Sungai Karang Mumus adalah nama anak Sungai Mahakam yang membelah kota Samarinda ke arah utara. Setiap pulang ke Samarinda aku senang dan sering melewati pinggiran sungai ini. Banyak kenangan semasa aku masih remaja di sini. Di sungai ini juga aku pertama kali bisa berenang. Aku dan adikku, Albert, sering berenang dan bermain bersama teman-teman tetangga yang tinggal di jalan Banda dan di jalan Samosir, antara lain: Wahid, Osen, Ahan, Ipit, dan lain-lain. Kami tinggal di sana dari 1974 sampai dengan 1978.
Tahun 2008 ini aku sudah dua kali pulang ke Samarinda. Yang pertama di bulan April dan yang kedua di akhir July sampai 12 Agustus 2008. Senang rasanya setiap kali bisa kembali ke Samarinda. Pinggiran Sungai Karang Mumus kini lebih tertata rapi dan bersih. Tidak ada lagi rumah-rumah kayu yang berdiri di pinggiran sungai. Namun, kini air Sungai Karang Mumus tidak lagi memancarkan pesona sebagaimana waktu kami kecil dulu. Kini airnya dangkal dan cenderung berwarna coklat kemerahan atau coklat tua.
Di Sungai Karang Mumus ini aku pertama kali belajar berenang. Aku belajar sendiri dengan berpegangan pada sebuah paku besar pada batang (kayu). Pemilik rumah di sekitar bantaran sungai hampir semua mempunyai semacam rakit yang terbuat dari dua atau tiga batang kayu besar sebagai tempat MCK (mandi, cuci dan kakus). Di Samarinda kami cukup menyebutnya "batang". Misalnya: "Mandi di batang, yuuk..?" Dan hanya dalam lima hari aku sudah bisa berenang.
Suatu hari ketika kami bermain salto-saltoan di atas air, kepalaku menghantam pinggiran batang karena lompatanku kurang jauh ke tengah. Beberapa detik aku sempat hanyut oleh arus sungai karena tak sadar setelah benturan, waktu itu aku memang tidak sampai pingsan. Lain waktu aku hampir kena lempar kayu ulin yang cukup besar ketika sedang menyelam di bawah air. Ahan yang melempar kayu ulin itu tidak tahu kalau aku sedang menyelam di bawahnya dan kayu itu meluncur tepat melewati sisi kanan kepalaku! Aku kaget dan Ahan juga kaget ketika melihat aku muncul dari dalam air.
Setahun sekali Sungai Karang Mumus menjadi sangat ramai oleh manusia yang mandi di sana. Hari itu warga Tionghoa merayakan Duan Wu Jie atau Peh Cun yang jatuh pada tanggal lima bulan lima dalam penanggalan Tionghoa. Perayaan ini merupakan ritual masyarakat Tionghoa untuk mengucap syukur yang dilakukan pada saat musim kemarau. Selain mandi untuk membersihkan diri, siram-menyiram air pun tak terhindarkan. Tidak ada yang boleh marah. Di hari raya Peh Cun ini pun kita dapat membuat sebuah telur berdiri tegak ketika tepat jam 12 siang. Tidak ada penjelasan mengenai hal itu, tetapi kemungkinan disebabkan oleh besarnya gaya tarik Matahari dan Bulan saat itu karena hari raya Duan Wu atau Peh Cun selalu ditandai dengan air pasang yang besar.
Semua tinggal kenangan. Masa remaja yang indah. Satu lagi kenangan yang begitu manis tentang mandi di batang adalah lagu Dina Mariana yang sedang ngetop saat itu yang sering menggema dari rumah pemilik batang tempat kami berenang... "Goyang, goyang, goyang, goyang, kita bergoyang... Mari, mari, mari, mari, kita menari... Bergoyang ke kanan, bergoyang ke kiri..." Ha ha ha...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar