12 November 2008

Kerusuhan di Bali 1999


Ketika kerusuhan di Bali meledak 21 Oktober 1999, aku terpisah dengan istri dan anak-anakku selama lebih dari 24 jam. Kami sama-sama tak dapat pulang ke rumah hari itu. Masyarakat Bali geram dan marah karena sehari sebelumnya Sidang Umum MPR memilih Abdurrahman Wahid sebagai Presiden RI meski pemenang Pemilu waktu itu adalah PDI Perjuangan. Masyarakat Bali, yang identik sebagai basis PDI Perjuangan, kecewa berat karena Megawati Soekarnoputri tidak terpilih.

Kerusuhan dimulai di Singaraja, Bali utara, 20 Oktober 1999, seusai palu sidang diketok dan Sidang Umum MPR memilih Gus Dur sebagai Presiden. Hari berikutnya, menjelang siang warga Denpasar yang kecewa mulai membakar ban-ban di jalan dan menumbangkan pohon-pohon yang ada di pinggir jalan. Kejadian ini dimulai di pusat kota Denpasar, kemudian meluas hingga ke pinggiran kota dan daerah-daerah sekitarnya.

Di kantor aku mulai mengkhawatirkan istri dan anak-anakku ketika mendengar ada kerusuhan terjadi di tengah kota Denpasar. Aku segera menelepon ke rumah tapi istriku sudah tidak menjawab teleponku, itu berarti istriku sudah pergi menjemput anak-anak yang pulang sekolah. Saat itu kami belum punya handphone sehingga tidak dapat melakukan kontak. Aku berharap moga-moga mereka sempat mencapai rumah sebelum keadaan menjadi lebih buruk.

Berita yang sampai ke kantorku makin membuatku cemas. Aku menelepon ke rumah berulang kali. Seorang bapak bernama Yayang dan dua orang anaknya yang baru pulang sekolah tidak dapat mencapai rumah mereka di Renon. Daerah Renon juga tidak jauh dari sekolah anak-anakku di SD/SMP Katolik Swastiastu. Pak Yayang minta ijin untuk dapat berlindung di kantorku, karena di luar sudah sangat tidak aman. Untunglah saat yang hampir bersamaan aku menerima telepon dari istriku yang mengabarkan bahwa mereka baik-baik saja dan mereka kini ada di rumah sepupuku, Taty, di kompleks Telkom yang tidak jauh dari sekolahnya anak-anak.

Istriku menceritakan bahwa dia tadi terpaksa berbalik arah kembali menuju ke sekolah, ketika jalan-jalan yang menuju ke arah rumah kami sudah diblokir oleh penduduk setempat dengan batang pohon dan ban-ban yang dibakar. Aku bersyukur karena Tuhan telah melindungi istri dan anak-anakku.

Aku dan teman-teman masih tetap bertahan di kantor sampai kira-kira jam enam sore. Kemudian kami menyadari bahwa kami tidak mungkin terus bertahan di kantor tanpa makanan, sementara situasi dan kondisi tidak juga membaik. Lebih-lebih lagi dua atasanku masing-masing membawa bayi mereka ke kantor hari itu. Akhirnya kami sepakat untuk pulang ke rumah bosku, Vanessa Robinson, yang ada di Canggu. Selain cukup dekat, setengah perjalanan menuju ke rumah Vanessa dapat dicapai dengan melewati jalan tikus yang ada di belakang kantor.

Akhirnya kami konvoi dengan menyetir mobil kami masing-masing. Pak Teddy dengan mobilnya berjalan paling depan
, diikuti Pak Yayang dan kedua anaknya, menyusul Vanessa dan bayinya yang bernama Cade, kemudian Susi Budiman, Nicole (bayinya) dan baby sitter-nya, dan terakhir aku bersama Reynaldo. Perjalanan sangat lancar hingga kami hampir mencapai daerah Canggu, kami dihadang oleh penduduk di sekitar situ dengan rintangan batang pohon di jalan. Penduduk di sana tidak mengijinkan kami lewat dan kami dihalau untuk kembali.

Setelah kami berunding, kami sepakat untuk menuju ke rumah Reynaldo di Kulibul Sekawan, Tibubeneng, dengan jalan berbalik arah ke kantor di Padang Luwih dan terus menuju ke arah utara. Tentu kami semua berharap perjalanan kali ini dapat berhasil. Sama seperti waktu pergi tadi, perjalanan kembali lancar hingga kami melewati kantor kami. Ketika menuju ke arah utara kami dapat melewati jalan Padang Luwih dengan aman, meskipun dengan hati yang berdebar-debar karena di beberapa tempat terdapat ban-ban yang dibakar oleh penduduk dan pohon-pohon kecil yang bertumbangan di jalan.

Hari sudah gelap ketika kami memasuki Tibubeneng. Namun harapan untuk sampai ke rumah Reynaldo rasanya pupus ketika kami kembali dihadang oleh penduduk setempat dengan batang pohon yang merintangi jalan. Kami kembali bernegosiasi dengan penduduk setempat dengan alasan tujuan kami sudah dekat dan ada dua bayi bersama kami. Kali ini kami sedikit beruntung karena penduduk setempat memperbolehkan kami lewat asalkan kami berjalan kaki. Seorang penduduk yang baik menawarkan pekarangan rumahnya untuk kami menitipkan mobil.

Akhirnya sampai juga kami di rumah Reynaldo, setelah berjalan kaki sejauh lebih-kurang 500 meter. Di rumah Reynaldo aku sempat meminjam hape Susi untuk mengabari istriku yang terpaksa bermalam di rumah Taty. Malam itu juga kami mendengar kalau Megawati Soekarnoputri berhasil mengalahkan Hamzah Haz untuk posisi Wakil Presiden. Kami tidak dapat membayangkan apa yang terjadi seandainya Megawati juga tidak terpilih sebagai Wakil Presiden!

Ketika mendengar berita di TV bahwa keadaan Bali sudah pulih, maka pagi-pagi sekitar jam tujuh kami semua mengambil mobil dan pulang ke rumah kami masing-masing. Mungkin tidak seberuntung teman-temanku, ban mobilku gembos di tengah perjalanan pulang. Namun aku bersyukur, ternyata istri dan anak-anakku sudah berada di rumah saat itu.

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Orang-orang asing heran, partainya menang koq calonnya gak jadi presiden ya..???

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.