12 Oktober 2008

Nyepi 1999


Satu hal yang paling menarik hatiku selama aku dan keluarga tinggal di Bali adalah Nyepi. Selama tinggal di Bali delapan setengah tahun aku mengalami sembilan kali Nyepi, dimulai dengan Nyepi di tahun 1999 sampai dengan Nyepi di tahun 2007. Tak sekalipun aku ingin melewatkan Nyepi di Bali, sementara banyak orang (khususnya pendatang) berbondong-bondong meninggalkan Pulau Bali untuk menghindari Nyepi dengan pulang kampung atau plesir ke pulau tetangga seperti Jawa dan Lombok.

Bagiku Nyepi itu suatu peristiwa yang begitu indah dan sayang untuk dilewatkan. Nyepi adalah anugerah. Saat itu alam seperti mendadak mati dan hening.. dan udara terasa begitu murni. Tidak ada keributan dan kebisingan. Sepi. Senyap. Binatang-binatangpun seakan ikut mengerti, mereka ikut diam dan membisu. Semua ini hanya bisa kamu nikmati setahun sekali hanya di sebuah pulau surga yang bernama Bali. Tidak ada tempat lain di dunia yang sama seperti ini. Jadi mengapa harus meninggalkan Bali di kala Nyepi?

Setelah mengalami gelap total dan kesenyapan sepanjang malam, dan ketika matahari pertama muncul di ufuk timur keesokan hari, kehidupan baru seakan muncul dan memenuhi alam raya. Hidup diperbaharui dan kehidupan baru dimulai lagi.

Adalah Nyepi pertama yang kualami 18 Maret 1999, saat itu aku masih kos di daerah Tegal Jaya. Seluruh penghuni kos sudah pada kabur entah kemana. Satu-satunya makhluk hidup yang tersisa di kos saat itu hanya aku. Maklum aku baru dua setengah bulan di Bali, masih belum banyak kenalan. Tetapi aku sangat menikmati hari itu, aku mengisinya dengan membaca buku di dalam kamar atau di teras kos, sesekali aku jalan-jalan di halaman kos yang lengang, berdiri di tengah jalan depan kos sambil menengok ke kiri-kanan, tidak ada satu makhluk hidup pun! Saat itu aku merasa sebagai satu-satunya makhluk hidup yang menguasai bumi ini. Ha ha ha..

Sore sebelum malam menjelang aku menutup semua lubang angin dan jendela kamar kosku, maksudku supaya malam hari aku masih bisa membaca dengan mengunakan lampu kamar, tanpa terlihat dari luar. Tetapi ternyata sore hari listrik di kosku dipadamkan. Untung aku sudah menyiapkan air panas dalam termos untuk membuat mie instan sebagai makan malamku. Untuk membaca aku menggunakan lampu senter.

Keesokan hari aku terbangun karena merasakan cahaya yang begitu terang menimpa wajahku. Aku kaget dengan kondisi kamarku yang terang benderang. Dinding-dinding kamarku bagaikan layar bioskop yang dipenuhi awan-awan yang bergerak dan bayangan pohon-pohon. Aku sempat bingung dengan keberadaanku beberapa saat. Setelah cukup sadar akhirnya aku tahu cahaya terang itu berasal dari lubang kunci kamarku. Aku coba mengintip, aku melihat matahari tepat tegak lurus dari lubang kunciku. Aku melihat awan-awan yang bergerak di langit luar sana dan pohon-pohon yang tumbuh di halaman kos. Oh, aku ada di dalam kamar Obscura! Sungguh pengalaman yang sangat menakjubkan!

(Kamera obscura adalah kamera sederhana berbentuk kotak tertutup yang diberi lubang kecil di tengah salah satu sisinya. Penemu Prancis yang bernama Joseph N. Niépce menggunakan konsep ini untuk menciptakan hasil fotografi permanen yang pertama)

Tidak ada komentar:

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.