Semalam aku mimpi bertemu dengan sahabatku Ruddy Soehartono dan beberapa teman SMA lain. Ingat Ruddy, aku jadi ingat dengan suatu kelakuan kami yang lucu semasa SMA dulu. Setelah lulus SMA aku tidak pernah bertemu dengan Ruddy lagi, karena dia langsung berangkat ke Amerika Serikat untuk kuliah, sementara aku langsung berangkat ke Tarakan dan bekerja di Pulau Bunyu. Aku tidak kuliah karena alasan ekonomi keluarga yang tidak mendukung. Aku hanya mendengar dari teman-teman kalau Ruddy sempat pulang ke Samarinda beberapa kali dan mengadakan reuni kecil dengan teman-teman sekelas, tapi aku tidak hadir karena teman-teman tidak dapat menghubungi aku, maklum komunikasi waktu itu tidak semudah dan secanggih sekarang.
Ruddy akhirnya menikahi adik kelas kami, Liby, cewek yang sering digodanya waktu di sekolah dulu, dan kemudian memboyongnya juga ke San Fransisco, Amerika Serikat. Juni 2008 lalu aku bertemu dengan kakak dan ipar Ruddy di Red Top Hotel, Jakarta, dalam acara reuni orang-orang Samarinda yang tinggal di perantauan, dan aku hanya dapat kabar bahwa Ruddy sudah lama tidak pulang ke Indonesia. Aku menyesal karena saat itu aku lupa meminta alamat e-mail atau nomor kontak Ruddy di Amerika.
Di kelas 3 SMAK dulu, aku dan Ruddy pernah mengadakan survei terhadap cewek-cewek di sekolah kami. Aku sendiri lupa siapa yang mencetuskan ide ini pertama kali, apakah aku atau Ruddy. Kami menetapkan waktu satu minggu untuk mensurvei cewek di sekolah kami yang mempunyai betis atau kaki yang terindah, dan cewek dengan betis atau kaki yang terjelek. Waktu istirahatlah yang banyak kami gunakan untuk melakukan survei.
Beberapa hari lewat, belum satu minggu dari batas waktu yang kami tentukan, aku dan Ruddy ternyata sudah punya pilihan cewek untuk menduduki kedua nominasi itu. Kemudian kami sepakat untuk mengakhiri survei, dan menyebutkan nama untuk cewek dengan kaki terindah dan cewek dengan kaki terjelek. Kemudian aku dan Ruddy tertawa terbahak-bahak karena kedua cewek yang kami sebutkan itu SAMA PERSIS! Aneh memang, dari sekian ratus cewek di sekolah kami, kami bisa mendapatkan hasil survei yang sama. Aku tidak akan menuliskannya di sini siapa cewek dengan kaki terindah itu dan siapa cewek dengan kaki terjelek itu. Biarlah menjadi kenangan kami berdua.
Ruddy, dimana pun kamu berada, mudah-mudahan suatu hari kamu mampir di blogku ini dan membaca kisah ini. Sengaja judul artikel ini aku tulis dengan nama kamu. I believe someday, someway, we'll meet again.. Oh ya, sepertinya kamu benar kalau aku tidak punya bakat main gitar, walau sudah belajar dari kamu sewaktu masih sekolah dulu dan ikut kursus gitar di Denpasar.. He he he..

1 komentar:
Bernostalgia ya. Cerita2 kita tentang masa lalu, saat jaman sekolah memang asyik untuk diingat lagi. Jadi ketawa sendiri. Konyol dan lucu. Maklum, waktu itu masih culun2nya sih.
Mudah2an bisa segera mendapat kontak dengan Pak Rudy.
Posting Komentar