10 Februari 2009

M.A.W. Brouwer


Entah apa yang membuatku tidak mengenali beliau ketika pagi itu aku disuruh menjemputnya di Mess Pertamina, Murung Pudak, Tanjung (1983). Ketika aku tiba di mess, aku hanya melihat sesosok bule yang sedang duduk di depan kamar mess yang kebetulan menghadap ke jalan. Aku mendekatinya, dan sebelum aku sempat bertanya, beliau bertanya padaku lebih dulu, " Apakah kamu datang untuk menjemput saya?" Aku menjawab, "Benar. Tentu Anda Pater, bukan?" Aku sudah lupa apa yang kami bicarakan kemudian, tapi yang pasti tidak banyak, karena jarak Mess Pertamina dengan tempat acara sangatlah dekat.

Masih ingat dengan MAW Brouwer, kolumnis beken di Kompas dan TEMPO dulu? Dialah Pater yang aku jemput di Mess Pertamina Tanjung tersebut. Walau aku sering membaca tulisan-tulisan Pater Brouwer di berbagai media, yang selalu disertai foto dirinya di kiri atau kanan atas tulisannya, entah kenapa hari itu pikiranku seperti tertutup. Aku tidak bisa mengenalinya sama-sekali. Beberapa teman sudah coba membantuku mengingat, tapi sia-sia. Beberapa menit setelah Pater Brouwer berangkat meninggalkan kami, pikiranku tiba-tiba terbuka. Ini membuat penyesalan yang mendalam di hatiku karena tidak dapat memanfaatkan moment ini dengan lebih baik.

MAW Brouwer, OFM adalah seorang pastur Katolik berkebangsaan Belanda. Lahir di Delft, Belanda, 14 Mei 1923. Lebih dari separuh hidupnya dibaktikan bagi Indonesia, sejak ia pertama kali tiba pada tahun 1950. Ia terkenal sebagai tukang cerita kelas wahid. Ia bisa menulis seperti itu karena dukungan pengetahuan dan pengalaman yang sangat luas. Puncak kreativitasnya sebagai penulis sepanjang 1970-an hingga 1988 terjadi justru saat diare dan sembelit menderanya silih berganti. Ia menaklukkan penyakitnya dengan banyak membaca dan menulis. Keputusan untuk berhenti menulis seolah mempersilakan penyakit kronisnya itu untuk menggerogoti tubuhnya. Ia meninggal pada usia 68 tahun di Weert, Belanda, 19 Agustus 1991, karena kemacetan total sistem pencernaan (ileus).

Keinginan Pater MAW Brouwer untuk mati di Indonesia yang dicintainya tidak terlaksana, meskipun telah ditinggalinya selama 35 tahun. Karena apa? Karena permohonannya untuk menjadi WNI tidak dikabulkan (oknum?) Pemerintah, terpaksa dia harus kembali ke Belanda dan kemudian meninggal di sana. Sementara waktu itu bagi WNA yang berkantong tebal untuk menjadi WNI tidaklah terlalu sulit dan tidak butuh waktu lama. Ini bukan rahasia lagi. Menyedihkan...

4 komentar:

Anonim mengatakan...

Memang sangat disayangkan permohonannya tidak terkabulkan keinginan beliau menutup matanya di bumi parahyangan yang sangat ia cintai,namun buah tangan beliau tidak akan pernah mati selama lamanya berapa banyak orang yang termarjinalkan oleh sebuah rezim yang sangat keji pada saat itu, dan sekarang mereka masih hidup dan sangat menghormati Pastoor MAW Brower.

Dimanakah vespa bekasnya mudah2an masih ada dan dapat di museumkan.

GBU

Samarinda Online mengatakan...

Dear Pak Hendra,

Salam kenal. Terima kasih telah singgah di blog saya dan menulis komentar Anda. Memang Pater MAW Brouwer pantas dikenang sampai akhir hayat kita. Sulit mencari tokoh semacam dia. Kenangan saya terhadap dia takkan terlupakan, walau itu hanya sebuah perjumpaan yang singkat.. kata2nya menggetarkan hati, "Apa kamu datang untuk menjemput saya?"

Salam damai,
Anton

lugiman mengatakan...

Sy tidak ingin memberikan komentar. Hanya ingin share saja.
Pertama kali, Pater MAWB hanya sy kenal dari tulisannya yang mempunyai gaya tulisan dgn hati-nurani yang tidak bisa dibandingkan dengan yg lainnya, waktu itu di Kompas. Kemudian sempat memiliki bukunya (berisi cuplikan tulisannya di Kompas). Sekitar tahun 1990 an sempat jumpa dan bincang dengannya di Delft. Entah bgmn. MAWB tidak terlalu tertarik untuk bicara lebih dalam mengenai Indonesia waktu itu. Mungkin beliau menganggap sy masih hijau, atau mungkin juga beliau sudah patah arang dgn permohonan ke-WNI-nya dan / Indonesia, mungkin jg sedang sakit. Sy ingin bilang, terima kasih MAWB buat buah hati, pikiran dan keuletannya untuk Parahyangan (dan pastinya daerah lainnya) dan Indonesia. TERIMA KASIH MAWB. Terima kasih juga untuk posting Anda di Samarinda Online

Samarinda Online mengatakan...

Pak Lugiman, terima kasih atas sharingnya. Tuhan memberkati.

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.