23 Januari 2009

Pencuri di Bus Malam Eksekutif


Setelah permisi dengan orang yang duduk di sebelahku, aku berjalan melewati lorong bus yang gelap, aku berusaha mendekati sopir bus, dan kemudian berkata padanya, "Pak, tolong arahkan bus ini ke kantor polisi, barang bawaanku ada yang hilang di dalam bus." Sopir bus tersebut kaget, tapi dia tetap tenang dan berkata, "Baik, Pak. Di depan sebelum masuk kota Gresik ada kantor polisi. Kita ke sana, sebelum ada satu orang pun yang turun."

Peristiwa itu terjadi ketika aku dalam perjalanan pulang dari Cirebon menuju Surabaya pada bulan Mei 1992. Kepergianku ke Cirebon waktu itu dalam rangka orientasi kerja selama satu bulan, sebelum aku memboyong istri dan anak-anakku untuk pindah ke Cirebon. Aku balik ke Surabaya naik bus COYO, sebuah bus malam eksekutif. Perjalanan dengan bus malam COYO ini sangat nyaman, karena ruangnya ber-AC, reclining seat, dan ada hiburan berupa video atau siaran televisi. Ini kali ketiga aku naik bus COYO.

Sore hari sebelum keberangkatanku, kakak iparku yang di Cirebon menitipkan dua buah amplop padaku yang masing-masing berisi uang Rp 400.000,- dan Rp 350,000,- Di dalam amplop yang berisi uang Rp 350.000,- ada sebuah cincin bermata batu Safir. Semua amplop itu dititipkan padaku untuk diserahkan pada kakak iparku yang lain yang tinggal di Surabaya. Total uang Rp 750.000 saat itu (sebelum krisis moneter, 1 USD = Rp 2.020,-), mungkin saat ini bernilai sekitar Rp 5.000.000,- Barang titipan tersebut aku masukkan ke dalam ransel parasit yang kubawa. Ransel itu memiliki sebuah kantong rahasia, jadi barang titipan itu kusimpan di sana. Aku dapat meraba cincin itu dari luar karena ransel itu tipis terbuat dari bahan parasit.

Duduk di sebelahku seorang bapak yang mengaku seorang polisi kehutanan yang berdinas di suatu daerah di Jawa Timur. Sekali-sekali kami terlibat dalam percakapan. Sekitar pukul 9.00 malam kami tiba di rumah makan Sendang Wungu di daerah Gringsing, Jawa Tengah. Kami turun untuk makan malam. Memang harga tiket yang kita bayar sudah termasuk makan malam. Makanan yang disajikan di sini lumayan enak.

Selesai makan dan buang air kecil di toilet RM Sendang Wungu, aku masuk ke dalam bus. Di dalam bus sudah ada beberapa orang. Tak lama kemudian kenalan yang duduk di sebelahku itu masuk dan menghampiri tempat duduknya. "Saya kok tidak melihat bapak makan?" aku bertanya padanya. Dia menjawab, "Saya masih kenyang, karena sebelum berangkat tadi saya sudah makan duluan. Saya hanya merokok saja di luar."

Bus melanjutkan perjalanan dan tak lama kemudian aku pun terlelap. Setelah beberapa jam perjalanan, aku terbangun ketika bus sudah di daerah Tuban. Aku tertidur lagi, dan kemudian terbangun lagi ketika bus melewati kota Lamongan. Aku meraih tasku yang kutaruh di bawah tempat dudukku, namun aku kaget ketika kuraba daerah kantong rahasia di ranselku, aku tidak merasakan cincin titipan itu ada di sana. Kemudian aku buka ranselku, dan aku hanya menemukan sebuah amplop saja. Sedangkan amplop satunya yang berisi cincin dan uang sejumlah Rp 350.000,- tidak ada, alias hilang.

Tentu saat itu aku pucat-pasi, karena barang titipan saudara iparku itu hilang. Namun aku juga sedikit bersyukur karena amplop satunya tidak ikut raib. Selang beberapa waktu aku bingung harus bagaimana. Aku tambah bingung lagi ketika ada orang yang duduk di depan berkata kepada sopir bahwa mereka turun di Gresik. Gresik tidak jauh lagi, mungkin tinggal 15 menit perjalanan. Aku pikir bila sudah ada yang turun, pasti makin sulit urusannya, dan mungkin barang tersebut tidak bisa diketemukan lagi.

Akhirnya ada keberanian muncul dalam diriku. Aku permisi dengan kenalan yang duduk di sebelahku, dan dia bertanya ada apa. Aku bilang kalau barangku ada yang hilang, dan aku mau lapor ke polisi. Kemudian, seperti di awal ceritaku, aku meminta sopir mengarahkan bus ke kantor polisi. Tak lama setelah itu bus pun masuk ke halaman kantor polisi. Aku ditemani sopir kemudian melapor ke beberapa polisi yang sedang jaga.

Aku ditanyai polisi mengenai barang yang hilang tersebut dan siapa yang kira-kira aku curigai. Mengenai orang yang kucurigai susah untuk aku jawab. Mungkin orang di sebelahku, karena dia mungkin sempat melihat dan membaca gerak-gerikku yang sering memegang ransel bawaanku. Tetapi mungkin juga bukan dia. Seharusnya sewaktu di Sendang Wungu tadi semua penumpang harus turun, tidak boleh ada yang tinggal di dalam bus, seperti pengalamanku naik COYO terdahulu.

Polisi kemudian menyuruh semua penumpang keluar dari bus tanpa boleh membawa satu barang pun. Beberapa polisi langsung memeriksa para penumpang, terlihat polisi hanya fokus pada orang-orang yang tinggal di dalam bus sewaktu kami turun makan di Sendang Wungu tadi. Sementara itu beberapa polisi lain masuk ke dalam bus untuk memeriksa isi bus dan barang bawaan penumpang.

Kira-kira setengah jam kemudian aku dipanggil masuk ke ruang kepala polisi. Ternyata polisi telah berhasil menemukan amplop yang hilang tersebut. Aku kemudian disuruh memeriksa isinya. Tidak ada yang kurang, baik cincin maupun uangnya. Menurut polisi amplop tersebut diketemukan di bawah tempat duduk sepasang suami-istri dan bayi mereka. Tapi menurut kepala polisi sepertinya bukan mereka yang mencuri, tapi pencuri sesungguhnya mungkin ketakutan dan melempar hasil curiannya di bawah tempat duduk mereka karena tahu mereka juga tidak turun makan sewaktu di Sendang Wungu.

Aku dapat memahami kemarahan suami-istri itu padaku, karena mereka telah menjadi fokus pemeriksaan polisi sewaktu di kantor polisi tadi, apalagi barang tersebut diketemukan di bawah kursi mereka. Walau aku sudah meminta maaf, tapi sampai mereka turun di Gresik pun mereka masih tetap marah padaku. Tuhan, ampunilah aku, bukan kesengajaanku melukai hati mereka.


Tidak ada komentar:

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.