Aku dan istriku pasti tidak akan melupakan tahun itu, tahun dimana Jembatan Mahakam diresmikan oleh Presiden Soeharto, yaitu tahun 1986. Karena tahun itu adalah tahun pernikahan kami.
Saat itu sebetulnya aku dan istriku sudah tinggal di Surabaya, kami sama-sama kos dan bekerja. Aku kerja di sebuah perusahaan pelayaran dan dia bekerja di sebuah department store yang cukup terkenal di Surabaya waktu itu. Letak kos kami juga berdekatan, masih dalam satu kelurahan di daerah Kedung Anyar, Surabaya. Kami berdua terpaksa pulang ke Samarinda untuk mengurus surat nikah di catatan sipil. Saat itu sekitar Agustus 1986.
Keberadaan kami di Samarinda kemudian molor hingga dua minggu lamanya, akibat terbentur peresmian Jembatan Mahakam yang dilakukan oleh Presiden Soeharto. Padahal rencana awal kami hanya pulang beberapa hari saja. Entah kenapa pengurusan surat nikah kemudian ikut molor dengan adanya peresmian Jembatan Mahakam tersebut. Apa semua pegawai negeri disibukkan oleh kedatangan Presiden Soeharto?
Tentu hal ini menimbulkan pertanyaan dari perusahaan tempat kami bekerja. Mereka mengira aku dan istriku sudah tidak ingin bekerja lagi. Walau aku dan istriku sudah menyurati perusahaan, tetapi dengan ketiada-pastian waktu, membuat kami bingung kapan kami bisa kembali ke Surabaya. Sampai-sampai pada suatu hari aku ditelepon oleh bosku, Pak Suminto, dari Surabaya, yang menanyakan apa aku masih berniat kerja atau tidak. Waktu itu Pak Minto menelepon ke toko saudara perempuannya yang tak jauh dari rumahku, untuk dapat bicara denganku, karena di rumahku tidak ada telepon.
Akhirnya kami tertahan di Samarinda sampai dua minggu. Kembali ke Surabaya aku harus bercerita banyak kepada pemimpin perusahaanku, sebagai alasan agar aku tidak dipecat. Tetapi waktu itu aku juga siap-siap hati kalaupun sampai aku dipecat. Wajar saja pikirku, karena aku yang baru bekerja beberapa bulan, sudah bolos kerja lebih dari seminggu. Ternyata bos dapat menerima penjelasanku, dan aku tidak sampai dipecat. Sementara istriku langsung mengajukan surat pengunduran diri, karena pemilik department store tempatnya bekerja tidak dapat menerima alasan tersebut.
Aku ingat betul bahwa rancangan Jembatan Mahakam pada awalnya tidaklah seperti yang ada sekarang ini, tetapi lebih mirip Golden Gate Bridge yang ada di San Fransisco. Kemudian rancangan itu terus mengalami perubahan hingga beberapa kali, sampai akhirnya jadilah seperti yang ada sekarang ini. Waktu itu biaya pembangunannya yang menjadi masalah. Anggarannya terus mengalami pengurangan. Aku hanya bisa bersedih setiap membaca perkembangan pembangunan jembatan tersebut di koran-koran, karena anggaran pembangunannya yang terus menciut tersebut. Sampai-sampai aku berpikir, "Apa akhirnya jembatan dari kayu ulin yang mereka mau bikin?"
Seingatku Jembatan Mahakam awalnya berwarna abu-abu. Tetapi ketika tahun kemarin (2008) aku pulang ke Samarinda, jembatan itu telah berwarna kuning. Jujur aku melihatnya "ngga sreg" banget. Lebih baik jembatan itu berwarna orange atau kembali ke abu-abu. Lebih netral. Ini sekedar usul saja dari seorang anak Samarinda yang sudah cinta mati pada kota kelahirannya.

1 komentar:
Mungkin dipilih warna kuning karena kuning adalah warna dari ciri khas Samarinda (utamanya pengaruh Kesultanan Kutai Kartanegara yang identik dengan warna Kuning).
Kapan pembangunan Jembatan Mahakam dimulai?
Jadi, tanggal atau bulan atau tahun yang tepat peresmian Jembatan Mahakam kapan? Beberapa versi menyatakan pada tahun 1986, 1987, bahkan ada yang menyebut 1990.
Posting Komentar