29 Oktober 2008

Pulau Bunyu I - Si Cantik


Pertengahan Mei 1982, setelah lulus SMA aku berangkat ke Tarakan bersama Kuku (uak) dan tinggal di rumah famili kami di daerah Sibengkok. Kemudian oleh Om-ku aku dikenalkan dengan Pak Budi, sahabatnya, dan kemudian aku ditawari sebuah pekerjaan di Pulau Bunyu. Setelah bermain beberapa hari di Pulau Bunyu, aku kembali ke Tarakan dan aku sampaikan kepada Pak Budi mengenai kesiapanku untuk bekerja di sana.

Akhir Mei 1982 aku kembali ke Pulau Bunyu dan mulai bekerja di sana. Aku sangat menyukai suasana di Pulau Bunyu. Jalan-jalan utama dan jalan-jalan di perkampungan penduduk hampir semua belum diaspal, kecuali jalan-jalan yang ada di dalam kompleks perumahan dan kantor Pertamina. Jalan-jalan yang belum diaspal itu tiap hari disirami minyak agar mengeras. Hal itu menimbulkan bau minyak yang khas. Tetapi bila hujan turun kita harus ekstra hati-hati karena jalan-jalan menjadi sangat licin.

Satu tempat di Pulau Bunyu yang menjadi favoritku adalah daerah Pangkalan yang dekat dengan dermaga tempat pemberangkatan dan berlabuhnya kapal-kapal. Aku juga sering sarapan pagi di Pangkalan. Di sana ada nasi kuning yang sangat enak. Tempatnya berupa rumah tinggal yang difungsikan sebagai rumah makan. Awalnya aku sering pergi dengan rekan kerjaku, Pe'ang dan Koci. Tapi setelah aku mendapat fasilitas sepeda motor aku mulai pergi sarapan sendiri.

Setelah beberapa kali sarapan nasi kuning di sana, aku baru menyadari kalau aku selama ini selalu diperhatikan oleh sepasang mata seorang gadis cantik dari dalam rumah. Gadis itu juga kemudian sering tersenyum padaku. Postur tubuhnya juga sangat bagus dan berisi. Jujur saja, sebagai seorang anak muda aku senang menerima perhatian seperti itu, dan aku termotivasi untuk selalu sarapan pagi di sana.

Suatu hari kedua rekan kerjaku menyinggung kebiasaanku yang sering sarapan nasi kuning di Pangkalan. Aku mengakui dan bertanya ada masalah apa dengan kebiasaanku itu. Mereka menebak kalau aku sering sarapan pagi di sana karena ada anak gadis penjual nasi kuning yang cantik tersebut. "Memangnya aku salah kalau seperti itu?" balasku.

"Tidak sih, cuma kamu belum tahu saja..." kata Koci, dan mereka berdua ketawa.

"Belum tahu apa? Ada apa dengan gadis itu?" tanyaku ingin tahu.

"Sudah deh, nanti juga kamu akan tahu sendiri," kini Pe'ang yang menjawab. Benar-benar bikin aku penasaran. Aku mendesak tetapi tetap saja keduanya tidak mau memberi tahu.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, dan aku belum tahu apa yang dimaksudkan mereka berdua. Sesekali mereka bertanya, "Sudah tahu, belum?" Ya, tentu aku jawab kalau aku belum tahu apa itu. Tetapi kemudian sampailah suatu hari aku mengetahui rahasia gadis itu.

Pagi itu seperti biasa aku sarapan nasi kuning lagi ke Pangkalan. Sedang asyik-asyiknya menyantap sarapanku, aku mendengar keributan di dalam rumah itu. Ternyata gadis itu sedang bertengkar hebat dengan ayahnya, entah disebabkan oleh masalah apa. Gadis itu berteriak-teriak dengan suara keras, tetapi... kata-katanya tidak jelas. Ya, Tuhan, ternyata gadis itu bisu!

Perasaanku iba dan sangat sedih. "Hanya tinggal sedikit, Tuhan, kenapa Engkau tidak membuat gadis itu sempurna?" protesku saat itu. Sejak tahu rahasia gadis itu aku tidak serta-merta mengatakannya kepada kedua rekanku. Aku biarkan saja berlalu sampai suatu hari mereka kembali bertanya padaku, "Gimana? Sudah tahu, belum?"

"Sudah," jawabku pelan. Kamu tentu dapat menduga bagaimana reaksi mereka setelah mendengar jawabanku.

2 komentar:

azay mengatakan...

Sekitar tahun 1982 yahh mas,...!!! wah aku belum lahir tuh mas,... aku asli anak dari bunyu, alnya gue lahir di sana, walaupun ortu bukan asli dari sana,.. ^_^

terdengar artikel mas ini,.. gue masih mau kembali ke zaman dulu yang waktu masih dan di ambang kejayaan pertamina,...

Samarinda Online mengatakan...

@Azay:
Salam kenal. Terima kasih sudah mampir di blogku. Iya nih, aku sendiri pingin banget bisa mampir di Bunyu lagi. Tentu sekarang sudah banyak berubah ya?

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.