14 Februari 2009

Hari Kasih Sayang


Hari ini adalah Harinya Valentine (Valentine's Day), kami berkumpul di rumahnya Wulan, keponakanku. Tujuan utama kami bukanlah untuk merayakan Harinya Valentine, tetapi lebih istimewa lagi karena Wulan (Mitha Wulandari Hatta) akan bertunangan dengan Sam (Lioe Samuel Budiman), cowok pujaan hatinya sejak 14 Februari 2004, tepat sejak lima tahun lalu. Akhirnya hari ini pun tiba dan kami semua berbahagia. Acara pun berjalanan dengan lancar dan penuh rasa syukur serta kekeluargaan.

Wulan juga menghadiahi nenek-neneknya bunga mawar sebagai ungkapan rasa sayang di Hari Kasih Sayang ini. Walau kami tidak pernah merayakan Harinya Valentine secara khusus, tetapi hari ini kami anggap sebagai hari yang baik untuk mengungkapkan rasa sayang; walau hanya sekedar mengirim SMS, kartu ucapan elektronik (e-card), atau memberi coklat (khususnya dilakukan anak-anak dan para keponakan kami).

Menanggapi Valentine's Day aku ingin urun rembuk untuk mengemukakan pandangan dan pendapatku sendiri, terlepas dari pro dan kontra di dalam masyarakat.

  1. Harus kita akui bahwa arti dan tujuan sebenarnya dari Valentine's Day itu adalah BAIK.

  2. Ekses negatif yang timbul dari perayaan Harinya Valentine yang berlebihan: ugal-ugalan, mabuk-mabukan, pesta pora dan pesta seks, itu sifatnya individu. Sama halnya dengan seseorang yang berbuat kejahatan bukan berarti agama yang dianutnya buruk. Pemimpin bijak harus memberikan pengertian yang baik dan benar, tidak melulu membesar-besarkan sisi negatifnya, tanpa mempertimbangkan sisi positifnya.

  3. Harinya Valentine tidak hanya untuk orang-orang muda atau yang sedang pacaran. Orang tua pun diingatkan kembali untuk mengasihi anak-anaknya, karena kita tahu banyak anak-anak yang kekurangan dalam hal kasih-sayang karena orang tua mereka sibuk melulu mencari uang. Demikian juga sebaliknya, anak-anak diingatkan kembali untuk lebih mengasihi dan memperhatikan orang tuanya. Lebih luas lagi, kita juga diingatkan untuk memberi perhatian kepada sesama kita yang berkekurangan karena kemiskinan dan bencana alam.

  4. Tidak perlu sok nasionalis menganggap Harinya Valentine sebagai produk luar atau budaya asing. Sadar atau tidak, budaya asing juga masuk bersama-sama agama-agama besar yang ada di Indonesia. Mau nasionalis, instropeksi dulu: apakah baju, celana, sepatu, televisi, komputer, mesin cuci, jam tanganmu sudah 100% buatan dalam negeri?

  5. Komentar seperti: "Untuk apa berkasih sayang cuma sehari saja, kalau besok cakar-cakaran lagi", adalah komentar yang picik. Justru kondisi yang carut-marut sekarang ini, karena banyaknya keributan, perselisihan, dan perceraian, maka kita perlu diingatkan kembali dengan komitmen yang kita buat dalam keluarga dan dalam masyarakat, dalam berbangsa dan bernegara; kita dituntut untuk lebih mengasihi, lebih toleransi, lebih sportif, lebih memupuk rasa persaudaraan, perdamaian dan persatuan. Sama halnya dengan perayaan lain yang kita peringati setiap tahun.

    Peringatan Hari Kemerdekaan yang dilakukan setiap tahun, secara terus-menerus ingin mengingatkan kita kembali akan perjuangan pahlawan-pahlawan pemersatu bangsa dan pejuang-pejuang kemerdekaan kita tempo dulu. Kita harus malu dengan kondisi kita sekarang ini yang justru makin terpecah-belah, korupsi merajalela dan kuatnya kepentingan kelompok atau golongan. Jadi pantaskah kita mengatakan: " Untuk apa merayakan Hari Kemerdekaan, kalau besok-besok kita bertikai dan ribut-ribut lagi?"

  6. Juga komentar seperti: "Untuk menyatakan kasih sayang tidak perlu di Hari Valentine. Setiap hari saya sayang-sayangan kok dengan suami saya." Bila kondisinya bisa berlangsung seperti itu terus, kita patut acungkan jempol. Tetapi ketika perkawinan di ujung tanduk, jangan lantas berkoar-koar di depan televisi tanpa malu, padahal diri sendiri telah kehilangan komitmen. Harinya Valentine itu sebuah momentum untuk mengingatkan dan menguatkan kembali sebuah komitmen.

  7. Tidak mengusik orang-orang yang ingin merayakannya kalau diri sendiri tidak merayakan. Hargai perbedaan. Ambillah sisi baiknya dan jauhi sisi buruknya.

Oleh karena itu, selain merayakan Hari Kasih Sayang antarsesama manusia, secara bersamaan perlu juga ditanamkan etos, komitmen serta kesadaran untuk mencintai lingkungan. Karena, pada dasarnya lingkungan merupakan salah satu pendukung bagi kelangsungan hidup manusia. Akhirnya, jadikan Valentine's Day sebagai momentum perdamaian dan cinta lingkungan.

Tidak ada komentar:

Disclaimer:

Kisahku Hidupku adalah kisah nyata kehidupanku. Anda dapat mengutip keseluruhan atau sebagian cerita dalam Kisahku Hidupku dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Foto-foto dalam blog ini keseluruhan merupakan hasil karyaku, kecuali jika dinyatakan lain. Anda dapat menggunakannya dengan menyebutkan sumbernya dari sini dan/atau membuat tautan (link) ke blog ini.

Karya-karya dalam Sebuah Pemenungan dan Humor Pilihan dianggap sebagai bahan yang dikonsumsi umum, diperoleh dari berbagai sumber seperti e-mail, milis, media cetak dan internet, sebagian besar sumbernya telah disebut. Beberapa diantaranya tidak, karena tidak diketahui sumber aslinya. Apabila Anda sebagai pemilik atau pengarang aslinya dan disertai bukti maka dengan senang hati aku akan membuat tautan (link), mencantumkan nama Anda atau menghapusnya.