03 Oktober 2008

Gang Tikus


Pernah dengar nama Gang Tikus? Itu nama sebuah jalan di Samarinda tempo dulu. Apa kamu tahu letaknya dimana? Kebanyakan dari orang tua kita yang asli Samarinda pasti tahu dimana Gang Tikus itu berada. Ayo, siapa tahu? Sekarang ini nama jalan itu bukan lagi Gang Tikus, tetapi..

Jalan Dermaga. Sebelum bernama jalan Dermaga, jalan itu pernah dinamai jalan Sulawesi. Dahulu di pojok jalan Gang Tikus itu, yang merupakan pertigaan dengan jalan Mulawarman sekarang, ada sebuah rumah tua berlantai dua yang terbuat dari kayu Ulin dan beratapkan sirap, seperti rumah kebanyakan waktu itu.. di sana aku tinggal. Rumah tua yang aku mau ceritakan itu bukan rumah biasa-biasa saja, tetapi rumah yang mengandung misteri yang sampai saat ini belum aku mengerti.

Berhantu? Aku tidak tahu pasti. Aku ingat lantai dua rumah itu tidak pernah kami huni. Ruangan dalamnya kosong, los dan banyak jendela. Kuku (uak, kakak perempuan papa) sering mengajak aku dan adikku, Albert, bermain di balkon lantai atas itu, menghadap Gang Tikus (depan rumah). Kami sering main lidi dari potongan hio yang sudah terbakar, menganyam lidi menjadi berbagai bentuk seperti kipas, dan lain-lain. Di samping kanan lantai dua itu ada gantungan pot yang berisi tanaman seledri, kami sering menyebutnya “daun sop”. Sedangkan, di sebelah kiri lantai dua rumah itu ada balkon panjang, hampir sepanjang rumah itu, yang menghadap ke jalan Mulawarman sekarang. Nah, misterinya ada di balkon kiri itu!

Aku menyebutnya “Misteri Balkon Jatuh”. Kalau kamu punya nyali coba saja berdiri atau berjalan di balkon kiri itu.. segera kakimu akan lemas dan kamu merasa balkon yang kamu injak itu akan runtuh! Aku kecil tinggal di rumah itu hingga usiaku 10 tahun, pernah beberapa kali memberanikan diri untuk mendekati balkon kiri itu dan bertahan di sana.. tapi selalu gagal, bahkan hanya untuk 5 detik saja! Kadang aku terpaksa harus merangkak ketakutan meninggalkan balkon kiri itu! Aku ingat ada seorang tukang yang sedang memperbaiki rumahku waktu itu hampir benar-benar terjatuh dari balkon gara-gara kakinya lemas dan sangat ketakutan. Andai saja rumah itu masih ada sampai sekarang aku ingin mencoba lagi dan mencari tahu misteri yang tersimpan di rumah tua itu.

Mengenai ruangan kosong di lantai atas rumah itu, aku tidak pernah merasakan ada sesuatu yang aneh. Tetapi uakku merasakan dan mengalaminya. Dia sering tidur-tiduran atau tidur siang di sana, dan dia sering merasakan ada tangan yang memegang dan mengelus-elus rambutnya..!

Tulisan ini aku persembahkan untuk mengenang dua tahun meninggalnya Kuku (uak) yang kami cintai (01 Maret 1924 - 17 Juni 2006). Semoga arwahnya mendapat kedamaian di sisi Tuhan Yang Mahakuasa. Terima kasih Kuku karena telah menjaga dan merawat kami.

Samar-samar terdengar dari sebelah rumah kami di Gang Tikus itu... "Ob-la-di, ob-la-da, life goes on, brah!... Lala how the life goes on..."


Tidak ada komentar:

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.