Ketika membezuk mama mertuaku yang diopname di rumah sakit Siloam, Lippo Karawaci, Senin sore lalu, 29 Desember 2008, aku mendengar cerita Elly - keponakanku - bahwa ia baru saja terjebak di dalam lift rumah sakit yang mendadak macet, tetapi tidak lama. Cerita Elly membuatku teringat dengan kejadian yang sama yang pernah kualami kira-kira dua puluh tahun yang lalu, ketika aku dan keluarga masih tinggal di Surabaya. Aku terjebak di dalam lift sebuah bank bersama beberapa orang sekitar 15 menit. Lima belas menit memang bukan waktu yang lama. Tetapi 15 menit di dalam sebuah ruangan tertutup yang sempit bersama beberapa orang, serasa bagai siksaan yang berlangsung berjam-jam!
Pagi itu aku pergi ke sebuah bank pemerintah di jalan Rajawali, Surabaya. Setelah memarkirkan kendaraan di basement bank tersebut, aku naik lift menuju ke lantai satu, bersamaku waktu itu ada empat orang. Tetapi baru saja lift bergerak, tiba-tiba lift berhenti dan lampu di dalam lift mati. Suasana dalam lift menjadi remang-remang karena hanya diterangi oleh sebuah lampu emergency kecil. Kami menunggu sampai listrik dari genset dinyalakan dan lift akan bergerak lagi.
Setelah satu menit berlalu dan tidak ada tanda-tanda listrik akan menyala, aku coba menekan tombol emergency yang ada di dalam lift untuk memberitahukan petugas atau orang di luar bahwa kami terjebak di dalam lift. Lama kami tidak mendapat jawaban dari luar. Setelah mencoba sampai satu menit berikutnya baru kami mendapat respon. Dari suara yang keluar dari speaker yang ada di dalam lift kami diminta sabar, kami diberi tahu bahwa listrik mati dan masih ada masalah dengan genset.
Menunggu di menit-menit berikut membuat kami makin gelisah. Udara dalam ruangan mulai terasa panas, dan kami mulai berkeringat. Tentu persediaan oksigen dalam ruangan juga makin menipis karena dihirup beramai-ramai oleh lima orang. Sedangkan karbondioksida secara perlahan tapi pasti akan memenuhi ruangan dalam lift ini, dan membuat udara makin panas. Satu jam dalam ruangan ini pasti dapat membuat kami semua mati lemas.
Mendekati menit kesepuluh kami mulai merasa panik. Kami takut orang-orang di luar sudah melupakan kami yang terjebak di dalam lift, karena kami tidak mendengar ada tanda-tanda atau suara-suara dari luar kalau ada orang yang sedang menolong kami. Seorang bapak yang sudah tidak sabar dan kelihatan panik menekan tombol emergency lagi, dan kembali kami disuruh sabar menunggu. Ketika kami sampaikan kondisi kami di dalam lift, kami dijanjikan bahwa genset sebentar lagi akan selesai diperbaiki.
Menunggu lagi sampai tiga menit berikutnya saat pintu lift terbuka sangatlah menyiksa kami. Selain didera rasa ketidakpastian, kami makin lemas dan sesak napas. Napas kami makin cepat dan tak teratur, serta badan sudah basah oleh keringat. Ketika listrik dari genset menyala dan kami keluar dari lift, tidak ada seorang pun dari pihak bank yang menyambut kami, apalagi meminta maaf atas ketidaknyamanan yang kami alami tadi. Semua seperti biasa-biasa saja, semua seperti tidak tahu(-menahu) ...

1 komentar:
Hmmm...pengalaman mendebarkan....
Mending naik tangga aja ya pak Anton....selain anti macet plus sehat lagi...ingat 10.000 langkah setiap hari...!
Posting Komentar