Kisahku di Pulau Bunyu belumlah lengkap bila aku tidak menceritakan tentang alasan pengunduran diriku dari CV Bunyu Jaya, tempatku bekerja. Secara efektif aku hanya bekerja selama empat bulan di Pulau Bunyu, sebuah pulau yang sangat menyenangkan, hingga bertahun-tahun kemudian masih sering mampir dalam mimpi-mimpiku. Pulau yang memiliki aroma udara yang khas, seperti halnya Murung Pudak di Kalimantan Selatan, keduanya merupakan area eksplorasi dan produksi milik Pertamina.
Saat itu merupakan tahap finishing akhir Kantor Besar Pertamina yang kami bangun. Kelompok tukang batu yang dipimpin oleh Gito akan segera mengakhiri pekerjaan mereka di sana, sebagian besar anak buahnya waktu itu sudah bekerja di proyek lain. Pekerjaan terakhir yang harus mereka lakukan di Kantor Besar Pertamina adalah menutup bak-bak penampungan air yang terletak di halaman depan kantor tersebut. Total ada tiga bak penampungan air; dua masing-masing letaknya di ujung kanan dan kiri kantor, sedangkan satu bak lagi letaknya di tengah, dekat pintu utama.
Hari itu aku mendengar sebuah pertengkaran, aku mendekati, dan ternyata Gito sedang bertengkar dengan tukang poles lantai. Aku coba mengetahui permasalahan mereka, ternyata tukang poles tidak setuju dengan penutupan bak-bak penampungan air tersebut karena pekerjaannya yang memoles lantai memerlukan air. Hal itu dapat dimengerti oleh Gito, makanya Gito berniat menutup dua bak penampungan air dan menyisakan satu untuk keperluan memoles lantai, atau keperluan lainnya. Sedangkan tukang poles maunya semua bak tidak ditutup dulu karena akan merepotkannya mengambil air.
Bagi Gito alasan tukang poles itu mengada-ada, karena sejauh apa sih letak bak penampungan air itu kalau yang dua ditutup dan menyisakan satu yang ada di tengah, dan bagi Gito itu adalah bagian dari kontrak kerjanya yang sudah selesai. Kemudian aku, sebagai salah seorang pengawas, menyampaikan pendapatku bahwa kerja Gito sudah benar, dia harus menutup dua bak tersebut dan menyisakan satu bak; dan tukang poles boleh memilih bak mana yang tetap dibuka. Ternyata pendapatku ini makin membuat tukang poles naik pitam, dia menuduhku membela Gito, si tukang batu.
Tukang poles mengancam akan membunuhku dan Gito. Seketika dia berbalik ke pondoknya yang ada di belakang kantor besar tersebut, kemudian dia keluar lagi dengan membawa badik dan mengejar aku dan Gito, sambil berteriak-teriak hendak membunuh kami berdua. Tentu saja aku dan Gito lari tunggang-langgang menghindari tukang poles yang kalap itu. Untung keributan ini didengar oleh kepala tukang kayu dan beberapa anak buahnya, hingga kegilaan tukang poles itu dapat dihentikan.
Aku kembali ke mess, aku masih tidak menemukan kedua rekan kerjaku, yaitu si Pe'ang dan Koci. Sudah dua hari aku tidak bertemu dengan mereka. Sebenarnya aku mau melaporkan kejadian ini kepada mereka, terutama pada si Pe'ang yang merupakan pengawas utama pembangunan gedung Pertamina itu, sedangkan aku adalah pengawas material. Sampai menjelang malam pun mereka belum kembali. Aku keluar untuk makan malam.
Aku mampir ke kos Ismail, dan beruntung Ismail ada di tempat kosnya. Aku menceritakan kejadian yang kualami sore tadi kepada Ismail, dan meminta Ismail mengantarku ke dermaga besok pagi untuk kembali ke Tarakan. Aku bilang ke Ismail mengenai rencanaku untuk berhenti bekerja dan melaporkan kejadian ini kepada Pak Budi, bosku. Aku bukan takut dengan ancaman si tukang poles itu, tapi kejadian ini akan memukul kedua rekanku yang sering mangkir kerja. Mereka senior dan aku yunior yang baru lulus SMA, lebih baik aku yang mengalah. Aku dapat merasakan kesedihan Ismail.
Seperti yang bisa kuduga, Pak Budi marah besar ketika mengetahui kejadian itu dan berencana memecat kedua rekan kerjaku tersebut. Pak Budi juga membujukku untuk tetap bekerja dengannya. Ini posisi yang sangat dilematis buatku. Karena baik Pe'ang, Koci dan Pak Budi, ketiganya adalah sahabat karibnya om-ku. Aku tidak mau masalah ini kemudian merusak persahabatan mereka. Aku berharap setelah kejadian ini Pe'ang dan Koci bisa memperbaiki diri dan bekerja dengan lebih baik, dan aku juga tidak mau terus bekerja dan kemudian menjadi "baby sitter" bosku untuk mengawasi tingkah-laku mereka berdua, bila mereka diperbolehkan terus bekerja.
Sekilas alasan pengunduran diriku itu merupakan alasan yang dangkal. Tetapi, tentu aku punya beberapa alasan lain lagi yang menguatkan niatku untuk berhenti dari pekerjaan itu.

3 komentar:
iya. dilematis banget. Salam kenal dari orang kandangan (kalimantan Selatan)
Halo, wal. Salam kenal juga. Makasih lah sudah mampir di blogku. Aku sudah lawas kada mampir di Kandangan merasakan nyamannya Ketupat Kandangan. He he..
bunyu island
Posting Komentar