Sepuluh tahun berlalu. Merry yang sempat tinggal di luar negeri bersama suaminya, beberapa bulan setelah acara reuni tersebut, pulang ke kotanya. Segera dia mencari sahabatnya, Nina, yang sudah sangat dirindukannya. Dengan mudah Merry menemukan rumah sahabatnya itu karena memang rumah Nina tidak jauh dari rumahnya. Rumah tersebut seperti tidak terawat. Dan, alangkah kagetnya Merry, karena dia hampir tidak mengenali sahabatnya itu. Nina terlihat sangat tua dan bungkuk, ia kelihatan sepuluh tahun lebih tua dari usia sebenarnya. Melihat itu Merry pun menangis dan bertanya pada sahabatnya apa yang sebenarnya terjadi sepeninggal dirinya ke luar negeri.
Awalnya Nina terlihat enggan bercerita, namun ketika melihat Merry mulai menangis membuat hatinya luluh juga. Akhirnya dia pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya setelah acara reunian sekolah mereka 10 tahun yang lalu.
"Masihkah kamu ingat, Mer, sewaktu reuni aku pamit pulang terlebih dahulu, karena aku tidak dapat meninggalkan anak-anakku sendirian di rumah hingga larut malam? Ketika aku tiba di rumah, aku baru menyadari kalau kalung permata yang kupinjam darimu itu hilang. Saat ini aku benar-benar panik dan bingung, aku tidak berani memberitahukan hal itu padamu."
"Tapi, bukankah kamu sudah mengembalikannya padaku seminggu setelah itu?" Merry membalas penuh keheranan.
"Benar, tapi itu bukan kalungmu. Aku membelinya di sebuah toko perhiasan karena kulihat kalung itu sangat mirip dengan kalung yang aku pinjam darimu," kata Nina lirih.
"Tapi.. dari mana kamu mendapatkan uang untuk membeli kalung tersebut?" tanya Merry dengan wajah yang sembab.
"Aku meminjam uang dari rentenir. Aku membayarnya dengan menerima cucian lebih banyak dan bekerja dari subuh hingga larut malam..."
Mendengar itu tangis Merry makin menjadi, dia memeluk Nina erat-erat, sampai beberapa saat yang dia bisa lakukan hanyalah menangis. Nina pun ikut menangis, walau tidak mengerti apa yang membuat sahabatnya menangis sampai seperti itu. Kedua sahabat itu berpelukan sambil menangis. Sampai beberapa saat kemudian Merry baru bisa berkata-kata di antara isak tangisnya.
"Mengapa waktu itu kamu tidak mengatakan yang sejujurnya padaku, Nina? Aku telah membuatmu menderita. Maafkan aku, Nina."
Nina makin bingung dengan pernyataan sahabatnya tersebut, ia pun bertanya, "Mengapa kamu yang meminta maaf padaku? Bukankah aku yang seharusnya meminta maaf padamu, karena aku telah mengembalikan kalung yang bukan milikmu?" kata Nina seraya hendak melepaskan pelukannya, tapi Merry segera menariknya dan memeluknya lebih erat lagi.
"Tidak, Nina! Tidak! Aku yang salah! Aku tidak mengatakan yang sejujurnya padamu. Kalung yang kamu pinjam dariku itu hanyalah kalung imitasi! Maafkan aku, Nina. Maafkan aku yang telah membuat kamu menderita." Merry menangis menjadi-jadi.
Mendengar itu Nina langsung lemas. Seandainya ia mau jujur dengan sahabatnya waktu itu, dia mungkin tidak harus menderita seperti ini...
Lihat Selengkapnya...