Sungguh, kesan galak dan mau menang sendiri seperti di dalam sinetron Bajaj Bajuri, tidak tampak sama sekali pada diri Ibu Hj. Nani Wijaya. Pembawaan aslinya sangat mengagumkan dan mengesankan: ramah, murah senyum, tutur katanya halus, sederhana dan bersahabat. Datang bersama sang suami, H. Misbach Yusa Biran, Ibu Nani Wijaya siang tadi mampir ke depot kami untuk makan soto banjar.
Kehadiran Ibu Nani Wijaya, sungguh merupakan suatu kejutan yang luar biasa bagi kami berdua. Saya dan istri termasuk penggemar berat sinetron Bajaj Bajuri di waktu lalu, yang kini masih ditayang ulang oleh sebuah stasiun TV swasta. Sebagai tokoh emaknya Oneng, Ibu Nani dapat membuat hati para pemirsa televisi begitu sebal dengan sikap dan tingkah-lakunya yang galak, seenaknya dan selalu mau menang sendiri; baik terhadap menantunya, Bajuri, maupun terhadap para tetangganya. Menurutku keberhasilan sinetron Bajaj Bajuri itu berkat adanya tokoh Emak yang brengsek itu.
Satu hal pertama yang Ibu Nani tanyakan saat masuk ke depot kami adalah apakah kami berasal dari Banjar. Aku jawab bahwa soto yang kami jual adalah soto banjar, tetapi kami berasal dari Samarinda. Ibu Nani bilang bahwa dia sudah beberapa kali makan soto banjar bila kebetulan berada di Banjarmasin. Ibu Nani dan suami memesan dua porsi soto banjar dan dua gelas teh tawar hangat.
Selesai makan Ibu Nani menyempatkan diri melihat-lihat setelan kain kebaya yang kami jual, dan kemudian membeli satu setel. Ketika akan melangkah pergi, aku meminta kesediaan Ibu Nani untuk berfoto bersama istriku, dengan senang hati Ibu Nani mengiyakan permintaanku. Dan ketika kembali ke mobilnya yang diparkir di depan depot, sangatlah mengagumkan melihat Ibu Nani menyetir sendiri mobil sedannya yang berwarna hitam itu, tanpa memakai sopir.
Terima kasih sudah mampir ke tempat kami, Ibu Nani dan Bapak Misbach. Semoga sehat dan sukses selalu.


1 komentar:
kok mirip ya, hehehe becanda wal ..
Posting Komentar