Sewaktu aku, istri dan anak-anakku tinggal di Cirebon (1992-1998), kami sering berwisata ke Bandung. Jarak Cirebon ke Bandung lebih-kurang 130 Km dan rata-rata aku membutuhkan waktu tiga jam untuk mencapai Bandung dengan menyetir secara santai, dan tentunya juga berhenti di Sumedang untuk beristirahat dan makan tahunya yang sangat enak itu. Waktu itu tempat favorit kami di Bandung adalah Cihampelas, Cibaduyut, Bandung Indah Plasa dan Gunung Tangkuban Prahu. Sekarang trend itu mungkin sudah berubah.
Siang itu di bulan Oktober 1994 tiba-tiba langit dengan cepat berubah mendung dan hujan turun dengan sangat lebat, mengguyur Kota Bandung dengan disertai petir yang menyalak di sana-sini. Saat itu sekitar jam dua siang, ketika kami akan beranjak untuk meninggalkan Bandung dan kembali ke Cirebon. Ketika melintas di ruas jalan RE Martadinata tiba-tiba kami dikagetkan dengan bunyi keras bagaikan berondongan peluru atau batu yang mengenai atap dan kaca mobil kami. Untuk sesaat kami sempat bingung karena tidak melihat apa-apa yang menyebabkan bunyi itu. Namun tiba-tiba mataku menangkap butiran-butiran es batu sebesar jempol tangan yang menempel di wiper yang bergerak di kaca depan mobil kami.
Kejadian ini tentu membuat kami semua sangat tercengang dan senang. Untuk pertama kalinya dalam hidup kami, kami menyaksikan hujan es. Aku memperlambat jalannya mobil karena takut hantaman es batu itu menghancurkan kaca depan mobil. Kemudian, karena hujan es itu makin besar, aku memutuskan untuk menghentikan mobil. Aku mengarahkan mobil masuk ke halaman sebuah ruko yang sedang tutup. Menunggu di dalam mobil di bawah hujan es batu ternyata bukan sebuah situasi yang menyenangkan. Suara yang ditimbulkan hujan itu memekakkan telinga. Tak lama kemudian aku menjalankan mobil lagi ke tempat yang tak jauh dari situ, yang pasti lebih hangat dan menyenangkan... sebuah rumah makan yang menjual Bakso Malang!
Minggu, 2 April 1995, aku dan keluarga ke Bandung lagi. Kali ini tujuan utama kami adalah ingin mampir di jalan RE Martadinata. Tetapi bukan untuk bernostalgia dengan hujan es yang pernah kami alami di sana, melainkan kami ingin melihat tempat dimana Nike Ardilla mengalami kecelakaan dua minggu sebelumnya, ketika mobil Honda Civic yang dikendarainya menghantam beton di depan sebuah kantor di jalan RE Martadinata itu hingga menyebabkan Nike tewas. Ternyata tempat kejadian itu masih dipenuhi banyak orang, dan beberapa karangan bunga masih berdiri di sana.
Di Cirebon, beberapa hari kemudian, aku lihat foto Nike Ardilla masih terpampang di tiang rumah makan Padang di daerah Tegalwangi, ketika aku kembali makan siang di sana bersama beberapa teman sekantorku. Bedanya bulan-bulan lalu Nike masih hidup, tetapi bulan Mei sekarang Nike telah tiada. Foto Nike itu tetap menimbulkan kekaguman yang sama, dan kebetulan aku salah seorang penggemar lagu-lagu Nike Ardilla.
(Raden Nike Ratnadilla atau Nike Ardilla lahir di Bandung, 27 Desember 1975, dan wafat 19 Maret 1995, dalam usia 19 tahun. Semasa hidupnya adalah seorang penyanyi paling populer di Indonesia dan menjadi lady rocker di usia belia. Ia meninggal dunia pada saat popularitasnya sedang menanjak)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar