Bagi kamu yang sudah membaca artikelku Ketika Tuhan Mengedipkan Mata, kamu pasti akan merasakan cerita berikut ini sebagai suatu keajaiban. Bukan sekedar kebetulan kalau anakku yang kedua lahir pada tanggal yang sama dengan tanggal lahirku, tetapi karena aku meminta dan memikirkannya, dan itu benar-benar terjadi.
Awal September 1988, aku sedang ngobrol dengan istriku di atas tempat tidur kami. Saat itu istriku sedang hamil anak kami yang kedua dan sudah di bulan kesembilan. Tiba-tiba istriku berkata, "Bulan ini kamu ulang tahun, kamu mau kado apa?" Setelah berpikir sejenak aku bilang ke istriku, "Aku tidak mau kado apa-apa lha. Aku cuma mau anak kita lahir di hari ulang tahunku." Istriku ketawa, dan kami membayangkan dan bercerita betapa hebatnya ada bapak dan anak yang berulang tahun di hari yang sama.
Sampai malam tanggal 12 September istriku belum juga menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan, padahal ulang tahunku tinggal sehari lagi, yaitu 13 September besok. Sedang asyik tidur nyenyak malam itu, tiba-tiba aku dibangunkan mamaku, dan mama bilang kalau istriku sudah sakit perut mau melahirkan. Ah, akhirnya aku benar-benar akan mendapat anak yang sama ulang tahunnya dengan aku. Setelah bersiap-siap kami pun berangkat ke Panti Nirmala tempat istriku akan melahirkan.
Setelah sampai di Panti Nirmala, ada masalah yang muncul. Dokter kandungan tidak dapat dihubungi karena telepon di Panti Nirmala mati. Saat itu belum ada handphone. Istriku sudah minta tolong agar bidan saja yang membantu persalinan karena sudah tidak tahan lagi. Tapi bidan di panti menolak dengan alasan istriku sudah dipegang oleh dokter kandungan, mereka tidak berani lancang untuk mengambil alih persalinan. Akhirnya aku menemani seorang suster untuk mencari telepon umum. Ternyata telepon umum yang tak jauh letaknya dari panti juga rusak. Aku makin panik memikirkan penderitaan istriku.
Di tengah kepanikan itu tiba-tiba aku teringat dengan teman sekantorku, Max Kalalo, yang rumahnya tidak jauh dari panti. Aku menggedor rumah Max, dan temanku itu keluar dengan heran atas kemunculanku di pagi-pagi buta itu. Rumah Max juga tidak punya sambungan telepon, aku lantas meminjam Vespa-nya Max untuk mencari telepon umum yang lain. Dengan membonceng suster panti, kami mendatangi telepon umum yang lain, ternyata juga rusak. Akhirnya kami nekad masuk ke kantor polisi yang kami temui di jalan. Kami dapat pinjaman telepon dari polisi dan si suster langsung menghubungi sang dokter kandungan. Kemudian kira-kira jam 03.05 istriku melahirkan anak kami yang kedua dengan selamat. Seorang bayi laki-laki lagi.
Sejarah kembali terulang ketika aku bingung memikirkan nama untuk bayi laki-laki kami. Istriku sempat sewot karena aku lagi-lagi hanya menyiapkan nama untuk anak perempuan. Di tengah kebingungan aku melihat papan nama dari sebuah gereja kecil yang letaknya di samping Panti Nirmala, bertuliskan: Kapel Santo Mikhael. Ya, aku akan beri nama anakku: MICHAEL!


Tidak ada komentar:
Posting Komentar