11 Oktober 2008

Rambut Siwi


Malam itu di bulan Agustus 1999, ketika aku, Pak Teddy (rekan sekantorku) dan seorang tamu bule asal Spanyol sedang dalam perjalanan kembali ke Denpasar, setelah seharian kami di Banyuwangi untuk menemani sang buyer bule ini melakukan inspeksi akhir furnitur pesanannya yang siap diekspor.

Waktu menunjukkan lebih-kurang pukul 19.30 wita ketika kami mendekati Rambut Siwi. Rambut Siwi (18 Km dari Negara ke arah Timur atau 78 Km dari Denpasar ke arah Barat) terkenal dengan Puranya yang didirikan oleh seorang Pendeta Hindu dari Majapahit yang bernama Dang Hyang Nirartha, yang melakukan perjalanan sucinya (dharma yatra) di Bali pada abad XVI.

Suasana senyap sejak kami mulai turun dari penyeberangan Gilimanuk, karena baik tamu bule yang duduk di sampingku maupun Pak Teddy yang duduk di kursi belakang sudah tidak bersuara lagi, mungkin terlelap karena kelelahan, pikirku. Aku tetap menyetir dengan konsentrasi penuh walau badan terasa penat juga. Sorot lampu depan mobil tiba-tiba menangkap sesosok orang di kejauhan yang berpakaian serba putih berdiri di sisi kiri jalan, sepertinya ingin menyeberang ke arah Pura Rambut Siwi yang ada di sisi kanan jalan. Aku segera memperlambat laju mobil untuk memberinya kesempatan menyeberang.

Ketika sosok orang itu makin dekat dan laju mobil semakin melambat, orang tersebut - yang berpakaian layaknya seorang Pendeta Hindu - mulai menyeberang. Jarak orang itu dengan mobil mungkin tinggal lima sampai enam meter ketika orang tersebut tiba-tiba menghilang di tengah jalan.. berubah menjadi selembar kain putih yang melayang ke udara bagai ditiup angin, dan menghilang.. Aku terkesima, namun bingung. Aku masih bertanya pada diri sendiri, "apa itu tadi ya?"

Sambil menancapkan gas mobil kembali, aku terus memikirkan kejadian itu. Namun, baru kira-kira 20 detik kemudian dari arah kursi belakang terdengar suara lirih berkata, " Pak Anton, tadi ada orang yang menyeberang ya?"

"Hah? Pak Teddy melihat kejadian tadi ya? Pak Teddy ngga tidur?", balasku setengah kaget.

"Iya, saya lihat, tapi orangnya menghilang...", lanjut Pak Teddy. Seketika itu juga badanku langsung dingin dan merinding.

Bule Spanyol terbangun karena mendengar suara ribut kami berdua dan bertanya apa yang terjadi. Kemudian kami ceritakan apa yang baru kami lihat tadi. Tapi dia berulang-ulang mengatakan, "Ghost? I don't believe it!"

Beberapa teman Bali yang beragama Hindu mengatakan bahwa itu pertanda yang baik buatku. Mereka mengatakan itu merupakan penampakan dari sang pendiri Pura Rambut Siwi, yang juga pendiri dari Pura Tanah Lot dan Pura Luhur Uluwatu. Itu anugerah buatku, kerena mereka yang beragama Hindu saja belum tentu diberi kesempatan melihat kejadian seperti itu. Amin.


2 komentar:

Oom Adiz mengatakan...

Wah sayang yaa..coba langsung bisa diabadikan hp kamera dan diupload ke blog ini....!

ANTON C. ARSEN mengatakan...

@manggis:

Saat itu aku belum punya hp. Andai sudah punya jua, mungkin kada sempat ngeluarin hp.. ;D

Oh ya, bantu aku dong dapatkan syair lagu air sungai Mahakam yang lengkap, biar bisa aku tambahkan di postinganku "Rumor Tentang Air Sungai Mahakam". Jangan lupa nama penciptanya lah. Makasih.

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.