21 Juni 2009

On The Plane


1. Air Force One

Bill, Hillary and Vice President Gore were on their way back to Washington on Air Force One, when Bill said, "I'd like to drop a $100 bill out of the plane and make one person very happy".

Hillary thought for a moment then replied, "I’d rather drop ten, $10 bills out and make ten people very happy".

To which Vice President Gore said, "I would drop a hundred $1 bills out and make a hundred people very happy".

The pilot then spoke up and said, "Why don't all three of you jump out and make 250 million people very happy?"

2. Smartest Man in the World

A doctor, a lawyer, a little boy and a priest were out for a Sunday afternoon flight on a small private plane. Suddenly, the plane developed engine trouble. In spite of the best efforts of the pilot, the plane started to go down. Finally, the pilot grabbed a parachute, yelled to the passengers that they had better jump, and bailed out.

Unfortunately, there were only three parachutes remaining. The doctor grabbed one and said "I'm a doctor, I save lives, so I must live," and jumped out.

The lawyer then said, "I'm a lawyer and lawyers are the smartest people in the world. I deserve to live." He also grabbed a parachute and jumped.

The priest looked at the little boy and said, "My son, I've lived a long and full life. You are young and have your whole life ahead of you. Take the last parachute and live in peace."

The little boy handed the parachute back to the priest and said, "Not to worry, Father. The 'smartest man in the world' just took off with my backpack."

(Kiriman Ruddy Soehartono, USA)

Lihat Selengkapnya...

05 Juni 2009

Semangkuk Bakmi Goreng


Pada malam itu Ana bertengkar dengan ibunya. Karena sangat marah, Ana segera meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Saat berjalan di suatu jalan, ia baru menyadari bahwa ia sama sekali tidak membawa uang.

Saat menyusuri sebuah jalan, ia melewati sebuah kedai bakmi dan ia mencium harumnya aroma masakan. Ia ingin sekali memesan semangkuk bakmi, tetapi ia tidak mempunyai uang. Pemilik kedai melihat Ana berdiri cukup lama di depan kedainya, lalu berkata, "Nona, apakah engkau ingin memesan semangkuk bakmi?"

"Ya, tetapi, aku tidak membawa uang," jawab Ana dengan malu-malu.

"Tidak apa-apa, aku akan mentraktirmu," jawab si pemilik kedai, "silahkan duduk, aku akan memasakkan bakmi untukmu."

Tidak lama kemudian, pemilik kedai itu mengantarkan semangkuk bakmi. Ana segera makan beberapa suap, kemudian air matanya mulai berlinang.

"Ada apa, nona?" tanya si pemilik kedai.

"Tidak apa-apa. Aku hanya terharu,” jawab Ana sambil mengeringkan air matanya. "Bahkan seorang yang baru kukenal pun memberi aku semangkuk bakmi! Tetapi, ibuku sendiri, setelah bertengkar denganku, mengusirku dari rumah dan mengatakan kepadaku agar jangan kembali lagi ke rumah. Kau, seorang yang baru kukenal, tetapi begitu peduli denganku dibandingkan dengan ibu kandungku sendiri," katanya kepada pemilik kedai.

Pemilik kedai itu setelah mendengar perkataan Ana, menarik nafas panjang dan berkata, "Nona mengapa kau berpikir seperti itu? Renungkanlah hal ini, aku hanya memberimu semangkuk bakmi dan kau begitu terharu. Ibumu telah memasak bakmi dan nasi untukmu saat kau kecil sampai saat ini, mengapa kau tidak berterima kasih kepadanya? Dan kau malah bertengkar dengannya."

Ana terhenyak mendengar hal tersebut. "Mengapa aku tidak berpikir tentang hal tersebut? Untuk semangkuk bakmi dari orang yang baru kukenal, aku begitu berterima kasih, tetapi kepada ibuku yang memasak untukku selama bertahun-tahun, aku bahkan tidak memperlihatkan kepedulianku kepadanya. Dan hanya karena persoalan sepele, aku bertengkar dengannya.”

Ana segera menghabiskan bakminya, lalu ia menguatkan dirinya untuk segera pulang ke rumahnya. Saat berjalan ke rumah, ia memikirkan kata-kata yang harus diucapkan kepada ibunya. Begitu sampai di ambang pintu rumah, ia melihat ibunya dengan wajah letih dan cemas. Ketika bertemu dengan Ana, kalimat pertama yang keluar dari mulutnya adalah: "Ana, kau sudah pulang, cepat masuklah, aku telah menyiapkan makan malam dan makanlah dahulu sebelum kau tidur, makanan akan menjadi dingin jika kau tidak memakannya sekarang."

Pada saat itu Ana tidak dapat menahan tangisnya dan ia menangis di hadapan ibunya.

(kiriman Ruddy Soehartono, USA)

Lihat Selengkapnya...

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.