BE YOURSELF. Mungkin itu nasihat terbaik yang pernah kuterima dari seseorang yang baru kukenal. Martina, demikian namanya. Seorang turis asing asal Belanda yang berusia sekitar 30-an. Martina dan aku kebetulan naik di satu kendaraan yang sama dari Surabaya menuju Denpasar, di suatu sore di awal Desember 1998. Kepergianku ke Bali saat itu dalam rangka menghadiri wawancara kerja di PT Warisan Eurindo, Dalung, Kuta.
Sejak memasuki kendaraan di Surabaya Martina sudah mengomel karena tempat duduknya di kursi paling belakang dipenuhi dengan barang-barang kiriman. Mobil Colt jenis ELF milik perusahaan travel tersebut selain mengangkut penumpang juga digunakan untuk mengangkut paket-paket kiriman. Sebenarnya aku ingin protes juga karena tempat dudukku di samping sopir itu tanpa sandaran kepala, sehingga membuatku sangat tidak nyaman sedangkan perjalanan dari Surabaya ke Denpasar butuh waktu 10 jam lamanya.
Satu jam setelah mobil berangkat dari Surabaya, aku merasakan adanya tetesan air yang mengenai kakiku yang berasal dari dashboard mobil. Aku langsung menyampaikan hal itu pada sopir, namun dengan enteng dia menjawab bahwa itu air dari AC, tanpa ada upaya untuk membuat penumpang merasa lebih nyaman. Aku benar-benar merasa kesal dengan sikap sopir itu. Koperku yang diletakan di bawah tempat dudukku membuat kakiku tidak dapat bergerak banyak untuk menghindari tetesan air dari AC tersebut. Posisi dudukku yang di tengah, antara sopir dan seorang penumpang lain, benar-benar membuat aku tak punya pilihan lain selain menerima keadaan ini dengan hati yang dongkol.
Tanpa sandaran kepala selama berjam-jam di ruang ber AC benar-benar membuat leherku kaku. Aku bersumpah untuk tidak naik travel ini lagi. Selain itu si sopir juga menjalankan mobilnya dengan ngebut dan sedikit ugal-ugalan. Bayangan buruk kalau-kalau terjadi tabrakan membuat aku tak dapat tidur meski aku sangat ngantuk sekali. Sakit kepala mulai menyerangku. Ini benar-benar sebuah pengalaman buruk.
Perasaanku sedikit lega ketika kami turun makan di daerah Pasir Putih. Aku menggeliat untuk melemaskan badan dan leherku yang kaku. Selesai makan aku pergi ke kamar kecil dan kemudian berjalan-jalan di halaman depan rumah makan untuk melemaskan otot kakiku. Saat itulah aku melihat Martina berdiri tak jauh dari mobil kami. Aku menyapa dia dan menanyakan masalah yang membuatnya ribut dengan sopir sewaktu berangkat tadi. Martina mengungkapkan kekecewaannya dia terhadap layanan perusahaan travel tersebut. Ternyata dia telah membayar dua kursi agar mendapat tempat yang lebih lapang, namun tempatnya itu dipenuhi paket-paket kiriman milik travel!
Sebelum masuk kembali ke dalam mobil yang kami tumpangi, Martina menanyakan tujuanku ke Bali. Aku menjelaskan padanya bahwa tujuanku ke Bali tersebut untuk wawancara kerja. Menutup pembicaraan kami, Martina barkata padaku, "Oh ya, saya ada satu nasihat untuk kamu sehubungan dengan wawancara tersebut, yaitu: 'Jadilah dirimu sendiri. Jangan sekali-kali mencoba menjadi orang lain.'"
Ketika akhir dari wawancara itu aku diterima bekerja, aku seketika teringat dengan Martina. Di dalam hati aku berterima kasih padanya. Entah saat itu dia sedang di mana, berjemur di pantai Kuta atau di Sanur, aku yakin dia dapat merasakan kegembiraanku yang telah memenangkan wawancara ini. Hatiku bersorak, "BALI... AKU DATAAANG..!"

2 komentar:
Bagaimana perasaan Anda tinggal di Bali?
Saya pernah tinggal di Bali 9 tahun.
Trm kasih sudah berkunjung, Pak... Saya juga pernah tinggal di Bali 8,5 tahun. Sekarang saya di BSD, Tangerang. Menyenangkan tinggal di Bali, saya masih sering kontak dengan teman-teman di Bali. ---ANTON
Posting Komentar