Di Pulau Bunyu aku mempunyai seorang teman baik bernama Ismail. Ismail tidak bekerja di perusahaan tempatku bekerja, tetapi perusahaanku sering mengunakan jasa dan keahliannya sebagai tukang las untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan.
Suatu Minggu pagi yang cerah di bulan Juli 1982 aku dan Ismail pergi berenang di tepi pantai di kompleks Perumahan Pertamina (Nibung?). Cukup banyak orang berenang di tepi pantai saat itu. Tiba-tiba mata kami tertuju pada seorang cewek yang duduk di atas ban dalam yang besar dan mengapung jauh dari bibir pantai. Aku dan Ismail memutuskan untuk mendatanginya, barangkali cewek itu cantik dan bisa kami ajak kenalan, begitu pikir kami.. he he he..
Saat kami berenang ke tengah laut untuk mendekati si cewek, lewat dua batang kayu yang mengapung di laut, aku dan Ismail segera mengambilnya untuk dijadikan tempat bergayut. Setelah dekat dan kami lihat cewek itu tidak cantik, maka kami memutuskan untuk kembali ke pantai. Ismail masih sempat bertanya apakah kami tetap memakai kayu itu untuk kembali ke pantai, aku jawab, "tidak usah, kita berenang saja, pantai kelihatannya tidak jauh."
Setelah berenang cukup lama dan kami sudah sangat kelelahan, kami belum juga mencapai pantai. Pasir di bawah kaki kami juga belum tersentuh. Aku mendadak panik dan minta tolong kepada Ismail. Rupanya Ismail juga mengalami hal yang sama dengan diriku. Melintas dipikiranku bahwa aku akan mati di laut hari itu, terbayang wajah mama dan keluargaku di depan mataku. Aku hampir menyerah. Namun tiba-tiba ada semacam dorongan yang keluar dari dalam diriku, menyuruhku agar tidak panik dan menyerah. Sebab banyak korban mati tenggelam di laut hanya karena panik.
Aku mulai menghentikan usahaku untuk mencapai pantai. Aku harus beristirahat dan melemaskan tangan dan kakiku. Aku kembali ingat kalau tubuh manusia pada dasarnya timbul di air karena selain terdiri dari 90% air, tubuh kita juga terdiri dari banyak rongga yang berisi udara. Orang mati tenggelam karena banyaknya air yang terminum. Aku berusaha setenang mungkin saat itu, membuat sedikit gerakan, dan hanya memusatkan mata, hidung dan mulutku agar tetap di atas permukaan air. Aku berusaha bernapas dalam-dalam dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sekilas aku melirik ke arah Ismail, tampak dia juga sedang melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan.
Setelah cukup kami beristirahat, kami kembali berenang sekuatnya ke tepi pantai. Sampai suatu ketika jari kakiku serasa menyentuh sesuatu yang lembut di bawah. Aku berhenti dan coba menjangkaunya dengan jari kaki, ternyata jari kakiku sudah dapat menyentuh pasir lembut yang ada di bawah. Segera aku berteriak memberitahukan hal itu kepada Ismail, dan ternyata Ismail pun dapat menjangkaunya. Setelah berenang beberapa saat lagi, air laut tinggal setinggi dada kami. Kami bersyukur sekali.
Ada satu hal aneh yang mengganggu pikiranku dan Ismail, cewek itu sudah tidak terlihat saat kami kelelahan di laut tadi. Rasanya tidak mungkin cewek itu bisa mendahului kami mencapai pantai. Ketika kami menginjakkan kaki di tepi pantai cewek itu juga tidak tampak dan tidak ada ban dalam hitam besar yang dipakai cewek itu diantara orang-orang yang bermain di tepi pantai.
Satu pelajaran yang aku ingin kamu ingat bila kamu mengalami kejadian seperti yang kami alami. Pantai yang tampak dekat dari laut belum tentu mudah untuk dicapai. Ombak yang memecah di tepi pantai akan balik dan membuat gerakan air kembali menuju ke laut dan ikut menyeret tubuh kita menjauhi pantai. Perlu tenaga ekstra keras untuk mencapainya, dan yang paling penting jangan panik. Lakukan seperti apa yang kami lakukan. Dan bila ada barang apapun yang mengapung lewat, raih segera, kecuali kamu memang perenang yang handal.
Satu lagi, jangan pernah tergiur mendatangi cewek yang berenang atau mengapung jauh dari pantai. Pertama, kemungkinan itu hantu, sebuah ilusi atau fatamorgana. Kedua, belum tentu dia cantik! Wakkakakaaaak...!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar