24 Oktober 2008

Sungai Kerbau


Bicara mengenai Sungai Karang Mumus mengingatkan aku pada Sungai Kerbau, karena Sungai Karang Mumus biasanya menjadi tempat pemberangkatan perahu atau kapal kecil ke Sungai Kerbau, yang memakan waktu lebih-kurang setengah jam perjalanan. Sungai Kerbau juga merupakan anak dari Sungai Mahakam yang letaknya di sebelah selatan Sungai Karang Mumus, termasuk dalam Kelurahan Selili, Kecamatan Samarinda Ilir. Satu-satunya peta Kota Samarinda yang mencantumkan nama dan letak Sungai Kerbau adalah peta yang dicetak dan diterbitkan oleh PT Karya Pembina Swajaya, Surabaya.

Semasa Haji Nawi yang tinggal di jalan Banda masih hidup Sungai Kerbau dijadikan tempat ziarah orang-orang Samarinda. Kabar yang kudengar semasa kecil di sana terdapat makam keramat, dan orang-orang berziarah ke sana untuk meminta keselamatan dan kekayaan. Di sana ada dua balai-balai besar untuk sembahyang dan tempat makan. Di sisi lain ada tempat pemotongan hewan kurban. Aku masih ingat kalau makam keramatnya terletak di tengah-tengah sungai. Jadi harus menggunakan perahu kecil untuk mencapai makam keramat itu.

Semasa kecil aku ke Sungai Kerbau ada kira-kira 10 kali karena mendapat undangan dari kenalan papa yang keluarganya melakukan ziarah. Aku dan keluargaku pergi hanya untuk main atau menghormati yang mengundang. Keluarga kami tidak mempunyai tradisi dan kepercayaan seperti itu. Waktu itu yang menarik dari Sungai kerbau adalah alamnya yang masih asri, dan perjalanan yang mengasyikan di atas kapal.

Setelah kapal yang kami tumpangi merapat di bibir muara Sungai Kerbau, kami harus berjalan kira-kira 15 menit lagi untuk mencapai lokasi makam keramat tersebut. Kapal yang kami tumpangi tadi tidak dapat masuk ke dalam Sungai Kerbau yang kecil. Jalan setapak untuk mencapai lokasi makam keramat dibangun di atas sungai dengan mengunakan kayu ulin. Sepanjang perjalanan itu kita akan berjumpa dengan banyak monyet yang sedang bermain, makan atau berlompat-lompatan di atas pohon. Suasana sangat damai, asri dan nyaman.

Terakhir kabar yang aku dengar tempat itu tidak pernah dikunjungi lagi, yaitu sejak Haji Nawi meninggal beberapa tahun lalu.

Tidak ada komentar:

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.