Pukul 1 siang ini rencananya keponakanku Daniella akan menjalani operasi amandel di RS St. Vincentius a Paolo (RKZ), Surabaya. Semalam aku mendapat kabar itu dari adikku, Tere. Daniella sekarang baru berumur lima setengah tahun. Ingat operasi amandel yang akan dijalani Daniella, aku jadi ingat operasi yang sama yang pernah kujalani pada tahun 1974, saat itu aku berusia 12 tahun.
Semenjak tinggal di ruko kami di jalan Pelabuhan, Samarinda (1972), aku sering mengalami pendarahan di hidung atau mimisan, dalam Bahasa Jawa. Kadang-kadang tanpa sebab yang jelas. Cuaca panas merupakan salah satu faktor yang membuat aku mengalami mimisan. Dokter yang menanganiku saat itu, dr. Waluyanto, juga bingung dengan kondisiku, karena frekwensi mimisanku dianggap makin tidak wajar. Selama itu aku didiagnosa hanya sakit amandel yang kronis. Akhirnya dokter menyarankan orang tuaku untuk membawaku berobat ke dokter spesialis di Surabaya.
Setahun setelah mengalami kebakaran besar di jalan Pelabuhan (1973) dan kami mengungsi di rumah kenalan papa di jalan Dermaga Gang Beringin, papa membawa aku ke Surabaya untuk berobat ke seorang dokter spesialis yang ternama waktu itu, dokter Zaman (alm). Dari hasil pemeriksaan yang intensif, dokter Zaman menyimpulkan bahwa aku harus dioperasi, karena amandelku sebenarnya sudah mati dan yang tampak sekarang bukan amandel, tetapi tumor.
Akhirnya aku menjalani operasi pengangkatan amandel dan tumor di Surabaya, di RS St. Vincentius a Paolo (RKZ), tempat Daniella akan menjalani operasinya siang ini. Aku ingat beberapa teman papa coba menakut-nakuti aku, mereka bilang setelah aku dibius kepalaku akan dipisahkan dari tubuhku dengan gergaji kemudian amandelku diambil dari bawah kepalaku. Waktu itu aku tidak merasa takut sedikitpun, aku tahu mereka bergurau.
Sewaktu di ruang operasi aku sempat melihat peralatan yang akan dipakai dokter untuk mengoperasiku. Hm, tidak ada gergaji, jadi benar mereka bohong. Lucunya, sewaktu dibius aku coba untuk menahan napas dan pura-pura tertidur. Eh, ternyata aku tertidur beneran, dan bermimpi sepertinya aku berada di dalam sebuah lukisan hidup yang dibuat anak-anak, ada matahari terbit, gunung dan ayam jantan yang sedang berkokok. Aku kemudian dibangunkan ketika operasi telah selesai. Aku tidak boleh makan dan minum sebelum aku bisa kentut. Beberapa hari kemudian aku pun boleh pulang dengan membawa oleh-oleh tumor dan amandelku yang telah diawetkan dalam sebuah stoples kecil.
Semoga operasi Daniella berjalan sukses, dan lekas sembuh. Tuhan menjaga dan memberkati Daniella. Amin.

2 komentar:
Terima kasih my Bro...
Puji Tuhan, operasi adenoid dan amandel Daniella berjalan dengan sangat baik. Operasi berjalan mungkin tidak sampai satu jam, karena saya dipanggil dokter sekitar satu jam setelah Daniella di bius total. Dokter-pun menunjukkan adenoid dan amandel Daniella yang dimasukkan ke dalam toples kecil. Tidak sampai satu jam, Daniella pulih dari bius, dia bangun sambil sebentar-bentar tertidur, mungkin karena masih ada pengaruh obat bius. Semua ini karena penyertaan Tuhan, sehingga Daniella sama sekali tidak rewel atau mengeluh kesakitan. Malah, dia senang banget karena sering disuguhi ice cream vanilla dan air es, he.he.he. Praise the Lord!
hm, artikel yang bagus neh
thanks dah sharing
Posting Komentar