Kita semua tahu, Jumat Siang seminggu yang lalu, tepatnya 11 Maret 2011, Jepang dihantam gempa dan tsunami yang hebat. Dahsyatnya gempa di Jepang hampir sekuat gempa di Aceh tahun 2004 lalu. Hampir seluruh pantai Timur Jepang porak-poranda. Gempa bumi kemudian memicu kebocoran radiasi di sejumlah area pembangkit listrik tenaga nuklir.
Aku kemudian mengirim e-mail ke Junko, sahabatku di Tokyo, untuk mengetahui keadaan dia dan keluarga di Jepang. Sehari kemudian baru aku menerima balasannya yang sangat singkat mengabarkan bahwa dia dan keluarga selamat dan baik-baik saja, dan dia belum bisa cerita banyak. Sementara itu media elektronik terus-menerus menayangkan dahsyatnya kerusakan akibat gempa dan tsunami tersebut, terutama pada beberapa reaktor nuklir yang ada di prefektur Fukushima.
Pagi ini aku menerima e-mail dari Junko lagi.
Hai, Anton.
Terima kasih atas perhatiannya. Sudah seminggu berlalu setelah gempa dasyat dan tsunami melanda negara kami. Setelah itu masih ada ancaman kebocoran radiasi di PLTN Fukushima. Setiap hari di sini juga kami masih terasa gempa susulan yang besar dan kecil, Anton. Sungguh kami terpukul oleh semua itu...
Tapi semua itu kami rakyat Jepang harus hadapi dan atasi dengan sekuat tenagga. Walaupun situasi di lokasi-lokasi pasca gempa dan tsunami masih dalam keadaan sulit untuk memulihkan infrastruktur dan juga memulihkan hati orang-orang yang terluka, tapi sejauh ini orang-orang sana masih tetap bertahan bahkan terlihat membangkit kembali dengan cara yang apa adanya. Kebanyakan orang yang mengungsi di tempat evakuasi adalah orang-orang yang sudah tidak punya rumah lagi, kehilangan keluarganya, temannya, saudaranya dan sebagainya. Tapi mereka sudah mulai bergotong-royong dengan tetangga-tetangganya dan bergerak untuk menolong orang lain yang lebih sengsara. Sepanjang hari saya mengawasi kondisi mereka lewat berita di TV. Juga kondisi PLTN Fukushima.
Sedangkan kondisi di Tokyo pun masih tetap dalam keadaan tidak stabil. Misalnya setiap hari dilakukan mati lampu dari purusahaan listrik. Namun itu dilakukan secara teratur (jam-jam mati lampu itu ditentukan di setiap wilayahnya). Jadi dalam hal ini, syukurlah boleh dikatakan sama sekali tidak menimbulkan kepanikan warga selama ini. Tapi karena bahan pokok seperti beras hampir tidak dapat beli di toko-toko di sini, kemarin saya dikirim beras oleh ibu saya yang di Saitama.
Lalu, toilet paper, tissu, dan makanan tertentu hilang total dari setiap pertokohan. Mungkin penyebabnya adalah tersendatnya sistem transportasi di kawasan kami, orang-orang takut kehabisan barang-barang sehari-hari sehingga banyak yang membeli melebihi batas kebutuhannya. Saya juga kemarin hanya untuk cari toilet-paper yang mau habis di rumah, ternyata harus lari ke 4 supermarket dan akhirnya berhasil beli satu pak. Itu juga terbatas, Anton.
Tapi ...ketika kami ingat orang-orang yang di sana, tidak bisa ngomong apa-apa. Daerah Tokyo masih beruntung, karena kebanyakan bagunan-bangunan di Tokyo tidak roboh saat gempa. Tapi, seperti Anton tahu, saat itu saya berada di perusahaan di mana tempat kerja saya. Apa lagi itu berlokasi di pusat kota, Ropponggi. Eeehhhh, coba bayangkan mereka berada di lantai 23. Waaa.. pas gempa terjadi, lantai itu bergoyang-goyang seperti di dalam ayunan atau perahu, Anton. Saya sepintas berpikir saya akan mati di sini. Melarikan diri? Oh, tidak bisa... berdiri saja nggak bisa tanpa memegang di tiang atau pintu yang di sekitarnya.
Memang gempa kali ini adalah gempa terbesar yang saya alami seumur hidup, Anton. Semua elevator tidak berfungsi lagi, jadi kami semua evakuasi lewat tangga darurat. Pada saat kami turun tangga, bangunan yang cukup raksasa itu goyang kanan kiri dan dinding mulai retak dan berjatuhan!! Sungguh menakutkan! Saya membayangkan apa yang terjadi di World Traid Center di New York dulu. Atau, film 2012 yang memgambarkan hari kiamat. Memang apa yang saya lihat persis adegan seperti itu...
Setelah kami berhasil keluar, saya memcoba melihat ke atas gedung kami tadi, eeehhh.. ternyata ujung gedung raksasa itu masih goyang pelahan-pelahan, Anton. Rasanya bermimpi saja... Selama ini saya tidak pernah lihat pemandangan seperti itu. Dan waktu itu saking goyangnya saya sampai merasa mual. Dan hari itu semua sarana transportasi di Tokyo stop total sampai hari esoknya. Semua jalan macet. Saya berusaha untuk menanggap taksi dan menunggu satu jam lebih ,tapi tidak ada satu taksi pun yang berhenti... dan karena kedinginan berdiri terus di jalan, akhirnya saya pergi dan menginap di gereja yang untung lokasinya berdekatan dengan Ropponggi. Jadi saya rasa masih termasuk sangat beruntung ....
Ya.. sudah panjang berceritanya ya, Anton. Pokoknya negara Jepang sedang berusaha untuk mengatasi bencana kali ini! Jadi Anton tetap berdoa ya buat kami. Jangan bersedih lagi! Pasti cahaya akan datang!
Sekian dulu Anton, terima kasih.
Junko

Tidak ada komentar:
Posting Komentar