Murung Pudak adalah sebuah ibukota kecamatan dari 10 desa di kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan. Aku tinggal dan bekerja di sana dari 1982 hingga akhir 1984. Aku bekerja dengan sebuah perusahaan kontraktor yang menjadi rekanan Pertamina UEP IV Lapangan Tanjung. Saat itu Kepala Pertamina masih dijabat oleh Bapak Aulia, yang tak lama kemudian beliau dipindahtugaskan ke Prabumulih, Sumatera Selatan.
Di Murung Pudak aku mempunyai sebuah pengalaman yang sangat menarik dan menegangkan hingga tidak mungkin bisa aku lupakan. Bak sebuah sinetron horor, aku pernah terjebak di antara dua perkuburan di tengah malam. Bukan hanya itu saja, tetapi saat itu hujan sangat lebat dengan kilat dan petir yang menyambar tiada henti. Pernah mengalami hal seperti ini? Terus saja ikuti kisah hidupku ini.
Malam itu aku dan beberapa teman sekantor pergi nonton di gedung bioskop Pertamina, aku menjemput mereka satu persatu dengan mobil Jeep CJ-7 milik perusahaan. Nonton di sini sangat murah, waktu itu dengan hanya membayar karcis Rp 750 per orang kita sudah dapat menikmati dua buah film. Film pertama biasanya film India, yang kedua film Barat atau Mandarin. Saat film kedua sedang main, hujan turun sangat lebat. Bioskopnya tidak benar-benar kedap suara karena dibangun dengan stuktur yang sederhana, namun begitu penonton tetap menikmati film yang sedang diputar walau terdengar di luar hujan sangat deras.
Tiba-tiba terjadi kepanikan saat film usai. Tahu penyebabnya? Banyak sandal yang hilang terbawa air hujan yang merembes masuk melalui celah-celah pintu, baik pintu masuk maupun pintu keluar! Kepanikan berubah menjadi sesuatu yang lucu, gedung bioskop kini menjadi ajang penonton mencari sandal. Tawa dan cekikian terdengar dimana-mana, walau ada juga yang kesal.
Aku kembali mengantar teman-temanku pulang. Saat itu sudah lewat tengah malam dan hujan masih sangat lebat. Kilat dan petir terus menyambar, menggelegar memecah kesunyian langit malam. Setelah mengantar Rusman terakhir pulang, aku menuju ke kantor yang juga menjadi tempat tinggalku. Waktu itu aku menghadapi dua pilihan untuk mencapai kantor. Bila berbelok ke kanan, jalannya memutar untuk mencapai kantor, bila lurus jaraknya sangat dekat tetapi harus melewati tanah perkuburan terbuka (tanpa pembatas pagar) yang letaknya saling berhadapan, yang kiri kuburan muslim dan yang kanan kuburan kristen. Setelah menimbang-nimbang aku memutuskan untuk mengambil jalan yang lebih pendek walau harus melewati kuburan. Selain ingin cepat sampai di kantor untuk tidur, aku merasa percaya diri dengan Jeep CJ-7 yang kubawa malam itu.
Aku kaget ketika memasuki area perkuburan. Air menutupi area perkuburan, dan jalan tanah yang membelah perkuburan menjadi dua bagian sudah tidak terlihat. Karena percaya dengan kendaraan yang kupakai, aku tetap meneruskan perjalananku walau harus jalan perlahan. Tetapi, setelah jalan beberapa saat, kepercayaan diriku tiba-tiba hilang. Aku bimbang dengan jalan yang kulewati, walau jalan yang membelah perkuburan itu hanya berupa jalan lurus, aku merasa kehilangan arah. Tidak ada tanda yang bisa menjadi petunjuk arah keluar dari perkuburan. Nisan-nisan juga sudah tidak tampak lagi, air menggenangi semuanya hingga tampak seperti lautan yang sangat luas.
Aku gentar. Akhirnya aku memutuskan untuk mundur saja dan mengambil jalan memutar tadi. Paling tidak mundur masih lebih dekat dan lebih cepat keluar dari area perkuburan pikirku waktu itu. Tapi apa yang terjadi? Setelah mundur beberapa saat mobil yang kubawa ternyata keluar dari badan jalan dan terperosok. Sial! Kemudian aku coba mengendalikan diri agar tidak panik. Setelah berjuang hampir setengah jam mobil tidak juga dapat keluar dari tempatnya terperosok, walau aku sudah menggunakan persneling gardan depan (4-wheels drive). Aku bingung kenapa CJ-7 ini tidak dapat keluar juga dari kondisi ringan seperti ini. Aneh! Kemudian aku memutuskan untuk tidur di dalam mobil sampai pagi menjelang.
Ternyata aku tidak dapat tidur! Pikiranku terus jalan. Saat itu waktu baru menunjukkan pukul 01.00 WITA. Menunggu pagi masih terlalu lama. Apalagi membayangan kalau saat itu aku berada di area perkuburan! Aku sempat merinding juga, apalagi kilat dan halilintar masih terus menyambar, membuat bayang-bayang aneh di luar sana dan di kaca mobil. Karena bajuku juga sudah basah sebagian terkena hujan sewaktu keluar dari bioskop tadi, aku memutuskan untuk meninggalkan mobil dan berlari pulang!
Setelah turun dan mengunci mobil, aku mulai berlari pulang dengan melewati jalan memutar. Satu-satu ketakutanku saat itu adalah tersambar petir. Anehnya, saat itu kilat dan petir menyambar mengikuti suatu pola. Rata-rata kilat menyambar setiap satu menit, diikuti guntur dan petir 3-5 detik kemudian. Jadi setiap satu menit aku berlari aku akan berhenti dan berjongkok sampai kilat maupun petir lewat, baru kemudian berlari lagi sekencang-kencangnya. Aku pernah baca sebelumnya, dengan merapatkan kaki dan berjongkok dapat menghindari kita dari sambaran petir terutama di daerah terbuka yang jarang ada pepohonan atau bangunan.
Akhirnya sampai juga aku di kantor. Setelah mandi dan keramas, aku pergi tidur. Namun jam 03.00 aku terbangun. Dalam tidur aku bermimpi, mimpi yang memberikan aku jawaban kenapa CJ-7 tersebut tidak dapat keluar dari tempatnya terperosok tadi. Ya, ampun, bodohnya aku ini. Kenapa aku tidak bisa mengingat hal yang sepele, yang seharusnya sudah kuketahui. Aku lupa memutar kunci gardan depan yang ada di as roda! Ingin rasanya aku kembali ke mobil, takut mobil hilang dicuri orang. Tapi mengingat hujan masih sangat lebat, aku urungkan saja niatku sampai besok pagi.
Pagi-pagi sopirku, Ali Syahbana, masuk kantor dan langsung bertanya padaku dimana mobil CJ-7 itu berada. Aku bilang, “Ada di kuburan”. Kemudian aku menceritakan kepada Ali apa yang aku alami semalam. Ali tak dapat menahan diri, dia tertawa terpingkal-pingkal. Segera Ali pergi ke kuburan membawa beberapa orang karyawan. Tetapi tak lama kemudian Ali kembali. Aku sudah deg-degan, kupikir mobilnya hilang. Ternyata tidak, mobil tidak dapat ditarik keluar karena kedua ban sebelah kanan kondisinya gembos. Ali bertanya padaku koq bisa begitu. Ya, aku jawab aku tidak tahu. Ali pergi lagi dengan membawa cairan penambal ban tubeless dan pompa angin. Cerita ini terus menjadi bahan tertawaan Ali sesudah itu.
Aku ingin mempersembahkan cerita ini untuk teman-teman sekantorku dulu, antara lain: Ali Syahbana, Martha, Teteh, Ita, Nani, Bijis, Rusman dan lainnya. Ali Syahbana mempunyai seorang anak yang dinamai Anton Riyadi, yang diambil dari namaku dan nama Kepala Desa Belimbing Raya waktu itu Bapak Slamet Riyadi. Bagi para pembaca yang kebetulan mengenal salah seorang dari temanku di atas, mohon kesediaannya untuk memberi info kepadaku. Terima kasih.
(Kalau ada tempat yang sangat ingin kudatangi lagi dalam hidupku, Murung Pudaklah tempat itu)



11 komentar:
salam kenal pak..
Saya wiwik dari Tanjung Tabalong. Dari cerita bapak, bapak pernah tinggal di Murung Pudak dari tahun 1982 sampai akhir 1984. Jika bapak berkenan, saya ingin tahu bagaimana keadaan pertamina pada tahun 1982-1984 tersebut. (iwimutz.blogspot.com), atas perhatian bapak saya ucapkan terima kasih banyak.
Salam kenal juga, Iwie.. Terima kasih sudah mampir di blog saya.
Saat itu Murung Pudak sangat ramai (kegiatannya), namun kehidupan di sana sangat tenang. Saya tidak tahu situasi dan kondisi saat ini bagaimana. Apakah Iwie bersedia berbagi cerita kepada saya mengenai Murung Pudak saat ini?
Maaf baru bisa koment..
Bisa pak, karena saya menetap di Kecamatan Murung Pudak. Dan kebetulan saya sedang membuat skripsi tentang Kontribusi Pertamina pada tahun 1980-an. Mungkin bapak ada informasi tentang itu, karena saya ada sedikit kesulitan dalam dokumentasi pada tahun 80-an tersebut.
Oh iya, keadaan Murung pudak sekarang sangat ramai pak, karena sekarang marak eksploitasi batubara. jadi tidak seperti dulu lagi...
Halo, Wik.
Untuk urusan Pertamina ke dalam saya kurang tahu. Mungkin Wiwik perlu mendatangi PR/HRD Pertamina di Kantor Besarnya. Dulu saya bekerja dengan kontraktor yang menjadi rekanan Pertamina saja. Beberapa proyek yang kami dapat waktu itu antara lain perbaikan/overhaul mesin mobil/truk dan turbin Pertamina.
Bila ada kesempatan saya ingin main ke Murung Pudak lagi sekedar bernostalgia, mencari teman2 lama dan melihat perkembangan Murung Pudak saat ini. Terima kasih infonya.
sangat menarik dan seru sekali cerita horor bapak, saia juga asli orang tabalong, khususnya lagi di Kelua, terus berkarya pak!! sukses
Terima kasih, Pak Syafaat.. Salam kenal. Sukses juga untuk Bapak.
om anton ini mia anak ali syahbana,, adik nya anton ,,,
salam kenal
wah asyik juga ceritanya nih om...pas tahun tsb saya baru lahir deh hehe...TKP nya didekat kantor camat murung pudak daerah bangun sari ya om...trus ini gambar bioskop yg om maksud...http://www.panoramio.com/photo/95439817
@Mia Hidayat: Om kok belum dapat kabar dari Mia.. Bagaimana kabar bapak?
@Elbie: Makasih ya, sudah mampir di blog om.. Makasih juga utk link gambar bioskop Pertamina itu. Sepertinya sdh tidak dipakai lagi ya? Dulu tiap malam ramai banget. Banyak yg jual makanan juga.. :)
betul Om, sekarang gedung bioskop nya nganggur, bbrpa tahun yll sempat jadi lapangan badminton tp udah gak lagi...oh ya jadi ingat juga waktu kecil sering jajan di dekat bioskop nih Om, dulu seneng bgt di ajakin beli permen di gerobak pak Pung (mungkin Om masih ingat) dan beli sanggar disana...klo nonton di bioskop nya sih pernah beberapa kali di ajakin bapak (bapak juga kerja di Pertamina) jadi bisa dapat karcis gratisan, kursinya masih kursi seng yang warna hijau/kuning/merah kan...
sekarang saya tinggal di CIII jalan cemara pak...bisa tanya2 di no 081351778905....he3333 salam hangat
Posting Komentar