26 Maret 2011

Perama Ferama atau Apa


Ada yang tahu apa itu perama atau ferama? Mungkin juga prama atau frama. Aku sudah coba bertanya pada Om Google, tapi tidak mendapat jawaban seperti arti yang dimaksud. Juga tidak ada dalam Kamu Bahasa Banjar yang pernah aku unduh dari internet beberapa tahun lalu. Mungkin saja kata ini hanya ciptaan yang sifatnya lokal, dan dipakai di Samarinda saja "jaman itu", karena aku yakin kata ini sudah tidak pernah terdengar lagi diucapkan oleh orang-orang Samarinda dua atau tiga dasawarsa belakangan ini.

Entah mana kata yang benar, tapi perama yang dimaksud adalah selebaran atau flyer atau poster. Khususnya, selebaran atau poster film bioskop. Bentuknya bisa selebaran satu warna dari hasil sablonan atau benar-benar poster warna yang terbuat dari bahan dan cetakan yang sangat bagus. Nah, perama yang bagus, yang full colour ini kemudian menjadi barang koleksi!

Jaman itu, untuk mengiklankan film yang sedang main di bioskop, pengusaha bioskop menggunakan gambar besar yang diarak dengan menggunakan mobil yang dilengkapi dengan speaker besar. Duduk disamping sopir ada seseorang yang tugasnya cuap-cuap di mikrofon, dan seorang lagi yang duduk dekat jendela yang tugasnya melempar-lemparkan (menghamburkan, menyebarkan) perama. Tentu saja ini menjadi rebutan kami yang saat itu masih anak-anak. Jadi waktu kami kecil dulu, yang dikejar-kejar bukan hanya layangan putus, tapi juga perama!

Aku sendiri bukan seorang anak yang punya kemampuan hebat untuk mengejar layangan putus, tapi untuk mendapatkan perama bukan hal yang sulit. Memang untuk perama-perama yang bagus, penyebarannya tidak sebanyak perama sablonan. Jadi ini yang membuatnya jadi ekslusif. Sedikit bangga juga kalau punya perama yang bagus yang tidak dimiliki teman-teman lain. Dalam hal ini, ada satu temanku dulu (tetangga) adalah jagonya mengejar perama, hingga dia punya koleksi perama-perama yang langka dari film-film yang pernah main di bioskop.

Perama-perama yang bagus biasanya dari film-film silat dan Kung Fu Hongkong yang laris manis pada masa itu, dengan pemain-pemain legendaris seperti: David Chiang Da-wei, Ti Lung, Lo Lieh, Chen Kuan Tai, Wang Yu, Fu Sheng, Bruce Lee, Chen Pei Pei, Li Ching, dan lain-lain.

Sekarang tidak ada lagi yang namanya perama. Cara beriklan sudah berubah total. Sekarang ini, untuk mengetahui film-film bioskop yang sedang main kita cukup buka koran atau lihat di internet. Tidak ada kejar-kejaran lagi seperti dulu. Jaman sudah berubah. Duh, puluhan tahun telah berlalu bagai sekejap... :(

Lihat Selengkapnya...

18 Maret 2011

Cerita Dari Tokyo


Kita semua tahu, Jumat Siang seminggu yang lalu, tepatnya 11 Maret 2011, Jepang dihantam gempa dan tsunami yang hebat. Dahsyatnya gempa di Jepang hampir sekuat gempa di Aceh tahun 2004 lalu. Hampir seluruh pantai Timur Jepang porak-poranda. Gempa bumi kemudian memicu kebocoran radiasi di sejumlah area pembangkit listrik tenaga nuklir.

Aku kemudian mengirim e-mail ke Junko, sahabatku di Tokyo, untuk mengetahui keadaan dia dan keluarga di Jepang. Sehari kemudian baru aku menerima balasannya yang sangat singkat mengabarkan bahwa dia dan keluarga selamat dan baik-baik saja, dan dia belum bisa cerita banyak. Sementara itu media elektronik terus-menerus menayangkan dahsyatnya kerusakan akibat gempa dan tsunami tersebut, terutama pada beberapa reaktor nuklir yang ada di prefektur Fukushima.

Pagi ini aku menerima e-mail dari Junko lagi.

Hai, Anton.

Terima kasih atas perhatiannya. Sudah seminggu berlalu setelah gempa dasyat dan tsunami melanda negara kami. Setelah itu masih ada ancaman kebocoran radiasi di PLTN Fukushima. Setiap hari di sini juga kami masih terasa gempa susulan yang besar dan kecil, Anton. Sungguh kami terpukul oleh semua itu...

Tapi semua itu kami rakyat Jepang harus hadapi dan atasi dengan sekuat tenagga. Walaupun situasi di lokasi-lokasi pasca gempa dan tsunami masih dalam keadaan sulit untuk memulihkan infrastruktur dan juga memulihkan hati orang-orang yang terluka, tapi sejauh ini orang-orang sana masih tetap bertahan bahkan terlihat membangkit kembali dengan cara yang apa adanya. Kebanyakan orang yang mengungsi di tempat evakuasi adalah orang-orang yang sudah tidak punya rumah lagi, kehilangan keluarganya, temannya, saudaranya dan sebagainya. Tapi mereka sudah mulai bergotong-royong dengan tetangga-tetangganya dan bergerak untuk menolong orang lain yang lebih sengsara. Sepanjang hari saya mengawasi kondisi mereka lewat berita di TV. Juga kondisi PLTN Fukushima.

Sedangkan kondisi di Tokyo pun masih tetap dalam keadaan tidak stabil. Misalnya setiap hari dilakukan mati lampu dari purusahaan listrik. Namun itu dilakukan secara teratur (jam-jam mati lampu itu ditentukan di setiap wilayahnya). Jadi dalam hal ini, syukurlah boleh dikatakan sama sekali tidak menimbulkan kepanikan warga selama ini. Tapi karena bahan pokok seperti beras hampir tidak dapat beli di toko-toko di sini, kemarin saya dikirim beras oleh ibu saya yang di Saitama.

Lalu, toilet paper, tissu, dan makanan tertentu hilang total dari setiap pertokohan. Mungkin penyebabnya adalah tersendatnya sistem transportasi di kawasan kami, orang-orang takut kehabisan barang-barang sehari-hari sehingga banyak yang membeli melebihi batas kebutuhannya. Saya juga kemarin hanya untuk cari toilet-paper yang mau habis di rumah, ternyata harus lari ke 4 supermarket dan akhirnya berhasil beli satu pak. Itu juga terbatas, Anton.

Tapi ...ketika kami ingat orang-orang yang di sana, tidak bisa ngomong apa-apa. Daerah Tokyo masih beruntung, karena kebanyakan bagunan-bangunan di Tokyo tidak roboh saat gempa. Tapi, seperti Anton tahu, saat itu saya berada di perusahaan di mana tempat kerja saya. Apa lagi itu berlokasi di pusat kota, Ropponggi. Eeehhhh, coba bayangkan mereka berada di lantai 23. Waaa.. pas gempa terjadi, lantai itu bergoyang-goyang seperti di dalam ayunan atau perahu, Anton. Saya sepintas berpikir saya akan mati di sini. Melarikan diri? Oh, tidak bisa... berdiri saja nggak bisa tanpa memegang di tiang atau pintu yang di sekitarnya.

Memang gempa kali ini adalah gempa terbesar yang saya alami seumur hidup, Anton. Semua elevator tidak berfungsi lagi, jadi kami semua evakuasi lewat tangga darurat. Pada saat kami turun tangga, bangunan yang cukup raksasa itu goyang kanan kiri dan dinding mulai retak dan berjatuhan!! Sungguh menakutkan! Saya membayangkan apa yang terjadi di World Traid Center di New York dulu. Atau, film 2012 yang memgambarkan hari kiamat. Memang apa yang saya lihat persis adegan seperti itu...

Setelah kami berhasil keluar, saya memcoba melihat ke atas gedung kami tadi, eeehhh.. ternyata ujung gedung raksasa itu masih goyang pelahan-pelahan, Anton. Rasanya bermimpi saja... Selama ini saya tidak pernah lihat pemandangan seperti itu. Dan waktu itu saking goyangnya saya sampai merasa mual. Dan hari itu semua sarana transportasi di Tokyo stop total sampai hari esoknya. Semua jalan macet. Saya berusaha untuk menanggap taksi dan menunggu satu jam lebih ,tapi tidak ada satu taksi pun yang berhenti... dan karena kedinginan berdiri terus di jalan, akhirnya saya pergi dan menginap di gereja yang untung lokasinya berdekatan dengan Ropponggi. Jadi saya rasa masih termasuk sangat beruntung ....

Ya.. sudah panjang berceritanya ya, Anton. Pokoknya negara Jepang sedang berusaha untuk mengatasi bencana kali ini! Jadi Anton tetap berdoa ya buat kami. Jangan bersedih lagi! Pasti cahaya akan datang!

Sekian dulu Anton, terima kasih.

Junko


Lihat Selengkapnya...

14 Maret 2011

I LOVE MONDAY


Mungkin aneh bila aku suka hari Senin. Keponakanku, Sherly, bahkan bilang aku punya kelainan. He he.. Tapi aku yakin, aku tidak sendirian, masih cukup banyak orang yang suka, bahkan cinta, hari Senin. Walau mungkin lebih banyak yang benci, tidak masalah. It's up to you lah...

Bila tiap Senin kamu menemukan status Facebook-ku bertulisankan I LOVE MONDAY, itu bukan mengada-ada. Aku menyukai hari Senin sejak aku di SMA. Tapi diantara periode di SMA dan sekarang, memang ada suatu masa ketika aku juga benci hari Senin, yaitu ketika aku bekerja dengan orang!

Masuk sekolah dan kembali berkumpul dengan teman-teman sekolah merupakan kesenanganku, mungkin kata kebahagiaan terlalu berlebihan untuk dipakai. Tiap Minggu sore aku selalu merasa tak sabar lagi menunggu datangnya Senin pagi. Ya, itulah kegembiraanku. Bahkan bersama satu-dua orang teman kami sering janjian untuk tiba di sekolah lebih awal, lebih pagi, ketika suasana sekolah masih sepi.

Tidak dipungkiri sekolah adalah saat terindah dalam hidup kita. Sekarang ketika tahun-tahun berlalu, puluhan tahun pun telah lewat, kamu pun rindu untuk bertemu dengan teman-teman sekolahmu dulu, kemudian diwujudkan dalam temu kangen atau reuni. Walau, kenyataannya, waktu sekolah dulu kamu sering bolos, suka berantem dan benci hari Senin!

Sekarang ini Senin lebih dari sekedar hari biasa bagiku. Senin memberi harapan baru, ketika Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu kehidupan terasa mulai bergerak turun. Berharap Senin mengawali minggu yang baru dengan peluang baru, kesempatan baru, pengalaman baru, kenalan baru dan banyak order baru, tentunya. Ha ha ha! Maka dari itu Senin perlu disambut dengan kata-kata manis seperti I LOVE MONDAY, agar energi positifnya masuk ke dalam hati dan pikiranmu, sikapmu, semangatmu, rumahmu, tokomu, karyamu, penugasanmu, dan lain-lain.

Seperti aku bilang tadi bahwa aku juga pernah benci dengan hari Senin. Ya, ketika aku masih bekerja dengan orang. Problem terbesar ketika kamu bekerja dengan perusahaan bukan milikmu adalah godaan hari libur! Kamu pasti sering melihat kalender untuk mengetahui bulan ini ada berapa hari libur, dan kapan liburnya. Kamu juga berharap, kalau bisa, tiap hari liburnya selalu jatuh pada hari Jumat atau Senin! Kemudian kamu kecewa ketika tahu bulan ini tidak ada hari libur khusus selain Sabtu dan Minggu, atau hari libur nasional jatuh pada hari Sabtu atau Minggu. Hiks! Tapi, sebenarnya kamu sudah beruntung bila Sabtu libur. Bagaimana dengan mereka yang Sabtu harus masuk kerja?

TGIM vs TGIF. Lagi-lagi, it's up to you. Tapi aku sangat yakin kalau kamu seorang bawahan atau karyawan sebuah perusahaan, pasti kamu selalu bersyukur bila hari sudah Jumat. Thanks, God! It's Friday! Kenapa apa aku tahu? Ya, iyalah, karena dulu aku seorang karyawan juga! Boss-ku berkata, "Kamu harus merasa memiliki perusahaan agar kamu rajin dan betah kerja," memang benar sih. Tapi, apa boss merasa "memiliki" kita? Itu persoalannya.

Thanks, God! It's Monday!


Lihat Selengkapnya...

13 Maret 2011

Permainan Semasa Kecil


Aku coba mengingat-ingat permainan-permainan semasa aku kecil dulu yang sudah sangat jarang, atau hampir tidak pernah kutemui lagi dimainkan anak-anak jaman sekarang. Ada kerinduan untuk kembali mengenang ke masa-masa kecil dulu...

Jaman sekarang anak-anak lebih senang main video game, dimulai dari Nintendo, kemudian Sega, PlayStation, PSP, XBox, Wii, dan sebagainya. Mainan-mainan tradisional seperti jaman aku kecil dulu hampir tidak mereka kenal. Ada berapa anak-anak di kota sekarang yang masih mau main kelereng?

Di bawah ini ada beberapa permainan yang aku dan teman-temanku mainkan semasa kecil dulu.

Pedang-pedangan dari Kayu
Aku dan teman-teman membuat pedang-pedangan dari kayu. Kayu didapat dari tulang atau rangka bagian tengah gulungan atau bal kain. Kayu ini mudah kami dapat karena papa dulu pedagang kain. Permainan pedang-pedangan ini diinspirasi oleh film seri Ivanhoe yang ditayangkan TVRI, stasiun TV satu-satunya waktu ini dan belum berwarna!

Pistol atau Senapan dari Kayu
Pistol atau senapan kayu mungkin masih dimainkan anak-anak sekarang yang tinggal di desa atau pinggir kota. Tapi satu hal yang beda dan unik adalah pelurunya yang berasal dari suatu tanaman semak, yang aku  sendiri tidak tahu namanya. Bentuknya bulat lonjong berupa biji yang keras dengan tangkai (ekor) yang panjang. Sekarang tanaman itu hampir tidak pernah terlihat lagi. Adakah yang tahu?

Kelereng atau Gundu (Bhs. Jawa)
Kami di Samarinda menyebutnya keleker. Setiap pemain selalu punya keleker favorit atau keleker jimat untuk dimainkan. Setiap pemain berusaha mengenai keleker lawan dengan cara mengeker  (membidik) dan mengetek (menyentil dengan jari) keleker sendiri ke arah keleker lawan, bila kena maka lawan harus membayar kita dengan satu keleker. Aku ingat, suatu waktu aku dan adik-adikku sampai punya beberapa blek keleker!

Lompat Tali Karet
Lompat tali biasa dimainkan baik laki-laki maupun perempuan. Tali terbuat dari karet gelang yang dirangkai menjadi tali yang panjang. Para pemain harus bisa melompat melewati tali yang dipegang oleh dua orang yang gagal melompat sebelumnya; dimulai dari ketinggian selutut, kemudian sepaha, sepinggang, sedada, sekepala, sekilan di atas kepala dan lebih tinggi lagi. Intinya, permainan ini adalah untuk adu lompat ketinggian.

Wayang
Anak-anak di Jawa menyebutnya Gambar. Wayang adalah gambar-gambar yang berisi cerita. Biasanya satu lembar Wayang terdiri dari 50 wayang-wayang (gambar-gambar) kecil. Wayang dipotong kecil-kecil sesuai besar gambar, dan dimainkan dengan cara dilempar ke udara. Wayang yang terbuka ketika jatuh ke tanah, menang. Seperti keleker, para pemain wayang juga punya wayang jimat sebagai jagoannya.

Bungkus Rokok
Bungkus rokok dimainkan sebagai alat pembayaran atau uang dalam permainan kartu. Bungkus rokok yang laku adalah bungkus rokok kretek, yang berupa lembaran kertas, bukan kotak. Makin langka rokoknya makin mahal nilai bungkusnya. Kalau dipikir-pikir aku bingung juga bagaimana waktu itu kami menentukan nilai bungkus rokok sebagai alat pembayar dan kami semua bisa sepakat!

Kasti
Walau dimainkan dengan menggunakan bola tenis, tapi dalam kasti ia lebih dikenal sebagai bola kasti. Dimainkan secara grup, dua grup pastinya, yaitu grup jaga dan grup main. Permainan ini mirip dengan permainan baseball. Salah satu bedanya, di baseball bola cukup disentuhkan ke badan lawan; sedangkan di kasti dengan cara dilempar ke badan lawan secara pelan maupun keras, istilahnya "digebok". Aku ingat teman-teman sering main dengan bola buta! Bola buta adalah bola tanpa angin di dalam. Hmm.. kalau kena gebok, rasain nyawa! Aku pasti tidak ikut karena takut, sewaktu SD badanku kecil dan kerempeng. He he he...

Gasing atau Yoyo
Umumnya terbuat dari kayu. Ini adalah permainan ketangkasan. Sampai hari ini yoyo tetap ada, walau kebanyakan sudah terbuat dari bahan plastik keras dan diberi lampu kinetik warna-warni.

Halma dan Ular Tangga.
Sekarang, walau masih ada, tapi sudah jarang dimainkan oleh anak-anak masa kini. Mungkin kalah menarik dibanding dengan game-game RPG.

Kwartet
Kwartet adalah permainan kartu bergambar, dimainkan oleh dua sampai dengan empat orang. Pemain yang menang adalah pemain yang berhasil mengumpulkan satu seri kartu (empat kartu dengan judul yang sama) sebanyak mungkin. Kwartet favoritku adalah kwartet Godam-Gundala. Sayang sudah tidak ada lagi sekarang.

Layang-layang
Siapa yang tidak tahu permainan ini. Dulu, layang-layang erat dengan benang gelasan. Adu layang-layang adalah tujuan utama, istilah keren anak-anak Samarinda "betegangan". Membuat layang-layang sendiri juga sudah biasa, sampai mewarnai dan menghiasinya dengan (ke)sumba warna-warni. Lalu menggelas benang dengan bahan baku kaca bekas botol (pepaci), kancur, putih telur atau kanji. Benang yang bagus namanya benang godang, yang besar diameternya. Menyasah kelayangan limbung, hi-ih jua.

Lempar Koin
Lempar koin sebenarnya judi kecil-kecilan. Baru sadar sekarang. He he he... Pemain berusaha melempar koin sedekat mungkin dengan koin lawan, dan bila jaraknya masuk dalam sekilan (selebar bukanan jari tangan), maka koin lawan menjadi miliknya. Permainan ini dapat dimainkan berdua atau banyak orang.

Kapal-kapalan dari Kaleng
Kapal-kapalan dari kaleng ini sungguh-sungguh dapat berjalan di atas air dengan bantuan uap dan panas dari dian kecil yang dipasang di dalamnya. Sekali-sekali masih terlihat ada yang menjualnya, tapi anak-anakku sama sekali tidak tertarik. He he..

Atari
Atari mungkin merupakan cikal bakal video game masa kini. Beberapa game yang sangat menarik waktu itu adalah pingpong, tenis dan space invader. Semua tampil dengan grafik yang sangat sederhana dan hitam-putih, kemudian tampil dengan warna sederhana. Tidak ada Atari mungkin tidak ada Nintendo, dan kawan-kawan. Nintendo, menurutku, merupakan perintis game modern yang ada saat ini.

Karombol
Aku ingat sewaktu SMP sering main karombol di rumah teman, sepulang sekolah. Karombol mempunyai empat buah lubang di masing-masin sudutnya, dan biasanya dimainkan empat orang pemain. Pemain berusaha memasukkan banyak biji karombol dalam lubang dengan cara dijentik (diketek) langsung atau dipantulkan, tapi jangan sampai biji karombol warna merah (raja) keluar dari lingkaran tengah.

Renang di Sungai
Aku bisa berenang karena belajar renang di Sungai Karang Mumus, anak Sungai Mahakam. Kata orang kalau tidak bisa berenang, bukan orang Kalimantan. Renang di sungai menurutku paling asyik, karena banyak permainan yang bisa dimainkan, seperti: Sembunyi-sembunyian (petak umpet), jarum-jaruman (berebut potongan batang eceng gondok yang pelan-pelan timbul, yang sebelumnya ditenggelamkan di dasar sungai), terjun dari jembatan, belarut (mengikuti arus sungai), begayut di kapal/perahu yang sedang jalan; mancing, naik perahu, dan lain sebagainya.

Permainan Lain
Masih banyak permainan lain yang menarik semasa aku kecil, seperti: Asin naga, petak umpet, sepatu roda, ketekan karet, ketapel, sumpit, karet gelang yang dibikin menjadi pola-pola tertentu di jari tangan, dua bola dari plastik keras yang diantukkan ke atas dan ke bawah, dan masih banyak lagi.

(Terima kasih atas masukan dari teman-teman masa kecilku, Ruddy Soehartono dan Ryanto Salim).

Lihat Selengkapnya...

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.