Tiga puluh delapan tahun yang lalu, ketika aku masih anak-anak, tidak terbayangkan bahwa saat ini dengan mudah orang menenteng-nenteng pesawat telepon, bahkan dua atau tiga nomor sekaligus! Alat komunikasi ini telah mengalami revolusi menjadi semakin kecil dan tanpa kabel, yaitu menjadi suatu alat yang kita kenal sekarang sebagai handphone, ponsel, smartphone, dan lain-lain.
Aku ingat sewaktu kecil ketika papa ditanya orang berapa nomor telepon toko kami, papa menjawab, "205." Bila kalian jauh lebih muda dari usiaku pastilah bingung, "Kok nomor telepon hanya segitu digitnya?" He he... Saat itu 1972/1973 telepon mungkin merupakan barang mewah. Rumah kami tidak memiliki telepon, hanya ada di toko. Dan, 205 itu memang nomor telepon toko kami waktu itu! Jadi bisa ditebak saat itu belum ada 1000 sambungan telepon di Samarinda.
Aku masih ingat bagaimana dulu kalau mau menelepon. Aku mendengar papa atau teman papa berkata, "Selamat siang, Non.. Tolong sambungkan ke nomor 313." Penelepon harus menghubungi operator telepon dulu, dan menunggu untuk disambungkan. Untuk interlokal, sama saja. Bedanya, setelah minta disambungkan ke nomor tertentu di kota tertentu, kita menutup telepon. Operator telepon akan menyambungkan permintaan kita, setelah tersambung baru operator telepon akan menelepon kita dan mempersilakan kita mulai bicara.
Kemudian berkembang era warnet sekitar tahun 80-an. Mulai dari warnet di kantor Telkom, kemudian menjamur kemana-mana, ke pelosok kota hingga pedesaan. Dengan mudah kita bisa menelepon dan menghubungi orang-orang yang ingin kita hubungi, bahkan diluar pulau sekalipun. Kita tinggal masuk ke bilik telepon dan memutar atau memencet sendiri nomor telepon tujuan.
Di antara dua era tersebut, telegram masih merupakan alat komunikasi yang penting, dan paling diminati untuk urusan penyampaian berita yang cepat. Kemudian pamor telegram lambat-laun memudar sejalan dengan perkembangan tehnologi pesan singkat (SMS) yang dibawa oleh telepon seluler, yang mulai berkembang di Indonesia pada pertengahan tahun 90-an. Pada era 90-an ini facsimile sempat menjadi primadona komunikasi, terutama di warnet dan di perusahaan-perusahaan.
Tiga puluh delapan tahun yang lalu tidak terbayangkan melihat hampir semua orang bisa memiliki telepon dan bisa dibawa kemana-mana. Semua orang, semua profesi, entah dia seorang dewasa atau anak-anak; seorang guru, murid, dokter, pejabat, tukang ojek atau pembantu rumah tangga.. semua punya handphone! Wah, hebat ya...! Tapi, ada seseorang yang sangat kukenal yang sampai saat ini tidak pakai handphone! Bukan karena dia tidak mampu, tapi karena dia ingin membuktikan bahwa dia dapat hidup tanpa handphone! Dia adalah Kho Sau Long, teman sekelasku di SMPK dan SMAK dulu. Walau usianya kini sudah hampir setengah abad, dan dia seorang pengusaha sukses, dia tetap tidak mau pakai handphone. Walau aneh, tapi diam-diam aku salut juga dengan prinsip dia seperti itu, mungkin hidup akan lebih santai, tenang dan bahagia tanpa handphone! Ha ha ha ha...
Bagaimana alat atau sistem komunikasi kita 10 tahun ke depan? Sepuluh tahun ke depan kita mungkin tidak membawa alat apa-apa lagi, karena seluruh keperluan komunikasi kita sudah ditanam atau diimplan di dalam kepala kita, dalam mulut (gusi), telinga dan mata! Hmmm.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar