Bertahun-tahun aku pernah mengalami trauma pada pintu perlintasan kereta api. Hal ini disebabkan aku pernah dua kali hampir tertabrak kereta api di pintu perlintasan kereta api, saat aku masih tinggal di Surabaya (1985-1992). Sejak itu setiap kali akan melewati pintu perlintasan kereta aku merasa takut dan ngeri. Seperti anak-anak aku akan pelan atau berhenti dulu dan menengok ke kiri dan ke kanan, sekalipun tak ada isyarat kalau kereta akan lewat. Ketakutanku bertambah ketika aku mengalaminya lagi yang kedua kali!
Suatu kali seusai mengantar mobil bosku ke rumahnya di Perumahan Gading Pantai, Kenjeran, aku kembali ke kantor dengan naik bemo (sebutan angkutan kota di Surabaya). Ketika mendekati pintu perlintasan kereta api Kenjeran, sirine tanda kereta api akan lewat terdengar. Tetapi tanpa disangka-sangka, sopir bemo tersebut malah tancap gas untuk dapat melewati palang pintu yang mulai bergerak turun. Setelah berhasil melewati palang pintu tersebut, bemo tersebut tidak sempat keluar melewati palang pintu kedua di depannya hingga bemo sempat menabrak palang itu dan bemo terjebak di antara dua palang pintu kereta api.
Jarak dua palang pintu itu cukup jauh karena terdapat beberapa jalur rel kereta api di sana. Tiba-tiba ibu yang menggendong balita yang duduk di depanku berteriak histeris sambil menunjukkan jarinya ke arah belakangku, "kereta api!" Aku menoleh ke belakang dan kaget melihat lokomotif kereta api yang sedang keluar dari tikungan rel dan menuju ke arah kami. Seketika seluruh penumpang menjadi histeris. Sopir pun panik dan bingung untuk bertindak, sementara orang-orang di daerah sekitar situ pun berteriak-teriak menyuruh sopir segera mundur dari rel yang akan dilalui kereta tersebut. Tetapi sopir tetap terlihat bingung untuk melalukan sesuatu.
Karena panik tak seorang pun bertindak untuk melompat keluar lewat pintu bemo. Suara dari dalam hatiku terus-menerus menyuruhku untuk segera keluar. Dalam keadaan panik aku mengeluarkan badanku lewat jendela dan terjerembab di atas jalan, segera aku berdiri dan menghindari rel yang akan dilalui kereta itu. Tetapi kemudian aku melihat ibu yang menggendong balita itu menyorongkan anaknya keluar jendela sambil memohon, "tolong, pak, selamatkan anakku.." Aku segera mendekat dan mengambil anak itu, saat bersamaan bemo mundur dengan kencang dan menghantam beberapa sepeda motor yang ikut menerobos di belakangnya. Sedetik kemudian kereta itu pun lewat.
Pengemudi bemo itu pun akhirnya berurusan dengan banyak orang, termasuk dengan beberapa pengendara yang motornya rusak. Setelah menyerahkan balita itu ke ibunya, aku melanjutkan perjalananku ke kantor dengan menaiki bemo yang lain.
Selang beberapa tahun kemudian aku mengalami hal yang sama lagi. Kali ini terjadi di jalan Ngaglik, Surabaya. Seperti halnya di jalan Kenjeran, perlintasan kereta di jalan Nagaglik pun terdiri dari beberapa jalur rel, dan jalur rel yang ke arah utara akan melewati jalan Kenjeran. Saat itu aku, Matari dan sopir duduk di depan pickup yang melaju ke arah Karang Empat. Ketika mendekati pintu perlintasan kereta api di jalan Ngaglik, sirine berbunyi dan palang perlintasan pun menutup.
Posisi mobil pickup kami di urutan kedua dari pintu perlintasan kereta api. Beberapa saat kemudian kereta api pun lewat di jalur seberang dari arah utara menuju selatan, dan palang kereta pun dibuka kembali. Ketika mobil yang di depan kami mulai melintasi rel, tiba-tiba kami mendengar teriakan para tukang becak dan orang-orang di sekitar rel sambil memberi isyarat tangan: "Stop! Stop! Kereta api!" Sedetik kemudian, ketika kami masih bingung dengan teriakan orang-orang, sebuah kereta api melintas dengan cepat dari arah selatan menuju utara tepat di depan hidung pickup kami, yang membuat jantung kami hampir copot seketika itu! Untung sopir kami karena kaget secara refleks langsung menginjak rem mobil dengan keras. Kami pucat pasi saat itu, rasanya roh kami sudah melayang.
Rupanya masinis di atas kereta api juga kaget dan segera mengerem kereta. Kereta api berderit-derit untuk berhenti, dan baru benar-benar berhenti setelah semua gerbong sudah melewati jalan Ngaglik. Setelah tahu tidak terjadi kecelakaan, kereta pun melanjutkan perjalanan. Mobil yang tadi ada di depan kami pun selamat. Orang-orang beramai mendatangi pos penjagaan pintu kereta api yang ada di situ, sedangkan kami terpaksa harus meneruskan pekerjaan, walau kami ingin juga mendatangi dan memaki-maki petugas di pos itu.
Trauma itu perlahan-lahan hilang sejak aku pindah ke Bali tahun 1999, karena di Bali tidak ada kereta api. Itu sangat membantu penyembuhanku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar