13 Oktober 2008

Mimpi, Bintang dan Bencana


Siang itu, di awal April 2006 aku mampir ke toko temanku, Yoseph Setiawan, di jalan Imam Bonjol. Yoseph yang sering kusapa Aliong menjalankan usaha variasi motor di Denpasar.

"Liong, aku semalam mimpi aneh."

"Mimpi apa, Ton?" sahut Aliong antusias.

"Aku mimpi tentang Sri Sultan Hamengku Buwono X," jawabku. Lalu kuceritakan mimpiku itu kepada Aliong.

"Dalam mimpi tiba-tiba aku merasa berada di sebuah ruangan yang sangat gelap dan dingin. Sebuah ruang bawah tanah! Tiba-tiba aku melihat bayangan beberapa orang di sebuah sudut ruangan, yang berdiri samping-menyamping. Aku mendekat, lalu terlihat olehku wajah orang yang berdiri di tengah. Aku kaget, karena wajah itu adalah wajah Sri Sultan Hamengku Buwono X. Aku tidak dapat melihat wajah-wajah lainnya yang berdiri di samping kiri maupun kanan Sri Sultan. Semua wajah itu gelap. Kemudian, tiba-tiba Sri Sultan menyerahkan sesuatu padaku, sebuah kunci! Aku bertanya kepada Sri Sultan kunci apa itu. Sultan menjawab bahwa itu adalah kunci Keraton, dan Sultan berpesan untuk menjaganya baik-baik.

Aku meninggalkan Sultan, berjalan melalui sebuah lorong. Tak lama kemudian aku sampai di sebuah ruangan bawah tanah yang cukup luas dan cukup cahaya dimana aku dapat melihat ada beberapa jenis binatang buas di sana. Aku melihat ada macan, singa, buaya dan lain-lain. Aku terus berjalan sampai akhirnya jalan itu menanjak naik seperti tangga yang ternyata itu adalah jalan keluar dari ruang bawah tanah Keraton.

Saat aku keluar, aku dapat mengenal bahwa jalan keluar itu ada di sebelah barat alun-alun utara Keraton Yogyakarta. Tetapi, aku melihat ada kepanikan besar di alun-alun Keraton. Ada ratusan orang di sana. Aku coba bertanya pada seseorang dan jawabnya: 'Sri Sultan menghilang! Kami sudah mencari kemana-mana.' Ketika aku menjelaskan bahwa aku baru saja bertemu dengan Sri Sultan, mereka beramai-ramai menuduhku berbohong. Aku kemudian menjelaskan bahwa aku ada bukti kalau aku baru saja bertemu dengan Sri Sultan. Aku menunjukkan kunci Keraton yang diberikan Sri Sultan. Setelah diteliti oleh sesepuh Keraton, mereka nyatakan kunci itu asli. Kemudian mereka bertanya padaku dimana Sri Sultan berada. Aku jawab bahwa Sri Sultan ada di ruang bawah tanah istana."

Aliong mengatakan mungkin aku terlalu terobsesi dengan pribadi Sultan atau terlalu sering melihatnya di TV hingga terbawa mimpi. Aku cuma bilang ke Aliong bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono X bukanlah sosok yang aku kagumi sampai dapat membuatku memimpikan Sultan.

Lili, istri Aliong, malah mengatakan aku seorang tukang mimpi. Tapi dengan enteng aku mengatakan bahwa Yusup juga seorang tukang mimpi, sampai akhirnya dia diangkat menjadi penguasa Mesir.

Beberapa hari kemudian aku mampir lagi di tokonya Aliong. Kali ini Aliong langsung menyambutku dengan pertanyaan.

"Ton, kalau ndak salah dulu kamu pernah bilang kalau malam hari muncul bintang yang besar dan sangat terang itu pertanda akan terjadi bencana yang besar di bumi. Betul, ndak?"

"Betul, asal bintang itu seperti bintang yang kulihat. Karena itu sesuai dengan pesan peringatan kepada manusia yang disampaikan Bunda Maria kepada tiga anak gembala di Fatima (1917). Apa kamu yang melihatnya, Liong?"

"Bukan, tapi keponakanku yang di Surabaya. Katanya minggu lalu dia melihat sebuah bintang yang besar dan sangat terang sekali, tidak seperti bintang lain."

"Percayalah, Liong. Lihat saja apa yang nanti terjadi, seminggu, sebulan atau setahun ke depan. Ingat waktunya Tuhan beda dengan ukuran waktu kita. Mungkin saja akan terjadi sesuatu besok. Aku masih terus teringat mimpiku, Liong. Aku memang merasa akan terjadi sesuatu. Aku ingin menyampaikan mimpiku ke Sultan, tapi aku juga takut. Kalau tidak terjadi apa-apa nanti pasti aku diketawai banyak orang. Aku tidak bisa mengartikan mimpi, mungkin ada orang di Keraton yang bisa."

Pada pertengahan April 2006, Merapi menunjukkan tanda-tanda akan meletus. Aku mampir lagi ke tempat Aliong dan mengatakan boleh jadi bencana besar itu mungkin meletusnya Gunung Merapi. Sesudah itu kita tahu bahwa aktivitas Merapi tidak pernah surut, malahan makin hari makin meningkat hingga benar-benar meletus pada 15 Mei 2006.

Sekitar 24 Mei 2006, aku bersama istriku sedang berbelanja di Tiara Dewata, sebuah supermarket terlengkap dan teramai di kota Denpasar, dan memiliki banyak cabang di Bali, sampai menembus kota Banyuwangi. Sementara istriku sibuk belanja di supermarket, aku berkutat di toko buku yang letaknya di lantai dua. Setelah jelalatan melihat setiap buku di sana, aku tertarik dengan sebuah buku berjudul Born to Fight karangan MC Maryati. Aku kaget karena buku itu berisi kata sambutan dari Sri Sultan Hamengku Buwono X, namun lebih kaget lagi karena salah satu kata yang dipakai Sri Sultan dalam sambutannya adalah "kunci".

Karena di buku itu ada nomor kontak MC Maryati, maka aku coba menulis sebuah sms kepadanya. Setelah mengenalkan diri, aku menceritakan mimpiku dan menyampaikan maksudku kepadanya bagaimana aku bisa menceritakan mimpiku kepada Sri Sultan. Walau Merapi sudah meletus tapi diriku belum tenang karena aku merasa bencana belum berakhir. Aku mendapat respon yang baik dari MC Maryati, namun aku disarankan untuk menyampaikan sendiri kepada Sri Sultan.

27 Mei 2006 pukul 05.55 WIB, Yogyakarta dihantam gempa yang sangat dahsyat yang meluluhlantakkan kota-kota di sekitar pantai selatan D.I. Yogyakarta, dan menelan korban meninggal 6.000 jiwa lebih dan puluhan ribu yang luka-luka. Kabupaten Bantul merupakan daerah yang paling parah terkena bencana, lebih dari 7.000 rumah di daerah ini rubuh. Candi Prambanan juga mengalami kerusakan yang sangat parah.

Siang harinya aku mengunjungi Aliong lagi. Aliong menggeleng-gelengkan kepala dan membenarkan arti penampakan bintang besar dan bersinar sangat terang itu. Aku kembali mengirim sms kepada MC Maryati, masih dengan respon yang bagus namun aku tetap disuruh langsung menghubungi Sri Sultan dengan cara mengirim surat. Aku juga diberi alamat kantor Sri Sultan di Kantor Gubernur, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Namun seiring dengan berjalannya waktu desakan dalam hatiku untuk menceritakan mimpiku kepada Sri Sultan makin berkurang.

Mungkin bintang yang dilihat keponakan Aliong itu adalah bintang yang sama dengan yang kulihat di suatu malam di bulan Agustus 2003, ketika itu Planet Mars dengan warna kemerahannya yang khas bisa dilihat dengan sangat jelas melalui mata telanjang, karena posisinya yang paling dekat dengan Bumi saat itu dan hanya terjadi setiap 60.000 tahun sekali dengan jarak 56 juta kilometer dari Bumi.

Malam itu aku dibonceng oleh temanku Wiyono dengan sepeda motornya. Kami baru saja pulang dari rumah seorang teman di daerah Batu Belig, Kuta. Ketika memasuki daerah Padang Sambian, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang aneh di atas ubun-ubun kepalaku. Ketika aku menengadah ke langit, aku melihat ada sebuah bintang berwarna putih yang sangat terang. Anehnya, bintang itu membesar, membesar dan makin membesar, dan makin terang, sampai seukuran bola tenis sebelum ia berangsur-angsur mengecil dan menghilang di antara ribuan bintang. Wiyono? Dia tidak melihat dan terus memacu motor, dan sepertinya aku sudah tidak mengingat dia lagi ketika aku menyaksikan bintang itu.

Kemudian kita semua tahu, pada tanggal 26 Desember 2004, Banda Aceh dan sekitarnya serta beberapa negara tetangga dihantam gempa bumi yang maha dahsyat (9,3 skala richter) yang menimbulkan gelombang pasang (tsunami) yang sangat besar, hingga menelan sangat banyak korban jiwa. Dipastikan lebih dari 150.000 jiwa yang tewas oleh bencana itu.

Semua peristiwa dan bencana adalah rahasia Tuhan Yang Mahakuasa. Semua peringatan disampaikan kepada manusia agar manusia dapat lebih waspada dan membenahi diri. Ukuran waktu menjadi relatif, karena ukuran waktu Tuhan jelas beda dengan ukuran waktu kita manusia. Maka hendaklah kita selalu waspada.

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Ya, saya ingat kembali sms anda beberapa waktu lalu. Salam buat keluarga. Semoga ke depan segala sesuatunya lebih baik. Tuhan yang membuat alam semesta, Tuhan juga yang akan mengendalikan segalanya. Kita mohon dalam doa agar kita dimampukan ikut menjaga kelestarian alam. karena alam dicipta juga untuk kita semua.

Samarinda Online mengatakan...

Saya menduga Anda pasti Ibu MC Maryati, terima kasih sudah mampir di blog saya, Bu, dan memberikan komentar Ibu di sini. Terima kasih juga sudah menjadi bagian dari kisah hidup saya. Tuhan memberkati.

Anonim mengatakan...

mum mc... ceritanya cukup bagus..
lalu apakah sang pemimpi itu tetap mengatakan mimpinya pd Sri Sultan???

Samarinda Online mengatakan...

Sang pemimpi tetap tidak sampai mengatakan mimpinya pada Sri Sultan... Sang pemimpi berharap tidak mendapatkan mimpi seperti itu lagi...

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.