Pagi di hari ketiga aku di Samarinda, tepatnya tanggal 25 Maret 2009 yang lalu, aku berjalan kaki menuju ke Pasar Segiri. Dari tempat tinggalku di Jalan Tantina Pasar Segiri sangatlah dekat. Tujuan utamaku satu, yakni mencari info tentang sahabat lamaku Muhammad Helpani. Muhammad atau Amad adalah temanku sekelas sewaktu di SMAK WR Soepratman, Samarinda, dulu (1979-1982).
Aku berjalan memasuki Jalan Perniagaan mendekati jembatan kayu dimana dulu rumah Muhammad Helpani berada tak jauh darinya. Aku coba memasuki sebuah toko yang menjual bahan bangunan dan bertanya mengenai keberadaan sahabatku itu. Namun, dengan ketus si ibu penjaga toko mengatakan tidak kenal. Aku kaget dengan jawaban yang tidak ramah itu. Namun aku tetap dengan sopan pamit dan mengucapkan terima kasih.
Tepat di depan dimana rumah Amad dulu berada, dengan kondisi sekarang yang sama sekali berbeda, aku mendekati dua orang ibu yang sedang berdiri mengobrol. Awalnya kedua ibu seperti tidak serius menanggapi pertanyaanku, mereka hanya menjawab pendek-pendek saja seperti, "Tidak tahu" atau "Tidak kenal". Seorang dari ibu itu kemudian pergi meninggalkan kami, tinggallah ibu satunya yang hampir meninggalkanku juga. Namun tiba-tiba aku seperti tersadar dari kesalahanku, segera aku melemparkan pertanyaan lain tetapi dengan cara yang berbeda, "Tapi sudah lawas kah pian tinggal di sini, bu?" Serta-merta si ibu itu berbalik ke arahku.
Ternyata jurusku berhasil dengan baik, ibu itu sampai ngomong panjang lebar denganku hampir selama 20 menit. Sampai-sampai dia beri tahuku umurnya sudah berapa, 42 tahun! Dari ceritanya akhirnya aku mengerti bahwa daerah sekitar itu pernah mengalami kebakaran hebat pada tahun 1990, hingga beberapa warga yang tadinya tinggal di sana sudah pindah kemana tidak ada yang tahu. Ibu ini tadinya tinggal di ujung barat dekat sungai, tetapi setelah kebakaran dia pindah ke rumah di dekat kami berdiri ngobrol, yakni di sebelah rumah Amad dulu berada.
Aku kemudian melanjutkan perjalananku ke Pasar Segiri, sambil mengingat-ingat kembali kesalahanku. Bukan satu, tapi dua. Di dalam hati aku berkata pada diriku sendiri, "Di sini berlaku hukum bahasa Banjar, wal ai... Ikam sekarang di Samarinda, lain di Jawa." Dan seperti yang pernah kupelajari di dunia marketing, memang benar orang senang bila kita ingin tahu (tentu yang baik) tentang diri mereka. Aku tersenyum sambil terus melanjutkan langkahku ke Pasar Segiri.

2 komentar:
Untung aja masih ingat pakai 'pian' lah...coba kada'...hannnn, di cueki urang tarus....
@manggIs:
Kada tahu kenapa lah waktu itu ulun memakai bahasa Indonesia.. "Numpang tanya, Bu.. apakah ibu kenal dengan teman saya, Muhammad Helpani, yang dulu tinggal di (sekitar) sini?" Gitu nah kira2 cara ulun batakun.. Pelajaran baharga buat ulun, ulun lupa kalau sudah ada di kampung halaman seurang.
Posting Komentar