03 Januari 2009

13 Enaknya Jadi Bawahan


Aku tertarik dengan sebuah e-mail lama yang ada di inbox-ku yang berasal dari keponakanku, Angela Luisa Selvy, tertanggal 26 Maret 2002, mengenai 13 Enaknya Jadi Bawahan. Isinya memang ada benarnya sih. Tetapi satu hal jangan dilupakan bahwa nasib kita sepenuhnya ada di tangan bos kita, jadi biar posisi kita enak, kita juga tidak aman. Lihat saja apa yang sedang terjadi di dunia sekarang ini, dimana-mana ramai terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), padahal negara kita dan negara-negara lainnya hanya terkena imbas dari resesi ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat saat ini.

Ini dia, 13 Enaknya Jadi Bawahan. Komentarku dalam cetak miring, bukan asli dari e-mail Selvy.
  1. Tidak diminta teladan, karena teladan datangnya dari atasan.

    Setahuku memang begitu. Biar bawahannya rajin dan masuk kerja tepat waktu, tapi bosnya tetap datang siang. Ngga ngaruh tuh!

  2. Tidak perlu malu ke kantor naik bus kota.

    Tidak mungkin bos kita mau pakai bus kota, apalagi naik ojek waktu hujan jalanan becek. Kan dia sudah punya mobil!

  3. Tidak pusing mikirin gaji atasan.

    Bawahan biasanya cuma iri dengan gaji bosnya. Bos kelihatan santai-santai saja, tapi dibayar mahal, padahal semua pekerjaannya diselesaikan oleh bawahannya.

  4. Jarang kena gosip ada main dengan sekretaris pribadi.

    Memang sih yang sering kena gosip pasti bos dan sekretarisnya.

  5. Jarang ditelepon istri.

    Ditelepon hanya jika duit belanja habis.

  6. Gajinya sudah jelas, jadi gampang mengaturnya.

    Kadang pusing juga. Syukur-syukur habis bulan habis gaji. Tapi yang sering terjadi, belum habis bulan, gaji sudah habis duluan!

  7. Sewaktu-waktu bisa mendemo bosnya. Sampai saat ini, belum ada bos mendemo bawahan.

    Ya, iyalah... Karena bawahan ada Serikat Pekerjanya, sedangkan bos tidak punya Serikat Pemimpin Perusahaan.

  8. Waktu kerjanya jelas. Kalau kelebihan dianggap lembur.

    Kadang uang lembur juga tidak dibayar. Sementara istri di rumah mengira kita dapat uang lembur.

  9. Bisa menggosipi bosnya.

    Sebenarnya bos juga bisa menggosipi bawahannya, kalau mau. Dia hanya malu dicap tukang gosip.

  10. Bisa berharap suatu hari naik pangkat menjadi atasan. Namun bagi atasan, mimpi pun tidak berani untuk menjadi bawahan.

    He he he... Itu mah mimpi buruk!

  11. Nasib bawahan selalu menjadi perhatian pemerintah. Kalau bos belum pernah kan disinggung-singgung mengenai UMR-nya?

    Mestinya gaji para bos juga diatur dalam UMR, yaitu Upah Maksimum Regional! Jadi bos tidak seenaknya menentukan gajinya sendiri.

  12. Biasanya tahu skandal bosnya, tapi ngga berani ngomong. Sementara sang bos jarang yang tahu kisah asmara bawahannya.

    Berani ngomong, You're fired!

  13. Pokoknya, selama tidak ngomongin mobil mewah, rumah mewah, kolusi, surat sakti, dan penggelapan pajak, jadi bawahan ada enaknya.

    Ngga ikutan, ah! Takut diciduk KPK.

Wakkakakaaaak...


Tidak ada komentar:

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.