Seorang gadis berusia 20-an menemui dr. Tomi, seorang pakar kejiwaan.
"Dokter, saya merasa amat marah pada pacar saya sehingga saya memanggilnya lelaki bangsat. Ada kalanya saya rasa saya keterlaluan, tapi ada kalanya juga saya rasa saya memang patut memanggilnya seperti itu."
"Hmm.. panggilan itu memang hinaan yang agak melampaui batas untuk seseorang, tapi mungkin kamu punya alasan tersendiri sehingga kamu memanggilnya demikian. Ceritakanlah kepada saya agar saya dapat membantu."
"Ya, memang ada. Pada suatu malam kami berduaan dalam mobil di tepi pantai. Dia pegang tangan saya."
"Dia pegang tangan kamu seperti ini?" dr. Tomi memberi contoh.
"Ya. seperti yang dokter lakukan."
"Kalau hanya ini, tidak sepatutnya dia dipanggil bangsat dong. Itu tandanya dia tidak mau berpisah dengan kamu."
"Kemudian dia merapatkan badannya pada saya dan memeluk bahu saya."
"Dia lakukan seperti inikah?"
"Ya, seperti inilah dia peluk saya, dokter."
"Itu bukan bangsat, itu tandanya dia mau senantiasa berdampingan dengan kamu," kata dr. Tomi.
"Kemudian dia mencium saya..."
"Dia mencium kamu seperti ini?"
"Ya. Ciumannya sama seperti yang dokter lakukan."
"Kalau sekadar ciuman seperti ini, masih belum boleh dipanggil bangsat dong, itu tandanya dia sayang kamu, toh?"
"Kemudian dia memasukkan tangannya ke dalam baju saya dan meraba-raba buah dada saya, dokter."
"Apa dia melakukannya seperti ini?"
"Ya, seperti yang dokter lakukan, seperti inilah cara dia memperlakukan saya."
"Itu bukan bangsat, itu tandanya dia mau membelai dirimu."
"Kemudian dia menanggalkan semua pakaian saya satu persatu."
"Apakah kamu menolak tindakannya?"
"Tidak, saya merelakannya sebab saya sangat sayang padanya."
"Dia tanggalkan pakaian kamu seperti ini?"
"Ya, sampai saya telanjang bulat seperti ini, dokter."
"Itu masih belum layak dipanggil bangsat, karena dia sebetulnya ingin mengenali diri kamu seutuhnya."
"Kemudian dia mencumbui saya lalu melakukan hubungan seksual dengan saya, Dok."
"Dia melakukan seperti yang kita lakukan inikah?"
"Ya, memang begitulah yang dia lakukan ketika itu."
"Hmm, itu juga masih belum boleh dipanggil bangsat. Itu tandanya dia memerlukan kamu dong!"
"Tapi, kemudian dia memberitahu saya bahwa dia sebenarnya mengidap AIDS."
"HAH?? BRENGSEK!! DIA MEMANG BANGSAT!! BANGSAAATTT!!!! LELAKI BAAANGSAAAAAAAATTTTTT...!!!!!!"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar