Bila suatu hari kamu mampir di Kota Cirebon, jangan lupa menyicipi makanan khas Cirebon seperti: Empal gentong, nasi jamblang, nasi lengko dan tahu gejrot. Walau semua rasanya enak, tapi hanya empal gentong dan tahu gejrot yang paling aku suka. Sewaktu tinggal di Cirebon tahun 1992-1998, aku punya pengalaman yang lucu dengan makanan khas Cirebon ini, dan juga ada satu pengalaman yang sedikit berbau misteri.
Ketika pertama kali aku makan empal gentong di Plumbon, Cirebon, aku sempat protes kepada penjualnya karena aku merasa makanan yang dihidangkan tidak sesuai dengan makanan yang kupesan. Dalam pikiranku, empal gentong yang kupesan sebagaimana nasi empal yang ada di daerah Jawa Timur, yaitu potongan daging sapi empuk yang dibumbui dan digoreng. Ternyata aku salah! Apa yang dihidangkan padaku itu memang namanya empal gentong, yaitu semacam gulai sapi atau gulai kambing yang dicampur jeroan. Setelah kucoba... aduh mak, uueenaak tenan! Sejak itu aku menjadi pecinta empal gentong, khususnya empal gentong yang dijual di Plumbon itu (dekat Desa Keduwanan). Menurutku empal gentong yang dijual di tempat lain di Cirebon tidak seenak yang satu ini.
Lain empal gentong, lain pula nasi jamblang. Ciri khas makanan ini adalah penggunaan daun jati sebagai bungkus nasi agar tetap pulen walau disimpan dalam waktu yang lama. Penyajiannya secara prasmanan, dan lauk yang disediakan ada banyak macam, seperti: sambal goreng dari cabe merah, ikan asin, tahu sayur, paru-paru, semur hati atau daging, perkedel, sate kentang, telur dadar atau telur goreng, semur jengkol, ikan, tahu, tempe dan lain-lain. Nasi jamblang Mang Dul yang paling enak dan sudah sangat dikenal oleh masyarakat Cirebon, kalangan pejabat hingga selebritis ibukota. Letaknya di Gunung Sari, seberang Grage Mall.Suatu hari aku dan temanku menemukan satu tempat lain yang menjual nasi jamblang yang ramai dengan pengunjung, di salah satu sudut Kota Cirebon. Tempat itu hanya berupa warung tenda yang nempel di pagar depan rumah orang dan baru buka sekitar dua minggu. Kami dua kali makan di sana, memang selain enak harganya juga murah. Suatu malam kami mampir lagi ke sana, tapi kali ini kami harus kecewa karena tutup. Besoknya kami datang lagi, dan syukurlah kali ini buka dan kami bisa menikmati nasi jamblang yang sangat enak itu.
Aku dan temanku makan dengan lahap. Kemudian sambil makan aku bertanya pada bapak penjual nasi jamblang itu, "Kemarin kok tidak buka? Istirahat satu hari, ya?"
"Nggak. Kemarin buka kok," jawab bapak penjual itu agak heran.
"Kemarin kami ke sini tapi bapak nggak buka," sahutku.
"Buka. Mungkin bapak salah ingat," kata bapak itu lagi.
"Pak, kalau saya sendiri datang mungkin saya salah lihat atau salah ingat. Tapi tanya tuh sama teman saya, karena kemarin kami ke sini berdua," sahutku sambil diiyakan temanku.
"Lha, saya juga nggak mungkin salah. Boleh tanya sama pegawai saya kalau kemarin saya buka," kata bapak itu dan para pegawainya pun mengiyakan.
"Kok aneh ya?" Kami semua jadi heran. Tapi bapak itu segera melanjutkan, "wah, pasti ini saya sedang 'dikerjai' orang. Pantas kemarin sepi sekali tidak seperti biasanya. Cuma ada dua-tiga orang saja yang makan."
Ya, memang aneh. Kemarin aku dan temanku berdiri di depan tenda kok tidak merasakan apa-apa, tidak juga terantuk tendanya atau melihat sinar lampu petromaksnya. Sejak saat itu aku tidak pernah makan di situ lagi. Sampai beberapa waktu kemudian ketika aku lewat di situ aku tidak pernah melihat warung nasi jamblang itu lagi. Entah bapak itu benar "dikerjai" orang atau... (Hiiih.. aku merasa ngeri saja membayangkan "apa" yang mungkin pernah kami makan di sana!).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar