Awal Juni 2005, aku dan keluarga pindah ke rumah kontrakan baru di jalan Gunung Penamparan (kemudian berganti nama menjadi jalan Gunung Anda Kasa), Denpasar. Walau rumah ini lebih kecil namun suasananya lebih nyaman, dan kami memang tidak membutuhkan rumah yang besar karena anak sulung kami, Vincent, saat itu sudah kost dan kuliah di Universitas Surabaya (Ubaya) di Surabaya. Otomatis keseharian kami hanya bertiga: aku, istriku, dan anak kami yang bungsu, Michael.
Pindah rumah bukan suatu hal yang enak, sebaliknya bikin stress. Rumah terdahulu yang di jalan Buana Luhur, Denpasar, sudah kami tempati selama enam tahun, cukup membosankan juga. Tetapi mengingat suasana baru yang akan kami alami, kami jadi bersemangat untuk pindah.
Bersyukur sekali kami mendapatkan tetangga yang baik, seperti keluarga Pak Kartika yang tinggal di sebelah rumah, keluarga Pak Wayan dan Pak Rio Permana yang tinggal di seberang rumah, dan keluarga lainnya. Walau rumah kami kecil dan mudah untuk merawatnya, tetapi halaman yang mengelilingi rumah cukup merepotkan karena ditumbuhi beberapa pohon yang daunnya mudah rontok, dan rerumputan yang cepat sekali tumbuhnya. Akhirnya kami harus menyewa orang yang khusus datang untuk memotong dan membersihkan halaman kami secara rutin.
Walau rumah baru ini sangat nyaman dan asri, namun aku merasakan ada sesuatu yang aneh dengan rumah itu. Aku sering tidak dapat menemukan barang-barangku di tempat biasanya aku menaruh barang-barang tersebut, seperti: buku, kunci, tas kerja, dan lainnya. Aku merasa barang-barangku sering berpindah tempat. Aku pun menyampaikan hal yang aneh ini kepada istriku, baik istriku dan anakku mengaku tidak pernah memindahkan barang-barangku.
Hal yang teraneh kemudian terjadi, kali ini terjadi dengan handphone-ku. Suatu pagi aku terbangun karena mendengar suara alarm handphone-ku berbunyi. Aku biarkan saja handphone itu berbunyi sampai ia mati sendiri, sementara aku masih bermalas-malasan di atas ranjang. Kira-kira 10 menit kemudian aku bangun dan mencari handphone-ku namun tidak ketemu. Aku ingat semalam handphone itu aku letakkan di bawah bantalku, di tengah ranjang, bukan di sisi luar. Aku mencari-cari di bawah bantal dan selimut hingga seluruh sudut ranjang tetap saja tidak ketemu.
Aku terus mencari di lantai sekeliling ranjang, rak buku, lemari pakaian, di dalam tas kerjaku, tidak juga ketemu. Aku yakin handphone itu ada di dalam kamar karena tadi aku masih mendengar bunyi alarm yang berasal dari handphone-ku. Akhirnya aku menelepon ke handphone-ku dengan memakai telepon rumah. Terdengar bunyi ringtone yang berasal dari handphone-ku, suaranya kecil sesuai dengan setting profile yang kuatur untuk tidur malam. Walau terdengar bunyinya tetapi aku tidak tahu asal bunyi itu, sepertinya berasal dari mana saja.
Setelah cukup lama mencarinya dalam kebingungan, akhirnya aku menemukan handphone itu di bawah ranjang, persis di tengah-tengah bagian kepala ranjang. Istriku bilang mungkin semalam jatuh ke bawah dari sela antara ranjang dan kepala ranjang (headboard). Menurutku hal itu tidak mungkin karena antara ranjang dan kepada ranjang sangat rapat. Walau dengan sengaja kita memasukkan handphone ke sela itu, handphone tidak akan jatuh, tetapi terjepit. Aku kemudian coba membuktikannya, dan benar handphone hanya terjepit, tidak mungkin jatuh ke bawah. Selain itu tidak ada goresan atau penyok pada handphone itu sebagai akibat terjatuh.
Kami kemudian mengundang Romo (Pastur) untuk mengadakan Misa pemberkatan rumah, dan sejak itu gangguan dari "penghuni rumah yang nakal" tidak ada lagi. Kami senang tinggal di rumah itu, apalagi di dekat rumah ada yang menjual bakso sapi yang sangat enak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar