Tahun baru 2009 hampir menjelang. Tinggal menghitung hari atau istilah kerennya count down. Yuuk, sebentar kita menoleh ke belakang. Coba kamu ingat-ingat apa saja yang kamu kerjakan pada tanggal 8 Agustus 2008 yang lalu? Mungkin nonton pembukaan Olimpiade Beijing di televisi? Atau ada peristiwa khusus yang kamu alami pada tanggal tersebut? Perkawinan? Ulang tahun? Ataukah sebuah kejadian buruk? Bagaimanapun banyak orang percaya bahwa angka delapan itu membawa hoki, apalagi delapannya ada tiga, yaitu 08-08-08, lebih-lebih lagi kalau jamnya juga pas 08:08:08. Angka 8 juga merupakan simbol tak terhingga.
Aku pasti tidak akan melupakan hari itu, karena pada hari itu aku dan adikku, Albert, melakukan perjalanan ke Bontang. Ini pertama kalinya aku ke Bontang! Maklum, setelah lulus SMA aku sudah merantau, jadi aku belum sempat menengok Kota Bontang, walau dari dulu aku sudah punya keinginan ke sana. Lagian dulu jalannya mungkin tidak sebagus sekarang. Bagi Albert perjalanan denganku itu adalah yang ketiga kalinya.
Perjalanan kami ke Bontang itu juga dalam rangka melakukan test terhadap Booster Hydrogen, sebuah alat penghemat bahan bakar yang menggunakan media air, yang diciptakan oleh Bapak Joko Sutrisno yang asal Yogyakarta. Kami berdua berangkat dari rumah jam 08 pagi dengan menggunakan Suzuki Jimny, dan dengan lebih dahulu mengisi bensin di SPBU di jalan Ahmad Yani (dulu, jalan Pemuda). Aku sangat bergairah untuk menikmati perjalanan ini.
Ketika kami tiba di Sungai Siring, Albert membelokkan mobil masuk ke tempat peristirahatan Kenari. Kami beristirahat di sini sambil mengecek kondisi booster yang kami pasang di mesin mobil. Kemudian kami minum kopi dan kelapa muda, serta makan jagung rebus yang hangat di sana. Wah, hebat juga tempat ini. Pemandangan di belakang lokasi ini juga indah dan asri. Setengah jam kemudian kami melanjutkan perjalanan kami ke Bontang.
Diperjalanan menuju Bontang aku mendapat SMS dari seorang rekan kerjaku dulu di Bali, Ni Made Yuliartini. Yuli mengabarkan bahwa seorang sahabat dan mantan atasan kami yang bernama Yolinda Desiree Sahelangi telah meninggal dunia semalam jam 19.00 WIB di RS Glenn Eagles Siloam, Lippo Karawaci. Bu Yolinda ikut dengan rombongan kami sewaktu perusahaan kami mengadakan acara ulang tahun kedua dengan Bounty Cruise ke Nusa Lembongan. Selamat jalan Bu Yolinda, beristirahatlah dengan tenang di sisi Tuhan.
Jarak Samarinda - Bontang lebih-kurang 130 Km. Kami sampai di Bontang kira-kira jam 10.30 dan Albert langsung mengarahkan mobil ke arah Bontang Kuala. Suasana kota di Bontang sih biasa-biasa saja, seperti suasana banyak kota yang pernah aku singgahi. Tetapi apa yang aku lihat di Bontang Kuala memang unik dan menarik sekali. Perkampungan di sini didirikan di atas permukaan laut (tepi laut). Ini mengingatkan aku dengan perkampungan yang ada di Pandansari, Balikpapan, jaman aku masih kecil dulu. Tetapi apa yang ada di Bontang Kuala jauh lebih teratur dan tertata rapi.
Memasuki perkampungan ini kita harus berjalan kaki, mobil harus ditinggal di tempat parkir yang sudah disediakan. Hanya sepeda motor yang diperbolehkan masuk. Semua jalan di dalam perkampungan ini dibangun di atas permukaan laut dengan menggunakan kayu Ulin, demikian pula perumahan yang ada di sana keseluruhan rangka yang menyangga bangunannya terbuat dari kayu Ulin. Aku dan Albert kemudian makan siang di Cafe Kapal Bontang Kuala. Bangunan cafe ini memang unik menyerupai kapal, dan letaknya di ujung perkampungan itu.
Aku tidak dapat menceritakan keindahan Bontang Kuala dengan kata-kata lebih detil, mungkin foto-foto yang kumuat di bawah ini dapat bercerita lebih banyak. Beberapa foto mengenai Bontang Kuala juga aku pajang di Galeri Foto. Hayu, kita berkunjung ke Bontang Kuala. Dan selamat menyongsong tahun baru 2009.





1 komentar:
Benar tuh, gue lagi nonton Olimpiade Beijing..
Posting Komentar