Sejak dulu Samarinda memang sering dilanda kebakaran, terutama semasa kecilku dulu. Sehingga waktu itu seorang saudara sepupuku yang tinggal di Balikpapan mengatakan kalau Samarinda itu terkenal karena kebakarannya. Dan kebakaran menjadi semacam momok buatku yang masih kecil. Setiap mendengar bunyi kentongan atau tiang listrik dipukul dan teriakan kebakaran, seketika jantungku serasa berhenti berdenyut, badanku menggigil hebat, kakiku lemas, mulutku kaku dan gigiku gemertak. Ada satu peristiwa kebakaran yang tak mungkin kulupakan, yang begitu mengerikan dan hampir merenggut nyawa seluruh anggota keluargaku!
Maret 1973, pukul 03.00 dini hari, kami semua terbangun karena mendengar teriakan kebakaran dari Kuku (uak) kami. Seperti biasa Aku langsung menggigil ketakutan. Tak lama kemudian papa menyuruh kami semua untuk segera keluar dari rumah. Ternyata api sudah melahap atap rumah kami! Dalam kepanikan kami berusaha menyelamatkan diri, tapi saat itulah mama baru sadar kalau yang digendong mama bukanlah adik kami, Anastasya, yang baru lahir sebulan, melainkan bantal. Mama dan papa kemudian berlari masuk lagi ke dalam rumah untuk mengambil adik kami. Bara dan abu sudah berjatuhan dari atap rumah ketika kami keluar untuk menyelamatkan diri.
Kebakaran di jalan Pelabuhan itu meludeskan semua harta milik kami, baik rumah maupun toko beserta isinya, dan bahkan hampir merenggut nyawa keluarga kami. Tidak ada barang yang dapat kami bawa selain pakaian tidur yang melekat di tubuh kami. Aku ingat, sehari setelah kebakaran aku dan mama mengais-ngais di lokasi kebakaran dan menemukan sedikit perhiasan emas mama yang sudah lumer tak berbentuk.
Kami tinggal di toko yang berlantai dua itu sewaktu rumah kami yang di Gang Tikus dibangun. Tak berapa lama kemudian setelah rumah itu selesai dibangun, rumah baru itu terbakar habis dalam suatu kebakaran besar. Kurang dari setahun kemudian menyusul toko kami yang terbakar habis. Seorang teman kecil ku mengatakan keheranannya, "Keluargamu koq dikejar-kejar api terus sih?"
Malam kejadian itu Kuku (uak) terbangun karena ingin buang air kecil. Ketika mendengar suara seperti barang terbakar di atas atap dan langit di luar lubang angin tampak merah membara, beliau lantas berteriak membangunkan kami semua. Anehnya waktu itu di luar belum ada bunyi kentongan atau tiang listrik dipukul, atau teriakan kebakaran untuk membangunkan kami, padahal api sudah besar.
Bersyukur pada Tuhan kalau aku dan keluargaku telah diluputkan dari malapetaka waktu itu, walau kemudian kami harus hidup apa adanya dan menerima tawaran baik dari seorang kenalan papa untuk menempati sebuah rumah kecil di jalan Dermaga Gang Beringin secara gratis. Setahun kemudian kami pindah ke sebuah rumah kontrakan di jalan Banda.
Terima kasih kepada semua sahabat orang tua kami dan famili kami yang telah membantu kami tanpa pamrih ketika itu. Aku yakin Tuhan telah membalas kebaikan dan kemurahan hati kalian semua. Amin.

2 komentar:
Wah...tahun itu umurku baru 3 bulan jalan lho pak...
Kalo kami pernah HAMPIR mengalaminya..tinggal 3 rumah nyampe dah...tapi panik itu lho...weeeh stress jadinya!
Pak Anton sekarang nggak di Bali lagi toh...wah terlambat aku, baru tahu nih! Selamat yaaa...!Kalo aku ke Jakarta nanti....(hhhmmm kapan bisa yaaa...?)boleh mampir laaah...????
@manggis,
Boleh dong..! Senang kalau bisa ketemu nanti. Kena aku suguhi soto banjar.. he he..
Oh ya, aku balum bisa merubah form komentarnya. Kada berhasil, error tarus.. Kayak apa lah?
Posting Komentar