11 November 2011

Setiap Orang Bicara Tentang 11-11-11


Apakah hari ini memang begitu spesial? Hari ini 11 November 2011 atau lebih sering ditulis menjadi 11-11-11 atau 11/11/11 atau 11.11.11, atau apapun; tapi intinya semua ingin menyampaikan bahwa ini adalah deret angka yang unik, karena sama atau kembar. Bahkan, saat ini di Hollywood sedang dibuat filmnya!

Ada banyak orang memanfaatkan hari ini untuk menikah dan melahirkan anak (secara paksa), agar bisa dicatat bahwa mereka menikah atau anaknya lahir pada 11-11-11 11:11:11. Istilah di kampungku: "bepaksaan". Di sisi lain, banyak paranormal dan ahli Feng Shui berpendapat bahwa 11-11-11 bukanlah hari yang baik! Tapi, siapa peduli!

Baik atau buruk, yang jelas penulisan angka tanggal, bulan dan tahun seperti ini akan berulang setiap 100 tahun, yaitu 11 November 2111/2211/2311... dan seterusnya. Atau, 1000 tahun lagi, yaitu 3011. Lalu, apakah ini sesuatu yang aneh? Justru aku penasaran, apakah ada yang punya dokumen, catatan atau tulisan masa lalu yang dibuat pada 11-11-1111? Foto pasti belum ada, karena kamera belum ditemukan.

Tahun depan, kita akan mengalami 12-12-12. Setelah itu bersiaplah, menyambut "kiamat" yang akan terjadi pada 21-12-12 sebagaimana yang ramai diramalkan oleh beberapa pakar sejarah, novelis dan seniman Hollywood atas akhir dari penanggalan suku Maya! Hi hi hi...

Hari ini masih merangkak pergi, sama seperti hari lainnya....

*Foto diambil dari grumpymanwithtoomuchtimeonhishands.blogspot.com

Lihat Selengkapnya...

12 September 2011

Ada Helikopter-becak di Samarinda


Bagaimana rasanya naik helikopter yang digabung dengan becak? Ini bukan guyonan lho! Tapi kendaraan ini benar-benar pernah ada di Samarinda dan Jakarta! Namanya HELICAK. Jangan tanya bagaimana rasanya naik helicak, mungkin sebagian besar dari kita bahkan tidak tahu bagaimana wujudnya.

Aku termasuk beruntung karena beberapa kali pernah melihat helicak di Samarinda (1972/1973). Tidak sering memang, karena waktu itu mungkin hanya ada dua atau tiga unit di Samarinda, dan warnanya kuning, aku masih ingat betul. Struktur helicak dan becak hampir sama, yakni tempat duduk penumpang di bagian depan, sedangkan pengemudi di belakang. Bedanya, helicak pakai mesin dan tempat duduk penumpang dirancang selayaknya kokpit helikopter. Kalau masih penasaran dengan bentuknya, cari saja fotonya di Google.

Bagaimana kisahnya sampai muncul kendaraan aneh tersebut di Samarinda? Aneh lebih pada kemunculan helicak tersebut ketimbang wujud helicak itu sendiri. Sebagai anak-anak, kesanku waktu itu melihat helicak seperti melihat piring terbang atau UFO. Langka! He he he... Kalau tidak salah ingat, waktu itu ada rencana menggantikan becak (dengkul) dengan helicak (mesin), menyusul rencana penghapusan becak di Samarinda 1 Januari 1975, oleh Walikota saat itu, H. Kadrie Oening. Rupanya rencana penggantian becak dengan helicak ini tidak berjalan mulus, bagai layu sebelum berkembang, akhirnya helicak pun hilang dari Samarinda.

Menurut Harian Kompas yang terbit Senin, 18 Juni 2001, helicak masih ada di Jakarta, dan tinggal satu-satunya! Helicak ini dimiliki oleh seorang kakek bernama Risman. Walau body sudah tidak mulus lagi, tapi mesin masih tokcer. Helicak aslinya bikinan Italia, dengan mesin bermerek Lambreta. Waktu itu (1971) diimpor dari Italia sebanyak 400 unit, sebagian besar beroperasi di Jakarta

Walau sebagai salah satu saksi mata keberadaan helicak di Samarinda waktu itu, tapi aku tidak sempat naik helicak! :'O

Lihat Selengkapnya...

21 Juni 2011

Blogaway




Aku baru mau coba aplikasi Blogaway dari handphone Android, sebuah aplikasi kecil untuk blogging  yang tentunya mudah dibawa-bawa. Tampilan mukanya lebih menarik dan lebih baik dibandingkan aplikasi serupa yang pernah aku coba, seperti Blogger-droid dan Bloggeroid.

Pemformatan teks seperti bold, italic, underline, dan pewarnaan dapat dilakukan. Tidak ketinggalan tombol undo. Aplikasi ini juga bisa menangani multiple accounts, walau terbatas hanya pada akun Blogger. Jadi, tidak dapat digunakan untuk blogging di akun Multiply, WordPress, dan lainnya.

Blogaway juga dapat mengedit postingan yang sudah ada di blog kita. Juga, kemampuannya untuk menambahkan tautan (link), gambar dan video ke dalam artikel kita. Kelihatannya sangat menarik untuk dicoba semua kemampuannya. Jika tertarik unduh saja dari Android Market langsung dari ponselmu.

Beginilah hasilnya!

Posted via Blogaway Lihat Selengkapnya...

01 Mei 2011

Telepon Dulu Sekarang dan Akan Datang


Tiga puluh delapan tahun yang lalu, ketika aku masih anak-anak, tidak terbayangkan bahwa saat ini dengan mudah orang menenteng-nenteng pesawat telepon, bahkan dua atau tiga nomor sekaligus! Alat komunikasi ini telah mengalami revolusi menjadi semakin kecil dan tanpa kabel, yaitu menjadi suatu alat yang kita kenal sekarang sebagai handphone, ponsel, smartphone, dan lain-lain.

Aku ingat sewaktu kecil ketika papa ditanya orang berapa nomor telepon toko kami, papa menjawab, "205." Bila kalian jauh lebih muda dari usiaku pastilah bingung, "Kok nomor telepon hanya segitu digitnya?" He he... Saat itu 1972/1973 telepon mungkin merupakan barang mewah. Rumah kami tidak memiliki telepon, hanya ada di toko. Dan, 205 itu memang nomor telepon toko kami waktu itu! Jadi bisa ditebak saat itu belum ada 1000 sambungan telepon di Samarinda.

Aku masih ingat bagaimana dulu kalau mau menelepon. Aku mendengar papa atau teman papa berkata, "Selamat siang, Non.. Tolong sambungkan ke nomor 313." Penelepon harus menghubungi operator telepon dulu, dan menunggu untuk disambungkan. Untuk interlokal, sama saja. Bedanya, setelah minta disambungkan ke nomor tertentu di kota tertentu, kita menutup telepon. Operator telepon akan menyambungkan permintaan kita, setelah tersambung baru operator telepon akan menelepon kita dan mempersilakan kita mulai bicara.

Kemudian berkembang era warnet sekitar tahun 80-an. Mulai dari warnet di kantor Telkom, kemudian menjamur kemana-mana, ke pelosok kota hingga pedesaan. Dengan mudah kita bisa menelepon dan menghubungi orang-orang yang ingin kita hubungi, bahkan diluar pulau sekalipun. Kita tinggal masuk ke bilik telepon dan memutar atau memencet sendiri nomor telepon tujuan.

Di antara dua era tersebut, telegram masih merupakan alat komunikasi yang penting, dan paling diminati untuk urusan penyampaian berita yang cepat. Kemudian pamor telegram lambat-laun memudar sejalan dengan perkembangan tehnologi pesan singkat (SMS) yang dibawa oleh telepon seluler, yang mulai berkembang di Indonesia pada pertengahan tahun 90-an. Pada era 90-an ini facsimile sempat menjadi primadona komunikasi, terutama di warnet dan di perusahaan-perusahaan.

Tiga puluh delapan tahun yang lalu tidak terbayangkan melihat hampir semua orang bisa memiliki telepon dan bisa dibawa kemana-mana. Semua orang, semua profesi, entah dia seorang dewasa atau anak-anak; seorang guru, murid, dokter, pejabat, tukang ojek atau pembantu rumah tangga.. semua punya handphone! Wah, hebat ya...! Tapi, ada seseorang yang sangat kukenal yang sampai saat ini tidak pakai handphone! Bukan karena dia tidak mampu, tapi karena dia ingin membuktikan bahwa dia dapat hidup tanpa handphone! Dia adalah Kho Sau Long, teman sekelasku di SMPK dan SMAK dulu. Walau usianya kini sudah hampir setengah abad, dan dia seorang pengusaha sukses, dia tetap tidak mau pakai handphone. Walau aneh, tapi diam-diam aku salut juga dengan prinsip dia seperti itu, mungkin hidup akan lebih santai, tenang dan bahagia tanpa
handphone! Ha ha ha ha...

Bagaimana alat atau sistem komunikasi kita 10 tahun ke depan? Sepuluh tahun ke depan kita mungkin tidak membawa alat apa-apa lagi, karena seluruh keperluan komunikasi kita sudah ditanam atau diimplan di dalam kepala kita, dalam mulut (gusi), telinga dan mata! Hmmm.....

Lihat Selengkapnya...

26 Maret 2011

Perama Ferama atau Apa


Ada yang tahu apa itu perama atau ferama? Mungkin juga prama atau frama. Aku sudah coba bertanya pada Om Google, tapi tidak mendapat jawaban seperti arti yang dimaksud. Juga tidak ada dalam Kamu Bahasa Banjar yang pernah aku unduh dari internet beberapa tahun lalu. Mungkin saja kata ini hanya ciptaan yang sifatnya lokal, dan dipakai di Samarinda saja "jaman itu", karena aku yakin kata ini sudah tidak pernah terdengar lagi diucapkan oleh orang-orang Samarinda dua atau tiga dasawarsa belakangan ini.

Entah mana kata yang benar, tapi perama yang dimaksud adalah selebaran atau flyer atau poster. Khususnya, selebaran atau poster film bioskop. Bentuknya bisa selebaran satu warna dari hasil sablonan atau benar-benar poster warna yang terbuat dari bahan dan cetakan yang sangat bagus. Nah, perama yang bagus, yang full colour ini kemudian menjadi barang koleksi!

Jaman itu, untuk mengiklankan film yang sedang main di bioskop, pengusaha bioskop menggunakan gambar besar yang diarak dengan menggunakan mobil yang dilengkapi dengan speaker besar. Duduk disamping sopir ada seseorang yang tugasnya cuap-cuap di mikrofon, dan seorang lagi yang duduk dekat jendela yang tugasnya melempar-lemparkan (menghamburkan, menyebarkan) perama. Tentu saja ini menjadi rebutan kami yang saat itu masih anak-anak. Jadi waktu kami kecil dulu, yang dikejar-kejar bukan hanya layangan putus, tapi juga perama!

Aku sendiri bukan seorang anak yang punya kemampuan hebat untuk mengejar layangan putus, tapi untuk mendapatkan perama bukan hal yang sulit. Memang untuk perama-perama yang bagus, penyebarannya tidak sebanyak perama sablonan. Jadi ini yang membuatnya jadi ekslusif. Sedikit bangga juga kalau punya perama yang bagus yang tidak dimiliki teman-teman lain. Dalam hal ini, ada satu temanku dulu (tetangga) adalah jagonya mengejar perama, hingga dia punya koleksi perama-perama yang langka dari film-film yang pernah main di bioskop.

Perama-perama yang bagus biasanya dari film-film silat dan Kung Fu Hongkong yang laris manis pada masa itu, dengan pemain-pemain legendaris seperti: David Chiang Da-wei, Ti Lung, Lo Lieh, Chen Kuan Tai, Wang Yu, Fu Sheng, Bruce Lee, Chen Pei Pei, Li Ching, dan lain-lain.

Sekarang tidak ada lagi yang namanya perama. Cara beriklan sudah berubah total. Sekarang ini, untuk mengetahui film-film bioskop yang sedang main kita cukup buka koran atau lihat di internet. Tidak ada kejar-kejaran lagi seperti dulu. Jaman sudah berubah. Duh, puluhan tahun telah berlalu bagai sekejap... :(

Lihat Selengkapnya...

18 Maret 2011

Cerita Dari Tokyo


Kita semua tahu, Jumat Siang seminggu yang lalu, tepatnya 11 Maret 2011, Jepang dihantam gempa dan tsunami yang hebat. Dahsyatnya gempa di Jepang hampir sekuat gempa di Aceh tahun 2004 lalu. Hampir seluruh pantai Timur Jepang porak-poranda. Gempa bumi kemudian memicu kebocoran radiasi di sejumlah area pembangkit listrik tenaga nuklir.

Aku kemudian mengirim e-mail ke Junko, sahabatku di Tokyo, untuk mengetahui keadaan dia dan keluarga di Jepang. Sehari kemudian baru aku menerima balasannya yang sangat singkat mengabarkan bahwa dia dan keluarga selamat dan baik-baik saja, dan dia belum bisa cerita banyak. Sementara itu media elektronik terus-menerus menayangkan dahsyatnya kerusakan akibat gempa dan tsunami tersebut, terutama pada beberapa reaktor nuklir yang ada di prefektur Fukushima.

Pagi ini aku menerima e-mail dari Junko lagi.

Hai, Anton.

Terima kasih atas perhatiannya. Sudah seminggu berlalu setelah gempa dasyat dan tsunami melanda negara kami. Setelah itu masih ada ancaman kebocoran radiasi di PLTN Fukushima. Setiap hari di sini juga kami masih terasa gempa susulan yang besar dan kecil, Anton. Sungguh kami terpukul oleh semua itu...

Tapi semua itu kami rakyat Jepang harus hadapi dan atasi dengan sekuat tenagga. Walaupun situasi di lokasi-lokasi pasca gempa dan tsunami masih dalam keadaan sulit untuk memulihkan infrastruktur dan juga memulihkan hati orang-orang yang terluka, tapi sejauh ini orang-orang sana masih tetap bertahan bahkan terlihat membangkit kembali dengan cara yang apa adanya. Kebanyakan orang yang mengungsi di tempat evakuasi adalah orang-orang yang sudah tidak punya rumah lagi, kehilangan keluarganya, temannya, saudaranya dan sebagainya. Tapi mereka sudah mulai bergotong-royong dengan tetangga-tetangganya dan bergerak untuk menolong orang lain yang lebih sengsara. Sepanjang hari saya mengawasi kondisi mereka lewat berita di TV. Juga kondisi PLTN Fukushima.

Sedangkan kondisi di Tokyo pun masih tetap dalam keadaan tidak stabil. Misalnya setiap hari dilakukan mati lampu dari purusahaan listrik. Namun itu dilakukan secara teratur (jam-jam mati lampu itu ditentukan di setiap wilayahnya). Jadi dalam hal ini, syukurlah boleh dikatakan sama sekali tidak menimbulkan kepanikan warga selama ini. Tapi karena bahan pokok seperti beras hampir tidak dapat beli di toko-toko di sini, kemarin saya dikirim beras oleh ibu saya yang di Saitama.

Lalu, toilet paper, tissu, dan makanan tertentu hilang total dari setiap pertokohan. Mungkin penyebabnya adalah tersendatnya sistem transportasi di kawasan kami, orang-orang takut kehabisan barang-barang sehari-hari sehingga banyak yang membeli melebihi batas kebutuhannya. Saya juga kemarin hanya untuk cari toilet-paper yang mau habis di rumah, ternyata harus lari ke 4 supermarket dan akhirnya berhasil beli satu pak. Itu juga terbatas, Anton.

Tapi ...ketika kami ingat orang-orang yang di sana, tidak bisa ngomong apa-apa. Daerah Tokyo masih beruntung, karena kebanyakan bagunan-bangunan di Tokyo tidak roboh saat gempa. Tapi, seperti Anton tahu, saat itu saya berada di perusahaan di mana tempat kerja saya. Apa lagi itu berlokasi di pusat kota, Ropponggi. Eeehhhh, coba bayangkan mereka berada di lantai 23. Waaa.. pas gempa terjadi, lantai itu bergoyang-goyang seperti di dalam ayunan atau perahu, Anton. Saya sepintas berpikir saya akan mati di sini. Melarikan diri? Oh, tidak bisa... berdiri saja nggak bisa tanpa memegang di tiang atau pintu yang di sekitarnya.

Memang gempa kali ini adalah gempa terbesar yang saya alami seumur hidup, Anton. Semua elevator tidak berfungsi lagi, jadi kami semua evakuasi lewat tangga darurat. Pada saat kami turun tangga, bangunan yang cukup raksasa itu goyang kanan kiri dan dinding mulai retak dan berjatuhan!! Sungguh menakutkan! Saya membayangkan apa yang terjadi di World Traid Center di New York dulu. Atau, film 2012 yang memgambarkan hari kiamat. Memang apa yang saya lihat persis adegan seperti itu...

Setelah kami berhasil keluar, saya memcoba melihat ke atas gedung kami tadi, eeehhh.. ternyata ujung gedung raksasa itu masih goyang pelahan-pelahan, Anton. Rasanya bermimpi saja... Selama ini saya tidak pernah lihat pemandangan seperti itu. Dan waktu itu saking goyangnya saya sampai merasa mual. Dan hari itu semua sarana transportasi di Tokyo stop total sampai hari esoknya. Semua jalan macet. Saya berusaha untuk menanggap taksi dan menunggu satu jam lebih ,tapi tidak ada satu taksi pun yang berhenti... dan karena kedinginan berdiri terus di jalan, akhirnya saya pergi dan menginap di gereja yang untung lokasinya berdekatan dengan Ropponggi. Jadi saya rasa masih termasuk sangat beruntung ....

Ya.. sudah panjang berceritanya ya, Anton. Pokoknya negara Jepang sedang berusaha untuk mengatasi bencana kali ini! Jadi Anton tetap berdoa ya buat kami. Jangan bersedih lagi! Pasti cahaya akan datang!

Sekian dulu Anton, terima kasih.

Junko


Lihat Selengkapnya...

14 Maret 2011

I LOVE MONDAY


Mungkin aneh bila aku suka hari Senin. Keponakanku, Sherly, bahkan bilang aku punya kelainan. He he.. Tapi aku yakin, aku tidak sendirian, masih cukup banyak orang yang suka, bahkan cinta, hari Senin. Walau mungkin lebih banyak yang benci, tidak masalah. It's up to you lah...

Bila tiap Senin kamu menemukan status Facebook-ku bertulisankan I LOVE MONDAY, itu bukan mengada-ada. Aku menyukai hari Senin sejak aku di SMA. Tapi diantara periode di SMA dan sekarang, memang ada suatu masa ketika aku juga benci hari Senin, yaitu ketika aku bekerja dengan orang!

Masuk sekolah dan kembali berkumpul dengan teman-teman sekolah merupakan kesenanganku, mungkin kata kebahagiaan terlalu berlebihan untuk dipakai. Tiap Minggu sore aku selalu merasa tak sabar lagi menunggu datangnya Senin pagi. Ya, itulah kegembiraanku. Bahkan bersama satu-dua orang teman kami sering janjian untuk tiba di sekolah lebih awal, lebih pagi, ketika suasana sekolah masih sepi.

Tidak dipungkiri sekolah adalah saat terindah dalam hidup kita. Sekarang ketika tahun-tahun berlalu, puluhan tahun pun telah lewat, kamu pun rindu untuk bertemu dengan teman-teman sekolahmu dulu, kemudian diwujudkan dalam temu kangen atau reuni. Walau, kenyataannya, waktu sekolah dulu kamu sering bolos, suka berantem dan benci hari Senin!

Sekarang ini Senin lebih dari sekedar hari biasa bagiku. Senin memberi harapan baru, ketika Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu kehidupan terasa mulai bergerak turun. Berharap Senin mengawali minggu yang baru dengan peluang baru, kesempatan baru, pengalaman baru, kenalan baru dan banyak order baru, tentunya. Ha ha ha! Maka dari itu Senin perlu disambut dengan kata-kata manis seperti I LOVE MONDAY, agar energi positifnya masuk ke dalam hati dan pikiranmu, sikapmu, semangatmu, rumahmu, tokomu, karyamu, penugasanmu, dan lain-lain.

Seperti aku bilang tadi bahwa aku juga pernah benci dengan hari Senin. Ya, ketika aku masih bekerja dengan orang. Problem terbesar ketika kamu bekerja dengan perusahaan bukan milikmu adalah godaan hari libur! Kamu pasti sering melihat kalender untuk mengetahui bulan ini ada berapa hari libur, dan kapan liburnya. Kamu juga berharap, kalau bisa, tiap hari liburnya selalu jatuh pada hari Jumat atau Senin! Kemudian kamu kecewa ketika tahu bulan ini tidak ada hari libur khusus selain Sabtu dan Minggu, atau hari libur nasional jatuh pada hari Sabtu atau Minggu. Hiks! Tapi, sebenarnya kamu sudah beruntung bila Sabtu libur. Bagaimana dengan mereka yang Sabtu harus masuk kerja?

TGIM vs TGIF. Lagi-lagi, it's up to you. Tapi aku sangat yakin kalau kamu seorang bawahan atau karyawan sebuah perusahaan, pasti kamu selalu bersyukur bila hari sudah Jumat. Thanks, God! It's Friday! Kenapa apa aku tahu? Ya, iyalah, karena dulu aku seorang karyawan juga! Boss-ku berkata, "Kamu harus merasa memiliki perusahaan agar kamu rajin dan betah kerja," memang benar sih. Tapi, apa boss merasa "memiliki" kita? Itu persoalannya.

Thanks, God! It's Monday!


Lihat Selengkapnya...

13 Maret 2011

Permainan Semasa Kecil


Aku coba mengingat-ingat permainan-permainan semasa aku kecil dulu yang sudah sangat jarang, atau hampir tidak pernah kutemui lagi dimainkan anak-anak jaman sekarang. Ada kerinduan untuk kembali mengenang ke masa-masa kecil dulu...

Jaman sekarang anak-anak lebih senang main video game, dimulai dari Nintendo, kemudian Sega, PlayStation, PSP, XBox, Wii, dan sebagainya. Mainan-mainan tradisional seperti jaman aku kecil dulu hampir tidak mereka kenal. Ada berapa anak-anak di kota sekarang yang masih mau main kelereng?

Di bawah ini ada beberapa permainan yang aku dan teman-temanku mainkan semasa kecil dulu.

Pedang-pedangan dari Kayu
Aku dan teman-teman membuat pedang-pedangan dari kayu. Kayu didapat dari tulang atau rangka bagian tengah gulungan atau bal kain. Kayu ini mudah kami dapat karena papa dulu pedagang kain. Permainan pedang-pedangan ini diinspirasi oleh film seri Ivanhoe yang ditayangkan TVRI, stasiun TV satu-satunya waktu ini dan belum berwarna!

Pistol atau Senapan dari Kayu
Pistol atau senapan kayu mungkin masih dimainkan anak-anak sekarang yang tinggal di desa atau pinggir kota. Tapi satu hal yang beda dan unik adalah pelurunya yang berasal dari suatu tanaman semak, yang aku  sendiri tidak tahu namanya. Bentuknya bulat lonjong berupa biji yang keras dengan tangkai (ekor) yang panjang. Sekarang tanaman itu hampir tidak pernah terlihat lagi. Adakah yang tahu?

Kelereng atau Gundu (Bhs. Jawa)
Kami di Samarinda menyebutnya keleker. Setiap pemain selalu punya keleker favorit atau keleker jimat untuk dimainkan. Setiap pemain berusaha mengenai keleker lawan dengan cara mengeker  (membidik) dan mengetek (menyentil dengan jari) keleker sendiri ke arah keleker lawan, bila kena maka lawan harus membayar kita dengan satu keleker. Aku ingat, suatu waktu aku dan adik-adikku sampai punya beberapa blek keleker!

Lompat Tali Karet
Lompat tali biasa dimainkan baik laki-laki maupun perempuan. Tali terbuat dari karet gelang yang dirangkai menjadi tali yang panjang. Para pemain harus bisa melompat melewati tali yang dipegang oleh dua orang yang gagal melompat sebelumnya; dimulai dari ketinggian selutut, kemudian sepaha, sepinggang, sedada, sekepala, sekilan di atas kepala dan lebih tinggi lagi. Intinya, permainan ini adalah untuk adu lompat ketinggian.

Wayang
Anak-anak di Jawa menyebutnya Gambar. Wayang adalah gambar-gambar yang berisi cerita. Biasanya satu lembar Wayang terdiri dari 50 wayang-wayang (gambar-gambar) kecil. Wayang dipotong kecil-kecil sesuai besar gambar, dan dimainkan dengan cara dilempar ke udara. Wayang yang terbuka ketika jatuh ke tanah, menang. Seperti keleker, para pemain wayang juga punya wayang jimat sebagai jagoannya.

Bungkus Rokok
Bungkus rokok dimainkan sebagai alat pembayaran atau uang dalam permainan kartu. Bungkus rokok yang laku adalah bungkus rokok kretek, yang berupa lembaran kertas, bukan kotak. Makin langka rokoknya makin mahal nilai bungkusnya. Kalau dipikir-pikir aku bingung juga bagaimana waktu itu kami menentukan nilai bungkus rokok sebagai alat pembayar dan kami semua bisa sepakat!

Kasti
Walau dimainkan dengan menggunakan bola tenis, tapi dalam kasti ia lebih dikenal sebagai bola kasti. Dimainkan secara grup, dua grup pastinya, yaitu grup jaga dan grup main. Permainan ini mirip dengan permainan baseball. Salah satu bedanya, di baseball bola cukup disentuhkan ke badan lawan; sedangkan di kasti dengan cara dilempar ke badan lawan secara pelan maupun keras, istilahnya "digebok". Aku ingat teman-teman sering main dengan bola buta! Bola buta adalah bola tanpa angin di dalam. Hmm.. kalau kena gebok, rasain nyawa! Aku pasti tidak ikut karena takut, sewaktu SD badanku kecil dan kerempeng. He he he...

Gasing atau Yoyo
Umumnya terbuat dari kayu. Ini adalah permainan ketangkasan. Sampai hari ini yoyo tetap ada, walau kebanyakan sudah terbuat dari bahan plastik keras dan diberi lampu kinetik warna-warni.

Halma dan Ular Tangga.
Sekarang, walau masih ada, tapi sudah jarang dimainkan oleh anak-anak masa kini. Mungkin kalah menarik dibanding dengan game-game RPG.

Kwartet
Kwartet adalah permainan kartu bergambar, dimainkan oleh dua sampai dengan empat orang. Pemain yang menang adalah pemain yang berhasil mengumpulkan satu seri kartu (empat kartu dengan judul yang sama) sebanyak mungkin. Kwartet favoritku adalah kwartet Godam-Gundala. Sayang sudah tidak ada lagi sekarang.

Layang-layang
Siapa yang tidak tahu permainan ini. Dulu, layang-layang erat dengan benang gelasan. Adu layang-layang adalah tujuan utama, istilah keren anak-anak Samarinda "betegangan". Membuat layang-layang sendiri juga sudah biasa, sampai mewarnai dan menghiasinya dengan (ke)sumba warna-warni. Lalu menggelas benang dengan bahan baku kaca bekas botol (pepaci), kancur, putih telur atau kanji. Benang yang bagus namanya benang godang, yang besar diameternya. Menyasah kelayangan limbung, hi-ih jua.

Lempar Koin
Lempar koin sebenarnya judi kecil-kecilan. Baru sadar sekarang. He he he... Pemain berusaha melempar koin sedekat mungkin dengan koin lawan, dan bila jaraknya masuk dalam sekilan (selebar bukanan jari tangan), maka koin lawan menjadi miliknya. Permainan ini dapat dimainkan berdua atau banyak orang.

Kapal-kapalan dari Kaleng
Kapal-kapalan dari kaleng ini sungguh-sungguh dapat berjalan di atas air dengan bantuan uap dan panas dari dian kecil yang dipasang di dalamnya. Sekali-sekali masih terlihat ada yang menjualnya, tapi anak-anakku sama sekali tidak tertarik. He he..

Atari
Atari mungkin merupakan cikal bakal video game masa kini. Beberapa game yang sangat menarik waktu itu adalah pingpong, tenis dan space invader. Semua tampil dengan grafik yang sangat sederhana dan hitam-putih, kemudian tampil dengan warna sederhana. Tidak ada Atari mungkin tidak ada Nintendo, dan kawan-kawan. Nintendo, menurutku, merupakan perintis game modern yang ada saat ini.

Karombol
Aku ingat sewaktu SMP sering main karombol di rumah teman, sepulang sekolah. Karombol mempunyai empat buah lubang di masing-masin sudutnya, dan biasanya dimainkan empat orang pemain. Pemain berusaha memasukkan banyak biji karombol dalam lubang dengan cara dijentik (diketek) langsung atau dipantulkan, tapi jangan sampai biji karombol warna merah (raja) keluar dari lingkaran tengah.

Renang di Sungai
Aku bisa berenang karena belajar renang di Sungai Karang Mumus, anak Sungai Mahakam. Kata orang kalau tidak bisa berenang, bukan orang Kalimantan. Renang di sungai menurutku paling asyik, karena banyak permainan yang bisa dimainkan, seperti: Sembunyi-sembunyian (petak umpet), jarum-jaruman (berebut potongan batang eceng gondok yang pelan-pelan timbul, yang sebelumnya ditenggelamkan di dasar sungai), terjun dari jembatan, belarut (mengikuti arus sungai), begayut di kapal/perahu yang sedang jalan; mancing, naik perahu, dan lain sebagainya.

Permainan Lain
Masih banyak permainan lain yang menarik semasa aku kecil, seperti: Asin naga, petak umpet, sepatu roda, ketekan karet, ketapel, sumpit, karet gelang yang dibikin menjadi pola-pola tertentu di jari tangan, dua bola dari plastik keras yang diantukkan ke atas dan ke bawah, dan masih banyak lagi.

(Terima kasih atas masukan dari teman-teman masa kecilku, Ruddy Soehartono dan Ryanto Salim).

Lihat Selengkapnya...

08 Januari 2011

Wanita itu bernama Junko


Hari ini genap setahun sudah aku mengenal Junko. Seorang wanita Jepang yang tinggal di Tokyo. Bahasa Indonesia yang dipakai Junko dalam e-mail menyelamatkan e-mailnya dari tong sampah. Hampir saja aku menekan tombol Del!

Bukan aneh lagi kalau akun e-mail kita sering dibanjiri junk mail atau spam, walau akun-akun e-mail itu bisa otomatis menyortir e-mail yang bersifat spam, tapi beberapa ada juga yang bisa lolos dan masuk ke inbox kita. Bayangkan, aku pernah mendapat e-mail dari seorang pengacara di Inggris yang mengatakan bahwa aku mendapatkan wasiat dari kakekku yang kaya raya yang dua bulan lalu meninggal! Warisan sekian juta Pound Sterling! Wow! Hebat sekali aku punya kakek orang bule... hanya gara-gara nama belakangku Chris Arsen! Wakkakakakakkk...! Belum lagi e-mail yang aneh-aneh lainnya.

Kembali ke Junko. Kami tetap berteman hingga saat ini, dan banyak cerita yang sudah kami bagi bersama walau cuma lewat e-mail. Dari seluruh kisah hidup Junko ada dua hal yang aku kagumi dari dia, yaitu kegigihannya melawan "sakit rematik yang aneh" yang dideritanya sudah 10 tahun lebih hingga saat ini dan kegigihannya dalam belajar Bahasa Indonesia! Di bawah ini sebagian dari isi e-mail Junko yang pertama kepadaku, e-mail selengkapnya cukup panjang.

Halo, Mas Antonius. Apa kabar? Maaf, kalau e-mail saya yg.mendadak ini mengganggu Anda. Tapi jangan kaget ya...

Nama saya "Junko Lawson".

Saya seorang warga Jepang yg tinggal di Tokyo yg kebetulan baca situs anda. Bukan melewati Google Translate, saya baca situs asli anda. Di dalamnya saya sangat tertarik pada prinsip anda yg satu ini yaitu usahakan untuk menulis dalam Bahasa Indonesia yg benar, dan pendapat anda yg ada di dalam situs terutama mengenai "Peng-indonesia-an Nama dan Merek Dagang" itu pun sangat menarik buat saya. Saya yakin pasti anda merasa heran, kok kenapa orang Jepang bisa tertarik pada topik seperti itu. Iya kan? Dan kenapa saya bisa menulis dalam Bahasa Indonesia? Walaupun bahasanya tidak sebagus penutur asli, tapi saya mencoba untuk mengungkapkan perasaan saya dalam Bahasa Indonesia semaksimal mungkin ya.

Begini ya ceritanya, pada sekitar tahun 1989-1995 saya tinggal di negara anda. Waktu itu saya bekerja di Jakarta. Di samping itu juga saya belajar Bahasa Indonesia pada waktu itu tanpa bersekolah. Saya memang suka belajar Bahasa Indonesia pada saat itu, entah kenapa ya saya sendiri pun bingung. Tapi yg jelas Bahasa Indonesia itu memiliki keindahan atau keunikan tersendiri baik dalam nadanya maupun dalam kata-katanya. Sehingga dalam proses mempelajarinya, seorang pelajar asing bisa tertarik dan terpesona. Apa ini hanya dialami saya saja? Oh, tentu tidak. Buktinya banyak orang Jepang yg sependapat dengan saya.

Bagi saya, belajar itu sebuah kesenangan dan sama sekali tidak ada rasa berat. Apa lagi bagi saya semua orang Indonesia yg telah berada di dekat saya adalah guru Bahasa Indonesia semua. Saya sampai sekarang sangat sangat berterima kasih atas bantuan dan dukungan mereka yg benar-benar mendorong saya utk mencoba hidup di negara orang yg penuh dengan tantangan. Pokoknya...bagi saya Bahasa Indonesia itu sesuatu yg spesial benar.

Nah, sedangkan setelah saya kembali lagi ke Jepang, memang sempat saya bekerja sebagai interpreter selama 2 tahun di sebuah perusahaan mobil. Tapi setelah kontrakan itu selesai, ilmu saya yg saya kumpulkan di Indonesia selama itu, saya tinggalkan begitu saja dan hampir tidak pernah dipakai lagi. Sudah lebih dari 10 tahun saya abaikan dengan alasan di sini tidak ada teman yg berbahasa Indonesia. Walaupun saya kadang-kadang kangen sekali sama Indonesia dan sedih... Namun baru-baru ini, tiba- tiba saja keinginan saya untuk belajar kembali timbul di dada saya, itu adalah jadi seperti inspirasi saya yg baru dan sudah 3 bulan ini saya tiap hari menjalankannya. Sedangkan untuk menjalankan itu, Internet menjadi semakin dekat bagi saya, karena pc adalah suatu sarana yg cukup praktis, gampang untuk mengambil bahan belajar dari situ....


Saat ini Junko bekerja sebagai penerjemah lepas (freelance) bagi beberapa perusahaan Jepang yang mempunyai hubungan dan kegiatan di Indonesia, dan dia sudah mengantongi sertifikat kelulusan tingkat B untuk ujian Bahasa Indonesia yang diselenggarakan oleh Himpunan Penyelenggara Ujian Bahasa Indonesia (HIPUBI) di Jepang, yang bekerja sama dengan Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Walau gagal di ujian tingkat A (tingkat tertinggi) baru-baru ini dengan selisih nilai yang sangat tipis, Junko tetap bersemangat dan dia akan mencoba lagi. Sudah pasti aku yakin dia akan berhasil nanti!

Yang membanggakan, Junko meraih juara satu dalam "Indonesian Language Speach Contest" yang diadakan di Nagoya, Jepang, pada tanggal 21 November 2010 lalu! Kontes diselenggarakan oleh sebuah universitas swasta Jepang yang mempunyai fakultas bahasa asing, termasuk Bahasa Indonesia. Junko meraih juara satu untuk kategori lomba puisi. Mengenai nama keluarga "Lawson", itu karena suaminya berasal dari negara Benin (Afrika barat).

Douzo Yoroshiku. Benkyou ganbatte kudasai ne.

Lihat Selengkapnya...

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.