Secara tidak sengaja sore ini aku menemukan beberapa kartu pos yang pernah kukirimkan kepada istri dan anak-anakku sewaktu mereka kutinggalkan untuk bekerja di Bali. Sepanjang enam bulan pertama aku di Bali, yaitu dari awal Januari 1999 hingga Juni 1999 kami tinggal terpisah. Istri dan anak-anakku tinggal sementara di BSD City, dan aku di Bali.
Ada satu alasan utama mengapa istri dan anak-anakku tidak segera ikut aku pindah ke Bali. Saat itu anakku yang sulung, Vincent, duduk di kelas 6 SD. Jadi tidak ada kemungkinan untuk dapat pindah sekolah, karena anak-anak sudah dipersiapkan untuk menempuh ujian akhir di sekolahnya yang tinggal satu semester lagi. Kendala lainnya, aku belum menemukan rumah kontrakan, jadi untuk sementara ngekos dulu sambil mencari-cari rumah kontrakan.
Di samping sering interlokal dengan istri dan anak-anakku, aku juga rajin mengirimi mereka kartu pos-kartu pos bergambar tempat-tempat wisata di Bali, seperti Sanur, Kuta, Pura Besakih, Kintamani, Tanah Lot, Pantai Candi Dasa, Nusa Dua, dan lain-lain. Aku bertekad akan membawa mereka mengunjungi semua tempat itu bila kami sudah berkumpul nanti, seperti yang tertulis di atas kartu pos yang bergambar Penelokan (Kintamani) yang kukirim kepada mereka tanggal 14 Maret 1999: "We can go everywhere... if we are together."
Di atas kartu pos bergambar Pura Besakih yang tertanggal 16 Maret 1999 aku menulis, "Pulang kerja... Hujan-hujan langsung mampir ke warung 'Selamet' makan nasi campur. Selesai makan masih hujan tidak bisa pulang ke kos, aku nganggur.... Untung ada kartu pos ini... bisa kutulis rasa sayang dan rinduku pada kalian semua." Tentu banyak kata-kata kangen yang kutulis di atas kartu pos-kartu pos itu. Contoh, di sebuah kartu pos yang bergambar Pura Tanah Lot yang indah aku menulis, "Biar orang lain tahu bahwa... aku mencintaimu dan aku mencintai anak-anak kita, dan aku merindukan kalian semua...!!" Yang ini tertanggal 28 Maret 1999.
Selain itu di beberapa kartu pos aku hanya menulis hitungan mundur waktu (count down) menuju tahun 2000 dan hitungan mundur waktu untuk menjemput istri dan anak-anakku pindah ke Bali. Memang tiga bulan pertama di Bali aku sempat minta cuti beberapa hari untuk menengok mereka. Walau hanya beberapa hari aku sudah bahagia bisa bertemu mereka.
Suatu peristiwa yang paling membahagiakan dalam hidupku ketika hari itu tiba, aku berangkat ke Jakarta untuk membawa istri dan anak-anakku ke Bali. Perjalanan darat yang menyenangkan dengan kereta api eksekutif Anggrek Bromo dari Gambir ke Pasar Turi, dan dilanjutkan dengan bus eksekutif Bali Megah Wisata (BMW) dari Surabaya ke Denpasar keesokan harinya, benar-benar merupakan kenangan perjalanan yang tak terlupakan. Hari itu aku sangat bahagia.
Di tahun pertama dan kedua kami di Bali satu persatu tempat wisata yang ada di kartu pos kami datangi. Sampai akhirnya seluruh tempat-tempat wisata itu telah kami jelajahi. Menjelang pergantian tahun dari 1999 ke 2000 dan dari 2000 ke 2001 berturut-turut kami menggelar tikar di pantai Kuta mulai jam 7 malam hingga lewat pergantian tahun ketika pesta kembang api usai.
Bali, tempat yang kucita-citakan untuk kutinggali bersama keluarga saat aku berusia 45 tahun, ternyata terlaksana lebih awal. Sebaliknya, ketika usiaku mencapai 45 tahun aku dan keluarga justru pindah dari Bali. Perjalanan hidup memang sulit ditebak. Mungkin hanya segelintir orang saja yang benar-benar dapat mengatur sedemikian tepat perjalanan hidup yang diinginkannya. Sekarang, di sinilah aku dan keluarga berada... di BSD City, Tangerang Selatan, Banten. Akankah aku dan keluarga kembali ke Bali... someday... someway? No one knows...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar