10 November 2008

Kenakalan di Sekolah


Ada pengunjung blog ini yang ingin tahu kenakalanku semasa sekolah dulu, dan dia ingin aku menceritakannya di blog Samarinda Online ini. Ku pikir ini ide bagus juga karena memang ada beberapa kenakalanku di sekolah yang masih kuingat dengan jelas sampai sekarang. Dan kebetulan hari ini adalah Hari Pahlawan, aku jadi ingin mengenang guru-guruku yang adalah "Pahlawan-pahlawan Tanpa Tanda Jasa" itu.

  1. Ketika di kelas tiga SD (SDK III WR Soepratman) aku pernah dihukum berdiri di depan kelas oleh guru kelasku Pak Yovitus Liah. Pasalnya aku ingin mengerjai temanku tetapi yang kena malah guruku. Pagi itu Pak Yovitus telat masuk dan suasana kelas pada lagi ribut. Ketika melihat seorang temanku keluar dari kelas, timbul isengku, aku cepat-cepat merapatkan pintu kelas dan memasang perangkap sapu.

    Ternyata kemudian yang masuk bukan temanku, tapi Pak Yovitus Liah! Pak Yovitus kaget karena hampir tertimpa sapu yang jatuh. Akhirnya aku maju ke depan kelas untuk menerima hukuman. Sebelum disuruh berdiri di depan kelas, aku harus mengalami cubitan maut Pak Yovitus di perutku (seperti cubitan Mba Shella ke perut Mas Karyo di sinetron Suami-suami Takut Istri.. he he..)

  2. Sewaktu di kelas tiga SMP (SMPK WR Soepratman) aku pernah memimpin teman-teman sekelas untuk mogok pelajaran Geografi. Pasalnya guru Geografi kami, Pak Suradam (alm), menyalahkan salah satu jawaban ulangan kami yang menurut kami benar. Waktu itu sampai terjadi debat sengit dengan beliau, tetapi kemudian beliau meninggalkan kami tanpa ada penyelesaian. Beberapa hari kemudian ketika beliau masuk lagi ke kelas kami, kami semua telah sepakat untuk diam. Karena merasa kehadirannya tidak dipedulikan, beliau keluar dari kelas.

    Tak lama kemudian Pak Sulaiman, Wali Kelas kami, yang terkenal sebagai guru paling killer di sekolahku masuk. Tentu kami semua kena sidang. Tetapi, walau Pak Sulaiman itu terkenal killer, ternyata beliau mau mendengarkan permasalahan kami. Beliau menasihati kami dengan amat bijaksana. Sebulan kemudian Pak Suradam secara gentleman meminta maaf, dan mengakui bahwa jawaban kamilah yang benar.

  3. Sewaktu di kelas satu SMA (SMAK WR Soepratman), aku dan beberapa temanku pernah dimarahi oleh guru Kimia kami, Pak Sinaga (alm). Waktu itu Pak Sinaga mengadakan ulangan Kimia dadakan, dan kami semua protes. Tetapi ulangan Kimia tetap jalan. Ketika Pak Sinaga meninggalkan kami sebentar, kami semua ribut dan beberapa teman bertanya padaku apa aku bisa mengerjakan soal-soal ulangan itu, aku tunjukkan kertas jawabanku yang masih kosong, tetapi ada tulisanku: “Maaf, Pak. Saya tidak siap ulangan karena belum belajar.”

    Ketika Pak Sinaga masuk ke kelas kami beberapa hari kemudian, beliau marah besar padaku. Kemudian beliau juga marah ke beberapa temanku yang lain. Akhirnya aku tahu kenapa beliau begitu marah saat itu, ternyata banyak temanku juga tidak mengerjakan soal, dan menulis kata-kata seperti yang kulakukan! Malah ada seorang teman putri yang menulis: “ Maaf, Pak. Saya tidak bisa jawab, otak saya lagi kosong.” Ha ha ha...!

  4. Masih ada kejadian lain dengan Pak Sinaga. Dari namanya saja kamu tentu bisa menebak kalau beliau itu orang Batak. Masalahnya dengan Pak Sinaga adalah logat Bataknya yang masih terlalu kental.

    Suatu hari kami sekelas dibuat terpingkal-pingkal secara spontan ketika beliau menerangkan tentang perubahan wujud dari benda padat menjadi benda cair. Alih-alih mengatakan “méncair”, Pak Sinaga malah menyebutnya “méléléh”. Langsung Pak Sinaga menoleh ke arah kami yang sedang ketawa, dan aku yang kena marah pertama kali: “Ada apa, Anton? Kénapa kau kétawa? Bétul toh? Dari bénda padat ménjadi bénda cair itu namanya méléléh?” Aku yang terkena marah mencoba menahan ketawa, tetapi teman-temanku malah tetap cekikikan. Akhirnya beliau benar-benar marah dan meninggalkan kelas kami.

  5. Kelas dua SMA. Suatu hari ada jam pelajaran kosong, dan kelas ribut bagaikan pasar. Aku, Ruddy dan beberapa teman, termasuk teman-teman putri berdiskusi mengenai seks. Di tengah-tengah hangatnya diskusi, tiba-tiba Ruddy maju ke depan kelas dan menggambar dua buah gunung yang besar. Suasana kelas tambah riuh dan kini semua terfokus pada Ruddy. Untuk membuat suasana tambah ramai, aku kemudian ikut maju dan menggambar dua buah gunung yang lebih kecil di belakang dua buah gunung besar yang digambar Ruddy. Kemudian aku menambah sebuah gunung lagi di belakang dua buah gunung yang kugambar tadi. Kelas makin riuh ketika Ruddy cepat-cepat menambahkan sebuah huruf O di depan, di bawah dua buah gunung besar yang dibuatnya.

    Ketika aku masih berdiri di depan kelas, tiba-tiba masuk Pak Jenau Abeh, Kepala Sekolah kami. Suasana kelas mendadak hening dan dengan cepat aku menghapus gambar yang ada di papan tulis. Aku masih ingat dengan apa yang dikatakan Pak Jenau waktu itu, "Ayo, Anton, teruskan apa yang sedang kamu terangkan tadi!" Akhirnya kami semua harus mendengarkan omelan panjang-lebar Pak Kepala Sekolah di sepanjang sisa mata pelajaran itu.
Masih banyak kenakalan semasa sekolah dulu, tapi kejadian-kejadian itulah yang masih melekat jelas dalam ingatanku. Untuk guru-guru yang pernah kujahili, aku mohon maaf yang sebesar-besarnya. Kalian benar-benar "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" yang selalu ada dalam kenanganku yang terindah. Dan tulisan ini sebagai tanda terima kasih kami karena sudah berhasil mendidik kami dengan baik dan sabar.

Tidak ada komentar:

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.