Hidup sederhana, dengan pembawaan yang selalu tenang dan santai, itulah profil Om Hartono, adik mamaku. Tinggal di sebuah desa kecil bernama Desa Sumberayu (Sumberberas), di Kecamatan Muncar, Banyuwangi; om benar-benar menikmati hidupnya di desa, tak sedikitpun tersirat keinginannya untuk hijrah ke kota, meninggalkan desa kelahirannya. Entah kenapa, aku selalu berkata pada diriku kalau aku seharusnya menjalani hidup seperti Om Hartono...
Bila aku berkunjung ke rumah om, om sering terlihat duduk di beranda warungnya. Santai, nyaman, tak ada desakan atau tekanan, serta tak ada kesibukan yang menggila seperti orang-orang kota. Om menjalani hidup apa adanya, tidak muluk-muluk, tanpa obsesi besar; lebih tepatnya om menikmati hidup yang mengalir bagai air. Dari beranda warung om dapat memandang hamparan sawah di depannya yang hijau atau yang sedang menguning, serta sesekali menyapa teman-temannya yang kebetulan lewat. Om punya warung yang letaknya persis di sebelah rumah. Warung itu menjual berbagai kebutuhan pokok, seperti: beras, gabah, jagung, kedelai, gula, teh, kopi, odol, permen, mi instan, dan sebagainya.
Inilah kehidupan sederhana yang kurindukan dan kuimpikan. Jauh dari tuntutan dan tekanan hidup. Kalau aku diberi pilihan lagi, aku ingin menjalani kehidupan sederhana seperti Om Hartono dan Tante Samini, istri om. Atau menjadi seorang nelayan yang hidup di tepi pantai. Apa aku tidak berbahagia dengan kehidupan sekarang sampai aku mengimpikan sebuah kehidupan yang berbeda? Aku pikir Om Hartono adalah manusia yang paling berbahagia di dunia, karena Om Hartono dapat menjalani hidup seperti apa yang diinginkannya.
Kamis kemarin, 8 Januari 2009, aku bertemu dengan Tante Indriati dan Tante Samini. Mereka berdua datang ke Jakarta dan tinggal di rumah adik sepupuku, Christanty, di Bintaro. Mereka berdua sudah tiba di Jakarta sehari sebelumnya. Aku senang banget bisa bertemu dengan mereka berdua, dan kami ngobrol lama di rumah Christanty, kemudian berlanjut ke kolam renang karena Chris dan anak-anaknya mengikuti kursus renang di Damai Indah Golf, BSD City. Di kantin yang letaknya di samping kolam renang, aku menunjukkan tulisanku tentang diri Tante Indriati di blog ini.
Dalam obrolan kami kemarin aku juga menyampaikan kehidupan sederhana yang kuimpikan itu. Oleh Chris aku disuruh pindah saja ke Desa Sumberayu, dan meneruskan hobiku menulis di sana. "Mungkin suatu hari," aku mengamini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar