27 November 2008

Godam dan Gundala


Di tahun 1970-1980 ketika siaran TV belum marak dan komik-komik Jepang belum membanjir di toko-toko buku seperti sekarang, komik-komik lokal menjadi salah satu hiburan dan pengisi waktu yang terbaik saat itu. Banyak teman-temanku kegilaan dengan komik-komik silat macam Si Buta dari Gua Hantu, Panji Tengkorak, Jaka Sembung, serta cerita silat karya Kho Ping Hoo, sedangkan aku justru menyukai komik-komik superhero baik yang adaptasi dari komik luar maupun yang lokal seperti: Labah-Labah Merah, Superman, Kawa Hijau, Lamaut, Godam, Gundala, dan beberapa superhero lainnya.

Di antara semua itu aku paling menggilai cerita dari komik-komik Godam dan Gundala yang berbau lokal itu. Godam merupakan tokoh superhero ciptaan Wid NS (Widodo Nuntius Sulprizio, kini 70 tahun), sedangkan Gundala ciptaan Hasmi (kini 62 tahun). Godam yang bernama asli Awang adalah seorang sopir truk di Yogya. Suatu ketika seorang kakek misterius memberinya sebuah cincin, dan tiba-tiba... wuih, dia langsung menjelma menjadi seseorang berkostum ala Superman (tentu saja dengan inisial ”G” di dada, bukan ”S”) yang mampu terbang dan memiliki kekuatan super. Sedangkan Gundala adalah pemuda Yogya bernama asli Ir. Sancaka. Keistimewaan Gundala adalah kemampuan untuk berlari secepat kilat, seperti jagoan Amerika Flash, dan telapak tangannya mampu mengeluarkan petir yang menggelegar. Gundala mendapatkan keistimewaannya dari Kaisar Crons, yang ada di Kerajaan Petir.

Beberapa seri maupun serial komik Godam dan Gundala yang sangat apik adalah Bocah Atlantis, Mata Sinar X, Robot Penakluk, Roh Setan, Gundala Putera Petir (Asal Usul Gundala), Gundala vs Godam, Gundala Bernapas Dalam Lumpur, dan lain-lain. Dalam aksinya Godam dan Gundala sering dibantu oleh serombongan tokoh lainnya seperti Pangeran Mlaar, Aquanus, Maza, Jin Kartubi, dan Sun Go Kong.

Beberapa tahun terakhir ini ada usaha untuk menerbitkan kembali komik-komik Indonesia tempo dulu, namun kemudian gaungnya tidak terdengar lagi. Komik Gundala sendiri sempat terbit beberapa kali dan aku membeli dua di antaranya, yakni: Gundala Putera Petir dan Operasi Gua Siluman. Aku justru berharap komik serial Godam dan Gundala yang sangat seru, seperti Bocah Atlantis, Mata Sinar X dan Robot Penakluk, bisa lebih dulu diterbit ulang.

Anak-anakku ketawa dan tidak dapat memahami ketika melihat aku membeli kedua komik Gundala tersebut. Sedikitpun tidak ada niat mereka untuk menyentuh dan membacanya. Bagi mereka yang namanya komik itu mungkin ya seperti komik-komik Jepang yang sedang populer sekarang ini, yang juga disebut Manga. Seperti juga acara TV. Anak-anak sekarang lebih suka dengan film-film impor seperti Doraemon dan Sincan ketimbang film Si Unyil yang ditayang ulang oleh sebuah stasiun TV. Ya, memang begitulah, beda generasi, beda zaman; beda pula pandangan dan kesukaan (trend).

2 komentar:

NO FEAR mengatakan...

bagus saya sangat setuju mas dengan pendapatnya

Samarinda Online mengatakan...

Halo, Kawan. Terima kasih sudah mampir di sini. Salam hangat.

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.