Semasa di SMAK dulu (1979-1982) ada figur sahabat yang aku kagumi, dan juga dikagumi banyak teman lain. Dia adalah Muhammad Helpani. Muhammad, yang sering kami sapa dengan "Amad" adalah orang Bugis dengan perawakan yang sedang-sedang saja, kulit coklat dan berambut keriting. Mengapa dia begitu dikagumi oleh teman-teman sekelasnya?
Aku dan Amad sekelas semasa di SMAK dulu, ketika di kelas satu (semester dua) diadakan pembagian jurusan, aku, Amad dan beberapa teman memilih jurusan IPA. Jurusan IPA saat itu cuma ada satu kelas, jurusan IPS yang terbanyak, sedangkan jurusan Bahasa ditiadakan karena kurangnya peminat. Sebetulnya minatku saat itu ke jurusan Bahasa. Kemudian di kelas yang baru itu Amad didaulat menjadi Ketua Kelas dan aku wakilnya. Amad benar-benar menjadi figur Ketua Kelas yang disegani dan disenangi teman-teman sekelas.
Jiwa kepemimpinan Muhammad Helpani tampak menonjol ketika suatu kali kami mengadakan camping kelas di luar sekolah. Di saat camping kami mendapat gangguan dari orang-orang luar, dengan cara menakut-nakuti kami dengan suara-suara aneh dan teriakan-teriakan. Tentu saja teman-teman sekelas yang wanita jadi ketakutan, walau Wali Kelas kami, Pak Lasdi, ada bersama kami.
Ketika gangguan tidak dapat ditorerir lagi, Amad tiba-tiba bangkit, merobek bajunya dan menghunus pedang (badik panjang) mendatangi para pengganggu itu. Beberapa teman lain segera mengikuti Amad. Sementara aku, beberapa teman laki-laki dan Wali Kelas menjaga teman-teman wanita dan kemah-kemah kami. Alhasil, para pengganggu lari tunggang-langgang dan tidak berani kembali lagi. Tetapi peristiwa itu juga memakan korban... seekor ular. Ular itu dibunuh Amad setelah mengusir para pengganggu.
Keberanian dan kesetiakawanan Amad menjadi pembicaraan kami. Di saat diskriminasi masih kental dalam praktek kehidupan sehari-hari di jaman itu (jaman Orde Baru), ada seorang anak muda sederhana yang menunjukkan kepemimpinan sejati. Tanpa memandang suku, agama, bersikap melindungi dan bertanggungjawab terhadap orang-orang yang dipimpinnya, itulah yang ditunjukkan seorang yang bernama Muhammad Helpani, sang Ketua Kelas.
Agustus 2008 yang lalu aku coba mencari Amad di tempat tinggalnya dulu, yaitu di sekitar jalan Perniagaan, Pasar Segiri, Samarinda. Tetapi ternyata tempat itu telah berubah total. Akhirnya aku memutuskan untuk mencarinya di lain waktu saja pada kedatanganku ke Samarinda berikutnya.
Hari ini kita memperingati Hari Sumpah Pemuda yang ke-80. Hilangkan segala bentuk diskriminasi dan kekerasan yang masih ada. Mari kita bangkit, bersatu, dengan satu semangat dan satu tujuan untuk mengangkat negara kita dari keterpurukan.
SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928
Pertama :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA
Djakarta, 28 Oktober 1928

Tidak ada komentar:
Posting Komentar