26 Oktober 2008

Banjir Besar 2004


Suatu pagi di bulan Februari 2004, hujan turun dengan derasnya. Kebetulan saat itu aku ada di Samarinda dan menginap di rumah Kuku (uak) di jalan Pangeran Antasari Gang 8. Waktu itu Kuku dan anaknya (kakak sepupu) tinggal berdua di sebuah rumah kecil yang dibelikan oleh adikku, Vera, yang tinggal di Surabaya. Jadi tidak serumah dengan papa dan mamaku lagi. Uak sudah 80 tahun, tapi masih kuat untuk orang seusia dia, walau berjalan sudah menggunakan tongkat.

Makin siang hujan semakin deras. Pelan-pelan air sudah menggenangi jalan di depan rumah. Kami tidak tahu kalau air sudah masuk ke dalam rumah dari arah belakang, karena aku dan Kuku sedang ngobrol di ruang depan. Ketika aku ke belakang, aku kaget melihat ember-ember yang berserakan di lantai ruang makan. Baru aku sadari kalau air hujan sudah masuk melalui pintu belakang dan kamar mandi membawa ember-ember itu hanyut ke dalam ruang makan.

Mulailah aku dan Kuku sibuk memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi. Amiang, sepupuku saat itu sedang tidur karena sakit berat. Barang-barang kami pindahkan ke atas meja atau ke atas ranjang. Tak lama kemudian air sudah setinggi mata kaki, dan aku segera mencabut kabel kulkas karena aku tak dapat mengangkat kulkas itu ke tempat yang lebih tinggi sendirian. Mengangkatnya berdua Kuku jelas tidak mungkin.

Air terus naik hingga sedengkul. Aku mematikan sekering rumah dan terus menelepon adik-adikku untuk menjemput dan memindahkan kami, tetapi ternyata banjir terjadi dimana-mana dan mereka belum bisa mendekati kami yang di Pangeran Antasari. Aku dan Kuku mulai bingung ketika melihat air sudah mencapai bibir ranjang dan mulai membasahi kasurnya. Kami tidak tahu lagi barang-barang yang kami letakkan di atas ranjang harus dipindahkan kemana lagi. Meja-meja juga sudah penuh dengan barang, akhirnya kami pasrah saja melihat air terus naik.

Adik-adikku masih belum bisa mendekati kami. Amiang, sepupuku yang sakit, sudah dibaringkan di atas meja makan dengan mengorbankan barang-barang yang tadinya kami letakkan di atasnya. Aku mulai panik ketika air sudah mencapai pinggul. Adikku, Prisca, menyuruhku untuk tidak panik, toh aku bisa berenang. Dia lupa satu hal, kalau yang kukhawatirkan itu bukan diriku sendiri tetapi masih ada dua orang lagi, yaitu satu orang tua yang berusia 80 tahun dan satu orang lagi yang sedang sakit. Prisca kemudian mengatakan suatu kalimat yang membesarkan hati, "Kamu betul-betul dikirim Tuhan ke sini. Coba bayangkan apa yang terjadi dengan Kuku dan Amiang kalau kamu tidak ada di sini?"

Banjir sudah sepinggang tingginya ketika adikku, Albert, dan istrinya, Siska, nekad menerobos banjir dan mendatangi kami dengan berjalan kaki, meninggalkan mobil mereka di dekat jalan Juanda. Akhirnya kami diungsikan dari rumah itu walau harus berjalan kaki perlahan-lahan dan berpegangan satu sama lain.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

Ceritanya menegangkan sekali. Tapi semuanya selamat dan baik2 saja ya. Lalu cerita tentang rumah si uwak yg kebanjiran itu bagaimana?

ANTON C. ARSEN mengatakan...

Rumah itu kemudian ditangani Albert. Entah gimana dia membersihkannya. Mudah-mudahan dia sendiri nanti akan menceritakannya dalam komentar ini.

Terima kasih sudah mampir di blogku, Pak Johan. Menyusul nanti beberapa cerita dari pengalaman hidupku sewaktu di Bunyu.

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.