07 Februari 2009

Sahabat Pena dari Jakarta


Tahun 1988 aku punya beberapa sahabat pena yang berasal dari para pembaca majalah Hidup, sebuah majalah komunitas Katolik. Korespondensi dengan mereka terjadi dikarenakan dua kali suratku muncul di ruang surat pembaca majalah Hidup tersebut. Di antara mereka ada seorang sahabat yang berasal dari Jakarta, seorang bapak bernama Hendrikus Adhi Sardjono. Persahabatan dengan Bapak Hendrikus ini sangat menyenangkan karena pandangan dan pemikirannya yang luas mengenai ajaran iman Katolik.

Selain membahas mengenai iman Katolik, kami juga membahas mengenai pekerjaan. Terakhir beliau juga menceritakan mengenai industri rumah tangga yang akan segera dirintisnya. Produknya adalah minyak rambut yang ternyata, dari kesaksian keluarga dan teman-teman yang telah memakainya, memberikan manfaat ganda sebagai obat penumbuh rambut. Rencananya waktu itu beliau mau menunjukku untuk memasarkan produk tersebut di daerah Jawa Timur, karena domisiliku yang ada di Surabaya pada waktu itu. Tentu tawaran yang baik itu tidak kutolak.

Tetapi kemudian, entah kenapa, lama aku tidak menerima balasan surat darinya. Aku hanya berpikiran positif saja bahwa mungkin beliau sedang sibuk dengan rencana produksi minyak rambut tersebut. Ketika Natal 1989 hampir tiba aku mengirimkannya sebuah kartu ucapan Selamat Natal. Tapi mengherankan, ternyata kartu ucapan itu juga tidak berbalas. Pertanyaan demi pertanyaan bergayut di pikiranku, apa mungkin beliau sakit atau sudah pindah alamat?

Sampai suatu hari di awal tahun 1990 aku menerima sepucuk surat dari seseorang yang bernama FX Santosa di Jakarta. Aku sedikit bingung menerima surat itu, karena aku tidak mengenal orang tersebut. Sepertinya surat itu berisi kartu Natal. Aku kemudian membuka surat itu, yang memang berisi kartu Natal, dan membaca isinya seperti berikut.

"Saudara Anton yang baik. Kartu Natal Saudara untuk Bapak Adhi Sardjono telah saya terima, sebagai wakil Bapak Adhi Sardjono kartu Natal Saudara saya balas.

Pertama-tama saya mengucapkan selamat hari Natal dan Tahun Baru 1990, semoga kelahiran Juru Selamat Yesus Kristus, membawa damai di hati Saudara sekeluarga dan semoga tahun baru 1990 membawa banyak sukses dalam hidup Saudara mendatang.

Kedua, saya sangat menyesal, penuh kesedihan, mengabarkan pada Saudara bahwa BAPAK ADHI SARDJONO telah dipanggil pulang ke rumah Bapak di Surga pada hari selasa 5 Desember 1989, jam 15.00 dan dimakamkan di Cilacap pada tanggal 8 Desember 1989. Untuk menyakin Saudara harap Saudara cari surat kabar Suara Pembaharuan tanggal 6 Desember 1989 hari Rabu, halaman 11.

Perlu saya ceritakan pada Saudara, bahwa kepergian Bapak Adhi Sardjono, sangat mendadak, tanpa menunjukkan gejala-gejala sakit. Pagi-pagi masih bekerja seperti biasa, masih bisa mengendarai mobil. Kira-kira jam 14.00 Bapak Adhi pulang ke rumah, merasa dirinya tidak enak badan, minta dipijat. Bapak Adhi tengkurap untuk dipijat, setelah dipijat, Bapak Adhi diminta supaya terlentang, ternyata jiwanya sudah tidak ada lagi; sedang istrinya masih bekerja belum pulang, yang di rumah hanya anak-anak. Saya mohon doa-doa Saudara supaya Bapak Adhi diampuni dosa-dosanya dan diterima di rumah Bapak di Surga.

Sekian.
Salam kami sekeluarga, semoga damai Kristus menyertai Saudara.

Jakarta, 23 Desember 1989, keluarga FX Santosa."

Aku kaget dan sedih bukan main. Aku kemudian membalas surat itu dengan ungkapan rasa berdukacita yang mendalam. Aku telah kehilangan seorang teman terbaik. Oleh karena aku belum pernah melihat wajah Bapak Hendrikus Adhi Sardjono, aku minta kesediaan keluarga yang ditinggal untuk mengirimkan padaku sebuah foto beliau. Permintaanku dipenuhi, sekitar sebulan kemudian aku menerima sebuah foto hitam-putih almarhum dan dua lembar foto warna saat keluarga sedang berkabung. Selamat jalan Bapak Hendrikus, berbahagialah di sisi Bapa di Surga. Amin.

Tidak ada komentar:

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.